Banten Siaga


Sampai rumah, seorang pemuda berpakaian hitam dan celana hitam dengan logo showroom di dadanya mendekat. Ia mengatakan bahwa ada kiriman atas nama saya. Sebuah kendaraan hitam nan tegap. Ia kemudian mengajak saya mendekat ke kendaraan yang ia tunjuk. Pintu samping ia buka dengan berbagai penjelasan fitur-fitur dan kelebihan yang dimiliki kendaraan itu.

"Woalah, teger iki! Leh uga wong kono kuh," gumam saya sambil melihat kegagahan kendaraan itu. "Siapa yang mengirim ini untuk saya, mas?" tanya saya. Pemuda itu tersenyum sembari menggelengkan kepala.

"Mohon maaf, bu. Beliau tidak ingin disebutkan namanya. Tapi, kendaraan ini beliau kirim khusus untuk ibu," jawabnya. "Ah, iya. Beliau juga mengirim supir untuk ibu," sambungnya seraya memanggil pemuda lainnya yang sedari tadi berdiri di dekat kendaraan lainnya. Mulut saya langsung berwow ria, tanda takjub.

Orang gila mana yang seperhatian ini pada saya? Tapi sepertinya ini mimpi, deh. Mana ada manusia yang memberikan kendaraan sebagus ini plus supir tampan tanpa mau menyebutkan namanya? Memberi yang habis dimakan atau minum saja dimention melulu sampai orangnya seneb. Pffrrrttt. 🤭

Lama termenung sembari mendengar penjelasan pemuda dari showroom itu, saya dikejutkan dengan suara pemuda yang katanya supir pribadi saya itu.

"Ayo, nyai," kata supir tampan itu sambil membukakan pintu belakang. Mata saya mengerjap beberapa kali. Kok langsung ayo?

"Mau kemana kita?" Tanya saya. Ia tidak menjawab melainkan terus menyilakan saya masuk ke pintu yang telah ia buka. Saya pamit pada pemuda dari showroom itu dan tak lupa berterima kasih padanya. Ia menjawab dengan lambaian tangan dan ucapan 'hati-hati di jalan'.

Si pemuda supir itu duduk di belakang kemudi dan langsung menyalakan kendaraan. Pelan, ia membawa kendaraan baru ini keluar dari komplek Tembong Indah dan membelah jalan raya Serang dan memutar arah ke jalan raya Pandeglang. Tak begitu lama, kendaraan berbelok ke arah lain. Pepohonan di kanan dan kiri jalan tampak rimbun. Saya tidak hapal daerah ini dan mulai diserang cemas. Bagaimana bila saya diturunkan di jalanan? Apakah saya bisa kembali pulang?

Komplek pemukiman yang dimasuki kendaraan yang saya tumpangi ini teramat asri. Rumah-rumah bergaya lama dengan pendopo-pendoponya terasa membawa suasana tempo dulu yang menyenangkan. Meskipun serupa komplek perumahan pada umumnya, namun antara rumah ke rumah lainnya tampak berjarak. Ada halaman luas dan kebun-kebun yang dikelilingi tembok bata merah yang tinggi dengan gerbang utamanya yang besar.

Kendaraan berhenti di depan rumah besar berdinding bata merah bergaya lama. Pemuda itu kemudian turun untuk membuka gerbang utama yang terbuat dari bilah kayu dan mendorongnya hingga terbuka lebar. Rumah utama berdinding bata merah dengan pendopo bergaya joglo. Ada dua paviliun yang mengapitnya dan tanaman serta bunga-bunga yang dirawat dengan baik. Mata saya tak menemukan daun kering satu pun di halaman yang luas itu. Benar-benar terawat dan benar-benar sepi.

"Silakan turun, nyai." ujar pemuda itu sembari membuka pintu kendaraan.

"Rumah siapa ini?" Tanya saya.

"Rumah nyai," ujarnya sembari tersenyum. Rumah saya? Masyaallah. Bagaimana bisa saya memiliki rumah impian macam ini?

"Rumahku?" tanya saya seraya mengedarkan pandangan ke arah taman yang tertata apik dan cantik. Rumah berbata merah itu benar-benar sangat sempurna untuk disebut sebagai rumah idaman. Tapi karena saya merasa tidak pernah membangunnya, saya takut ini hanya serupa ujian saja. Ujian apakah saya sebagai manusia mampu menggenggam apa-apa yang selama ini diinginkan banyak orang? Harta, tahta dan segala keberlimpahan serta kemudahan dalam menjalani kehidupan ini.

Tapi, saya penasaran bagaimana akhirnya. Karena itu, ketika pemuda tampan itu mengajak saya menuju halaman belakang, saya mengekorinya saja sambil terus mengedarkan pandangan ke berbagai sudut yang saya lewati.

Di belakang, mata saya kembali terbeliak. Ada pondokan kecil di pinggir sungai. Agak jauh lagi di antara rimbun pepohonan, mata saya melihat bendungan besar yang tampak baru. Pemuda itu menyilakan saya memasuki pondokan. Setelahnya, ia kemudian pamit. Seorang lelaki lain yang biasa saya panggil 'paman' datang dan mengekori saya masuk ke dalam pondokan. Tungku di dalam pondokan itu masih mengepulkan asap dengan ketel air di atasnya.

"Kalau mau menyalakan tungku, ambil daun ini dan buah ini. Kalau sudah menyala, lemparkan buah ini ke dalam tungku," ujar paman seraya menyodorkan daun kelapa kering dan buah-buah sekecil buah ceri. Ia mengatakan hanya ada sedikit daun, karenanya saya harus menjaga nyala apinya agar tetap stabil.

Saya tidak menjawab, melainkan langsung duduk di depan tungku dan sibuk menyalakan api sembari melempar buah-buah itu ke dalamnya. Kopi akan baik di sore ini. Pikir saya.

Satu kali lempar, mata saya melihat buah itu mengkerut dilalap api. Tak ada aroma apapun dari proses pembakaran itu selain selain bau daun kelapa kering dan kayu yang terbakar. Saya tengok isi periuk dan menambahkan air ke dalamnya. Kemudian melemparkan buah itu lagi ke dalam tungku. Api tampak mulai padam. Saya mencari kayu bakar. Tapi, kayu sudah tidak ada lagi. Karena itu, saya segera keluar untuk mencari ranting, daun atau apa saja yang mudah terbakar.

Dari balik rimbun pepohonan, terdengar suara orang mengobrol. Tidak lama, tiga orang lelaki alim yang terkenal tampak menelusuri jalan setapak mengarah ke tempat saya berdiri. Saat berpapasan, mereka mengucap salam dan saya menjawabnya dengan anganggukan kepala.

"Mereka hendak pergi ke tempat hajatan di kampung sebelah," ujar lelaki di belakang saya itu. Saya hanya ber-ooh sembari terus berpikir; itu kan ustadz yang terkenal banget. Mau jalan kaki menembus kebun begini, masa? Subhanallah.

Sepeninggal tiga orang alim itu, terdengar suara tawa yang khas dari arah bendungan. Wah! Alih-alih mencari sumber suara, saya malah terpesona pada  penataan bendungan. Apik, rek! Mungkin ini salah satu proyeknya Kementerian PUPR yang berkolaborasi dengan Kementerian Pariwisata dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI. Keren banget!

Setelahnya, mata saya kemudian beralih ke arah bendungan tempat suara tawa khas itu berasal. Sial! Si empunya tawa itu berada di atas bendungan dengan posisi jungkir balik, rek! Horor sih, tapi kok posisinya lucu gitu. Bisaan.

Sementara di bagian bawah bendungan yang sejajar dengan tempat saya berdiri, seorang perempuan jelita berpakaian ala film kolosal China seangkatan Sinema Pendekar Rajawali tampak berdiri di atas air. Saya sempat bertemu dan diledek olehnya beberapa kali, karena itu saya menjulukinya Bibi Lung, kekasihnya Kaka Yoko. Haha

Tampaknya, mereka berdua sedang bertarung. Entah memperebutkan apa. Hanya saja, perempuan di atas jembatan yang posisinya jumpalitan itu tampak terus melempar bola-bola api ke arah Bibi Lung dan segala arah. Termasuk ke arah tempat saya berdiri dan ke arah rumah utama. Tanpa saya sadari, tubuh saya langsung bereaksi. Tahu-tahu tangan saya sudah menangkis bola-bola api itu dan mengembalikannya ke si perempuan di atas bendungan.

"Weits! Kalau berantem, berantem aja. Jangan ngarah ke penonton! Udah ketawa mulu, mau curang lagi! Sialan..." Teriak saya.

Mendengar teriakan itu, Bibi Lung mengarahkan tangannya ke tempat kami dan menciptakan dinding transparan dari air. Sementara saya berdecak, Bibi Lung terus melanjutkan pertarungan di antara suara tawa itu. 

Saya dan lelaki itu kemudian beriringan kembali masuk ke pondokan. Jangan bilang mereka mau membobol bendungan untuk menenggelamkan seluruh wilayah ini. Ck, berabe.

"Paman, tengok-tengoklah. Jagaraksa, mesti siaga. Jaawana mesti waspada. Tolong jaga seluruh perbatasan dan objek vital," ujar saya sembari terus memasukan ranting ke tungku.

Lelaki di belakang saya tak menjawab, melainkan langsung melesat entah ke mana, lalu kembali lagi. Suara tawa itu masih terus terdengar hingga sekarang. Apa kau mendengarnya juga? Waspada, ya.

You Might Also Like

0 Comments