utherakalimaya.com

  • Home
  • Features
  • _ARTIKEL
  • _CATATAN
  • _UNDANGAN
  • DOKUMENTASI
  • contact





Rumah besar itu berbentuk persegi dan tak memiliki pintu depan. Ada jendela tinggi dan besar, dan tanaman gantung di beberapa sisinya. Juga taman dengan air mancur di sisi halaman sebelah kiri dari pintu masuk. Untuk memasuki rumah itu, aku harus memutar ke kiri hingga mencapai bagian belakang. Iya, pintunya hanya ada di bagian belakang!
Aneh sekali arsitek rumah ini? Ya, aku juga merasa begitu dan aku sempat mendumelinya sembari mencari jalan masuk itu.

Kuketuk pintu dan mengucap salam. Saat pintu terbuka, rupanya ada beberapa orang perempuan dengan gaun putih menjuntai dan mereka seolah penasaran dengan apa yang kulakukan di rumah ini. Kau tahu siapa mereka, kan? Jangan disebut, biarkan saja. Mereka juga makhluk ciptaan Tuhan.

"Maaf, saya hendak ke ruang tamu, saya harus pergi ke mana ya?" tanyaku pada mereka yang tampak saling pandang. Bingung. Seseorang di antara mereka menunjukan arah ruang tamu. Kuanggukan kepala sebagai tanda rasa terima kasihku, lalu pergi ke arah yang ditunjukannya.

Ruangan yang kumasuki ini berbentuk segi empat, besar sekali. Ada sofa besar yang terbuat dari kulit berwarna coklat. Sofa itu menghadap ke jendela besar yang di sebaliknya ada taman berair mancur yang tadi sempat kulewati. Tak ada sesiapa lagi di sana. Hanya aku. Dan sofa itulah yang kutuju.

Setelah duduk, kutaruh totebag di pangkuan, membuka resletingnya, dan mengambil novel dari dalamnya. Tak lama, seseorang datang membawakan minuman yang sebenarnya tidak kupesan, tapi kubiarkan saja ia meletakannya di meja.

Sedang asyik membaca, seorang lelaki berjaket ojek online datang. Aku menyadarinya ketika seseorang mencolekku untuk melihat ke jendela. Lelaki itu sudah berusia kira-kira 40 tahunan dan tampak kurus. Ia tertawa bahagia sembari menunjukku. Seolah, ia sangat lega, sangat bahagia telah berhasil menemukanku. Meski aku tidak tahu dengan jelas apa yang ia rasa, kujawab saja dengan senyuman dan lambaian tangan. Kuberikan isyarat untuk memutar ke pintu belakang, pintu yang tadi kulewati.

Saat ia sudah berada di hadapan, lelaki itu sepertinya memang benar-benar merasa bahagia sekaligus lega. Senyumnya juga tak pernah ia lepas dari wajahnya yang tampak tirus itu.

"Syukurlah, bu. Syukurlah," ujarnya seraya menyerahkan plastik putih berisi peti kecil yang terbuat dari kayu yang mengkilat. Ukurannya tidak terlalu besar, tidak lebih besar dari kotak martabak anak presiden dan tidak lebih kecil dari kotak nasi padang untuk makan malam. Kuterima peti ittu dan bertanya siapa pengirimnya dan dari mana asalnya.

Namun, alih-alih menjawab, lelaki itu malah menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kuterka. "Ibu, jaga kesehatan, ya," ujarnya seolah itu adalah pesan yang lainnya. Ia mengucapkannya dengan seluruh perasaan.

Ibu? Agak kikuk rasanya mendengarnya. Karenanya, kuanggukkan kepala saja. Meski keningku kemudian mengerut. Mungkin panggilan itu adalah bentuk profesionalitasnya saja ataukah itu yang diucapkan si pemakai jasanya?

"Ah, iya. Terima kasih, pak," ujarku.
Kubolak-balik peti kecil di tanganku. Ada suara benda yang beradu dengan sisinya. Sepertinya benda padat. "Kenapa tidak diantar sendiri saja?" Gumamku seraya menaruhnya di sofa sebelahku. 
Sementara lelaki yang mengantarkannya sudah pergi dari tadi.
  • 0 Comments


Ada yang menetas dari perut waktu. Dua jenis makhluk berlainan jenis dengan satu warna badan. Putih. Mereka menempati area serupa kandang dengan dinding kaca besar dan tebal. Kutaksir, ketebalannya mampu menahan benturan macam apapun. Hanya saja, rasa kasihan dan ingin memberi mereka makan menyerangku. 

Karenanya, kubuka saja pintu itu. Tidak peduli pada peringatan seseorang di belakangku yang melarangku untuk berdekat-dekat dengan mereka. Tapi, karena aku tidak ada tanda bahaya di kepalaku, maka aku anteng saja. Menyodorkan roti yang kuambil dari tas punggungku ke keduanya. Alih-alih berbahaya, kedua makhluk itu sangat jinak. Naga putih kecil yang lucu dan kera kecil yang perkasa. Mereka masih teramat kecil untuk bisa dikatakan 'berbahaya'.

"Ayo keluar," ajak penjaga.
"Sebentar, foto dulu, hehe..." ujarku sembari menyeringai geli sendiri dengan kebiasaan baru ini.

Belum selesai mengambil gambar, sesuatu menarik kemejaku hingga aku terjatuh. Kepalaku membentur lantai batu. Mataku terus kupicing-picingkan untuk mengusir rasa pusing sekaligus ingin melihat yang terjadi. Samar dalam penglihatanku, ia besar sangat besar dan ia sedang memasang badannya untuk menghalangiku dari serangan tak terduga. Induk anak-anak itu? Sementara di hadapannya, induk lainnya sedang bergumul dengan sesuatu yang entah. Samar sekali. Dari area kandang, mereka terus keluar ke arah lembah. Suara ranting patah ditimpa tubuh-tubuh itu menggema.

"Lari! Kembali ke tempatmu!" suara itu menggema dikepalaku, di luar gemuruh pertarungan masih berlangsung di antara cericit dan geram kemarahan .

Benturan-benturan keras terdengar. Bumi terasa bergetar. Di sampingku tak ada siapapun. Induk naga itu entah kemana, pun anaknya yang lucu itu. Kepalaku masih merasakan kepusingan. Sungguh, bila batok kepala ini terbuat dari kaca, mungkin sudah pecah saat tubuhku ditarik tadi.

"Lari!" Terdengar suara itu di kepalaku. Siapa?
"Lari ke tempat tinggi!" Suara itu terdengar lebih kecil.

Segera kuangkat badanku, pening itu masih ada di sana. Tapi, aku harus menuruti perkataan mereka. Terseok, aku berlari ke arah gunung di belakang kandang besar itu. Gunung yang tidak berpepohonan. Sungguh gersang dan terjal. Kurutuki diriku yang tidak pernah ikut organisasi pecinta alam. Bagaimana bisa aku melupakan hal penting itu? Rumput-rumput berakar serabut dengan daun runcing itu jadi satu-satunya alat bantuku untuk naik dan terus naik. Ingin sekali aku melirik ke lembah itu. Tapi, aku tidak berani mengambil resiko aku tidak bisa sampai di puncak itu. Aku takut ketinggian!

"Lekas!" Suara itu terdengar lagi.

"Aku sedang berusaha!" Geramku seraya menjangkau rumput belulang yang kutaksir berakar kuat untuk bisa menjadi pegangan. "Kau di mana?" Gumamku lagi ketika kakiku sudah mencapai puncak bukit dan melongok ke arah lembah di bawahku. Suara-suara itu masih terdengar. Dari pepohonan yang tampak bergetar di kejauhan, kutaksir itulah tempat pertarungan itu.

Entah bagaimana, kepalaku tersentak seperti terkena setrum tegangan tinggi saat seseorang menekan tombol menyala pada televisi. Layar lebar terbuka di depan mata. Kulihat, seorang lelaki duduk terpekur di kedai kopi. Ada laptop di hadapannya, ada kopi dan penganan. Roti bakar? Kejunya kurang banyak itu... Wuh! 

Ia terus menatap laptop itu tanpa melakukan apapun. Napasnya terdengar sangat berat. Ada rindu, ada juga marah dan sedih terpancar dari tubuhnya.

Hey! Sepertinya aku mengenalmu. Sebentar kuingat-ingat. Di mana aku pernah melihatmu? Apakah itu kau? Okay, sebentar, izinkan aku mencerna apa yang sedang terjadi ini.

"Kuberi sedikit lagi waktu," Gumam lelaki itu.

Mendadak, perasaanku bergejolak. Kesal. Sangat kesal.

"Bagaimana bisa kau memberi sedikit waktu, bila kau yang berjanji akan datang menjemput? Kepalamu terbentur batu meteor? Tidak tahu apa aku sedang ribet? Lihat, mereka sedang bertengkar! Bajingan kau!" Gerutuanku terus berlanjut seperti pertarungan dua makhluk itu. "Woy! Udahan dong berantemnya! Sial, bikin kesal saja..."




  • 0 Comments




"Nduk, ditunggu di Lawu sekarang,"

Suara halus itu hinggap di telingamu. Kauiyakan dengan riang tanpa peduli angka 00.00 tertera di ATM. Hanya Tuhan dan semesta alam yang tahu caramu sampai ke tujuan. Sebab, jika hal itu kaupikirkan juga, pada akhirnya hanya akan menjadi pening di kepala saja. Karenanya, tanpa menunggu waktu, segera kuambil carrier yang selalu siap sedia di sudut kamar, menumpahkan beberapa potong pakaian dengan sembarang dan perlengkapan outdoor lainnya termasuk laptop. Asal jejal, asal masuk.

Di kereta itu, kau melihat peta dari ponselmu. Kau tampak sibuk mencocokan jadwal kedatangan kereta dan waktu yang disediakan khusus untukmu di Puncak Lawu. Kau ingat, ada seorang teman yang pernah kau antar ke tanah Tangtu, ia paham betul area itu. Karenanya, tanpa menunggu lama, kau mengirimkan pesan pembuka.

"Halo, selamat siang, mas. Sedang sibukkah?"

"Tidak terlalu. Ada apa?"

"Aku menuju Lawu,"

"Wah! Aku jemput di stasiun?"

Keningmu mengernyit. Tanganmu menggaruknya tanpa terasa gatal sama sekali. Ada senyum yang tersungging di bibirmu. Kau senang.

"Ehe, aku pasti merepotkan. Mohon bimbingannya..,"

"Siap, aku tunggu,"

Seusai mengirim pesan, kau kembalikan ponselmu ke saku. Buku yang selalu kau bawa itu kau buka kembali. Kau membacanya hingga tak sadar matamu memejam. 

*

Kereta api sebentar lagi berhenti di stasiun Balapan, Solo. Telingamu mulai melantur, mendengar suara Didi Kempot menyanyikan lagu yang sering kau curi dengar dari tape tetangga di pagi hari. ...Ning stasiun Balapan....

Kau tatap ponselmu, berharap pesan yang baru kau kirimkan dibalas lelaki yang sebelumnya kau panggil Mas itu. Dadamu mulai sangsi, apakah ia benar-benar akan menyediakan waktunya untukmu? Ah, kau selalu begitu. Memikirkan hal-hal yang sebenarnya hanya perlu kau percayai dia sudah di pintu keluar itu, dia menunggumu. Kau hela napasmu dan menghembuskannya sekaligus. Mencoba mengusir segala kemungkinan yang bermunculan, andai si Mas itu batal menemanimu menuju Lawu. Kau harus pergi ke mana? Sedang arah bagimu selalu menjadi masalah.

Ah, sudahlah. Bismillah saja. Bisikmu menenangkan diri.

Ketika kereta benar-benar memasuki stasiun dan berhenti, di antara penumpang yang berjubel keluar stasiun itu, pupil matamu terkaca-kaca. Mulutmu terus mengucap syukur. Kau merasa ingin segera berlari menujunya dan memeluknya untuk mengucapkan terima kasih tak terhingga. Bagaimana bisa ia menyisihkan waktunya untukmu? Kau tak tahu, kau sungguh tak tahu!

"Halo, mas. Apa kabar?" Sapamu berusaha menyembunyikan rasa bahagiamu. Kau julurkan tanganmu. Seperti kebiasaanmu, kau mengecup punggung tangan siapapun yang kau ajak bersalaman. Kau tak memandangnya muda atau tua, kau hanya melakukannya saja. Sebab bagimu, itu adalah wujud dari rasa syukurmu, rasa terima kasihmu atas segala hal yang sudah seseorang sisihkan untukmu. Bersyukur sudah bertemu, sudah berinteraksi denganmu. Dan mas itu juga sedikit menarik tangannya.

"Baik, dong. Mau istirah dulu atau langsung?" tanyanya.

"Langsung saja, mas," jawabmu sembari tersenyum.

Sepanjang perjalanan, kalian bercakap mengenai berbagai hal. Persoalan yang terjadi di kampung halaman hingga hal-hal terkait tempat yang akan kau datangi. Menurutnya, Karanganyar akan menjadi tujuan saat ini. Pintu Candi Cheto yang terbilang baru itu yang akan kau masuki. Sembari menikmati pemandangan di perjalanan, angin yang menerpa wajah tangan telapak tanganmu, kau bisikan kabar kedatanganmu. Meski kau tahu, mereka pasti sudah tahu kau datang.

Kendaraan itu berhenti di depan sebuah rumah. Basecamp? Taksirmu. Ia mengajakmu memasuki rumah itu, kau diperkenalkan pada orang-orang yang berada di sana sebagai perempuan yang mendadak harus ke puncak. Mereka menyambutku sebagai keluarga baru. Tak ada kecanggungan, kau lekas akrab dan mereka juga. Seusai asyik mengobrol, seorang lelaki menawarimu untuk beristirahat. Katanya, ada tempat yang sudah dipersiapkan untukmu.

"Tenda khusus ini, sudah disiapkan sejak pagi," ujarnya sembari melirik ke arahmu yang sedang berdiri keheranan. Kauucapkan terima kasih padanya sebelum akhirnya ia pamit kembali. Sementara mas yang menjemputmu itu tampak datang menyusul sembari senyum-senyum saja.

"Ada seseorang lagi yang harus kita tunggu. Dia lebih tahu Lawu dibanding aku. Nggak apa-apa, ya?" ujarnya. Kau mengangguk. Meskipun pikiranmu tertuju pada jadwal kedatanganmu yang hanya 3 hari saja.

"Oh, okay, nggak apa-apa," jawabmu akhirnya.

"Bersih-bersih dulu, nanti aku ajak ke suatu tempat yang indah," ujar masmu.

"Asyik! Iya, ini mau bersih-bersih. Lihat, aku buru-buru ke sini, jadi semua asal masuk saja. Lihat, kan?" Celotehmu sembari membuka carier. Lelaki yang kau panggil mas itu tertawa. Tanpa kau ceritakan bagaimana prosesmu, ia pasti sudah tahu betapa kau sangat terburu-buru. Kau kemudian pamit untuk bersih-bersih sekaligus menunaikan salat fardu dan salat sunnah hajat. 

*

Selama dua hari keberadaanmu di area Desa Cheto, kau lebih banyak diajak berkeliling kampung. Sesekali, kau mengunjungi candi. Di hari kedua ini, kau mulai merasa gelisah. Sangat gelisah. Mas yang bersamamu itu tampaknya mengetahui kegelisahanmu.

"Maaf, ya," ujarnya ketika kalian duduk di salah satu sudut candi.

"Santai saja, mas. Toh nanti juga temanmu datang...," jawabmu seolah sedang berusaha menenangkan diri. Meski di sisi lain, kau merasa tanpa temannya itu pun kalian bisa saja sampai di atas sana. Tapi kau enggan mengatakannya. Kau takut perkataanmu menyakitinya yang sudah menyediakan waktu untuk menemanimu dan kau harus berterima kasihnya tanpa memaksanya menuruti keinginanmu. Meski kau tidak bisa menyembunyikan kerutan di keningmu itu. Kau kesal, bukan?

Kau tatap puncak Lawu yang melambai padamu, mengajakmu naik sendirian saja. Tapi, kau ingat pesan leluhurmu untuk tetap mematuhi aturan dimanapun kakimu berpijak. Dan kau, kau tidak tahu aturan apa yang ada di tempatmu berdiri saat ini. Karena itu, kau mencokolkan dirimu pada dia yang lahir di tanah ini. Kesabaran adalah ibu, kesabaran adalah bumi.... Kalimat itu terus kau rapal di dadamu. Kau hela napasmu dan menghembuskannya sepelan mungkin. Kau bahkan takut suara napasmu itu membuatnya mengetahui kekesalanmu?

Matahari sudah hampir di atas kepala, kalian masih duduk saja di sana, sibuk dengan pikiran sendiri. Dari jauh, tampak seseorang datang mendekat. Wajahnya tampak lelah. Tubuh kurusnya terbalut kaos hitam yang dipadu dengan sweeter berwarna senada dan topi serta celana jeans. Tidak ada carrier atau perlengkapan lain yang dibawanya. Ia benar-benar hanya membawa tubuh letihnya saja. Kau menghela napas berat dan menghembuskannya sekaligus seraya melirik mas yang sedari tadi menemanimu. Mas itu pun sepertinya sedang memperhatikanmu.

"Kenalkan, ini temanku yang sedang kita tunggu," ujarnya.

"Hai," kau menjulurkan tangan seraya menyebut nama panggilanmu. "Silakan istirahat. Nanti malam kita selesaikan di sini saja," ujarmu. Lelaki itu menerima tanganmu seraya mengangguk. Ia benar-benar tampak lelah. Seperti sudah berhari-hari belum tidur dan tenaganya hanya tinggal 1% lagi.

Kau hela napasmu lagi dan menghembuskannya sekaligus, lalu melirik ke arah Lawu yang mengundangmu. Maaf, lain waktu aku naik ke sana. Sekarang, kita bertemu di sini dulu.

  • 0 Comments
Ilustrasi: pixabay.com


Menjelang sandekala, tubuhku seperti memiliki tombol yang bisa mengeluarkan jarum dan paku secara otomatis. Ini aneh sekaligus lucu. "Lihat! Lelucon macam apa ini?" Tanyaku pada lelaki yang menemaniku duduk di dalam pondok. Kucabut jarum itu dan menaruhnya di mangkuk kecil. Kami tertawa dan terus tertawa seiring jarum-jarum yang muncul-kutarik-dan muncul lagi. Terus begitu hingga jarum-jarum menggunung di mangkuk.

Di tempat lain di tubuhku, paku-paku bermunculan seperti halnya jarum. Sedang asyik mencabuti jarum dan paku itu sembari bercanda, pintu depan pondok digedor keras sekali. Suara marah terdengar mengiringi. Teriakan kalap dari seorang lelaki. Kulirik lelaki yang menemaniku seraya memberinya isyarat untuk mencari tahu siapa si perusuh yang sepertinya tak sendiri itu. Ia mengangguk, lalu pergi membuka pintu. Meski tidak kulihat ia kembali lagi.

Sementara di pintu yang terbuka itu kulihat orang-orang yang tadi menggedor pintu. Ada 4 orang lelaki dan seorang perempuan. Kutaksir, lelaki yang berdiri paling besar dan berperawakan agak gempal itulah pemimpinnya.

"Ada apa?" Tanyaku tanpa beranjak dari dudukku. Tanganku berhenti mencabuti jarum-jarum itu.
"Si brengsek itu mana?" Tanyanya setengah membentak dengan kearoganan maksimalnya.
"Eiy, santai. Dia sudah pergi tadi sore...," jawabku tenang sembari melanjutkan 'panen'. Tidak percaya dengan jawabanku, lelaki itu menyuruh rombongannya untuk menggeledah pondok.
"Bendanya masih di sini! Cari!" Ujarnya pada kawan-kawannya yang masuk ke dalam pondok. Sudut mataku melihat mereka berpencar memasuki ruangan-ruangan di pondok itu.
"Ya, cari aja. Tapi, jangan diacak-acak dan jangan ada yang pecah," ujarku tanpa menatap mereka dan tetap fokus pada panenanku ini.

Kudengar, mereka mulai mencari, riuh sekali. Dari riuhnya benda pecah belah yang diangkat dan dikembalikan ke tempat semula. Aku menyeringai. Setidaknya mereka patuhi syaratku. Toh, jika yang mereka cari adalah benda, mereka tidak akan mungkin menemukan benda apapun selain piring dan hiasan keramik.

"Sedang apa?" Tanya suara perempuan. Ah, aku lupa pada perempuan ini. Rupanya dia tidak ikut mencari dan malah mendekatiku.
"Biasa. Panen," Jawabku sembari nyengir.
"Payah. Lemah," ledeknya.
"Alhamdulillah, bisa berhemat beli jarum." ujarku sembari terus mencabut jarum yang muncul di bahuku. "Mau? Sok ambil aja," sambungku sembari mencabut jarum terakhir yang muncul.

Dan kecerobohanku pun dimulai. Ketika hendak menyatukan jarum yang kucabut itu dengan kawan-kawannya sesama jarum, ia terlepas dan jatuh ke lantai.  Kutundukan kepala untuk mencari jarum yang jatuh. Tapi di lantai itu, ada begitu banyak jarum, paku dan debu-debu yang entah sejak kapan ada di sana. Padahal, setiap hari seluruh lantai ini selalu kubersihkan.

"Hoalah, yang mana ini, teh?" Gumanku.
Perempuan itu turut menunduk dan langsung menunjuk dekat kakiku.
"Yang itu," ujarnya. Segera kuambil jarum yang ditunjukannya. Kulihat sebentar, lalu menyeringai.
"Ah, iya. Nuhun, ya," balasku senang.

Berbarengan dengan selesainya kegiatan panenku, sepertinya keempat orang lelaki itu juga selesai mencari pun rombongan lainnya di luar sana. Mereka berlima kemudian berkumpul di dekat pintu dan bicara agak berbisik. Mungkin takut kudengar. Tapi masih bisa kudengar jelas apa yang mereka ucapkan. Padahal, aku tak pernah mempelajari ilmu mendengar bisik-bisi tetangga.

"Dia memang sudah pergi, tapi aku yakin dia tidak membawanya. Apa kau yakin perempuan itu tidak tahu?" Tanya lelaki berjubah putih anggota rombongan itu.
"Ya, dia tidak tahu, yai. Aku yakin itu," jawab perempuan yang membantuku memungut jarum.
"Bagaimana, ki? Apa kita pulang atau kita kejar dia?" Lelaki berjubah itu berkata lagi.

Aku pura-pura tidak mendengar perbincangan mereka. Kurasa, mereka menatap ke arahku. Tapi, aku enggan berurusan dengan mereka, karenanya aku terus berpura-pura saja. Dan sepertinya, mereka juga sama denganku. Enggan berurusan denganku. Entah kasihan karena aku sedang ripuh dengan 'panen-panen' ini, atau karena hal lainnya. 

"Paman!" seruku memanggil lelaki yang semula menemaniku seraya membereskan jarum-jarum yang sepertinya sudah selesai kupanen. Terdengar suara langkah kaki mendekati pintu belakang. "Dari mana, hmm?" tanyaku. Tapi ia tidak menjawab.
  • 0 Comments
Ilustrasi: pixabay.com

Di atas bukit itu, orang-orang duduk di sekitar batu besar yang di atasnya telah kau duduki, mereka tampak lelah. Aku masih di tempatku, membelakangimu dan mereka. Tanganku masih dalam posisi merentang tali gondewa. Aku merasa musuh masih di sana. Ya, di sana, di atas pepohonan besar itu dan di sebalik rimbun semak-semak. Karena itu, aku terus bersiaga sembari melihat tanda-tanda keberadaannya. Meskipun sesungguhnya, aku pun sangat lelah.

Bagaimana tidak lelah bila sudah berhari-hari, siang ke malam ke siang lagi dan lagi, orang-orang yang kesetanan itu terus mengejar dan memburu kami seolah kami adalah penghianat yang harus dilenyapkan dari muka bumi. Melihat banyaknya orang-orang itu, aku sampai bergidik ngeri. Kami kalah jumlah!

Sebenarnya, aku sendiri merasa tidak punya alasan kuat untuk menghilangkan nyawa orang-orang yang tak memiliki permasalahan langsung denganku itu. Karenanya, setiap kali gondewa di tanganku ini kugunakan, kuniatkan untuk sekadar membuat mereka terluka saja. Walaupun aku tidak tahu, apakah dari puluhan jamparing yang melesat itu benar-benar hanya menunaikan apa yang kuniatkan, atau malah sebaliknya? Tapi setidaknya, kali ini aku benar-benar tidak ingin membinasakan siapapun. 

Di sabana yang beberapa jam lalu kulewati, aku sempat bertanya-tanya, berapa ratus ribu orang yang dikerahkan dalam perburuan kami ini? Rasanya, pasukan mereka seperti tak habis-habis! Selama beberapa hari ini, mereka seperti bedul bayangan (babi mengamuk). Mereka terus memburu dan terus memburu hingga titik lelah kami. Dan hari ini, sepertinya, tuan mereka memutuskan untuk menarik mundur pasukannya di ujung sabana yang telah jauh kami tinggalkan itu. Karenanya, kami bisa melepas lelah. Tapi aku yakin, mereka tidak sepenuhnya menarik pasukan. Ada pasukan kecil yang akan selalu diperintahkan untuk membuntuti orang-orang yang dianggap musuh, di samping si telik sandi yang sudah pasti akan terus mengekor itu.

"Sudah, biarkan, Nimas. Mari duduk di sini," serumu seraya menepuk batu besar yang tak sepenuhnya kau duduki.

Kuanggukan kepala tapi tetap kuputuskan melepaskan jamparing ke sekitar kami. Dan benar. Suara benda jatuh di kejauhan menjadi tanda jika firasatku tidak salah. Mereka masih membuntuti! Orang-orang yang tengah mengelilingimu itu langsung bersiaga. Sementara aku melenggang ke arahmu dan memberi isyarat agar mereka kembali beristirahat.

Kau menyambutku dengan senyuman. Tatapanmu sudah mengucapkan banyak hal yang perlu kuketahui, meski mulutmu tetap diam. Kau masih kesulitan mengucapkan kata 'terima kasih', kekasih?

Setelah aku duduk, kau mulai membuka pembicaraan. Perihal siasat yang sebelumnya sudah kami susun. Kau sedikit mengubahnya. Semua orang tak terkecuali dirimu, kau perintahkan untuk menyebar ke segala penjuru. Katamu, pemimpin orang-orang yang kesetanan itu pasti akan mengerahkan orang-orang terbaiknya untuk memburu kami. Karenanya, untuk membuat mereka terpencar, kami pun harus berpencar dan mempersiapkan diri dalam pertarungan langsung. Kau melirik padaku sekilas. Mengirim sandi yang hanya kau dan aku yang tahu. Kau mengkhawatirkanku di pertarungan satu lawan satu yang pasti terjadi itu?

Mari kuingatkan, saat masing-masing dari kita memutuskan bersama, kita semua tahu apa yang harus kita lakukan. Kita punya tugas yang harus kita selesaikan sendiri. Kita juga sudah memprediksi saat seperti ini akan terjadi. Meskipun kita juga memiliki kewajiban untuk saling membantu bilamana salah satu dari kita sedang dalam bahaya.

Karena itu, semua orang yang ada di rombongan ini tidak ada yang tidak siap. Kami semua paham apa yang harus dilakukan. Orang-orang yang terpilih dari yang dipilih ini pasti bisa membela diri. Setidaknya, bertahan untuk tidak mati hingga tugas yang diemban dapat diselesaikan.

Kau melirikku dengan tatapan sendu. Ah, kau pasti mengkhawatirkanku. Selalu begitu. Kasih sayangmu yang tertumpah padaku selalu membuatmu gagal memisahkan antara tugas ini dan rasa di dadamu. Kugelengkan kepalaku sembari mengirim senyum untuk menenangkanmu.

"Kau dampingi dia, ya," ujarmu pada salah seorang lelaki yang selalu berada di sisimu. Lelaki yang selalu berada di belakangmu. Tameng sekaligus penjagamu. Ah, padahal tidak perlu. "Tolong jaga dia dengan nyawamu," sambungmu.

Lelaki itu menjawabmu dengan sikapnya.

*

Bangunan itu sudah lama tidak terpakai. Ada begitu banyak tanaman rambat hingga lelaki yang selalu berada di sampingmu itu harus membuka jalan dengan cara membabatnya dengan pedang. Aku membantunya dengan menyingkirkan sisa-sisanya. Namun mendadak terdengar suara jamparing melesat.

"Awas!" Lelaki di depanku itu mendorongku tapi ia gagal menyelamatkan dirinya. Ada jamparing yang memanggang lehernya!

Segera kurapatkan tubuhku ke dinding. Kuintip rimbun pepohonan di sisi kiri lelaki yang tak bernyawa itu. Kupastikan mereka tak melihatku mendudukan dan menyandarkannya di dinding yang menjadi benteng pertahanan kami itu. Kuusap matanya. Kukatupkan tangan di dada seraya menutup mata, mendoakan kepergiannya dengan doa paling pendek.

"Maaf," kuambil sesuatu di tubuhnya dan menempatkannya di kantung pribadiku. Begitu pula senjatanya.

Kuintip kembali persembunyian orang-orang kesetanan itu. Seseorang yang memakai pakaian serba hitam itu sudah berhasil pindah ke atas pohon tak jauh dari bagunan itu. Artinya, posisiku tampak nyata olehnya. Karena itu, segera kuangkat gondewaku, menariknya sekaligus untuk membuat para bajingan itu mati juga. Terdengar suara benda jatuh. Mereka mati. 

Tanpa menunggu waktu, segera aku melesat ke Utara. Persetan dengan tugasku. Aku harus segera menyusulmu! Kau yang paling mereka incar dan kau sendirian!

Aku melesat ke atas pohon dan melompat ke pohon lainnya. Kubuka seluruh indera. Kukirim pesan padamu untuk berhati-hati. Meski tidak ada jawabanmu. Apa kau sedang sibuk bertarung atau kau sudah mati? 

Hutan semakin lebat, cahaya matahari sudah tak bisa lagi menembus dedaunannya. Jarak pandang pun mulai terbatas. Tapi aku terus berlari menuju jalan yang akan atau pernah kau lewati. Aku mencarimu. Terus mencarimu. Mencarimu!

  • 0 Comments




Tidur berbantalkan pahamu membuat air mataku luruh seketika. Jangan tanya kenapa aku bisa tidur di pahamu, atau alasan aku menangis. Sebab, sikap tak biasa ini juga terasa aneh bagiku. Meskipun kau tampak biasa saja. Tanganmu tetap mengelus kepalaku yang semakin dielus, semakin deras pula air mataku. Seolah tanganmu itu sudah membuka kran di mataku. Kau bahkan tidak peduli pada sepasang mata cemburu atau siapapun yang melewati pondokan dan melayangkan pandangan dari pintu yang terbuka itu.

Ini sungguh memalukan. Bagaimana bisa, aku memunculkan sisi lainku di hadapanmu? Rasanya, aku tidak sanggup mengangkat wajahku! Ah, aku menangis saja. Mumpung ada dirimu yang selalu memperingatkanku agar tidak menangis sendirian.

Ya, aku menangis saja hingga aku tidak memiliki alasan untuk tidur berbantal pahamu. Karena setelah itu, aku bisa bangun dan bertingkah seolah tidak ada yang terjadi. Meskipun, saat hal itu terjadi, aku harus berusaha mengalihkan padangan agar tidak beradu tatap denganmu. Malu!

"Duduklah di hadapanku dan punggungi aku," kau tersenyum simpul sembari menepuk lantai kayu yang kita duduki. 

Aku segera beringsut, patuh. Tanganmu kemudian menempel di punggungku. Tak lama berselang, aliran hangat yang tipis mulai terasa menembus celah pakaian dan menelusup masuk pori-poriku. Semakin lama, kehangatan itu mulai terasa semakin memanas. Ada dorongan kuat untuk memuntahkan seluruh isi perutku. Sekali kucoba memuntahkannya, tapi hanya muntahan kosong saja.

Kehangatan itu mulai menipis dan menipis kemudian hilang saat tepukan halus terasa di pundakku.
"Berbalik," ujarmu. Kubalikan badan tanpa membuka mata. "Buka mata dan perhatikan," ujarmu lagi.
Kubuka mata pelan-pelan. Kulihat tanganmu tampak terjulur beberapa centi saja dari dadaku.

"Lihat baik-baik," ujarmu sembari menatap telapak tangan. Ada 3 sulur cahaya serupa benang keluar dari telapak tanganmu dan saling berkejaran menembus dadaku. Ada rasa tertusuk jarum di tempat sulur cahaya itu masuk. Benang-benang cahaya itu masuk, seperti hendak menjahit luka-luka sebelumnya. 

Kau menyelesaikannya dengan memberi simpul di akhir prosesi itu. "Tidak perlu heran," ujarmu seraya mengerling. "Sudah aku ingatkan untuk lebih berhati-hati, kan?" Aku hanya bisa menyeringai saja. Bagaimana bisa lupa? Kau selalu mengulang kalimat yang sama di setiap akhir perbincangan kita.

"Sini, aku beri obat paling mujarab," ujarmu seraya merentangkan tangan mengajakku masuk ke pelukanmu. Tanpa diminta dua kali, aku masuk ke dalam dekapanmu. Kau menggumamkan kalimat yang tak begitu jelas di telingaku. 

Barangkali mantera pelipur lara?

Setelahnya, kita beranjak dan beriringan keluar. Di luar, matahari sudah mulai condong ke Barat. Seseorang mendekat dengan membawa tas dan perlengkapanmu.

"Aku pergi dulu, ya." Pamitmu. 

Aku mengangguk, meski rasanya sulit untuk berpisah. Apalagi kepergianmu ini pasti tidak hanya sebentar. Entah kapan akan bertemu lagi. Tapi, aku yakin, jika sudah waktunya bertemu, pasti bertemu lagi. Toh, kau akan selalu kembali, bukan?

"Hati-hati di jalan," ujarku.
"Ingat, jangan menangis sendirian...," Matamu mengerling.
"Eiy! Sana pergi! Nanti keburu sore," Elakku di antara rasa malu.
"Hahaha. Iya. Hati-hati di rumah, ya." pungkasmu seraya menjulurkan tangan. Kucium punggung tanganmu sejenak, sebelum kau menarikku ke pelukanmu dan membubuhkan kecupan di pucuk kepalaku.

  • 0 Comments


Aku pasti akan ke sana, tapi setelah dia menemuiku di sini. Enak aja aku yang nyamperin duluan.

Kau berceloteh seriang biasa, seolah apa yang kau katakan itu sungguh berasal dari lubuk hatimu. Meskipun setelah kau mengucapkannya, kau merasa terkejut sendiri dengan kalimat yang keluar dari mulutmu. Apalagi bila kalimat itu perihal hal-hal yang belum terjadi. Kau akan langsung diliputi ketakutan, sungguh pun kalimat itu baik, tapi kau selalu begitu. Kau selalu merasa menyesal sudah mengucapkan kalimat yang belum tentu bisa kau pertanggungjawabkan kebenarannya. Kau takut hal itu terjadi, kau juga takut hal itu tidak terjadi.

Sering kau dapati dirimu merutuki dirimu sendiri dan mempertanyakan ulang hingga menyesalinya. Terus menerus seperti itu. Kadang, kau merasa harus diam saja. Tapi mulutmu seperti tak memiliki daun pintu. Padahal, kau sadar betul, setiap kata-katamu bisa saja termanifestasikan hingga akhirnya menjadi kenyataan. Tapi karena kau juga yakin, tidak ada seorang pun yang akan mempercayai ucapanmu, maka kau membawanya ke dalam candaan dan tawamu saja. Seperti yang terjadi ini. Kawanmu tidak mempercayai ucapanmu.

Alah, bisa aja. Mana ada yang begitu. Temanmu menjawab celetukanmu.
Ah, kita lihat saja nanti. Tapi alurnya seperti itu. Ujarmu sembari menyeringai dengan mimik dibuat lucu.

Saat itu, kau mengatakannya dengan keyakinan penuh. Sebab keyakinan itulah yang sedang memenuhi seluruh inderamu. Radar di kepalamu seolah menangkap sinyal yang kuat hingga kau sendiri merasa tidak percaya dengan apa yang kau rasakan, apa yang kau lakukan, dan yang kau katakan. Kau mesti berulang kali memperingatkan diri untuk tidak berbuat macam-macam, tetap diam, tetap berada di posisimu sebagai yang tidak tahu apa-apa. Kau bukan cenayang yang bisa memprediksi masa depan, kau bukan peramal yang bisa meramalkan nasibmu sendiri. Kau hanyalah seorang perempuan biasa, yang tak dapat melihat apa-apa, tak mendengar apa-apa dan tak merasakan kehadiran-kehadiran di sekitar pun. Kau hanyalah kau.

Sungguhpun sejak bocah kau merasa yakin akan ada yang datang menemui dan menjemputmu. Kau akan dibawa pergi ke tempat yang jauh dan hanya sesekali pulang. Keyakinan itu, sadar atau tidak, sering menolongmu di hari-hari terburuk, di hari-hari paling sedih--paling menyedihkan dalam hidupmu. Kau merasa, seseorang--entah kapan, pernah menjanjikannya padamu. Ia memintamu menunggu, sebab ia akan menjemputmu. Meskipun kau tidak tahu, siapa dan bagaimana rupanya. Kau hanya merasa, ia akan benar-benar menepati janjinya. Dan ketidaktahuan itu sering memunculkan ego beserta kawan-kawannya di dadamu, karena itu kau memutuskan bersama orang lain sembari bertanya-tanya; 'diakah?'. Jika bukan, kau kembali bertanya; 'kapan putusnya?'. Dan seperti anak-anak yang bosan, kau akan segera mengakhirinya dengan riang gembira. Ah, tidak, kadang kau menangis sebentar, lalu lekas berlari dan bermain lagi.

Serupa tetesan embun setiap pagi, serperti itu pula kesadaranmu mulai terbentuk. Ah, tidak, perumpamaan itu terlalu lembut untuk seorang keras kepala sepertimu. Tapi tak apa, karena kesadaran memang selembut itu meskipun peristiwa yang membangkitkan kesadaran itu bisa saja keras dan akan lebih keras lagi. Setelah kesadaran itu mulai memenuhi cangkir di dalam dirimu, kau berhenti bermain dan masuk ke dalam jiwamu sendiri.

Lalu, apakah kalimat yang kau ucapankan pada kawanmu itu menjadi kenyataan? Jangan dijawab, kuceritakan saja padamu.

Setelah mengatakan itu pada kawanmu, kau putuskan untuk mengenal orang yang dimaksudkannya itu melalui media sosial. Kau lihat aktivitasnya dan kau juga memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan apa yang sudah kau ucapkan pada kawanmu. Terjadi atau tidak, itu urusan belakangan. Yang penting, sudah berkenalan. Toh, jika semesta sudah merestui pertemuan, seseorang yang berada di ujung dunia pun pasti bisa saling menemukan. Kau berusaha berinteraksi dengannya untuk sekadar menyapa agar kau tidak merasa berdosa karena telah mengatakan sesuatu yang semestinya tidak kau katakan pada kawanmu.

Lalu, ketika pertemuan itu sudah digariskan dan ia akan berangkat menuju kotamu, kau kirimkan pesan padanya:

"Tolong bawakan bunga yang di kolam itu, ya,"
"Oke, nanti aku bawakan," jawabnya.

Hah? Semudah itu? Pikirmu tak percaya seolah selama ini apapun yang kau inginkan tidak pernah kau dapatkan dengan mudah. Padahal, sebaliknya. Kau selalu bisa mendapatkan apapun yang kau inginkan dengan sedikit usaha saja. Hanya saja, mungkin kau baru kali itu merasa seseorang yang belum mengenalmu dengan utuh, belum bertatap muka dapat dengan mudah meluluskan permintaanmu. 

Kau sedang iseng atau sedang mencoba melihat reaksi orang lain yang sedang kau repotkan? Seperti biasa, kau tidak pernah takut melakukannya meskipun kau bisa saja dianggap sebagai seseorang yang hanya mengambil keuntungan dari orang lain. Kau seperti anak kecil yang naif, yang tidak pernah memikirkan bagaimana seseorang menempelkan penilaian itu padamu. Kau biarkan saja mereka memberikan tempelan-tempelan itu di tubuhmu, sementara kau asyik tertawa--menertawakannya. Kau senang bila seseorang telah salah memberi penilaiannya untukmu, lalu kau biarkan saja seperti itu tanpa mau repot-repot memberikan klarifikasi. Sebab bagimu, ada yang lebih penting dari memberikan klarifikasi pada hal-hal yang nanti juga ia tahu bagaimana dan siapa dirimu yang sesungguhnya. Bagaimana ketulusan tetap berada di urutan pertama dalam lakumu.

Kini, ketika kesadaran penuh di tanganmu. Kehidupan ini bagimu adalah taman bermain di antara pelajaran-pelajaran langsung yang kau dapatkan. Ya, tugasmu adalah belajar. Belajar menerima apapun yang ada di hadapanmu. Belajar bersabar dalam setiap ketidaksabaranmu. Belajar berhenti dan merenung pada setiap ketergesaan. Belajar diam dalam setiap kecerewetanmu. Belajar menahan pada setiap dorongan di dalam dirimu. Kau belajar saja terus meski kau kadang tidak menyadarinya. Pelajaran ke pelajaran yang terus menerus, yang bertumpuk-tumpuk, membuat kepalamu penuh. Kau lupa bila kapasitas memorimu tidak bisa menampung segala peristiwa.

Dan ketika hari pertemuan itu tiba, kau masih hank. Pelajaran keras yang kau dapatkan--yang berjejalan di antara berbagai peristiwa yang belum kau pilah itu--membuat kepalamu sungguh berat. Bilamana kepala adalah komputer, maka file-file itu sudah memenuhinya. Kau belum sempat membuang file-file yang tidak penting itu, bukan?

Karena itu, saat kau bertemu dengannya, dengan malu-malu kau mengakuinya. 
"Maaf, aku sedang hank," ujarmu malu-malu.
"Nggak apa-apa. Wajar. Kamu sedang lelah," katanya seraya mengedarkan pandangan ke keramaian festival.

Kepalamu boleh hank tapi tubuhmu memiliki bahasanya sendiri. Kau nyaris tidak menyadarinya, kau nyaris melewatkannya. Hanya saja, kesadaran yang dibawa serta dirinya membuatmu merasakan sesuatu yang lain. Kau merasa sedikit lega. Kau lega bertemu dan bersitatap dengannya. Meskipun kau harus berusaha keras mengingat perannya di hidupan lalumu. Setidaknya, sekarang ada padma yang dibawakannya. Padma yang berbunga sebesar purnama jika memang segala pertemuan itu sudah mendapat persetujuan semesta. Adapun maksud dan tujuannya, biarlah nanti terlihat dengan sendirinya.

Karenanya, seusai pertemuan itu, meskipun bunga itu layu dan tinggal akar saja, kau bisiki doadoa lekas tumbuh kembali, berkembang biak dengan bahagia sebelum akhirnya kau lemparkan ke kolam. Di sisi lain, saat ia mengajakmu singgah ke tempat yang serupa kampung halaman itu, kau putuskan untuk pergi menemuinya.

Perjalanan pertama yang selalu kau takuti itu, berhasil kau taklukan. Benar, ketakutan itu harus dilawan dengan keberanianmu. Kau datang dan menikmati segala tawa serta hal-hal yang sepertinya tak masuk akalmu. Tapi seperti halnya kau menerima matahari terbit di Timur dan tenggelam di Barat, kau juga menerimanya sebagaimana seharusnya keberterimaan. Kau bertemu jiwa-jiwa yang indah, yang murni dan kau mensyukurinya. Meskipun kau belum tahu lebih jauh, tapi setidaknya saat itu kau merasa lega. Satu persatu yang membuatmu hangover, kau lepaskan dan diganti dengan segala yang melegakan.

Dan jika suatu hari nanti kawanmu menanyakannya padamu, kau dapat menjawabnya seperti biasa. Kau tidak mengambil apapun selain kehangatan suasananya yang membuat dadamu merasa lega. Kau tidak menginginkan apapun selain kesadaranmu mengenai apa yang hak dan bukan hakmu. Dan kau tidak pernah mengingkan sesuatu yang bukan hakmu. Bahkan, jikalau sesuatu itu adalah hakmu dan orang lain mengakuinya sebagai miliknya, kau akan melepasnya saja. Ya, kau melepas ke semesta bagaimana akhirnya. Sebab, mungkin saja apapun yang kau miliki di hari ini, adalah milik seseorang di hari lalu dan di hari lain akan menjadi milik yang lain lagi. Kau meyakini, apapun yang menjadi hakmu akan tetap menjadi hakmu. Tidak akan tertukar. Meski harus tersesat sebentar.

Kini, nun di punggung gunung itu, setiap pagi dan sore, bunga-bunga di kolam kecil itu mekar sempurna.

Bagaimana? Apakah kau sudah tahu jawabannya? Sudah tahu arah mana yang kau tuju? Mari berdoa semoga semesta memberi restu dengan menghilangkan aral rintang. Bukankah kau sudah tahu bila tugasmu di kehidupan ini bukan hanya untuk jatuh cinta saja? Ada yang harus kau lahirkan. Dan apapun yang kau harapkan, asal untuk kebaikan dan demi kebaikan bukan hanya untuk dirimu sendiri, akan terjadi. Semesta merestui...

Rahayu sagung dumadi.

  • 0 Comments




Tujuh Malaikat 

Tujuh orang dengan gaun menjuntai dan sayap yang tak direntangkan menunggang awan, turun menuju bukit di sebelah. Malaikat? Kulambaikan tangan pada mereka.

"Hey, di sini!" suaraku bergema di lembah yang hijau itu. 

Lambaianku bersambut senyum dan anggukan kepala mereka. Seseorang di antaranya membalas lambaian tanganku. Ia melambai juga. Tapi, mereka tetap turun ke hutan lebat itu. Tak berbelok ke arahku. Tak apa, mungkin mereka sedang terburu-buru.

Kulangkahkan kembali kakiku menuju perkampungan di puncak bukit. Sembari berjalan, kuterka sendiri mungkin di bukit yang rimbun itu, sedang ada perhelatan sehingga mereka memilih pergi ke sana. Ada perhelatan apa kiranya?

*

Penyerangan

Ruangan itu hanya memiliki satu pintu. Seseorang menahan pintu dengan badannya. Sementara yang lainnya sibuk menutup jendela. Sekilas, aku melihat asap hitam pekat dan kobaran api melintas ke sisi ruangan itu. Sepertinya, berputar dan berkitar-kitar mencari celah untuk masuk. Sementara dua daun pintu yang ditahan itu dan dinding tampak bergetar ditubruk dari luar oleh kekuatan yang besar. Aku semakin merapatkan tubuhku ke dinding.

"Jangan biarkan mereka masuk!" ujar salah seorang di antara mereka.

Dua orang yang mengapitku benar-benar protektif. Mereka berusaha agar aku tidak terlihat dan terus mengarahkan orang-orang lainnya untuk menutup jendela dan lubang angin. Bahkan, celah pun harus ditutup.

"Sabar ya, sebentar lagi mereka pergi," ujar salah seorang di antaranya.

Aku hanya mengangguk. Aku ingin tahu, ada masalah apa hingga penyerangan ini terjadi? Mereka itu siapa?

*

Musyawarah Besar

Saung besar yang tertutup di tepi kali itu dipenuhi orang-orang. Mereka riuh bersuara membahas suatu persoalan yang tak begitu jelas di telingaku. Jukung-jukung kecil tak tertambat itu menunjukan mereka datang dari berbagai daerah di tanah ini. Mereka sepertinya tidak sempat menambatkannya sehingga tampak terombang-ambing dipermainkan arus. Saling membentur, hingga salah satunya membujur searah sungai. 

Satu persatu, jukung terseret. Aku dan seorang penjaga melompat mencegat jukung itu. Tak sempat. Arus terlalu deras. Hanya barang di atasnya saja yang dapat kuraih. 

"Maaf, hanya ini," ujarku sembari menyerahkan tas besar dari jendela yang terbuka, tepat di sisi sungai itu. Seorang tua berjubah putih dengan sorban putih membungkus kepalanya menerima tas yang kusodorkan dan mengucapkan terima kasih. Terdengar riuh rasa syukur dari orang-orang lainnya.

Kuanggukan kepala, pamit. Sepertinya, isi tas itu adalah dokumen berharga. Syukurlah bisa diseamatkan.

*

Lelaki Tampan dan Patung yang Hidup

Pesisir berpasir gemerlap, berombak tenang berarsir perbukitan di sisinya. Posil-posil kerang dan bebaturan berkilauan sudah di tangan. Kutangkup dengan segenap takjub. Sepertinya akan bagus jika diuntai menjadi manik-manik perhiasan.

Aku digiring dua orang, lelaki dan perempuan. Kami berjalan menuju saung yang di dalamnya terdengar orang-orang riuh mengobrol asyik sekali.

Seorang lelaki tampan berpapasan dengan kantung kecil berisi bebatuan di tangan. Ia menuju saung kecil di samping saung tertutup itu. "Bapa, saya pinjam pembakaran!" izinnya pada orang-orang di dalam. Setelah diizinkan, ia mengambil korek api dari saku bajunya. 

Aku hapal wajah itu. Wajah yang terkenal? Atau mungkin wajah yang pasaran?

"Ayo terus ke bukit itu, sudah lama tidak nanjak," ujarku pada dua orang yang mengiringiku. Mereka sebenarnya sudah lebih dulu mengarah ke bukit itu.

Ajakanku itu disambut tawa si pemuda. Ia terdengar menggumamkan kalimat yang kuucapkan.

"Kenapa?" Tanyaku seraya mendekat dan jongkok di sampingnya.

"Nggak, kamu lucu," ujarnya tanpa mengangkat kepala.

"Oh, ya sudah. Kami pergi dulu," ujarku seraya mengikuti dua orang yang sedari tadi bersamaku.

Di atas bukit, ada pelataran dengan bebatuan sebagai lantai dan reruntuhan lainnya serupa pondasi. Ada batu panjang dibelit tanaman liar menyerupai ular bersisik. Jika ini ular, pasti ada kepalanya. Batinku, seraya menatapnya dari bagian yang paling kecil, terus hingga ke bagian kepala.

Benar saja. Kulihat kepala dengan mata yang seolah terbuka itu. Ia menatapku!

"Hey, sini," ujar salah seorang yang pergi bersamaku. Ia berdiri di tepi tebing. Tangannya menunjuk tebing sebelah yang menyerupai kepala bermahkota.

Alarm tanda bahaya bersuara di telingaku. Mengirim gigil dan lemas di waktu yang sama. Dadaku sesak, susah sekali bernapas. Ingin kuajak mereka untuk segera turun, tapi tak ada suara yang keluar. Kulihat, mereka masih asyik menilik dan menyingkirkan tanaman rambat itu.

"Hmm, ayo aku bantu," ujar suara lelaki terdengar dari belakangku. Lelaki yang sama yang kutemui di bawah itu. 

Kutatap wajahnya dengan napas yang tersenggal. Ia tersenyum seperti menenangkanku. Tangannya kemudian mengangkatku seolah tubuhku ringan saja. Alarm di kepalaku mulai sayup. Di kejauhan, kudengar suara seseorang bernyanyi. Entah berasal dari mana.

  • 0 Comments



Panggung utama yang kutaksir berukuran panjang 10 dan lebar 8 meter berdiri di ujung kubangan lumpur itu. Para lelaki tampak sibuk memasang rigging, lampu dan memasang sound serta bagian panggung utama lainnya. Sedang di depan panggung para lelaki berseragam dari satuan organisasi keagamaan tertentu tampak sibuk menyulap kubangan lumpur menjadi sewarna darah.

“Ayo campurkan! Jangan sampai tidak rata! Usapkan tanda merah dan hitam di wajah kalian!” teriak seorang lelaki yang berdiri tak jauh dariku. Sepertinya, ia adalah pemimpinnya. Orang-orang terus berdatangan untuk membantu menyepuh lumpur, memasang kursi dan balok-balok yang digunakan sebagai jalan menuju panggung utama.

“Ayo kita pergi...,” panggilmu sembari memegang lenganku. Rautmu tampak khawatir. Kutaruh jari telunjuk di mulutku agar kau bersikap biasa saja. Sebenarnya, dadaku sudah bertalu sedari tadi. Aku juga khawatir. Ini acara apa? Kenapa mesti diadakan di kubangan lumpur yang disepuh dengan warna merah? Kuberanikan diri untuk mendekati lelaki yang tadi berteriak dan memberinya salam.

“Maaf, pak. Ada acara apa, ya?” tanyaku sembari menangkupkan tangan di dada.
“Konser,” pendeknya.
“Konser di atas lumpur? Wah, konsep yang keren!” seruku. 
“Iya, konser solidaritas. Lihatlah, area ini berada di pertemuan berbagai aliran sungai. Kau tahu, pertemuan aliran air biasa digunakan untuk penyembuhan penyakit?" tanyanya. Kugelengkan kepala. Lantas, ia menjelaskan panjang lebar. Perihal aliran air, lumpur, dan mereka yang akan mengisi panggung besar itu. Aku ber-oh sembari mengangguk-angguk, berusaha memahami ke mana arah pembicaraannya. Jika tentang penyembuhan, tapi kenapa terasa seperti akan terjadi perang?

Kualihkan pandanganku ke arah lain. Ada seseorang yang kukenal di antara yang sibuk itu. Kuhampiri ia. Kami mengobrol sembari berjalan menuju ke arah kerumunan sembari membicarakan karma yang sedang dan mesti dijalani setiap manusia, termasuk aku dan dirinya. Sedang asyik ngobrol, kau datang. 

“Ayo pergi...,” kau berbisik. Kuanggukan kepala seraya pamit pada teman ngobrolku itu. Sementara kau terus menarik lenganku, menyeretku pergi, seolah lambat sedikit saja menghindar dari tempat itu, nyawa kita akan melayang.

Sementara aku terus memikirkan, siapa yang akan mengisi panggung megah itu? Apakah para alim langitan? Jika iya, maka apapun yang aku dan kamu khawatirkan ini, tidak akan terjadi di depan mata mereka. Aku yakin, mereka yang penuh kasih dan selalu menebarkan kedamaian itu akan mencegah keributan macam apapun. Bahkan dengan nyawa mereka sendiri seperti para leluhur mereka yang mempertahankan negara ini. Tapi bila ternyata terjadi juga, harus ada seseorang yang bisa mencegahnya.

“Aku tahu apa yang kau pikirkan. Tolong jangan kembali ke sana...,” ujarmu saat kita sudah memasuki ladang penduduk dan terus berjalan memasuki area perkebunan warga.

“Nggak, nggak bakal balik ke sana kok,” ujarku mencoba menenangkanmu yang terus menyeretku.


  • 0 Comments



"Nih...," suaramu terdengar di belakangku. Tangan kekarmu menyodorkan kartu sederhana dengan pita warna emas. Aku yang masih serius mengerjakan project kecil yang kukerjakan bulan ini nyaris tidak bisa mengalihkan perhatian dari layar komputer.

"Taruh saja, nanti aku lihat," ujarku singkat. Kudengar kamu menghela napas. Kamu pasti sedikit kecewa karena hingga detik akhir, aku memilih menyelesaikan project ini. "Oke, aku lihat," ucapku setelah menekan tombol simpan. Kudengar kamu melangkah menjauh sementara aku mulai menilik kartu di tanganku. Tak lama, kudengar suara kamu menuangkan air di gelas.

"Love, kenapa kamu memakai titel kita di undangan ini?" Tanyaku setelah memperhatikan kata demi kata yang tertulis di sana. "Kamu tahu kan, aku tidak suka dengan titel-titelan? Lagian ini pernikahan, bukan lamaran pekerjaan atau seminar nasional. Jadi, tidak mesti ada titel di sana," cerocosku sembari memutar kursi dan menatap tubuh jangkungmu yang sedang mengaduk kopi.

"Cuma bagian titelnya saja, kan?" Tanyamu sembari menghampiriku dengan kopi di tangan.
"Yep. Desainnya cantik, aku suka. Pemilihan fonts-nya juga oke. Umh, tapi..., apakah ini tidak terlalu wah untuk pernikahan sederhana yang kita rancang?" Tanganku kembali membolak-balik kartu berwarna putih dan bertinta emas itu. Kamu menyeruput cangkir kopimu.

"Setidaknya kita harus memberikan kesan yang terbaik di undangan. Besok aku ke percetakan, menghapus titel kita," ujarmu dengan penekanan pada kata titel.
"Love...," nada suaraku terasa memohon pengertian. Jujur saja, pada bagian ini kami selalu berdebat.

Titel yang tidak pernah kupakai, selalu dianggapnya sebagai peluang orang lain untuk melecehkan kemampuanku. Apalagi kemudian aku memilih menjadi freelancer dibanding bekerja seperti layaknya orang bertitel lainnya. Memang, di banyak kesempatan aku juga menemukan hal-hal seperti yang ia khawatirkan. Tapi, aku pikir mereka pada akhirnya mengakui juga kemampuanku setelah melihat hasil pekerjaanku.

"Iya, akan aku hapus besok. Tapi sebagai gantinya, buatkan aku makan malam," ujarmu dengan nada merajuk.
"Baiklah. Ayo makan di luar," kuraih sweater di kursi dan langsung memakainya.
"Hey! Calon isteri macam apa?"
"Kulkasku kosong. Ayo, pukul 12 nanti aku harus mengirim hasil pekerjaanku," ujarku seraya meraih kunci kendaraanmu.
"Sepertinya aku salah memilih calon istri," Gerutumu sembari mengikutiku.
"Mau dibatalkan? Mumpung belum cetak undangan, nih," kerlingku.
"Sembarangan." Tanganmu meraih pundakku. "Kamu kan pelengkapku, bagaimana bisa dibatalkan takdir itu?"
  • 0 Comments

Kesepian itu kini telah menjadi kulit arinya, menjadi rambut di tubuhnya. Hingga ia bergerak memintal tali dan menggantungnya di pintu kamar mandi. Sebuah kursi ia tempatkan di bawahnya. 

Seusai mengaitkan tali, ia pergi masuk ke kamar mandi; berwudhu untuk dua kali rukuk—entah salat apa. Setelahnya, ia mendekati kursi dan segera menaikinya. Sebelum mengalungkan tali, ia tengadahkan tangan, bibirnya yang tak pernah mencicip tembakau itu komat-kamit. Setelah itu, tangannya mulai meraih tali dan mengalungkannya. Tapi, sebelum sempat ia meloncat dan menendang kursi, cicak di palang itu kamarnya bersuara; cek, cek, cek. Saat itulah, ia merasa sesuatu jatuh dan menimpa kepalanya.
Seketika itu, ia menengadah. Tangannya mengusap kepala. Secuil berak cicak menempel di jemarinya. Tapi matanya seolah melihat setumpuk berak cicak di sana. Semakin lama, semakin banyak. Cicak-cicak di atas kepalanya seolah bergantian berak di telapak tangannya. Padahal sebenarnya, cicak yang semula di atas kepalanya sudah terbirit ke dinding, ke langit-langit kamar yang diterangi lampu temaram.
Ia benci binatang melata itu, sebenci ia pada ayahnya. Muasal ia membenci binatang itu, tidak berbeda dengan alasan ia membenci ayahnya. Dulu, sewaktu ia masih berusia lima tahun, binatang itu pernah dijejalkan ayah ke mulutnya. Konon, binatang itulah yang bisa menyembuhkan penyakit kulit dan asma yang ia derita. Walaupun memang, saat itu cicaknya telah dimasak, tapi setelah kejadian itu ia selalu merasakan binatang itu melata di tenggorokannya, di perut, di kepala dan darahnya.

[Cerpen ini terbit di majalah Kandaka, Badan Bahasa Provinsi Banten 2017 dan sedang dalam proses editing untuk penerbitan bersama cerpen lainnya]
  • 0 Comments


"Kenapa kau menyukai kopi?"
Tanyamu suatu sore. Kau menatapku dengan mata berbinar, seolah kau benar-benar ingin tahu alasanku. Saat mata beradu, penyakit lamaku kambuh lagi. Dadaku berdebar kencang, waktu seakan terus memburu, dan rasanya aku ingin mengajakmu berlari saja. Tapi, tak urung kujawab juga pertanyaanmu. Meskipun berulang kali harus kugaruk dahiku, akibat letupan di perut yang seolah mengajak berlari itu. "Umh...," Kugaruk kembali dahi sialan ini. "Entahlah, aku tidak memiliki alasan yang berarti. Suka saja begitu. Boleh kan, alasannya seperti itu?"
Keningmu mengernyit. Pun bibir tembakaumu itu. "Tentu. Karena banyak hal terkadang tidak membutuhkan alasan. Meskipun banyak juga yang bilang, walaupun tidak masuk akal, kau harus tetap memiliki alasan," ujarmu.
Sesaat, hening menyela di antara kita. Kulihat kau sibuk dengan ponsel, mengetik sesuatu, kemudian kembali menatapku.
"Kau pernah merasa harus pergi?" Tanyamu tanpa melirikku.
"Hmm, tentu," ucapku tanpa ragu. Meski lonceng di dalam diriku berbunyi nyaring menandakan kepergian akan segera tiba. "Kenapa? Apa kau sedang bersiap pergi?" Tanyaku. Kutatap wajahmu dari sisi yang paling kusuka itu. Kau pasti lupa bercukur lagi.
"Hmm. Tidak juga. Apa kau ingin aku pergi?" Kamu melirikku. Tatapan mata kita beradu. Kamu sedang berbohong, bukan? Kamu hanya tidak ingin aku terluka, bukan?
"Entahlah. Kalau kau merasa harus pergi, pergilah. Aku bukan seseorang yang bisa menahan kepergian," ujarku lebih kepada diriku sendiri. Dahimu mengernyit.
"Benarkah? Kamu tidak bisa mengatakan sesuatu agar aku tetap tinggal?" Kau terdengar seperti bayi besar yang penasaran.
"Kenapa aku harus mengatakannya ketika kau sendiri sudah bersiap pergi? Aku tidak bisa melarang kepergian siapapun," suaraku terasa bergetar. Perasaanku terasa melayang entah kemana. Untuk menutupinya, kurapatkan sweater hadiah ulang tahun yang kau kirim khusus beserta novel dari novelis favoritku. Kau sudah melemparkan pandangan ke gugusan pegunungan di hadapan. Udara makin terasa mencucuk di tulangku. Aku tahu, kau sedang menimbang kepergian. Aku harap, kau tidak memberi alasan tidak masuk akal ketika kau memilih tetap tinggal. Setidaknya, aku mohon jangan karena alasan aku yang penyakitan. Itu sangat menyakitkan.
"Masuk, yuk? Kau sudah mulai kedinginan," katamu sembari beranjak. Tanganmu terjulur. Dengan sedikit ragu, aku menerima uluran tanganmu. "Aku tidak akan pergi, tenang saja," bisikmu sembari merangkul bahuku dan mengecup puncak kepalaku.
"Iya, setidaknya bukan hari ini. Karena aku tidak tahu jalan pulang dari tempat ini," ujarku dengan nada menggerutu. Kau tertawa.
"Dengar, aku benar-benar tidak akan pergi kemana pun. Karena aku tahu di dalam hatimu yang sok tegar itu, kamu melarangku untuk pergi. Karena itu aku akan tinggal di sampingmu. Boleh?"
"Tidak. Kau pergi saja. Aku sudah sebal padamu. Minggir, aku mau ke kamar,"
"Yah, yah, maafkan aku."
"Tidak mau."
"Aku buatkan cokelat panas?"
"Emh-emh..." aku menggelengkan kepala.
"Iya deh, sama biskuit kesukaanmu itu juga."

Dan nyatanya kau tetap harus pergi. Meski aku tidak pernah siap merelakan setiap kepergian. Bahkan kepergianmu yang sudah kuketahui jauh sebelum hari itu. Ketika hari itu semakin dekat, aku pikir, aku hanya akan menyaksikan dari balik bangsalku saja. Tapi, rupanya kau memiliki cara terbaik untuk pamit.
  • 0 Comments




Aku tak tahu apa yang mesti kutulis sekarang. Seperti aku tidak tahu apa yang akan kulakukan untuk menjamu setiap pertemuan. Sekedar duduk di warung kopi, mendengarkanmu bercerita perihal hal-hal yang baru kudengar. Tolong jangan memintaku bercerita. Aku ingin larut dalam cerita, tawa dan kebingunganku sendiri. Tapi, kau tidak mesti khawatir. Aku tidak sedang memikirkan orang lain saat itu. Aku hanya bingung perihal, 'kok bisa aku duduk dengan orang ini?',  'apa yang harus aku bicarakan?', 'apakah ia akan tersinggung jika aku berbicara seperti ini, seperti itu,' dan sebagainya dan sebagainya.
    Jika kau sudah melihatku tertawa tidak jelas, aku mohon bawa aku mengukir jejak di trotoar dan sepanjang ingatan perihal rute jalan. Katakan saja, tenang ada GPS. Meski kita sedang berada di dalam kota. Sungguh lucu, bukan? Kau pasti heran kenapa aku tidak mengetahui rute jalan, meski ini kota kelahiranku. Bagiku, ini juga bagian yang sungguh memalukan. Apa kau percaya jika aku mengatakan aku tidak pernah bepergian? Aku manusia kamar yang melakukan apapun di kamar, pekerjaan dan lainnya? Tidak? Ya sudah, aku tidak akan berusaha membuatmu mempercayaiku. Sebab, kadang aku pun tidak percaya pada diriku sendiri dan pekerjaan apa yang sedang kulakukan ini.
     Kau mau melihat sisi lainku? Perlihatkanlah padaku bintang-bintang dan tidurlah di sampingku. Maka, kau akan melihat anak kecil di dalam diriku melompat keluar. Teriakan-teriakan kecil dan racauan-racauan perihal pangerang cilik yang hidup di salah satu bintang, atau tentang apa saja yang membuat mulutmu mungkin akan menganga; 'perempuan yang aneh'. Kalimat itu yang akan ada di kepalamu. Tapi, setelahnya, aku akan menyilakanmu bercerita tentang hal remeh temeh seperti warna kesukaan, makanan favorit, buku yang terakhir kali dibaca, musik dan lagu yang paling kamu suka dan lain sebagainya. 
     Apa kau akan tetap tinggal?
    Jika ya, maka akan kulanjutkan. Kau mau bertanya apa? Teman perempuan? Aku memilikinya beberapa. Tapi, teman lelakiku lebih banyak. Bukan, bukan bermaksud menyedikitkan teman perempuan. Tapi, ini perihal caraku menjaga kepala agar tetap bekerja. Teman lelakiku selalu mengajakku berpikir dan berpikir. Itu yang aku suka. Coba katakan padaku, apa yang lebih seksi dari kepala perempuan yang berisi? Aku rasa lelaki pun demikian. Mereka akan seksi jika kepalanya berisi.
    
    Hmmm?
    Atau kau mau menceritakan siapa dirimu?
   Silakan, akan kudengarkan.
  • 0 Comments


Sekali lagi, aku tak berhasil menulis kata apapun untuk menyapamu. Tanganku mendadak tremor, dan kepalaku turut diserang migrain, adalah alasan lain untuk tidak melanjutkan. Entah berapa kali tanganku menghapus kalimat di layar ponsel dan membuat kalimat lain lagi yang terasa pantas, untuk kemudian kuhapus lagi. Hingga hanya tersisa kedip garis hitam di layar yang seolah bertanya: "kalimat apa lagi yang akan kau buat? Berapa lama aku harus menunggu?" Dan sialnya, aku selalu mengakhirinya dengan menghempaskan ponsel ke tempat tidur.
         Dahulu, saat-saat seperti ini--berhenti sebelum menyapamu, adalah bagian dari 'kesadaran diri'. Sebab apa aku harus menyapa? Demikian pertanyaan yang menghentikanku. Tapi, saat ini, aku rasa itu konyol. Bukankah saling sapa bisa dilakukan siapa saja? Diacuhkan atau tidak, tak jadi soal. Hanya saja, saat ini atau dahulu, perasaan menjadi bagian paling memusingkan. Perasaan ingin dipedulikan, ingin dibalas dengan kadar rasa yang sama dan lainnya.
      Setiap orang pasti pernah berharap demikian, bukan? Maksudku, mendapat balasan atas apa yang dirasakan. Jujur saja, aku pun masih sering membungkam diri untuk hal itu. Meski keinginan menemukan saat yang tepat untuk berkata: 'oh, aku selesai untuk persoalan yang menyangkut perasaan', masih menyala di sini.
   Kadang, bahkan setiap letupan-letupan macam ini terjadi, kita diserang ketidaksabaran untuk mengatakannya sehingga ketika pada akhirnya tak ada yang tepat--seperti dalam bayangan, kita kecewa. 
    Pada tahap ini, aku rasa, kita memang tidak bisa terlalu mengharapkan apapun. Berharap bertemu seseorang yang kita rindu, misalnya. Belum tentu ia memiliki banyak waktu untuk bertemu. Bahkan mungkin saja, waktu untuk merindukanmu juga tidak ada. Bahkan, memikirkanmu saja, hanya memikirkanmu, ia tidak memiliki waktu. Kau tahu maksudku, bukan? 
     Kepergian? Setiap orang memiliki alasannya masing-masing. Aku percaya itu. Bahkan kepergian tanpa sebab sekalipun. Aku dan mungkin kamu dan banyak orang lainnya, sering menginginkan alasan itu untuk mematenkan diri bahwa tidak ada kesalahan apapun yang membuatnya seperti itu. Tapi, percaya atau tidak, sesuatu seperti itu akan berulang. Entah menimpa aku, atau dirimu.
       Aku sedang memilih nada tawa sekarang. Bukan untuk menertawakanmu atau siapapun. Aku sedang sibuk menertawakan diriku dan semua keputusan-keputusanku. Sebab aku tetap merasa tidak perlu menyakiti siapapun. Bahkan orang yang telah menyakitiku sekalipun.
      Malam ini, di bawah padang bintang, aku menyapamu sekali lagi. Bukan sebagai kenangan yang selalu mereka katakan, bukan pula sebagai luka dari banyak kehidupan. Tapi sebagai salah satu cahaya yang jatuh di tempat yang sesungguhnya. Jadi, selamat pagi. Semoga kebahagiaan selalu bersama seluruh makhluk di semesta, niscaya.


  • 0 Comments




Betapa hari begitu pendek setelah rencana ke rencana yang panjang. Setelah pertemuan pertama, kamu menjadi upaya untuk kebangkitan lainnya. Tapi, aku tidak memiliki cara untuk memulai, kerikil di tepi jalan ini seperti memaku untuk melangkah ke arahmu.

Lelakiku, apa yang kamu pikirkan sekarang? Kamu bisa menebak apa yang aku pikirkan, tapi aku tidak bisa melakukan hal yang sama. Rasanya curang sekali. Karena pikiran itu jahat, maka katakan saja apa yang sedang kamu pikirkan sekarang. Kenapa kamu berpikir seperti itu dan lain sebagainya. Hanya saja, kamu harus ingat, tidak memaki dan menggunakan kalimat buruk juga termasuk kebaikan. Kebaikan buat hatimu, kebaikan buat yang mendengar.

Sayangku, aku tidak ingin mendengar kamu terus mengulang cerita hari lalu. Karena kita tidak akan pernah bisa meminta waktu untuk memutar dirinya sendiri hanya untuk memperbaiki hal-hal yang menurut kita keliru. Penyesalan itu, sayang, hanya ketaikucingan lainnya yang tidak perlu. Tugas kita hari ini adalah memperbaiki kekeliruan yang pernah dilakukan itu. Bersikap lebih baik, berbuat lebih banyak, dan menjalani hari-hari yang terkadang membosankan ini bersama. Tapi, rasanya aku tidak akan menemukan kebosanan itu lagi

Memang, pertemuan kita sangat terlambat. Keterlambatan yang patut dimaki, sekaligus disyukuri. Kita bisa saling meledek kesialan yang pernah terjadi sebelum pertemuan ini. Mungkin, jika kita dipertemukan lebih awal, kita tidak akan sebebas ini menertawakan berbagai hal. Termasuk kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan. Toh, dari kesalahan itu kita belajar berbagai hal. Termasuk bertahan hidup dan cara menyembuhkan luka sesegera mungkin, tanpa menyakiti siapapun lagi. Aku sudah bilang bukan?

Bagaimanapun, segala yang terjadi di hari lalu adalah bagian dari kita, bukan? Tugas kita sekarang hanya melewati hari ini dengan hal-hal sederhana saja. Misalnya, kau membaca koran di beranda atau di halaman belakang, aku menyuguhkan secangkir kopi. Tidak ada ponsel di pagi dan di saat kita berbincang, love. Tidak sopan dan tidak baik untuk kesehatan juga.

Oh, tentu. Mungkin nanti kita akan sedikit bertengkar tentang beberapa hal. Kesalahpahaman sudah biasa kita lewati, bukan? Tinggal kita saling memberi tanda 'maaf', baik yang diucapkan maupun hanya berupa pelukan saja. Aih! Sungguh sangat sederhana bila memikirkan hal itu. Tapi, kenyataannya terkadang kita tidak bisa melakukannya karena berbagai alasan. Kekesalan yang naik hingga level tertinggi, kekecewaan yang sudah masuk kategori tidak bisa ditoleransi dan sebagainya. Aku rasa, kita akan bisa melewati hal-hal semacam itu dengan lebih tenang.

Tapi, jika tidak bisa meredam emosi dengan segera, mari kita berdiam diri sementara dan kembali seperti sedia kala. Tentu saja, tidak boleh melebihi tiga hari untuk berdiam diri. Konon, Malaikat menggarisbawahi 'dosa' di hari keempat. Aih, jangan tanya siapa yang mengatakan itu. Anggap saja itu gosip yang memadai.

Love, apa kamu sudah makan? Maafkan aku tidak menyediakan untukmu. Barangkali nanti akan aku buatkan sesuatu. Meski rasanya tidak sebaik buatan koki handal, tapi akan aku usahakan. Kalau kamu tidak terlalu sibuk, jangan sungkan pergi ke dapur bersamaku. Rasanya pasti beda bila kita berdua yang memasaknya. Bagaimana?

Aduh, sudah pukul 03.03 WIB, dan aku belum menyelesaikan puisiku. Aku selesaikan di sini dulu, ya. Beritahu aku jika kamu ingin bertemu.


With Love





  • 0 Comments


"Apa yang kamu lakukan ketika kamu dibohongi seseorang?"
"Percaya."
"What? Serius masih percaya?"
"Percaya dia akan mengulanginya lagi dan lagi atuh."
"Ooh, kirain."
"Kirain aku bego atau kamu mau mengakui dosa?"
"Hehe."
"Leh."
"Makan, yuk?"
"Susah amat bilang 'maaf'."
"Makan aja yuk, aku traktir. Mau makan di mana?"
Itu hanya sebagian percakapan kita setiap kali kamu membohongiku. Kamu yang sulit meminta maaf, aku yang memiliki radar paling sensitif dan tahu kapan kau berbohong. Bahkan saat kamu menyembunyikan hal-hal yang entah bagaimana bisa kuketahui juga.
Curiga berlebihan? Mungkin saja. Meskipun ini agak berbeda. Sebab, jika aku mencurigai sesuatu, aku pasti bersusah-susah mencari tahu kebenaran dari yang sedang aku curigai. Ini hanya seperti aku menemukan beberapa kata bagus di buku yang belum kubaca.
Aneh, kan? Aku sendiri pun masih sering gagal paham tiap kali hal ini terjadi.
"Jadi makan?" Tanyaku saat kulihat kamu masih sibuk dengan handphone dan kadang tersenyum sendiri. Kamu tak menjawab.
"Dasar pembohong nomor satu," gerutuku sembari mencubit pinggangmu.
"Adududuh! Sakit...," jeritmu. Setelah kulepas, kamu buru-buru memasukan handphone ke saku. "Ayo kita makan, pemaaf nomor satu," ujarmu sembari memelukku.
"Ngeledek," dengusku.

  • 0 Comments




Semacam pengingat waktu pertama kali belajar nyetir kendaraan bermotor.

T= Teman
S= Saya

Percakapannya gini:

T= Yakin bisa bawa?
S= Coba aja. Kan teorinya udah.
T= Hih elu nih. Ya udah, ayo kita coba. Mumpung jalanan sepi.
S= Eh, bentar dulu. Gue belum yakin.
T= Ingat aja di depan lu ada muka orang yang lu benci. Ayo...
S= Oke deh.

[10 menit kemudian, di jalan]

T= Uteeeee.... Jangan ngebut.
S= Pan kata lu kudu inget muka orang yang dibenci.
T= Belagu lu. Eh, eh, awaaaass....

[Brakk!]

S= Araw.

[ Di Jalan Pulang, dia yang nyetir]
y?
S= Hahaha. Tanya sama Allah, gih. Gue mah laper dan gak mau jawab.
T= Hih aing, bukannya tadi sore udah makan bubur sop?
S= Ngemil itu mah. Sekarang gue pengen cumi bakar sebesar telapak tangan dan secangkir soda. Makannya di bibir pantai sambil selonjoran. Kalau udah kenyang, gegulingan di pasir.
T= Orang waras yang satu ini. Nggak mau ah, malu gue.
S= Dih, nggak berani jadi anak kecil lagi. Cepat tua lu.
T= Dengar, tua itu elu, muda itu gue. Jadi, lu gak usah sok muda, deh.
S= Eh, jangan salah. Orang yang memelihara anak kecil di dalam dirinya itu lebih bahagia.
T= Emang lu udah bahagia lagi? Bukannya lu kemari mewek seharian dan anak-anak sampe kebingungan, ya?
S= Berisik, ah. Sekarang gue bahagia. Puas?
T= Perempuan ini. Pintar banget nyembunyiinnya. Yakin nggak mau cerita alasannya?
S= Kagak. Entar aja kalau udah gak muat kepalanya.
T= Baiklah.


Pict: The Idealist
  • 0 Comments



Pertama
Di Balik Pintu

Hujan masih samar membayang di luar jendela. Lampu di ruangan itu telah dipadamkan. Suara bel menelusup ke bawah pintu kamar, hingga sampai di telinga. Lampu di sisi tempat tidur dinyalakan. Cahaya membayang samar menampakkan pengisi kamar. Memperjelas benda-benda penghuni meja tempatnya berada. Kaca mata berbingkai hitam di atas buku Frida, segelas air mineral dengan penutup putih dan alarm digital di sisi lainnya yang menunjuk angka 02:07 dini hari. Masih teramat tidak beradab untuk bertamu. Pun menjadi tamu.
       Meski demikian, penghuni tempat tidur itu tak urung menurunkan kaki dan menelusupkannya ke sandal beludru. Sejenak duduk untuk sekadar mengumpulkan kesadaran. Kemudian, tangannya menggapai kaca mata dan memakainya sembari terus berdiri. Suara bel makin tak sabar.
       "Siapa?" Tanya suara parau setengah mengantuk itu di interkom yang menempel di sisi pintu.
       "Ini aku." Jawab suara lelaki di luar sana.
       "Ooh. Maaf. Aku ngantuk. Kembalilah pukul 6."
       "Tunggu. Aku tidak main-main. Tolong bukalah."
       "Kantuk ini juga bukan main-main. Kembalilah nanti."
       "Ya ampun. Aku tidak tahu harus pergi ke mana?"
       "Pulanglah."
       "Butuh waktu lama untuk sampai di rumahku. Kamu lupa suaraku, kan?"
       "Ooh. Siapa?"
       "Bukalah. Aku bawakan makanan kesukaanmu."
       "Siapa kamu?"
       "Aku lelaki jahat dari jauh. "
       "Ooh. Kamu. Baik. Masuklah."

Kedua
Di Balik Jendela

Pintu kafe masih berlabel 'akan beroperasi sebentar lagi'. Tirai-tirai masih menjuntai menutup aktivitas para pekerja. Kamu masih di seberang jalan. Kepalamu melirik ke arah datangnya kendaraan. Kamu acungkan tangan, menyetop kendaraan yang enggan menginjak rem.
    Kamu mendekati bangunan yang telah menjadi kafe ini. Kamu menatap kaca yang dipenuhi gambar-gambar, tanda tangan dan kalimat-kalimat perekam jejak para pengunjung setia. Mungkin kamu juga salah satunya. Pelan, kamu mencari. Beberapa kali kamu betulkan letak kaca matamu. Kamu membungkuk, setengah membungkuk, berdiri tegak. Barangkali kamu ingat, letak kamu menuliskan tanda kunjunganmu. Kamu ingat apa yang kamu tulis dan gambar di sana.
    Kamu segera mencarinya lagi hingga kamu berhenti tepat di jendela ketiga. Kamu melihatnya. Lingkaran. Ya, lingkaran itulah jejak yang kamu tinggalkan. Meski siapapun yang melihat, pastilah berpikir itu perbuatan anak kecil. Tapi sorot matamu menunjukkan bahwa ada banyak makna dari lingkaran itu. Barangkali semacam simbol ouroboros? Simbol siklus kehidupan yang tidak berbatas. Kelahiran, kehidupan, dan kematian. Keabadian yang mengabadi.
    Tirai jendela di hadapanmu ditarik. Kulihat matamu. Kamu melihat mataku. Senyum canggung mengembang seiring digantinya label di daun pintu.
    "Selamat Datang."

Ketiga
Batu Jingga dan Pelukanmu

         Gadis cilik itu memberikan batu sebesar telur. Warnanya jingga dengan corak serupa ayam jago. "Buat kakak?" Tak percaya rasanya. Gadis yang baru kukenal itu memberikannya. Barangkali sebagai tanda terima kasih? Tapi terima kasih apa? Pertanyaan itu seolah terbaca olehnya. Ia mendekat. Dipegangnya tanganku dan diajak berjalan. Langkahnya riang, setengah ditarik, aku terus mengikutinya.
       Entah berapa lama berjalan, persimpangan tampak di hadapan. Ia mengajak berhenti. Telunjuk kecilnya menunjuk ke arah kanan. "Kamu mau ke sana?" Aku menatapnya. Tapi ia menggelengkan kepala. "Kakak yang harus ke sana?" Ia mengangguk. Didorongnya tubuhku ke arah yang ia tunjukkan. "Kamu mau ke mana? Kakak antar aja, ya...," Kakiku hendak melangkah mendekatinya. Tapi, ia mundur selangkah. Bibirnya tersenyum, kepalanya menggeleng. Aku terus menatapnya. Rasanya aku pernah melihat gadis itu di suatu tempat. Barangkali di foto?
      "Hey, kamu! Mau masuk nggak?" Seseorang berseru dari jalan yang akan kutuju. Aku meliriknya. Kamu di sana. Kaca mata berbingkai besar, rambut yang tersisir, dan..., seragam SMA. Kulirik pakaianku. Seragam yang sama. Kamu teman sekolahku?
      "Oke, oke, kakak masuk dulu. Kamu hati-hati, ya. Jangan main terlalu jauh."
      Gadis cilik itu tersenyum dan melambaikan tangan, membalas lambaianku. Langkahku ragu menuju tempatmu berdiri. Pohon di sebelahmu tidak lebih tinggi darimu, tapi lebih tinggi dariku.
      "Kok kamu di sini?" Tanyaku sesampainya aku di hadapanmu. Kamu tersenyum, tanganmu terjulur ke kepalaku.
        "Memang selalu di sini. Kamu saja yang selalu melewatiku."
        "Masa? Aku juga tidak ingat ada pohon itu di sana? Padahal aku selalu melewati jalan ini."
        "Kamu terlalu sibuk dengan dirimu. Karena itu kamu tidak melihatku, atau pohon itu."
        "Ooh. Maaf."
        "Dimaafkan."
        Tanganmu terjulur ke bahuku, menariknya, dan tibalah aku di pelukanmu. Pelukan paling lama yang bisa saja membuat kita terlambat masuk kelas.

Keempat
Mata yang Bercerita


Kamu duduk di kursi meja makan. Mulutmu terus berceloteh mengenai keseharianmu; mimpi, bangun tidur, kamar mandi, membereskan tempat tidur, pergi bekerja, di kantor, orang-orang yang kamu temui, dan lainnya. Tanpa henti, seperti penyiar radio pagi yang melaporkan peristiwa. Sebelumnya, kamu memintaku memasak mie 'harus pedas' dengan kornet dan keju. Sembari mendengar ceritamu, tanganku sibuk menyiapkan pesananmu itu. Menjerang air, mengambil mie dari kabinet atas. Meletakannya. Beralih ke kulkas untuk mengambil keju dan kornet. Sesekali, aku menjawabmu dengan gumaman; hmm, ooh, terus.    
        Kamu mungkin sadar bila aku bosan mendengar ceritamu, sehingga kudengar suara kaki kursi digeser dan langkahmu yang mendekat.
       Tanganmu kemudian melingkar di pinggangku. Kamu kecup belakang kepalaku. "Ada yang sedang mengganggumu?" Kepalaku berpaling ke kiri, tepat dengan datangnya wajahmu. Pinggir bingkai kaca matamu menyenggol pipiku. "Ups, sakit?" Bibirmu mengecupnya, meski aku belum sempat menjawab sakit atau tidak. Itu kebiasaanmu.
      Tanganku sibuk membuka bungkus mie, sementara kamu kemudian berpindah ke sampingku; membuka tutup kornet, meletakannya. "Berhenti dulu," ujarmu sembari menahan tanganku yang hendak membuka penutup panci. Tanganmu kemudian mematikan kompor. "Sini, ceritalah. Aku dari tadi cerita, kamu diam saja." Kamu membalikan tubuhku, tanganmu melingkar kembali di pinggangku. Sementara tubuhmu setengah bersandar pada kabinet dekat sink.
     "Ada yang mengganggumu?"
    "Hmm," kepalaku mengangguk. Kamu menghembuskan nafas, pelan. Matamu mencari mataku. Bersitatap denganmu seperti membuka buku.  Apa yang ingin kamu ketahui, kamu membaca semuanya tanpa perlu kuceritakan. Begitu pula sebaliknya. Aku pun tahu cerita yang tadi tidak kamu ceritakan: kamu ingin menjaga jarak--lebih jauh dari jarak kotamu dengan kotaku?
     "Hmm." Desismu. Kualihkan pandanganku. Aku tak berani membiarkanmu membaca apa yang telah kubaca di matamu. Tapi aku yakin, kamu juga sadar bila aku telah mengetahuinya.
    "Yakin kamu bisa menerimanya?" Kamu membuka suara lagi setelah membiarkan diri kita mengheningkan cipta.
       Kugelengkan kepala. Entah.
   Kamu menatapku, menghela napas dan menghembuskannya sekaligus. Sementara aku mengumpulkan keberanian.
     "Tapi kalau kamu ingin pergi, silakan saja. Aku tidak bisa menahan orang yang ingin pergi." Kutatap matamu sebelum berpaling ke pintu kaca di sisi Timur.
      Mataku memaku pohon mangga di halaman samping yang sedang berbunga. Entah kamu bisa menikmati kematangan buahnya atau tidak. Kamu mencari mataku lagi. Tanganmu terjulur hendak menyentuh wajahku. "Tapi, pergilah setelah makan." Sambungku seberat helaan napas yang mengiringinya. Tanganmu menggantung. Kamu pasti sadar, aku tidak sedang bercanda dengan kalimat itu. Kamu mungkin pernah mendengarnya di suatu tempat.
      Kutarik langkah ke depan kompor dan mulai menyalakannya lagi. Aku berdiri tak bergerak menatap panci.
      Akan ada yang pergi sebentar lagi. Pergi? Aku tidak yakin dengan kalimat itu. Entah ini mimpi atau nyata. Sama tidak yakinnya dengan keberadaanku di rumah ini.
      Sudut mataku menangkapmu mendekat.

     "Aku tidak akan ke mana-mana. Tetap di sini (kamu menunjuk dahiku) dan di sini (tanganmu menunjuk dadaku)." Kamu membawaku ke dalam dekapan. Kurasakan tanganmu di kepala, mengelus lembut seolah ingin menidurkan cemasku. "Jangan khawatir, aku bisa menjagamu juga di kedua titik itu." Ucapanmu seperti keluar dari lorong rumah sakit. Hidungku mencium bau yang tidak pernah kusuka. Bohong. Kamu sedang berbohong. [*]





  • 3 Comments
Older Posts Home

Where we are now

o

About me

a


@NYIMASK

"Selamat datang dan selamat membaca. Semoga kita semua selalu sehat, berbahagia, dan berkelimpahan rezeki dari arah mana saja.”


Follow Us

  • bloglovin
  • pinterest
  • instagram
  • facebook
  • Instagram

recent posts

Labels

#dirumahaja #tukarcerita Artikel Catatan Perjalanan Celoteh Cerpen E-Book Esai Info Lomba Journey Jurnal Kamar Penulis Lowongan Kerja Naskah Poject Promo Puisi Slider Undangan

instagram

PT. iBhumi Jagat Nuswantara | Template Created By :Blogger Templates | ThemeXpose . All Rights Reserved.

Back to top