utherakalimaya.com

  • Home
  • Features
  • _ARTIKEL
  • _CATATAN
  • _UNDANGAN
  • DOKUMENTASI
  • contact

 


"Itu durian paling enak yang sengaja saya siapkan untuk kamu," kata orang nomor satu di negeri ini ke arah saya yang masih asyik memotret. Selepas acara temu wicara, seluruh undangan dan wartawan diajak ke taman belakang. Senja yang mulai menyamak menciptakan suasana lebih akrab dan tanpa sekat. Saya masih belum menjawab, dan bingung. Sementara lelaki itu menatap saya sambil tersenyum. Ia mencolek ke arah boss saya. "Anak buah kau telmi, ya?" Tanyanya sambil terkekeh. "Biasa, dia kaget, pak." Jawab boss saya turut terkekeh.

Mendengar dan melihat keduanya tertawa, saya sedikit menggelengkan kepala. "Maaf, maksud bapak itu saya?" Tanya saya. Keduanya semakin tergelak melihat ekspresi kebingungan saya.

"Iya, kamu, Utari," jawab boss saya. Mata saya terbeliak. Ada nyala bahagia sekaligus hangat di dada. Ini menjadi kejutan spesial bagi perempuan yang tidak pernah merasa dispesialkan selama hidupnya. Ketika seseorang peduli seperti ini, saya justru terkejut dan heran. Masih ada manusia yang peduli pada saya?

"Ini titipan, neng. Udah, sana ambil dan buka," perintah boss saya. Saya menatap lelaki nomor satu itu, meminta persetujuan. Ia mengangguk sambil tersenyum.

Dengan langkah bahagia, saya segera menghampiri seorang lelaki berseragam yang sedang menyiapkan durian-durian untuk para tamu. Saya menepuk pundaknya, dan meminta tolong untuk dibukakan satu untuk saya. Di sebelahnya, durian-durian berjejer. Semuanya disiapkan untuk para tamu, dan durian spesial untuk saya ada di antaranya. Kenapa tidak dipisahkan saja, ya? Hmm, tapi mungkin agar tidak tampak 'pilih kasih'? Entahlah.

"Coba dulu," ujar lelaki yang membantu saya membelah durian itu. Saya julurkan jari telunjuk saya untuk mencoel daging durian berwarna kuning itu. Rasa manis menyentuh lidah saya. "Hmm," mulut saya bergumam sambil mengangguk-anggukkan kepala. Lelaki itu kemudian menyodorkan durian yang telah dibelah itu pada saya. Namun, belum sampai di tangan saya, orang-orang mulai menyerbu ke arah saya. Semuanya berebut, ingin makan durian yang disiapkan. Semuanya tampak bernafsu dan rakus. Bagaimana tidak, setelah menyuapkan ke mulut, mereka mengambil lagi dengan dua tangannya. Barangkali, jika tangannya ada 10, niscaya sebiji durian dengan dagingnya yang tebal ada di masing-masingnya. Beberapa orang yang saya kenal juga turut berada di antara mereka. Tapi kenapa malah berpusat di durian yang ada di tangan saya?

Dengan bingung, saya mulai berusaha keluar dari kerumunan itu, lalu berdiri beberapa langkah saja. 

"Bagaimana? Duriannya manis?" Tanya lelaki nomor satu itu sembari menepuk bahu saya. Saya mengangguk tanpa melepaskan pandangan dari keriuhan itu. Tanpa sadar, jari telunjuk yang tadi mencolek daging durian saya acungkan sebagai tanda bahwa saya sudah mencicipinya. "Pasti tidak kebagian...," ujarnya lagi sambil terkekeh-kekeh. "Kamu lihat siapa yang memakan bagianmu?" Suara tanyanya itu menuntun mata saya melihat ke tempat durian spesial itu berada. Alamak! Orang-orang terdekat? Dada saya terasa tertusuk. Napas saya sedikit memberat. Ada tangis yang saya tahan. Bagaimanapun, saya masih punya rasa malu untuk menunjukkan seluruh perasaan saya di hadapannya. Tapi, ia sepertinya paham dengan apa yang sedang saya rasakan.

Tanpa bicara, ia menggandeng tangan saya menuju ke pintu masuk istana. Sembari berjalan, pikiran saya terus mencerna peristiwa itu. Demi langit dan bumi, saya masih belum paham! Bagaimana orang-orang terdekat saya bisa serakus itu? Apakah selama ini saya tidak pernah melibatkan mereka dalam setiap pekerjaan yang saya lakukan? Atau itukah jati diri mereka yang sebenarnya?

(bersambung...)

  • 0 Comments



Genks, apa yang kamu lakukan jika di beberapa malam Jum'at atau hari Jum'at, kamu menemukan binatang seperti kalajengking, kelabang dan sejenisnya? Sedari tahun lalu, binatang ini kerap menyantroni rumah kami. Entah dari mana datangnya. Bila kejadian yang pertama bisa saya maklumi karena kami belum menutup celah pintu depan. Begitu pula kejadian yang kedua, meskipun agak aneh juga karena mendadak ada kalajengking sekarat di kamar yang biasa kami pakai untuk salat.

Untuk kalajengking yang pertama, saya dan kakang berinisiatif membawanya keluar untuk kemudian kami musnahkan. Begitu pula kalajengking yang kedua. Kami mendadak membuat perapian di tengah malam. Tapi kalajengking yang ketiga ini membuat saya kesal, karena itu saya langsung musnahkan di tempat. 

Kalajengking Ngepet

Jum'at 14 Oktober 2022

Dini hari lewat, sudut mata saya melihat pergerakan mencurigakan di antara kabel charger laptop, dompet, jam tangan dan uang kembalian. Sontak saya kaget dan langsung bangun meninggalkan tugas yang sedang saya kerjakan. "Kalajengking!" Jerit saya.

Kakang yang sedang bermain game langsung menghentikan permainannya. Dengan sigap ia mencari sapu dan menyuruh saya melihat di mana sembunyinya makhluk yang entah dari mana datangnya itu. Sebab rasanya tidak ada celah untuk jalannya masuk dari luar.

"Itu di balik dompet. Idih, masa ada kalajengking ngepet? Woy, dompetnya kosong itu!" Racau saya. Makhluk kecil dengan tubuh seperti transparan itu muncul dari balik dompet dan berlari ke bawah buffet dengan ekor terangkat. Saya segera memberitahukan keberadaannya pada kakang.

"Ih, ya. Mana malam Jum'at ada-ada aja, deh," Oceh kakang sambil membawa sapu dan mulai mengangkat barang-barang di atas buffet. Belum juga buffet terangkat, makhluk itu sudah berlari menuju kaki kakang yang sigap menyergapnya dengan sapu.

"Jangan di matiin di dalam. Bawa ke luar rumah," ujar saya sambil menyingkirkan kabel dan benda lainnya untuk memberinya jalan ke arah beranda. Kakang terus membawanya ke jalan untuk mengirimnya ke alam baka. Jalan masuknya dari mana, ya? Tadi lupa foto sih, tapi wujudnya semacam foto di bawah ini.

Apapun itu, sing penting sehat, selamat, dan berkelimpahan sajalah. 😮‍💨

* * *

Kalajengking Sekarat

Kamis, 20 Oktober 2022



Ditemukan sekarat, seekor kalajengking. Ini kali kedua, yang pertama kalajengking ngepet, yang ini kalajengking sekarat. Karena itu, tolong jangan masuk rumahku lagi ya, wahai makhluk Alloh. Nanti kamu modiyar! Terima kasih. 😌😅

* * *

Kalajengking Mandi

Jum'at, 13 Januari 2023

Tanda waktu di sudut kanan layar laptop saya menunjuk angka 03.30 saat saya beranjak ke kamar mandi. Di sebalik talang air, saya melihat seekor binatang nemplok. Perasaan saya langsung tidak enak. Tapi saya segera menyelesaikan sesi pee, maafin kebelet banget sih. Setelahnya, saya langsung menyiramkan air ke arah talang. Dan benar saja, kalajengking kecil berwarna transparan itu langsung berlari ke arah kaki saya. Jurus cingcet dan siram pun segera saya lakukan. Setelahnya, saya mencari benda padat untuk melakukan pembunuhan.

Jika sebelumnya saya menyeretnya keluar rumah sebelum akhirnya mengeksekusinya, kali ini saya langsung eksekusi di tempat. Sebal, sih. Dari mana dia datangnya coba? Enak aja masuk rumah kami tanpa uluk salam. Ya modiar dia.

Setelahnya, kepala saya sakit. Dahi sebelah kiri dan kanan terasa cekot-cekot. Mulai lagi. Maunya apa, sih?

* * *

Sudahlah! Apapun itu, saya menyerahkan pada Yang Maha Esa, Allah SWT dan semesta alam. Tidak pernah ingin menjahati makhluk apapun. Kalau pun ada yang berniat bahkan berbuat jahat, itu bukan urusan saya. Karena Allah yang akan membalas apapun yang diniatkan, bahkan dilakukannya. Semoga tidak berkali-kali lipat balasannya. Aamiin.

  • 0 Comments

Tiga makhluk itu berwajah garang dan siap menyerang siapapun yang ada di hadapan. Mereka menggeram dan terus memasang mimik wajah yang tidak bersahabat. Kutaksir, makhluk yang di tengah itu adalah pemimpinnya. Dia lebih garang dari kedua lainnya yang berdisi di sisi kanan dan kirinya. Dari gelagat mereka, kutaksir mereka hendak merangsek masuk ke dalam rumah kami. 

Rumah kami sedang ramai dikunjungi orang-orang berpakaian serba hitam lengkap dengan ikat kepala hitamnya dan orang-orang berpakaian putih. Salah satu di antara orang-orang berpakaian putih itu adalah sosok seorang alim yang sering kulihat di televisi. Aku mengenalnya ketika melihat berita beliau ditusuk seseorang ketika sedang berdakwah. Berita penusukannya menjadi perbincangan, sebab beliau tidak menuntut pelakunya. Tapi, beberapa waktu lalu beliau diberitakan meninggal akibat pandemi, bukan?

Subhanallah, masyaallah!

Gumamku takjub. Ingin rasanya aku menghampiri, mencium tangannya dan memintanya mengelus kepalaku. Tapi aku seorang perempuan dan beliau mungkin sedang menjaga wudhunya. Meski ingin, tapi aku hanya bisa menganggukan kepala sembari membungkan badan sedikit sembari menangkupkan tangan di dada ketika kami tak sengaja bertatapan sebagai tanda salam hormatku. Beliau mengangguk dan tersenyum.

Di antara ketakjuban sejenak itu, suara ketiga makhluk menyebalkan itu terdengar. Melengking sekali. Mereka tetap berusaha untuk masuk ke rumah. Dengan sedikit kesal, kusibak kerumunan dan langsung menunjuk ketiga makhluk itu sembari memarahinya.

"Mau kalian apa?" Tanyaku.

Salah seorang dari ketiganya menjawab ingin masuk ke area rumah. Tentu saja segera kujawab tidak. "Mau apa kalian di rumahku? Ini rumahku, kalian tidak berhak memasukinya tanpa seizinku," ujarku. Mendengar ucapanku itu, salah seorang dari makhluk itu tampak marah sekali. "Kalian berdua," tuntukku pada dua makhluk di kanan dan kiri makhluk yang marah itu. "Kalian mau tetap masuk ke rumahku, atau kami kirimkan doa untuk kalian agar kalian mendapat apa yang kalian inginkan?"

Mendengar tawaranku itu, keduanya tampak saling bertatapan. "Jika kalian disuruh, setelah dari sini, kalian bebas menentukan hidup kalian," sambungku. Mata keduanya tampak berbinar senang. Dan tanpa dikomando, keduanya menganggukan kepala.

"Baiklah, terimalah pakaian dan makanan untuk kalian. Mari kita berdoa," ujarku seraya mengangkat tangan sembari komat-kamit sebelum akhirnya telunjukku mengarah ke kedua makhluk itu. Kedua makhluk itu tampak antusias, mereka senang sekali. Pakaian keduanya yang semula hanya selembar kain di bagian pinggang yang dililitkan serupa cawat, berganti dengan pakaian sebagaimana yang dikenakan orang-orang. Tangan keduanya juga tampak menampa senampan penuh makanan.

"Masih kurang?" Tanyaku pada keduanya dan tidak menghiraukan pada makhluk di tengah yang masih marah-marah itu. "Terima ini dan pergilah," ujarku lagi seraya melakukan gerakan serupa yang tadi. Kali ini, keduanya benar-benar dua kali lebih senang dari yang tadi. Saking senangnya, keduanya tampak berjingkrak-jingkrak sebelum akhirnya membungkukan badan sembari mundur dan menghilang. 

Di hadapanku, tinggal si makhluk beringas yang doyan marah-marah itu. Kemarahannya sepertinya sudah mencapai puncaknya saat menyaksikan kedua rekannya sudah mundur setelah aku sogok. "Bagaimana? Kau mau juga seperti mereka? Atau mau tetap memaksa masuk ke rumahku?" tanyaku. Si makhluk itu melolong marah. Seolah mengatakan ketidaksudiannya menerima tawaranku.

"Jika kau disuruh, kembalilah pada orang yang menyuruhmu dan katakan padanya; jangan mengganggu kami," ujarku. Makhluk itu melolong lagi. Jika kugambarkan, lolongannya itu seperti menghantarkan energi panas ke arah kami tapi menabrak dinding tak kasat mata yang pada akhirnya kembali menghantam tubuhnya sendiri. Hingga wajahnya tampak benar-benar merah, begitu pula badannya. Aku tak perlu mendeskripsikan bagaimana rupanya pada kalian. Tapi kupastikan kemarahannya dapat membakar apa saja yang ada di hadapannya.

Setelah menumpahkan kemarahannya dengan terus berusaha menyerang dan merangsek masuk, si makhluk itu tampak mundur beberapa langkah tanpa menghentikan lolongannya. Tapi seperti yang kukatakan, usahanya tidak berhasil.

"Berisik!" Teriakku marah. Kutunjuk si makhluk itu sembari menghardiknya.

"Pergi!" hardikku. Seketika, makhluk itu terdorong ke belakang dan menghentikan lolongannya. Tangannya memegang bagian perut, seperti menahan sakit yang tak terhingga. Tanpa basa-basi lagi, ia terus mundur dan mundur, kemudian menghilang.

Alhamdulillah. Gumamku sembari berbalik kembali ke dalam rumah dan menyilakan para tetamu untuk duduk kembali, melanjutkan obrolan apapun yang sebelumnya terjadi. Sementara aku kembali ke kehidupan nyata di dalam rumah.


  • 0 Comments

 


Jika bapa tidak meminta saya membuat rekening di bank kesayangan keluarga kami pada November tahun lalu, mungkin saya akan berpikir ulang untuk membuka rekening baru. Banyak banget pertimbangannya, sih. Tapi karena sudah ditagih bapa dengan alasan akses ke bank BRI lebih terjangkau dibanding ke bank lain. Disamping alasan lainnya. Intinya, saya harus menyediakan apa yang dimintanya. Jika tidak, bapa pasti rewel. Yah, hitung-hitung jadi tempat menabunglah. Siapa tahu bisa beranak pinak hingga membawa kami ziarah ke Ma'la. Aamiin, dong!

Akhirnya, saya mencari informasi tentang bank BRI dan dipertemukan dengan aplikasi BRImo. Mantap, nih, pikir saya saat mengetahui BRI menyediakan layanan bisa membuka rekening baru langsung di aplikasi tanpa perlu ke kantornya. 

Mudah, sangat mudah. Kurang dari 10 menit, saya sudah mengirim rekening BRI saya ke bapa. Meskipun untuk mendapat kartu ATM dan buku tabungan harus tetap pergi ke kantor cabang BRI terdekat. Tapi, inovasi ini cukup membuat saya berterima kasih karena apa yang dipinta bapa bisa segera saya sediakan. 

Esoknya, saya mampir ke kantor cabang yang saya lihat pertama kali saat melewati Jl. Raya Serang-Pandeglang. Saya kira, dengan adanya inovasi cukup baik ini, pelayanan di kantornya akan baik pula. Tapi ternyata jauh panggang dari api, Rudolf.

Mas satpam yang membantu mbak Customer Service (CS) menanyakan hal yang menurut saya asa teu kudu. Pertanyaan 'kerja di mana?' masih bisa ditoleransi karena mungkin untuk mengetahui aliran dana yang nanti disimpan di rekening nasabah. Tapi jika harus menyertakan Surat Keterangan dari insitusi/perusahaan tempat bekerja, kok bikin saya mending memilih tidak jadi buka rekening, ya? Berpikir baiknya, mungkin SOP-nya begitu. Tapi asa pengen mendebatnya, euy! 

Mendengar perdebatan saya dengan Mas Satpam, Mbak CS menengahi dengan meminta Mas Satpam menyediakan kebutuhan saya saja. Iya, saya butuh buku tabungan dan kartu ATM saja seperti apa yang tertulis di aplikasi BRImo, kok. Bukan meminta kepemilikan atas bank-nya itu sendiri. Kalau pun bisa beli sahamnya, tapi ke heula sajalah.

Selama rentang waktu November-Mei, sebelum mengharuskan diri untuk mengganti ponsel karena kebutuhan menunjang peralatan tempur (pekerjaan), selama itu, sebisa mungkin saya menahan diri untuk tidak banyak mengakses rekening ini untuk hal-hal yang bisa saya kesampingkan. Jika tidak kepepet banget, sebisa mungkin tidak menggunakan dana di rekening inilah.

Tapi, pada Seba Baduy 2022, saya merasa perlu mengganti ponsel dengan yang lebih bisa menunjang kebutuhan pekerjaan. Khususnya dari spesifikasi kameranya. Apalagi jika membandingkan hasil rekaman ponsel saya dengan hasil rekaman ponsel kakang yang saya pinjam hari ini. Ingin menangis! Karena itu, saya sedikit merengek pada kakang untuk memesankan apa yang saya butuhkan itu. 

Saat ponsel pengganti sampai di tangan, saya segera memindahkan semua data dan mengunduh aplikasi sesuai dengan ponsel yang lama. Termasuk beberapa aplikasi perbankan, salah satunya BRImo. Tapi sialnya, karena saya sudah lama menggunakan fasilitas fingerprint saat mengakses BRImo di ponsel lama. Alhasil, saya harus mengingat dengan sungguh-sungguh user ID untuk kemudian mereset passwordnya. Sialnya lagi, saat mencoba mengakses BRImo kembali dengan passwod baru, keterangannya ternyata tetap salah password, salah caption number. Diulang berkali-kali hingga notifikasi limit akses menjadi tanda apa yang saya lakukan sia-sia.

Esoknya, saya segera mampir ke BRI cabang tempat sebelumnya saya membuka rekening. Saya utarakan masalah itu dan meminta akses username akun BRImo saya di data mereka. Tapi, secarik kertas bertuliskan akun BRImo dari mbak CS itu membuat kening saya berkerut; emang bener itu ya? Kayaknya bukan. Tapi karena tidak mau terlalu lama di depan mbak CS yang sepertinya sedang memiliki masalah hidup yang sangat berat itu--perlu mengurus banyak hal, saya mengikuti saja anjurannya dengan memasukan user ID yang ia tuliskan itu dan mencoba password identik--dengan password yang paling sering saya pakai di beberapa akun media sosial saya. Tapi ternyata tetap sama, semuanya salah.

"Tidak bisa, mbak," ujar saya sambil menunjukan notifikasi merah dengan tulisan yang intinya 'user ID atau password salah'.

"Ya udah, hapus dulu aplikasinya, download lagi, lalu daftar ulang," sarannya sementara dia sibuk dengan berkas di mejanya. Saya ikuti apa yang dianjurkannya, melakukan hal yang sama, dan tetap tidak bisa mengakses akun BRImo.

"Tidak bisa," ujar saya datar mencoba menahan rasa ingin menyerah dan tidur saja.

"Ibu mengikuti anjuran saya? Tadi ibu mengakses yang mana?" tanyanya sembari melongok ponsel saya. Saya tunjuk pilihan 'punya akun'. Da emang punya. Toh user ID sudah ia beri, cuma lupa password. Pikir saya.

"Kata saya apa tadi? Akses Belum Punya Akun," ujarnya sambil menunjuk bagian bawanya.

"Oalah," gumam saya sambil terus memproses bilah ke bilah dan mengisi apa yang harus diisi di sana. Karena rasanya ingin segera mengakhiri sesi dan keluar dari gedung itu, mata saya tidak menemukan bilah pencarian tanggal dan tahun lahir sehingga harus menggeser layar lebih lama untuk sampai ke tanggal dan tahun lahir saya. Melihat hal itu, ia menunjuk sisi bagian lain dan menyuruh saya mencari di sana dengan nada yang tidak enak.

"Ya sudah, di rumah saja. Terima kasih mbak," ujar saya setelah saya merasa tidak dapat menahan diri lagi karena dada nggrundel sekali. Ia kemudian membalasnya dengan kalimat; '...itu memang bisa dilakukan di rumah' atau apalah telinga saya tidak begitu menangkapnya karena saya langsung mengajak kakang keluar untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Cilegon.

Di Cilegon, saya kembali membuka aplikasi BRImo dan coba melakukan apa yang sebelumnya disarankan CS itu. Awalnya lancar, hingga ke tahap verifikasi wajah dalam bentuk video 10 detik sembari mengatakan kurang lebih; 'saya (nama) siap melakukan aktivasi BRImo'. Setelah menekan kirim video, aplikasi melakukan prosesnya dan kemudian muncul notifikasi 'tidak ada koneksi internet'. Padahal, akses internet masih baik dan area itu sudah tercover 4G+ dan jaringan provider sedang baik-baik saja. Kalau aksesnya di kampung saya, wajar sekalilah karena provider mana pun bapuk jasa.

Dicoba beberapa kali, tetap sama. Saya terus bolak-balik dari aplikasi BRImo ke G-mail untuk mencari keterangan user ID dan e-mail dari BRI. Salah satu e-mail tentang e-KYC dari Privy membuat saya tertegun. Maksudnya apa, ya? Harus download aplikasi Privy dulu gitu? Saya akses aplikasi itu untuk menyelesaikan kendala yang saya hadapi. Tapi, setelah ngobrol dengan agent Privy diketahui jika Privy yang bekerja sama dengan BRI tidak memfasilitasi kendala akses BRImo. Ya elah, ya iyalah pasti salah kamar. Gumam saya sembari nyengir, lucu sendiri.

Karena itu, saya mencari alternatif lain dengan menuju Twitter dan menghubungi akun BRI untuk meminta bantuan. Pertanyaan demi pertanyaan saya dijawab baik. Saran-saran yang ditulis mas/mbak admin langsung saya lakukan. Mulai dari mencari e-mail informasi mengenai user ID di e-mail (karena saya bertanya perihal user ID yang saya mungkinkan saya lupa, menjajal dua user ID (lama & baru) yang saya temukan di e-mail, meminta reset password lagi, dan lagi dan lagi yang selalu diberi informasi caption number atau apalah itu salah padahal sudah benar type sesuai yang tertera di sana, dan hal-hal lain yang sekiranya bisa membuat saya bisa mengakses akun BRImo. Tapi tetap tidak bisa.

Akhirnya, saking kesal dan hopeless-nya, saya kembali mengirim DM.

"Sudah mencoba menggunakan user ID baru, tapi tetap tidak masuk karena password salah. Sudah coba reset lagi, tapi error melulu. Saya nyerah deh, aktivasi BRImo-nya deh. Toh bikin baru juga bermasalah melulu begini. Ribet banget."

Tidak ada jawaban lagi hingga sore hari dalam perjalanan pulang ke Serang, notifikasi DM Twitter muncul. Dan meminta saya untuk memastikan User ID dan password yang digunakan saat login sudah sesuai/benar dan disarankan juga untuk mengunjungi kantor BRI terdekat dengan membawa KTP dan kartu ATM serta nomor ponsel aktif untuk registrasi ulang. Piceun baelah, keuheul! 

Sampai di Jl. Diponegoro, Kota Serang, saya langsung mampir untuk mengaktifkan m-banking di bank pertama dan langsung aktif di saat itu juga. Setelahnya, saya mampir ke ATM BRI. Belegug-nya saya, sampai akhir pun masih tetap mencoba mengaktivasi BRImo melalui ATM. Keterangan di layar mesin ATM tentu saja, tidak dapat mengaksesnya. Jika BRImo tidak bisa, mungkin aktivasi m-bankingnya bisa. Tapi ternyata tetap tidak dapat diakses. Saya coba pindah ke mesin ATM sebelahnya untuk melakukan hal yang sama dan tentu saja sia-sia, Marimar!

"Pindahin ajalah, keuheul. Teu guna," kesal saya yang langsung diledek kakang. 

* * *

Dan kesia-siaan lainnya yang saya lakukan hari ini adalah sebelum memposting tulisan ini, saya masih berusaha registrasi ulang BRImo beberapa kali dan terus mendapat notifikasi tidak ada internet seusai mengirim video persetujuan. Kan goblog. Ini mah kayak udah ditolak berkali-kali tetep we keukeuh ngudag, koplok jasa. Cag, ah.

  • 0 Comments

 



Siapa sangka, diperkenalkan saat perasaan saya berada di antara--melayang, tidak menjejak bumi, sekarang malah menjadi seseorang yang akan menemani hidup saya selanjutnya. Lima bulan, waktu yang sebentar mempresentasikan apa dan bagaimana diri kami sesungguhnya, baik pribadi kami masing-masing, sekaligus keluarga kami. Karena itu, hingga saat ini saya sering menanyakan pertanyaan yang sama; "Kamu siapa?" atau "Kita pacaran apa udah nikah?"

Gerhana matahari cincin menghiasi langit Juli 2021, menjadi awal mula dari semuanya. Saat itu, kami diperkenalkan seorang teman yang keuheul melihat saya galau melulu dan ngopi sendirian melulu. Meskipun tidak mengatakan iya atau tidak, kami bertemu, berkenalan dan haha-hihi bersama tanpa menyembunyikan apa-apa yang tidak perlu disembunyikan. Meskipun di saat yang sama, saya masih lieur karena beberapa hal.

Tapi, seiring berjalannya waktu dan seringnya melihat hal-hal yang dia usahakan untuk menjadi dekat, saya memutuskan untuk menjejak bumi lagi dan tidak banyak melihat ke arah lain. Capek culak-cileuk melulu itu ya, kan? Karena itu, kami kemudian memutuskan untuk berkomitmen. Kenapa komitmen yang pertama? Karena kami sudah sama-sama belajar sebelumnya, bagaimana komitmen sangat rapuh dan mudah patah hanya karena hal-hal kecil, remeh dan seringkali kita lewatkan begitu saja. Tapi pada akhirnya saat hal itu terjadi, dan kemudian kita memikirkan ulang seringkali muncul perasaan 'asa teu kudu' (nggak perlu sampai segitunya) sikap kita itu. Ego yang mengambil peran lebih banyak, seringkali menjadi kiamat kecil dalam kehidupan kita, bukan? 

Karena itu, untuk meminimalisir segala kemungkinan tidak mengenakan hati dan perasaan, kami mengawalinya dengan berkomitmen dan membicarakan apapun yang dirasakan. Tentu saja dengan sedikit drama yang diakhiri komedi. Setelahnya, kami bersepakat untuk saling menerima, baik dan buruk, kurang dan lebih pada diri kami masing-masing. Ini bukan proses yang mudah dan sudah kami lampaui, tapi terus kami jalani hingga kelak.

Dan ketika kami sampai pada perkara yang tidak kami temukan solusi, kami serahkan keputusan itu pada kedua keluarga besar kami. Karena itu, Rabu, 7 November 2021 atau bertepatan pada 2 Rabiul Awal 1442 H, atau Radithé Wage, 9k (Paropoek) Maga1958 Caka Sunda disepakati sebagai waktu prosesi sederhana ikrar kami.

Kami hanya memiliki rentang waktu kurang lebih 1,5 bulan untuk mempersiapkan segalanya. Sedangkan di sisi lain, pekerjaan masih terus membelit kami. Bagaimana tidak, saya masih harus menyelesaikan bhakti di bumi Lebak, sedangkan kakang juga masih sibuk dengan pekerjaannya. Dan di saat yang sama, keuangan kami tidak memadai untuk menggelar resepsi.

Karena di sisi lain, kami tidak begitu ingin kemeriahan pesta, hanya ingin prosesi sederhana yang berkesan untuk berkumpulnya dua keluarga. Namun, karena pakaulan kadung diucap, akhirnya seperti inilah gelar ikrar kami. Masih dalam kesederhanaan, sedikit riasan, dan yang terpenting dapat membayar lunas kaul dari mamah saya. Bila ada kata yang bisa mengekspresikan kebahagiaan dari kata bahagia, maka pastilah saya akan menggunakan kata itu.

Saya tidak pernah merasa memiliki keinginan yang muluk, bahkan ketika seseorang hadir dan hidup bersama saya. Saya tetap akan menjalani apa yang sebelumnya saya jalani, bedanya kali ini dengan tenang. Ketenangan yang saya harapkan itu, barangkali akan membuahkan berbagai hal yang membuat kami sama-sama belajar mengenai pengertian, keberterimaan, dan perjalanan menuju pribadi yang lebih tinggi, sukses dan kaya raya. Ah, tentu kaya raya itu harus tetap ada. Karena segala sesuatu harus dikerjakan dengan modal yang memadai, bukan? Bahkan, saudara pun bisa menjauh jika tidak berkecukupan. Haha. Ironis banget sih bagian ini. Hanya saja, saya tidak mau ngoyo  memenuhinya. Saya hanya akan menjalankan apa adanya saja.

Bagaimana pun, akan ada banyak hal yang terjadi di kehidupan selanjutnya. Air mata yang sederas hujan di hari Minggu itu, adalah wujud syukur pada Gusti Allah karena saya dididik dan dibesarkan dalam keluarga ini. Karena itu, hatur sembah nuhun untuk keluarga bapa dan mamah--keluargaku tercinta, keluarga besar Abah Ende Sabin dan Mbah Rais, Keluarga Besar Ki Zakir dan seluruh masyarakat Kp. Kikeder khususnya dan umumnya Desa Turus, yang sudah bahu membahu membantu keluarga baru saya dan tamu undangan. Terima kasih juga kepada keluarga besar baruku dari Cilegon, kawan-kawan, sahabat, rekan kerja, dan handai taulan yang sudah nyakseni prosesi sederhana dalam ikrar kami.

Semoga tidak mengurangi kebahagiaan meskipun banyak sekali kekurangannya, baik dari kondisi jalan yang mesti dilalui--yang kami sebut rintangan 1 hingga sekian setiap kami melewatinya, maupun dari segi jamuannya. Semoga Gusti Allah SWT yang Maha Agung membalas seluruh kebaikan kawan-kawan. Untuk yang kembali pulang--tanpa sempat sampai lokasi atau yang ingin hadir tapi karena suatu kondisi menyebabkan batal hadir, doa dan kebaikannya sudah kami terima. Terima kasih banyak.

Semoga kita semua selalu sehat.

Rahayu, Rahayu, Rahayu sagung dumadi.

  • 0 Comments


Untuk apa ingin pacaran, bila akhirnya akan putusan? Langsung lamaran dan menikah saja.

Seringkali, keinginan yang baru terbersit di dada, sudah dipatahkan sendiri. Kalimat di atas itu hadir setelah perenungan di malam Lebaran 1442 hijriah. Tahun dengan kombinasi yang spesial dengan peristiwa keberkahan yang menghangatkan dada, entah mengapa. 

Tahun ini juga banyak pelajaran yang diberikan. Sebagai murid, saya menerimanya dengan riang sembari mengerjakan tugas saya. 'Mbatin' kali ini adalah perihal cinta tanpa syarat dan kebaikan hati. Konon, keduanya merupakan ramuan untuk membantu semesta dalam memperbaiki tatanan kehidupan ini. Hati yang tulus, menerima kekurangan sesamanya dan paham bahwa setiap manusia diciptakan dengan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing adalah modal utama untuk mewujudkan silih asah, silih asih dan silih asuh.

Entahlah. Saya juga belum paham, hanya saja saya merasa semesta sedang mendorong saya untuk melakukan keduanya. Spread the love dan tidak memintanya untuk kembali. Hanya sebarkan saja. Karena seperti yang sudah-sudah, hati sepertinya menjadi lebih merekah. Tapi, saya juga tidak menutup diri pada setiap kemungkinan yang terjadi. Saya tidak ingin menjadi sembarang hingga memunculkan pandangan atau sangkaan buruk saat melakukan spread love itu. Karena kadang, hal itu bisa disalahartikan. Dikira mencintai lelaki (pacar) orang lain, misalnya. Padahal 'love you' bagi saya kadang lebih seperti 'terima kasih' atas bantuan apapun dan waktu yang diberikan seseorang untuk saya Sekaligus saya ingin memberitahunya bahwa diri orang yang saya kirimi kalimat itu sangat berharga, baik untuk saya maupun lingkungannya. Kau tahu bukan, bagaimana rasanya serangan 'merasa tak berharga' itu? Jika belum pernah merasakan, cobalah.

Yah, namanya sangka segala sangka. Setiap manusia pasti mempunyainya. Pikiran positif, bisa menjadi negatif atau sebaliknya. Boro-boro pikiran orang lain ke kita, kita saja selalu memiliki pikiran buruk pada diri kita sendiri. Mungkin, porsinya saja yang berbeda. Ada yang lebih banyak, ada juga yang lebih sedikit. Yah, manusiawilah istilahnya.

Kadang, kita juga menemukan beberapa orang seolah tahu sekali dengan kehidupan kita melebihi apa yang kita jalani. Ketika kita mencoba klarifikasi, alih-alih percaya pada jawaban kita perihal diri dan apa yang kita lakukan atau akan lakukan, mereka malah mengeluarkan jurus sakti dengan mencemooh sembari mengatai kita munafik. Padahal, kemunafikan itu barangkali ada pada dirinya. Karena itu dia melemparkannya pada kita yang hidupnya woles banget ini.

Kalau kamu bertemu orang yang sering main lempar penyakitnya begitu, kasih senyum saja. Nggak usah dimasukan ke hati dan pikiran omongannya. Karena memang, banyak orang yang selalu merasa bermasalah dengan diri orang lain. Padahal, masalahnya ada di mereka sendiri. Di hati dan pikiran mereka sendiri. Dan kita tidak punya kuasa atas hal itu. Jadi, biarkan saja.

Saya tidak pernah ingin mengelak dari perasaan apapun. Bila saya menyukai siapapun pencipta tembok itu, saya akan lihat seberapa mampu saya menaikinya. Bila semakin saya daki, temboknya semakin tinggi, tentu saja saya mending turun dan menikmati kopi sembari menatap lembah yang indah di sekitar saya. Untuk apa saya bersusah-susah sendiri untuk orang yang bahkan tidak peduli pada diri saya? Sederhananya gini, saya tidak punya kuasa atas diri orang-orang di luar diri saya. Karena itu, saya fokus pada apa yang bisa saya lakukan saja. Rasanya, itu lebih woles dan tentram. Meskipun saya bukan orang yang bisa selalu namaste untuk beberapa hal baik yang langsung berhubungan dengan saya, maupun tidak. Saya juga memiliki rasa marah atas suatu keputusan yang tidak menyertakan saya di dalamnya. Saya tidak pernah ingin mengelak dari perasaan ini. Bahkan, perasaan ditolak oleh seseorang pun saya terima sebagaimana adanya.

Yah, kadang saya juga merasa kecewa terhadap beberapa hal. Saya juga merasa sedih karena suatu hal. Misalnya, orang yang kita tuju memberikan tembok paling tinggi yang tidak bisa kita panjat walaupun kita adalah ahli panjat tebing paling curam sekalipun. Padahal, kita yakin ada koneksi kuat antara kita dan dia. Mungkin, ini hanya kemungkinan saja, sebenarnya dia pun memberi kita porsi 'suka' dari balik dindingnya itu. Tapi sayangnya, banyak orang sudah terlalu lelah dengan perasaan 'diabaikan', 'tidak diterima', 'tidak dihargai' seperti itu. Lagian, untuk apa dinding setinggi itu jika pada akhirnya, setelah ia memutuskan pergi, kita menyesalinya juga? Man, that is horrible for sure.

Ketika saya dilanda galau, risau dan bimbang, tentu saya tahu semuanya itu tidak perlu. Tapi kadang, segala hal memiliki prosesnya sendiri. Karena itu, saya biarkan diri saya merengek ke sahabat saya. Beberapa orang yang paham bagaimana saya, mereka pasti akan memilih posisi mendengarkan. Bukan posisi si pemberi solusi yang memberi contoh dengan apa yang sudah mereka alami dan merasa benar sendiri. Tentu, mereka dengan senang hati selalu memberi solusi bila saya memintanya.

Mari kita kembalikan lagi ke cara kita menghadapi persoalan dan mengekspresikan apa yang kita rasakan. Kadang, saya juga menyukai hal-hal yang dilakukan dengan spontan. Rasanya, lebih bebas dalam menikmati momennya. Tapi, layer yang kita pasang kadang terlalu banyak. Ditambah lagi dengan self defense untuk menangkis segala anggapan, cercaan atau apapun yang dikatakan orang.

Mari sederhanakan, satu persatu, layer di dalam diri kita buka. Self defense, dinding tebal yang menjadi benteng pertahanan atas serangan apapun terhadap diri kita, mari kita bongkar saja. Menjadi jujur pada diri sendiri adalah modal utama untuk mempresentasikan diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Tidak mudah, memang. Tapi, apa salahnya mencoba hidup tanpa banyak layer, bukan? 

Saya rasa, dengan jujurnya kita pada perasaan sendiri, tidak akan ada gunung berapi yang sewaktu-waktu bisa kita ledakan dengan gelegar sempurna ketika rasa kecewa, marah dan merasa terkhianati dan perasaan lain itu mencapai puncaknya.

Dan satu hal yang pasti, saya sudah memaafkan segala kesalahan siapapun di hari lalu. Semoga mereka yang pernah merasa tersakiti oleh saya, memaafkan kesalahan saya juga. Semoga kita semua mencapai kebahagiaan, ketenangan dan ketentraman hidup yang kita dambakan. Semoga selalu sehat dan diberi keberlimpahan rezeki. Aamiin.

Cag.
  • 0 Comments

 


"Nyi, kenapa tidak pakai sandal?" Tanya seorang lelaki berjamang putih dengan ikat kepala putih juga ketika saya baru keluar dari rumah di atas bukit itu. Di jauh, lembah tampak menghijau dengan batas gugusan gunung yang menggurat dari Selatan ke Utara.

"Ini pakai, kok," ujar saya seraya menunjuk terompah yang terbuat dari batok kelapa yang didesain sedemikian rupa menyerupai sandal. Kening saya mengernyit.

"Lha, itu sudah jelek, nyai. Ayo kita cari yang lebih bagus," ujarnya seraya mendahului saya. Ia mengajak saya menuruni lembah hingga sampai di dataran yang serupa tegalan. Di atas tanah itu, kelapa-kelapa tampak menancap. Seperti sengaja ditanam. Sekilas aneh, tapi rasanya biasa saja kala itu.

"Ini kelapa yang ini bagus buat terompah, nyai," katanya seraya menunjuk kelapa yang menancap di tanah. Kepala saya menggeleng.

"Ini juga masih bagus kok," ujar saya mencoba menolaknya dengan halus. Sebab, saya enggan merepotkannya dengan membuatkan saya terompah baru dari kelapa yang ia tunjuk itu. Selain itu, rasanya memang, terompah yang saya pakai pun masih bagus dan kuat untuk dipakai saat berjalan-jalan di sekitar kampung ini. Meskipun memang rasanya kurang nyaman. 

Lelaki itu menggeleng seolah tahu ketidaknyamanan di kaki saya. Ia kemudian merogoh kanderon yang disampirkan di bahunya. Tanpa melihat saya, ia berceloteh bahwa ia baru saja pulang dari kota dan ia membawakan saya hadiah. Katanya, orang-orang kota sering memakai apa yang dibawanya ini dan daripada saya terus keukeuh memakai terompah itu, saya mestinya memakai apa yang dibawanya ini.

"Nah, ini...," ujar lelaki itu seraya menyodorkan sandal swallow berwarna kuning dengan pijakan putih. Tanpa terasa, mata saya berbinar.

"Nah, kalau itu boleh," ujar saya sembari menyenyum. Lelaki itu tertawa. Sementara saya memakai sandal itu, lelaki itu terus berceloteh mengenai perjalanannya di kota. Bagaimana ia tahu saya sudah datang ke kampungnya dan ia terus mengingat saya. Mendengar ada seseorang yang mengingat saya, hati saya terasa menghangat. Ada haru diingat oleh siapapun, apalagi saat ia membawakan apa yang saya butuhkan seperti ini.

Sambil bercengkrama di pinggir tegalan itu, kami menikmati kelapa muda yang ia ambil dari pohon kelapa yang tak jauh dari tempat kami duduk. Saat sedang asyik mengobrol, mendadak ia mengacungkan tangan meminta saya tidak mengatakan apapun lagi. Keningnya tampak mengernyit kecil, lalu ia mengangguk dan berdehem.

"Nyai dipanggil olot," ujarnya dengan suara yang terdengar lebih formal dibanding saat kami bercengkrama tadi. "Mari, saya antar," sambungnya seraya beranjak.

Kemudian, kami beriringan menelusuri jalan setapak menuju kampung. Tentu saja setelah kami membereskan sampah bekas kami meminum air kelapa muda tadi. Dalam hati, saya terus berceloteh mengenai kekhawatiran-kekhawatiran yang menghadang di depan mata. Bagaimana pun, selama seumur hidup, saya belum pernah dipanggil langsung oleh olot atau tetua kampung seperti sekarang ini. Apalagi sepertinya sangat resmi sekali, seolah nanti saya hendak disidang karena suatu kesalahan yang entah apa. Atau mungkin, akan diberi tugas yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Misalnya, saya harus pergi ke tempat yang jauh dan entah kapan bisa kembali pulang.

"Hehe, tidak perlu khawatir, nyai. Apapun itu, kami akan selalu berada di samping nyai," ujar lelaki itu sembari tersenyum. Meski seperti ada yang tetap ia sembunyikan. Seolah apa yang saya khawatirkan itu memang demikian.

"Hmm, baiklah. Hufh!" Jawab saya seraya menghela napas, menahannya dan menghembuskannya pelan sekali. 

Di atas kepala kami, burung elang terbang rendah seolah mengiringi kami. Apapun itu, saya terima, saya siap. Bismillah.

  • 0 Comments

 


Gunung itu berdiri gagah tidak begitu jauh dari warung tempat saya duduk dan ngopi. Puncak gunung itu tampak memiliki belahan dengan kontur pasir. Jalan yang ada di pinggir warung ini langsung terhubung ke jalan di lereng gunung itu. Saya masih duduk di dalam warung, menikmati kopi dan pisang goreng sembari mengobrol dengan kedua teman saya dan pemilik warung. Entah bagaimana, perasaan saya mendadak tidak karuan. Dada terasa pengap tanpa sebab. Karena itu, saya pamit keluar dari warung dan menatap gunung yang bagian puncaknya seperti berparis itu. Tak lama berdiri, terdengar suara gemuruh yang dahsyat diiringi gempa. Refleks, tangan saya memegang tiang warung itu tanpa melepaskan mata dari puncak gunung.

Suasana di sekitar saya jangan ditanya. Semua orang kalut dan keluar dari rumah-rumah mereka. Dari tempat saya, saya melihat puncak gunung itu tampak bergerak dengan kepulan debu yang sangat tebal ditambah dengan batu-batu yang meluncur bebas. Dari sebalik debu itu, tampak sebuah mobil berwarna hitam bergerak cepat mencoba menghindari longsoran. Semua orang yang melihat hal itu langsung berteriak menyuruh menghindar. Saya juga tidak ketinggalan langsung berlari ke tanah yang lebih lapang dan melambai-lambaikan tangan sembari berteriak.

Menghindar!

Awas batu!

Dan teriakan lainnya yang sahut menyahut. Meskipun kendaraan itu terus melaju turun ke arah kami. Begitu pula ketika saya melihat angkutan umum berwarna merah dengan plat kuning di bagian bawahnya. Dari kejauhan, saya melihat angkutan umum itu dipenuhi penumpang. Kembali, suara teriakan terdengar sahut menyahut. Kali ini seolah menuntun angkutan umum itu untuk menghindari bebatuan dan longsoran lain yang berjatuhan dari atas gunung itu. Saat angkutan umum sampai di dekat saya, anehnya para penumpang itu tampak biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa.

Saya kembali mengarahkan pandangan ke arah gunung itu. Kali ini, saya melihat kendaraan bermotor yang berusaha melewati rintangan itu. Entah bagaimana, saya langsung melesat ke arah kendaraan yang masih berusaha menghindar itu. Mulut saya terus mengarahkan ke mana ia harus menghindar. Belok kanan, kiri, awas belakang!

Ya, seperti itulah teriakan saya. Hingga sebuah bongkahan batu tampak melayang ke arah pengendara itu!

"Lemparkan dirimu! Biarkan kendaraan itu!" Teriak saya sembari berusaha menangkap bongkahan batu itu. Lelaki itu, si pengendara, mematuhi arahan saya. Ia menjatuhkan diri dari motor dan berguling ke arah belakang saya. Hanya saja, ia tampak linglung saat bangun. Ia berusaha kembali ke arah motornya lagi.

Sial. Gerutu saya.

Lari! Sigap tangan saya menarik lengannya dan menyeretnya ke belakang sebuah batu yang menjorok di pinggir jalan. Terdengar suara bedebum yang keras. Motor yang dikendarai lelaki itu ringsek di bawah bongkahan batu yang tadi hendak saya tangkap.

Setelah saya menghitung hingga tiga, lari ke arah bawah. Bisik saya ke arah lelaki itu. Baru saya bisiki demikian, lelaki itu langsung berlari ke arah bawah atau ke tempat saya ngopi tadi. Buset?

* * *

Setelah memastikan lelaki itu selamat hingga perkampungan di bawah, saya berdiri di antara kepulan debu yang pekat. Lho? Kok saya masih bisa baik-baik saja? Sejujurnya, entah bagaimana dan kapan, mata saya ini sudah tertutupi oleh kaca mata dengan hidung dan mulut yang tertutup masker. Sementara mata saya memandang ke arah puncak gunung, sebuah tangan menarik saya berlari. Entah bagaimana kami berlari, hanya saja ketika sampai di jalan datar, saya memintanya menghentikan pelarian kami. Ia memelankan tempo kami berlari dan perlahan menghentikan langkah.

Ya, layaknya rem yang tidak diinjak sekaligus. Seperti itulah ia menghentikan pelarian kami.

Saya baru mengetahui sosoknya ketika kami benar-benar sudah berdiri di antara pepohonan yang tak lagi berdebu. Ia seorang perempuan.

"Ya elah, kukira siapa, ni!" seru saya sembari merentangkan tangan hendak merangkulnya. Namun, tangannya segera menghadang tubuh saya.

"Kau seperti patung hidup. Ayo, cari tempat untukmu membersihkan diri," ujarnya seraya berbalik dan berjalan mendahului saya.

"Kau lihat peristiwa tadi, bukan? Apa tidak ada yang bisa kita lakukan?" Celoteh saya sembari mengekorinya. Ia tidak menjawab. Melainkan terus berjalan.

Sudah kami lewati pepohonan rimbun yang saya taksir kebun hutan pemerintah itu. Kami mulai melihat rumah, ah, bukan. Warung di pinggir jalan itu. Perempuan yang berjalan di depan saya langsung berbelok ke arah warung itu. Tanpa memberi aba-aba terlebih dahulu. Saya yang masih culang-cileung--menengok ke kiri, ke kanan--untuk mengetahui lokasi persis kami, langsung menghentikan langkah dan menghela napas sebelum akhirnya mengekorinya lagi.

"Kau dari mana saja?" Tanya seseorang yang menyambut saya. Ekspresinya tampak khawatir sekaligus geli melihat penampilan saya yang penuh debu. "Uh, sana bersihkan dirimu dulu!" Sambungnya sembari menunjuk arah kamar mandi. Tanpa banyak bicara, saya langsung mengikuti arah telunjuknya. Masuk kamar mandi, mandi dan mengganti pakaian yang sudah disiapkan di sana. Entah bagaimana, pakaian itu pas di tubuh saya.

"Ayo lekas sini," ucap perempuan yang tadi menyuruh saya membersihkan diri seraya menepuk amben di sebelahnya. "Ah, aku selalu tahu pakaian itu cocok untukmu," sambungnya seraya menyenyum. Saya melirik tubuh saya yang dibalut pakaian asing ini. Warnanya yang biru langit, memang sangat kusuka. Tapi modelnya bukankah terlalu kolosal?

"Sudah, pakaian itu cocok untukmu. Lihat, aku pun pakai," ujar perempuan itu seraya mengibaskan tangan. Dan benar saja, pakaiannya hampir sama dengan model pakaian saya. Sementara perempuan yang tadi menyambar saya yang memang sudah memakai pakaian model itu--kau bayangkan saja pakaian di film-film kolosal, ya itu pakaian kami--tampak masih acuh tak acuh.

"Hey, ayo kita mulai," ajak perempuan yang tadi mengajak saya duduk di sebelahnya. "Tangkupkan tanganmu seperti ini," ujarnya seraya memberi contoh tangkupan tangan yang harus saya lakukan. Perempuan yang tadi diajaknya mendekat dan langsung menangkupkan kedua tangannya, disusul dengan tangan perempuan yang tadi mengajarkan saya. "Lekas tempatkan tanganmu itu di atas tangan kami dan arahkan ke gunung itu," ujarnya.

Saya mengikuti arahannya. Meskipun terus ia komentari baik dari posisi tangan saya. Sementara di jauh, suara gemuruh semakin terdengar. Gemuruh itu datang dari gunung yang hendak kami nina-bobokan kembali.

"Bismillah," gumam perempuan itu ke arah saya sembari menganggukan kepala. Mata kami saling bertatapan seolah saling memahami apa yang sedang kami lakukan.

  • 0 Comments


Kelinci itu lebih besar dari ukuran kelinci pada umumnya, bulunya juga super tebal. Ia melompat ke pangkuanku seperti kucing yang meminta dimanja. Aku yang sedang berbincang serius dengan rekan kerjaku, bahkan sedang terjadi perdebatan sengit, mesti menggantung punch line dari topik yang sedang kami perdebatkan. Sebab, tanganku reflek mengelus-elus tubuh dan kepala kelinci itu. 

Sementara rekan-rekanku tampak mulai terusik ketika aku tak kunjung bicara lagi. Mereka menatapku dan kelinci itu secara bergantian. Tanpa sadar, perdebatan sengit nan serius itu mulai mencair.

Kelinci gemuk yang menggemaskan itu tampak senang dengan segala perlakuanku. Tapi tak lama, ia kemudian memutar badannya dan melompat ke meja. Ia berdiri di atas dua kakinya. Dengan mimiknya yang lucu namun terasa sangat santun, ia kemudian berkata.

"Kuberikan anugerahku, nona...," ujarnya. Mataku mendelik lalu menatap orangorang di sekitarku yang tampak biasa saja melihat itu. "Ingatlah pesan yang disampaikan Laozi langsung padamu, nona..," ujarnya.

"Laozi? Kapan?" Tanyaku. 

Laozi atau Lao Tzu, seorang filsuf pendiri ajaran Taoisme dari Tiongkok itu kitab-kitabnya masuk daftar bacaanku beberapa tahun lalu. Saat itu, pemikirannya menjadi bahan materi overthinking-ku. Kelinci itu menggeleng-gelengkan kepalanya seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

"Hmm, sudah kuduga kau lupa. Sudahlah, aku harus pergi ke perayaan. Sampai jumpa...," ujarnya sembari melompat dari meja dan pergi entah ke mana.

"Sampai jumpa...," ujarku tak sadar. "Hey, selamat Paskah," seruku kemudian.

  • 0 Comments


Sampai rumah, seorang pemuda berpakaian hitam dan celana hitam dengan logo showroom di dadanya mendekat. Ia mengatakan bahwa ada kiriman atas nama saya. Sebuah kendaraan hitam nan tegap. Ia kemudian mengajak saya mendekat ke kendaraan yang ia tunjuk. Pintu samping ia buka dengan berbagai penjelasan fitur-fitur dan kelebihan yang dimiliki kendaraan itu.

"Woalah, teger iki! Leh uga wong kono kuh," gumam saya sambil melihat kegagahan kendaraan itu. "Siapa yang mengirim ini untuk saya, mas?" tanya saya. Pemuda itu tersenyum sembari menggelengkan kepala.

"Mohon maaf, bu. Beliau tidak ingin disebutkan namanya. Tapi, kendaraan ini beliau kirim khusus untuk ibu," jawabnya. "Ah, iya. Beliau juga mengirim supir untuk ibu," sambungnya seraya memanggil pemuda lainnya yang sedari tadi berdiri di dekat kendaraan lainnya. Mulut saya langsung berwow ria, tanda takjub.

Orang gila mana yang seperhatian ini pada saya? Tapi sepertinya ini mimpi, deh. Mana ada manusia yang memberikan kendaraan sebagus ini plus supir tampan tanpa mau menyebutkan namanya? Memberi yang habis dimakan atau minum saja dimention melulu sampai orangnya seneb. Pffrrrttt. 🤭

Lama termenung sembari mendengar penjelasan pemuda dari showroom itu, saya dikejutkan dengan suara pemuda yang katanya supir pribadi saya itu.

"Ayo, nyai," kata supir tampan itu sambil membukakan pintu belakang. Mata saya mengerjap beberapa kali. Kok langsung ayo?

"Mau kemana kita?" Tanya saya. Ia tidak menjawab melainkan terus menyilakan saya masuk ke pintu yang telah ia buka. Saya pamit pada pemuda dari showroom itu dan tak lupa berterima kasih padanya. Ia menjawab dengan lambaian tangan dan ucapan 'hati-hati di jalan'.

Si pemuda supir itu duduk di belakang kemudi dan langsung menyalakan kendaraan. Pelan, ia membawa kendaraan baru ini keluar dari komplek Tembong Indah dan membelah jalan raya Serang dan memutar arah ke jalan raya Pandeglang. Tak begitu lama, kendaraan berbelok ke arah lain. Pepohonan di kanan dan kiri jalan tampak rimbun. Saya tidak hapal daerah ini dan mulai diserang cemas. Bagaimana bila saya diturunkan di jalanan? Apakah saya bisa kembali pulang?

Komplek pemukiman yang dimasuki kendaraan yang saya tumpangi ini teramat asri. Rumah-rumah bergaya lama dengan pendopo-pendoponya terasa membawa suasana tempo dulu yang menyenangkan. Meskipun serupa komplek perumahan pada umumnya, namun antara rumah ke rumah lainnya tampak berjarak. Ada halaman luas dan kebun-kebun yang dikelilingi tembok bata merah yang tinggi dengan gerbang utamanya yang besar.

Kendaraan berhenti di depan rumah besar berdinding bata merah bergaya lama. Pemuda itu kemudian turun untuk membuka gerbang utama yang terbuat dari bilah kayu dan mendorongnya hingga terbuka lebar. Rumah utama berdinding bata merah dengan pendopo bergaya joglo. Ada dua paviliun yang mengapitnya dan tanaman serta bunga-bunga yang dirawat dengan baik. Mata saya tak menemukan daun kering satu pun di halaman yang luas itu. Benar-benar terawat dan benar-benar sepi.

"Silakan turun, nyai." ujar pemuda itu sembari membuka pintu kendaraan.

"Rumah siapa ini?" Tanya saya.

"Rumah nyai," ujarnya sembari tersenyum. Rumah saya? Masyaallah. Bagaimana bisa saya memiliki rumah impian macam ini?

"Rumahku?" tanya saya seraya mengedarkan pandangan ke arah taman yang tertata apik dan cantik. Rumah berbata merah itu benar-benar sangat sempurna untuk disebut sebagai rumah idaman. Tapi karena saya merasa tidak pernah membangunnya, saya takut ini hanya serupa ujian saja. Ujian apakah saya sebagai manusia mampu menggenggam apa-apa yang selama ini diinginkan banyak orang? Harta, tahta dan segala keberlimpahan serta kemudahan dalam menjalani kehidupan ini.

Tapi, saya penasaran bagaimana akhirnya. Karena itu, ketika pemuda tampan itu mengajak saya menuju halaman belakang, saya mengekorinya saja sambil terus mengedarkan pandangan ke berbagai sudut yang saya lewati.

Di belakang, mata saya kembali terbeliak. Ada pondokan kecil di pinggir sungai. Agak jauh lagi di antara rimbun pepohonan, mata saya melihat bendungan besar yang tampak baru. Pemuda itu menyilakan saya memasuki pondokan. Setelahnya, ia kemudian pamit. Seorang lelaki lain yang biasa saya panggil 'paman' datang dan mengekori saya masuk ke dalam pondokan. Tungku di dalam pondokan itu masih mengepulkan asap dengan ketel air di atasnya.

"Kalau mau menyalakan tungku, ambil daun ini dan buah ini. Kalau sudah menyala, lemparkan buah ini ke dalam tungku," ujar paman seraya menyodorkan daun kelapa kering dan buah-buah sekecil buah ceri. Ia mengatakan hanya ada sedikit daun, karenanya saya harus menjaga nyala apinya agar tetap stabil.

Saya tidak menjawab, melainkan langsung duduk di depan tungku dan sibuk menyalakan api sembari melempar buah-buah itu ke dalamnya. Kopi akan baik di sore ini. Pikir saya.

Satu kali lempar, mata saya melihat buah itu mengkerut dilalap api. Tak ada aroma apapun dari proses pembakaran itu selain selain bau daun kelapa kering dan kayu yang terbakar. Saya tengok isi periuk dan menambahkan air ke dalamnya. Kemudian melemparkan buah itu lagi ke dalam tungku. Api tampak mulai padam. Saya mencari kayu bakar. Tapi, kayu sudah tidak ada lagi. Karena itu, saya segera keluar untuk mencari ranting, daun atau apa saja yang mudah terbakar.

Dari balik rimbun pepohonan, terdengar suara orang mengobrol. Tidak lama, tiga orang lelaki alim yang terkenal tampak menelusuri jalan setapak mengarah ke tempat saya berdiri. Saat berpapasan, mereka mengucap salam dan saya menjawabnya dengan anganggukan kepala.

"Mereka hendak pergi ke tempat hajatan di kampung sebelah," ujar lelaki di belakang saya itu. Saya hanya ber-ooh sembari terus berpikir; itu kan ustadz yang terkenal banget. Mau jalan kaki menembus kebun begini, masa? Subhanallah.

Sepeninggal tiga orang alim itu, terdengar suara tawa yang khas dari arah bendungan. Wah! Alih-alih mencari sumber suara, saya malah terpesona pada  penataan bendungan. Apik, rek! Mungkin ini salah satu proyeknya Kementerian PUPR yang berkolaborasi dengan Kementerian Pariwisata dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI. Keren banget!

Setelahnya, mata saya kemudian beralih ke arah bendungan tempat suara tawa khas itu berasal. Sial! Si empunya tawa itu berada di atas bendungan dengan posisi jungkir balik, rek! Horor sih, tapi kok posisinya lucu gitu. Bisaan.

Sementara di bagian bawah bendungan yang sejajar dengan tempat saya berdiri, seorang perempuan jelita berpakaian ala film kolosal China seangkatan Sinema Pendekar Rajawali tampak berdiri di atas air. Saya sempat bertemu dan diledek olehnya beberapa kali, karena itu saya menjulukinya Bibi Lung, kekasihnya Kaka Yoko. Haha

Tampaknya, mereka berdua sedang bertarung. Entah memperebutkan apa. Hanya saja, perempuan di atas jembatan yang posisinya jumpalitan itu tampak terus melempar bola-bola api ke arah Bibi Lung dan segala arah. Termasuk ke arah tempat saya berdiri dan ke arah rumah utama. Tanpa saya sadari, tubuh saya langsung bereaksi. Tahu-tahu tangan saya sudah menangkis bola-bola api itu dan mengembalikannya ke si perempuan di atas bendungan.

"Weits! Kalau berantem, berantem aja. Jangan ngarah ke penonton! Udah ketawa mulu, mau curang lagi! Sialan..." Teriak saya.

Mendengar teriakan itu, Bibi Lung mengarahkan tangannya ke tempat kami dan menciptakan dinding transparan dari air. Sementara saya berdecak, Bibi Lung terus melanjutkan pertarungan di antara suara tawa itu. 

Saya dan lelaki itu kemudian beriringan kembali masuk ke pondokan. Jangan bilang mereka mau membobol bendungan untuk menenggelamkan seluruh wilayah ini. Ck, berabe.

"Paman, tengok-tengoklah. Jagaraksa, mesti siaga. Jagawana mesti waspada. Tolong jaga seluruh perbatasan dan objek vital," ujar saya sembari terus memasukan ranting ke tungku.

Lelaki di belakang saya tak menjawab, melainkan langsung melesat entah ke mana, lalu kembali lagi. Suara tawa itu masih terus terdengar hingga sekarang. Apa kau mendengarnya juga? Waspada, ya.

  • 0 Comments

 


Kabar meninggalnya Abah Abuya Uci Thurtusi dan Penyair Umbu Landu Paranggi sontak membuat perasaan saya tidak karuan. Kesedihan terasa teronggok di tenggorokan. Keduanya punya jalan hidup berlainan tapi keduanya memiliki tempat khusus. Setidaknya bagi saya.

Karenanya, saat mengerjakan poster-poster belasungkawa untuk beberapa instansi, air mata saya tidak bisa dibendung lagi. Lebay? Iya, saya tahu ini lebay. Karena saya juga tidak tahu untuk siapa air mata ini. Padahal, sejak jauh-jauh hari saya sudah diperingatkan untuk menerima kematian sebagaimana menerima apapun yang datang maupun yang pergi. Tanpa tangis. Hanya saja, semua kesedihan mereka yang ditinggalkan terasa berkumpul di sini. Suara musik up beat dengan volume tinggi dan nyanyian para pelanggan kedai kopi yang ramai sekali tidak mampu mengenyahkan kesedihan itu.

Kalau tidak kuat, ya keluarkan saja. Karena itu, saya segera meraih tissue dan menelepon ceuceu.

"Ke Bandung saja," katanya.

Waktu terasa lebih lambat dari biasanya.

Selamat jalan, Paku Banten, Abuya Uci.

Selamat Jalan, Penyair Umbu.

  • 0 Comments


Ada yang menetas dari perut waktu. Dua jenis makhluk berlainan jenis dengan satu warna badan. Putih. Mereka menempati area serupa kandang dengan dinding kaca besar dan tebal. Kutaksir, ketebalannya mampu menahan benturan macam apapun. Hanya saja, rasa kasihan dan ingin memberi mereka makan menyerangku. 

Karenanya, kubuka saja pintu itu. Tidak peduli pada peringatan seseorang di belakangku yang melarangku untuk berdekat-dekat dengan mereka. Tapi, karena aku tidak ada tanda bahaya di kepalaku, maka aku anteng saja. Menyodorkan roti yang kuambil dari tas punggungku ke keduanya. Alih-alih berbahaya, kedua makhluk itu sangat jinak. Naga putih kecil yang lucu dan kera kecil yang perkasa. Mereka masih teramat kecil untuk bisa dikatakan 'berbahaya'.

"Ayo keluar," ajak penjaga.
"Sebentar, foto dulu, hehe..." ujarku sembari menyeringai geli sendiri dengan kebiasaan baru ini.

Belum selesai mengambil gambar, sesuatu menarik kemejaku hingga aku terjatuh. Kepalaku membentur lantai batu. Mataku terus kupicing-picingkan untuk mengusir rasa pusing sekaligus ingin melihat yang terjadi. Samar dalam penglihatanku, ia besar sangat besar dan ia sedang memasang badannya untuk menghalangiku dari serangan tak terduga. Induk anak-anak itu? Sementara di hadapannya, induk lainnya sedang bergumul dengan sesuatu yang entah. Samar sekali. Dari area kandang, mereka terus keluar ke arah lembah. Suara ranting patah ditimpa tubuh-tubuh itu menggema.

"Lari! Kembali ke tempatmu!" suara itu menggema dikepalaku, di luar gemuruh pertarungan masih berlangsung di antara cericit dan geram kemarahan .

Benturan-benturan keras terdengar. Bumi terasa bergetar. Di sampingku tak ada siapapun. Induk naga itu entah kemana, pun anaknya yang lucu itu. Kepalaku masih merasakan kepusingan. Sungguh, bila batok kepala ini terbuat dari kaca, mungkin sudah pecah saat tubuhku ditarik tadi.

"Lari!" Terdengar suara itu di kepalaku. Siapa?
"Lari ke tempat tinggi!" Suara itu terdengar lebih kecil.

Segera kuangkat badanku, pening itu masih ada di sana. Tapi, aku harus menuruti perkataan mereka. Terseok, aku berlari ke arah gunung di belakang kandang besar itu. Gunung yang tidak berpepohonan. Sungguh gersang dan terjal. Kurutuki diriku yang tidak pernah ikut organisasi pecinta alam. Bagaimana bisa aku melupakan hal penting itu? Rumput-rumput berakar serabut dengan daun runcing itu jadi satu-satunya alat bantuku untuk naik dan terus naik. Ingin sekali aku melirik ke lembah itu. Tapi, aku tidak berani mengambil resiko aku tidak bisa sampai di puncak itu. Aku takut ketinggian!

"Lekas!" Suara itu terdengar lagi.

"Aku sedang berusaha!" Geramku seraya menjangkau rumput belulang yang kutaksir berakar kuat untuk bisa menjadi pegangan. "Kau di mana?" Gumamku lagi ketika kakiku sudah mencapai puncak bukit dan melongok ke arah lembah di bawahku. Suara-suara itu masih terdengar. Dari pepohonan yang tampak bergetar di kejauhan, kutaksir itulah tempat pertarungan itu.

Entah bagaimana, kepalaku tersentak seperti terkena setrum tegangan tinggi saat seseorang menekan tombol menyala pada televisi. Layar lebar terbuka di depan mata. Kulihat, seorang lelaki duduk terpekur di kedai kopi. Ada laptop di hadapannya, ada kopi dan penganan. Roti bakar? Kejunya kurang banyak itu... Wuh! 

Ia terus menatap laptop itu tanpa melakukan apapun. Napasnya terdengar sangat berat. Ada rindu, ada juga marah dan sedih terpancar dari tubuhnya.

Hey! Sepertinya aku mengenalmu. Sebentar kuingat-ingat. Di mana aku pernah melihatmu? Apakah itu kau? Okay, sebentar, izinkan aku mencerna apa yang sedang terjadi ini.

"Kuberi sedikit lagi waktu," Gumam lelaki itu.

Mendadak, perasaanku bergejolak. Kesal. Sangat kesal.

"Bagaimana bisa kau memberi sedikit waktu, bila kau yang berjanji akan datang menjemput? Kepalamu terbentur batu meteor? Tidak tahu apa aku sedang ribet? Lihat, mereka sedang bertengkar! Bajingan kau!" Gerutuanku terus berlanjut seperti pertarungan dua makhluk itu. "Woy! Udahan dong berantemnya! Sial, bikin kesal saja..."




  • 0 Comments

 


Pukul 00.00 WIB lapar menyerang. Seperti biasa, mamang goFood jadi layanan darurat macam ini. Saya kemudian pesan Geprek Dewek Cijawa dengan catatan:"Mas, sambal dipisah, ya. Tolong tambahi garam sambalnya, lagi pengen makan yang pedas asin. Hehe. Maaf ya, mas. Oh ya, ayamnya paha atas. Terima kasih...,"

Setelah mengambil pesanan, seperti biasa, driver menyapa dan pertanyaan standar; pesanannya dikirim kemana? Saya langsung balas, karena memang tidak enak hati kalau pesan kita tidak dibalas itu. Jadi, saya usahakan langsung memberinya alamat dengan ditambahi sesuai (map) di aplikasi. Tapi karena di negara bagian Tembong sinyal Telkomsel tidak bagus padahal ini masuk kota Serang, alhasil balasan pesan saya tidak terkirim.

Mau telepon driver dengan nomor provider lain pulsa habis, akhirnya saya menunggu ditelpon sambil berusaha mencari sinyal Telkomsel untuk balas pesan, mana lapar bingits. Telepon jadul berdering, driver menelpon dengan nada intimidatif dan kesal tingkat dewa karena pesannya gak dibalas dan disangka orderan fiktif.

"Pak, ini pesanan beneran, di sini sulit sinyal dan saya lapar. Antarnya ke titik map itu. Maaf, ya pak." Kata saya.

Di saat yang sama sinyal muncul satu bar, lalu pesan lainnya dari driver muncul plus pesan saya yang sebelumnya tertunda terkirim. Weits, saya disangka melakukan order fiktif? Orang laparan macam saya mah tidak mungkin melakukan order fiktif, Rudolf. 

Tidak berapa lama, telepon berdering lagi menanyakan apakah nomor rumah itu benar atau tidak. Saya langsung keluar menghampirinya. Tidak lupa saya juga memohon maaf karena telat membalas pesan dan merepotkannya.

"Pesanannya lengkap ya, mbak. Garamnya juga ada," katanya. 

Oh! Disangka order fiktif karena telat membalas pesan dan meminta garam padahal dalam pesanan ada telur asin juga. Garam kok minta? Ada, tapi garam buat mandi bukan buat dimakan. Iya, saya lupa beli garam. My bad. 😂

Nanti mah mau ta kasih catatan; "Pak, kalau telat balas pesan, ikuti map aja. Di Negara Bagian Tembong iki sulit sinyal. Wk."

  • 0 Comments

 


Untuk kau, yang datang dan duduk di depan saya di tepi telaga. Yang mendengarkan dengan seksama setiap keluh kesah saya. Yang tersenyum pada setiap lelucon saya. Yang saya misuh-misuhi setiap kali saya kesal pada seseorang, tapi yang selalu memberi nasihat terbaik ketika saya sedang membutuhkannya, maafkan saya.

Ya, ingatan itu saya bawa dan terus saya pelihara hingga kini. Ingatan itu pula yang sering menjadi penguat saya ketika hari-hari paling buruk dan menyedihkan datang bertamu. Serupa tali kasat mata yang menghubungkan saya denganmu, entah bagaimana ingatan itu muncul di kepala saya, kemudian lupa dan ingat lagi. Saat ini, saya masih terus berusaha meningkatkan diri, melepas apa yang mesti saya lepaskan dan menerima apapun yang harus saya terima. Sembari menunggumu muncul di hadapan saya. Iya, secara nyata. Agar saya bisa benar-benar jelas melihat matamu, memegang tanganmu, atau mungkin..., memelukmu jika kau bolehkan?

Tak perlu bertanya kenapa saya tahu tempat ini, padahal belum pernah saya kunjungi. Iya, saya juga bertanya-tanya kenapa harus Mahameru? Ada apa dengan Ranukumbolo? Kenapa di sana di antara telaga-telaga lainnya di seluruh dunia? Tapi sudahlah, mungkin karena tempat ini tidak mungkin saya kunjungi setiap hari. Karena itu, ada di kepala saya dan karena itu pula, saya bisa bertemu denganmu dan memohon maafmu. 

Maaf atas segala yang kamu lalui tanpa saya di sampingmu. Tanpa saya yang mendengarkan keluh-kesahmu. Tanpa saya yang mengusap air matamu. Iya, ini saya. Hidup yang saya pernah dan sedang saya jalani, berbeda jauh dari bayanganmu. Tapi, saya mensyukurinya dan menerimanya sebagai bagian dari saya saat ini. Jalan apapun yang pernah dilalui, sudah banyak mengajarkan saya untuk menjadi apa yang seharusnya ada di dalam saya. Begitu pula dengan apa yang pernah dan sedang kau jalani saat ini. Saya menghargainya sebagai bagian dari dirimu saat ini. Segala hal di dunia ini selalu berubah, bukan? Perubahan-perubahan itu, semoga tetap dalam kebaikan dan untuk kebaikan saja, ya.

Saya yakin, ada begitu banyak alasan kenapa hingga saat ini pertemuan itu belum terlaksana. Pandemi, salah satu alasannya. Lainnya, masing-masing dari kita bisa membuat daftar panjangnya. Beberapa saat lalu, saya sempat ragu apakah kau akan memilih menunjukan diri dan mengatakan apa yang mesti kau katakan, atau memilih untuk diam dan melakukan apa yang saat ini sedang kau jalani. Manusia memang selalu punya alasan dan punya pilihan-pilihannya sendiri, bukan? Bagaimanapun, atas alasan dan pilihanmu itu, saya memaafkanmu. 

Saya selalu menyayangimu.

Terima kasih.

  • 0 Comments

 
Doc. @al_anyudi.

Setelah banyak 'hayu' yang tidak bisa direalisasikan karena ketidaktepatan waktu, akhirnya bisa dilakukan juga. Adalah kawan saya, Al-Anyudi yang mengajak saya untuk ikut kemping sembari silaturahmi dengan kawan-kawan dekatnya, para pendaki dan pecinta alam di Banten. Meskipun tidak seluruhnya diundang, tapi bumi perkemahan Tamansari, Mandalawangi, Pandeglang di hari Sabtu (7 November 2020) itu pun ramai sekali.

Awalnya, saya kira ajakannya untuk kemping bersama itu tidak jadi dilakukan. Karena sampai dzuhur, tidak ada kabar darinya. Tapi ketika saya melihat ia mengupdate status whatsappnya, ternyata jadi. Karena itu, saya buru-buru menghubunginya dan bertanya apakah ada tebengan untuk saya? Karena di sisi lain, saya pun sedang ingin tiduran di rumput. Dan dia menjawab ada beberapa kendaraan yang kosong dan mereka sebentar lagi melintas di area Banten Girang. Karena itu, saya segera mandi (alakadarnya), menyiapkan beberapa pakaian dan memintanya untuk menjemput ke kostan saya.

Persiapan singkat itu membawa saya bertemu dengan orang baru, teman baru dan itu selalu menjadi sesuatu yang saya hargai dan nikmati di antara rasa malu yang terkadang ada di dalam saya. Hanya saja, saya membebaskan diri dari penilaian-penilaian apapun yang biasanya ada di first impression seseorang atas diri orang lain. Terserah mereka menganggap saya seperti apa, yang penting saya tetap menganggap mereka adalah orang-orang yang memiliki jiwa yang baik, yang mencintai alam ini dengan sepenuh hati mereka.

Perjalanan menuju tempat yang dulu sering saya datangi ini, sedikit terhambat. Langit sudah tampak mendung dan saat melewati Ciomas, ada hujan poyan atau hujan "ngajuru maung" dan gerimis-gerimis lucu yang mulai membuat rambut sedikit basah. Tapi kami tidak berhenti untuk sekadar berteduh. Basah sih tidak, karena setelah melewatinya, kamu menemukan tempat yang tidak gerimis. Bahkan saat tiba di pertigaan Mandalawangi pun, tanah tidak basah sama sekali. Di sanalah, kami bertiga menunggu mereka yang tertinggal di belakang, sekaligus menunggu kawan baiknya dari Picung. Setelah lama menunggu, akhirnya diputuskan untuk menunggu sembari membeli buah-buahan di Pasar Pari.

Semangka dan melon sudah di tangan, kawannya belum juga datang. Karena itu, kami berhenti lagi di belokan menuju Kp. Cikoneng. Langit sudah gelap, kilat menyambar lebih dekat dan sangat dekat. "Ya Allah, aku sieun..." gumam saya sembari menyisi ke dekat warung. Sementara Al-Anyudi dan saudaranya tetap menunggu di motornya hingga kawan baik ituu datang dan kami beriringan menuju Bumi Perkemahan Tamansari. Jalan yang baru diaspal itu hanya sepotong saja, tidak sampai ke sisi Bumi Perkemahan itu. Batu-batu besar muncul dari tanah, dan itu menyeramkan untuk dilewati.

"Lho, emang kemarin ada hujan merah? Atau longsor?" Tanya saya ketika mata saya melihat noda merah seperti tanah di dedaunan di blok itu. Tapi saya tidak melihat bekas longsoran atau apapun yang bisa menggenangi pepohonan setinggi itu. "Ada apa, ya? Kok seram...," gumam saya lagi. Al-Anyudi tidak menjawab celotehan saya, sebab dia sedang fokus menyetir kendaraannya di jalan terjal milik Perhutani itu.

"Mungkin hama?" Jawab Al-Anyudi ketika ia sudah melewati turunan terjal dekat pohon besar itu.

"Masa sih? Kok hanya di daerah ini aja?" Saya terus berceloteh hingga di hadapan kami, ada satu tanjakan terjal lagi yang harus dilewati sebelum memasuki tanah lapang itu. Jeritan kengerian saya pun mulai terdengar. Seram sekali melewati jalan itu, lebih seram dari jalan ke rumah yang sama seperti itu tapi tidak seseram itu juga.

Di sisi lapangan di bagian atas itu, sudah ada dua tenda yang berdiri. Ada dua orang lelaki di sana. Mereka teman baiknya Al Anyudi. Bersalaman, berkenalan, ngobrol sembari beristirahat menjadi moment lainnya di samping menunggu tenda yang dibawa kawan di belakang itu datang.

Mengenal orang-orang di luar diri saya, selalu menjadi sesuatu untuk saya. Mereka memiliki sifat dan karakternya masing-masing dan saya hanya harus memperhatikan serta menerimanya saja sebagai bagian dari penghargaan atas pertemuan kami. Saya bersyukur bisa mengikuti acara silaturahmi ini dan mengenal mereka dalam waktu kurang dari 24 jam. Tidak ada ekspektasi untuk melakukan perjalanan jauh bersama, mungkin nanti akan terjadi juga jika semesta mengizinkan.

Hanya saja, saat tiduran di rerumputan itu, saya berdoa semoga perjalanan apapun yang nanti saya lakukan dan mereka lakukan, tetap berada dalam kebaikan dan untuk kebaikan saja. Kebaikan untuk diri saya, untuk diri mereka dan lebih bagus lagi bila bisa menjadi kebaikan komunal. Dan tentu saja, kebaikan untuk alam juga.

Sementara Al-Anyudi berbelanja, saya masih meneruskan tiduran sembari ngobrol bersama teman-teman baru. Obrolan standar untuk mereka yang baru berkenalan. Menjelang maghrib, Al-Anyudi datang diiringi kawan-kawan yang tadi ketinggalan di belakang. Ada sayuran segar yang dibawanya dan mereka pun segera membuka tenda. Tenda baru yang besar dan berat itu dipasang. Saya menempati salah satunya bersama Viona.

Waktunya memasak tiba. Saya yang tidak begitu pandai memasak, hanya menawarkan diri untuk bagian potong memotong saja yang sepertinya saya cukup bisa melakukannya. Tapi, gerimis datang lagi. Kilat dan gluduk terus terdengar. Kawan-kawan lelaki mulai memasang flysheet di atas kepala kami yang sudah enggan pindah.

*

Di langit pada dini hari, bulan seperti sepotong semangka. Sepotong lagi entah siapa yang menyimpannya. Dan sepertinya, hal-hal yang tadinya saya khawatirkan sebelumnya, tidak terjadi. Padahal, saya sudah membuat skenario apabila hal itu terjadi. Hahaha. Maafkan saya, karena sudah berpikir begitu lucu. Skenario cadangan ini juga saya ceritakan pada Al-Anyudi dan kedua kawan baiknya. Syukurlah skenario cadangan ini tidak harus saya pakai. Karena itu juga akan memberatkan saya dan aktor yang terlibat dalam skenario itu nantinya. Kami tertawa, menertawakan kebodohan itu. Saya benar-benar merasa bodoh. Bagaimana bisa saya memikirkannya? 

Tentu, bukan karena ingin melarikan diri, marah atau benci sama orang lain. Tapi karena malas, malas membiarkan diri saya terhubung dengan orang-orang manipulatif yang tidak pernah menghargai orang lain.

Dan prakiraan apapun yang terdengar dan tampak, seperti biasa, tidak akan mendapat tempat terluas dalam pikiran saya. Kumaha Gusti Alloh saja. Dan saya dengan tangan terbuka menerima hal-hal baik yang akan terjadi di hari ini dan esok.



A poem

SORE DI TAMANSARI


selalu saja,

ada 'hujan poyan'

petir menyambar, menggelegar, mematikan

: di jauh, dua orang mati tersambar!


dan gerimis,

masih serupa tangisan ibu di pundakku

: utara terus memanggilku, bu.

bolehkah aku menemuinya?

(Tamansari, November 2020)


Terima kasih sudah mengajak, Al-Anyudi. Jangan kapok, ya cu. Salam kenal untuk teman-teman baru. Panjang umur, para pencinta alam!

  • 0 Comments

 


Assalamualaikum, babeh. Babeh apa kabar? Hari ini aku ingat babeh, lho. Tanggal 12 Oktober 2013 pukul 12 siang (12.30?), hari paling suram bagi kami. Tapi pasti melegakan buat babeh karena tugas babeh di bumi ini sudah selesai.

Setidaknya, untuk tugas kali ini, beh. Sebenarnya yah, masih banyak hal yang sepertinya membutuhkan tangan babeh. Meskipun kami tahu, hal itu juga membuat babeh lelah karena harus bolak-balik Bandung untuk cuci darah, harus mengajar, harus melatih teater dan lain sebagainya. Kami tahu, babeh pasti lelah, tapi kami juga tahu babeh tidak ingin kami menunjukan perasaan 'kasihan' pada babeh. Selain itu, babeh juga pasti enggan berdiam diri. Karena menyayangi babeh, maka kami hanya berusaha agar babeh tidak terlalu lelah. Dan di tanggal 12 Oktober itulah, babeh pulang ke swarga.

Saat babeh mampir ke mimpiku pun, aku senang melihat babeh tampak bugar. Lebih muda dan lebih bercahaya. Karena itu, aku tidak segan mengatakan bahwa babeh tampan. Karena memang seperti itulah babeh sekarang.

Babeh yang kami rindu, kami masih berproses sebisa-bisanya, sekuat-kuatnya. Bagaimana di sana? Babeh suka ngopi bareng sama Pak Wan tidak? Sambil ngetawain kelakuan kami, ya? Biasa itu mah improvisasi, beh. Kami tidak pernah berkonflik, kok. Tetap menjaga silaturahmi dan saling mendukung apapun yang dilakukan dalam kebaikan dan untuk kebaikan. Nggak ada saling jejak untuk menjadi tinggi itu, beh. Kami berusaha untuk tetap saling mengapresiasi, mengkritik tanpa maksud menjatuhkan malah sering sebaliknya; ingin melihat salah satu dari kami berada di posisi tertingginya. Kami tetap saling mengingatkan untuk terus melangit, tanpa melupakan bumi.

Babeh yang baik, udah dulu, ya. Sampai jumpa di sana, beh. Ya nanti, nggak sekarang juga. PR-ku masih banyak sekarang mah. Semoga kita bertemu ya, beh. Nanti kita ngopi bareng sambil cerita hal-hal baik yang pernah kami dilakukan. 

Sekarang, masing-masing dari kami harus berproses lagi. Aku juga harus mengerjakan PR-ku. Doa terbaik untuk babeh, Pak Wan, para guru dan mahaguru lainnya. 


Dadah babeh.

Wassalamualaikum


Dari kami dan aku yang merindukan babeh



  • 0 Comments

 


"Doangna mah, Felix nu meunang, bel."

"Maca novel aing bae geh teu anggeus maneh..." 

"Ahahaha. Nya, maneh nu meunang." 

"Kumcerna Ben Sohib itu keren juga..."

"Saingan berat, nyah."

"Punya Kedung dan Mawin aing can maca. Jadi teu nyaho. Novelnya Felix dan Kumcernya Ben itu lawan yang kuat."

"Maneh baelah nu meunang, meh aing meunang henpon anyar. 😂"

"🤔🤔🤔"

Ini potongan percakapan kami di DM Instagram saat Niduparas Erlang mengumumkan bahwa novelnya "Burung Kayu" masuk 5 besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2020. Maafkan kami menggibah. Dan memang benar, saya juga belum menyelesaikan pembacaan atas novel pertamanya itu. Karena novelnya ketinggalan di rumah. Padahal, sudah saya siapkan untuk dibawa juga ke Serang bersama sebagian buku-buku yang mungkin saya perlukan. Sementara untuk pulang, saya masih harus terus diundur sampai saya merasa harus pulang. Bukan apa-apa, jauh dan sepertinya akan sulit lagi untuk keluar rumah.

Seusai melihat-lihat koleksi Museum Negeri Banten, siang tadi, Heru Joni Putra menghubungi Nanda Ghaida. Saat itulah saya tahu bahwa "Burung Kayu"-lah yang menjadi pemenang di Kusala Sastra tahun ini. Hmm, tidak meleset dari prakiraan. Meskipun, saat saya dan Nidu berbincang itu, rasanya saya malas sekali mengatakan kemenangannya. Bukan karena iri, tapi agar dia tidak geer duluan. Yah, dengan mengatakan orang lain yang akan menang, saya berharap hukum hari kebalikan Spongebob bekerja. Hahaha.

Tapi da nggak gitu cara mainnya, kan? Semesta selalu mengabulkan keinginan yang tulus dari kalbu kita. Karena itu, meski terkesan datar saja, saya katakan dia yang akan menang. Lagipula, saya akan bebas meminta handphone baru padanya ketimbang sama orang lain. Selamat, bel! Kado terbaik di 34.

  • 0 Comments



Malam telah larut. Kantuk dan dingin sudah membawaku ke balik selimut. Jangkrik, kodok dan binatang malam lainnya menjadi pengantar tidur paling sempurna di bumi Mandala hingga tidur lebih awal adalah niscaya. Di luar, bulan sedang purnama.

Tapi, ada yang kurang ajar mengganggu tidurku. Ketukan di pintu. Sekali, kudiamkan saja. Dua kali, kudiamkan lagi hingga suara ketukan terdengar lebih kuat lagi. Seolah jika tidak segera kubukakan, pintu tua yang sudah keropos itu bisa saja hancur.

Daun pintu terkuak, mulutku tak kuasa menahan desis 'wow'. Jika aku bermimpi, maka ini akan menjadi mimpi indah lainnya. Dan jika ini benar terjadi, maka barangkali inilah yang disebut sorganya para betina.

Bagaimana tidak, ada begitu banyak lelaki tampan dalam antrian yang mengular hingga ke ujung pandangan. Entah berapa ratus orang dalam antrian yang sepertinya masih mengulari jalan itu. Pakaian mereka seragam. Kain putih di bagian bawah dan kain lain untuk menutup bagian dada mereka. Jika ini persoalan rupa atau wajah, insting kebetinaanku mengatakan ketampanan mereka di atas rata-rata. Bintang iklan susu untuk lelaki pun jauh di atasnya. Bagaimana aku tidak mendesiskan kata 'wow', kan? Memang tampan sekali!

Semua lelaki yang tampan itu, terbagi menjadi dua per satu peti yang bobotnya sepertinya berat sekali. Aku tahu peti itu berat dari bulir keringat lelaki di depan pintu. Lelaki yang mengetuk dan membangunkanku itu. Lelaki itu menangkupkan tangan di dada. Memberi salam pembuka. Kujawab salamnya dengan melakukan apa yang ia lakukan. 

Kutanya, apa hal yang membuat mereka datang dan dari mana asal mereka? Bukannya menjawab, lelaki itu malah menunjuk peti, kemudian menunjuk orang-orang yang berjajar itu seolah ingin diketahui jika kedatangan mereka adalah mengantarkan peti-peti itu. Kemudian, ia membuka peti yang ada di depan hadapan kami.

"Silakan..," ujarnya seolah memintaku untuk memeriksanya.

Anehnya lagi, aku tidak merasa isinya sangat penting. Padahal, jika kujabarkan, di dalam peti itu berisi perhiasan yang tak terhitung jumlahnya. Semuanya berkilau! Tapi, dadaku sama sekali tidak berdesir. Aku hanya tahu, aku hanya harus menerimanya. Karena itu, jawaban yang muncul kemudian sangat datar sekali.

"Baik, terima kasih. Letakan saja di sana. Dan silakan beristirahat...," ujarku seraya menunjuk salah satu sudut. Lelaki itu mengangguk dan memberi isyarat pada rekannya sementara aku sibuk mencari apa yang sedang kubutuhkan saat ini. Dan perutku menjawab seloyang martabak durian keju susu. Ah, kenapa tidak sekalian minta martabak saja?


(Mandalawangi, akhir 2018)
  • 0 Comments
Older Posts Home

Where we are now

o

About me

a


@NYIMASK

"Selamat datang dan selamat membaca. Semoga kita semua selalu sehat, berbahagia, dan berkelimpahan rezeki dari arah mana saja.”


Follow Us

  • bloglovin
  • pinterest
  • instagram
  • facebook
  • Instagram

recent posts

Labels

#dirumahaja #tukarcerita Artikel Catatan Perjalanan Celoteh Cerpen E-Book Esai Info Lomba Journey Jurnal Kamar Penulis Lowongan Kerja Naskah Poject Promo Puisi Slider Undangan

instagram

PT. iBhumi Jagat Nuswantara | Template Created By :Blogger Templates | ThemeXpose . All Rights Reserved.

Back to top