utherakalimaya.com

  • Home
  • Features
  • _ARTIKEL
  • _CATATAN
  • _UNDANGAN
  • DOKUMENTASI
  • contact



Sudah hampir tengah malam ketika saya diturunkan di seberang terminal Sukabumi. Semenjak kaki menjejak tanah, beberapa nama sudah menghampiri benak saya. Seolah meminta diingat. Ingatan yang pendek, sementara nama sebanyak dan sepanjang itu. Saya tidak hapal dan tidak ingat siapa saja namanya. Hanya saja, ada satu nama yang benar-benar tercokol di benak saya. Bahkan, menjadi serupa mantera yang terus saya rapalkan. Jayamanahen.

"Ingat, akulah Jayamanahen..."

Jika dikonversi ke dalam ucapan langsung, maka kalimatnya serupa itu. Dan saya yang bodoh ini tidak memiliki keinginan untuk mencari tahu siapa sebenarnya empunya nama itu, apa maksud dan tujuannya memberitahu namanya dan pesan apa yang ingin disampaikannya? Saya hanya terus mengulang-ulang namanya saja seperti sedang menghapal karena besok akan ada ujian.

Beberapa orang yang duduk di sebelah saya, tentu saja sempat melirik dan bertanya "apa?". Barangkali mereka menyangka saya sedang berbicara pada mereka dan langsung saya jawab "tidak, tidak apa-apa..." Sempat pula saya bertanya pada seseorang, kenal tidak dengan nama Jayamanahen saat kami menuju lokasi acara dan ia jawab tidak. Setelahnya, saya tidak bertanya lagi. Tapi terus mencari nama di daftar ingatan. Siapa sebenarnya dia ini? Dan kenapa saya terus mengingatnya?

Saat di perjalanan pulang, nama itu juga masih tetap ada. Bahkan ada yang lebih menakjubkan di perjalanan pulang. Tapi sepertinya itu tidak usah diceritakan dengan detail, hanya saja intinya ada satu kalimat yang menyusul nama itu. Dan sekali lagi, saya tidak punya keinginan menelusuri apa arti dari kalimat itu.

Sesampainya di Rangkasbitung, nama itu terus ada dan saya rapal juga. Saking aneh sendiri, saya mulai iseng mencari siapa sih Jayamanahen itu? Dan..., mulut saya langsung mendesiskan makian untuk diri saya sendiri. Betapa bodohnya tidak segera mencari nama itu sebelumnya.

Setelah melakukan pencarian, saya menemukan informasi pendek ini. Nama gelar lengkapnya adalah Maharaja Sri Jayabupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabuwanamandaleswaranindita Haro Gowardhana Wikramotunggadewa. Beliau adalah anak dari raja Sunda Prabu Sanghyang Ageung.

Dalam naskah Pustaka Nusantara, Parwa III sagra 1, Sri Jayabupati berkuasa selama 12 tahun pada 952-964 saka atau tahun 1030-1042 Masehi. Sedangkan dalam naskah Carita Parahyangan, Sri Jayabupati disebut sebagai Prabu Detya Maharaja yang bertahta selama tujuh tahun. Berikut cuplikannya:

Rahiang Banga lawasna ngadeg ratu tujuh taun, lantaran polahna hanteu didasarkeun kana adat kabiasaan anu bener. Rakean di Medang lilana ngadeg ratu tujuh taun. Rakeanta Diwus lilana jadi ratu opatlikur taun. Rakean Wuwus lilana jadi ratu tujuhpuluh dua taun. Nu hilang di Hujung Cariang lilana jadi ratu taun kaopatna teu cucud, lantaran salah lampah,daek ngala awewe ku awewe. Rakean Gendang lilana jadi ratu tilulikur taun. Dewa Sanghiang lilana jadi ratu tujuh taun. Prabu Sanghyang lilana jadi ratu sawelas taun. Prabu Datia Maharaja lilana jadi ratu tujuh taun.

Sri Jayabupati sendiri adalah penganut Hindu aliran Waisnawa sama seperti Raja Airlangga yang berkuasa di Jawa Timur pada abad yang sama. Eits, ada juga catatan mengenai hubungan keduanya ini. Sri Jayabupati ini memperisteri Dewi Wulansari puterinya Prabu Darmawangsa dari Jawa Timur atau adiknya Dewi Laksmi isterinya Prabu Airlangga. Gelar Sri Jayabhupati sendiri didapat dari mertuanya, Prabu Darmawangsa. Sementara isterinya yang lain yaitu Dewi Suddhiswari puteri dari Kerajaan Sriwijaya (Sumatera) dan Bhatari Dewi Perthiwi (Batari Pertiwi) puteri dari Kerajaan Galuh.

Nama Sri Jayabupati Jayamahen tertera dalam Prasasti Sanghyang Tapak atau dikenal juga sebagai Prasasti Cicatih atau Prasasti Jayabhupati. Prasasti kuno ini konon sebagai tanda penobatannya yang dibuat tahun 952 saka atau 1030 masehi. Ada 4 lempeng batu yang memiliki 40 baris yang ditulis dalam huruf Jawa Kawi. Tiap lempeng prasasti ini memiliki tinggi 82-93 cm, lebar 61-73 cm; tebal 12-23 cm dan dicatat dengan nomor inventaris D. 73, D. 96, D. 97, dan D. 98 di Museum Nasional Indonesia.

Berdasarkan Notulen Bataviaasch Genootschap tahun 1890 dan 1891, prasasti D. 73 ditemukan di tepi sungai Cicatih, dekat stasiun Kereta Api Cibadak, Sukabumi. Dan Notulen Bataviaasch Genootschap tahun 1897, 1898, dan 1899 mengungkapkan bahwa prasasti D. 96, D. 97 dan D. 98 ditemukan di bukit Pangcalikan, Bantarmuncang, Sukabumi.  Prasasti dengan nomor D. 96, D. 97 dan D. 98 itu merupakan prasasti Sanghyang Tapak I dan nomor D. 98 itu prasasti Sanghyang Tapak II. Sedangkan transkripsi dari prasasti dilakukan oleh C.M Pleyte (1915).


Isi dari prasasti itu sebagai berikut:

D-73 //0//   Swasti cakawarsatita 952 Karttikamasa tithi dwadaci culkapa ksa. Ha. Ka. ra wara tambir. Iri- ka diwaca nira prhajyan sunda. Ma- haraja cri Jayabhupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Cakalabhuwanamandalaeswaranindita Harogowardhana Wikraotunggadewa ma-

D-96  gaway tepek i purwa sanghyang tapak ginaway denira cri jayabhupati prahajyan Sunda mwang tan hanani baryya baryya cila. I rikang iwah tan panglapa ikan sesini lwah makahingan sanghyang tapak wates kapujan I hulu i sor makahaningan i sanghyang tapak wates kapujan i wungkalong kalih matangyan pinagawayaken prasasti pagepageh mangmang sapatha.

D-97 sumpah denira prahjyan Sunda lwirnya nihan

D-98//0// indah ta kita kamung hyang Hara Agasti purbba, Daksina, Paccima, Uttara, Agniya neritibayabya aicanya urddhadah rawi caci patalapawanahutasanapah bhayu akaca teja sanghyang maho-ratra saddhya yaksa raksa-sa picaca preta sura, Garuda, Graha, kinaramahoraga catwara lokapala Yama Baruna Kuwera bacawa mwang putra dewata Panca kucika nandicwara mahakala du-Rggadewi ananta surindra anakta hyang kalam- R tyu gana bhuta sang prasiddha mulu manarira
umasukisarwwajanma ata regnyaken iking sa- patha samaya sumpah pamangmang ni lebu ni paduka haji sunda iriki ta kamung hyang kabeh. .........paka dya umalapa ikan..... i sanghyang tapak ya patyananta ya kamung hyang denta t patiya siwak kapalanya cucup etekna belah dadanya inum rahnya rantan ususnya wekasaken pranantika............. .......i sanghyang kabeh tawat hana wwang baribari cila irikang lwah i Sanghyang tapak apan iwak pakan parnnahnya kapangguh i sanghyang..... ......maneh kaliliran Paknanya kateke dlaha ning dlaha....... .......paduka haji i sunda umade- makna kadarman....... ing samangkana wekaet Paduka haji i sunda sanggum nti ring kulit i kata kamanah ing kanang..... ...... i sanghyang tapak makatepa lwah watesnya i hulu i sanghyang tapak i...... ....... i hilir mahingan i-rikang..... umpi ing wungkal gde kalih. Iwruhhanta kamung hyang kabeh //0//

Artinya: 

Selamat. Dalam tahun Saka 952 bulan KartikaTanggal 12 bagian terang hari Hariyang—Kliwon—Ahad wuku Tambir. Inilah saat raja Sunda Ma-haraja Sri Jayabupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabuanamandalawswaranindita Harogowardana Wikromotunggadewa membuat tanda di sebelah timur Sanghyang Tapak.
Dibuat oleh Sri Jayabupati raja Sunda, dan janganAda yang melanggar ketentuan di sungai ini. Jangan ada yang menangkap ikan di bagian sungai ini mulai dari batas daerah kabuyutan Sanghyang Tapak dibagian hulu sampai batas daerah kabuyutan Sanghyang tapak di bagian hilir pada dua buah batubesar. 

Untuk tujuan tersebut telah dibuat piagam yang dikukuhkan dengan seruan, kutuk serta sumpah oleh raja Sunda yang bunyi lengkapnya demi-kian:

Sungguh indah kamu sekalian Hiyang Siwa, Agas-Tya, Timur, Selatan, Barat, Utara, Tenggara, Barat-Daya, Barat-Laut, Timur-Laut, zenith, nadir, matahariBulan, bumi, air, angin, api, sungai, kekuatan, angkasa, cahaya, sanghyang malam, senja, yaksa, Raksasa, pisaca (sebangsa peri), sura, garuda, buaya, Kinara (manusia burung), naga, keempat pelindung dunia, Yama, Baruna, Kuwera, Besawa dan putera Dewata Panca Kusika, lembu tunggangan Siwa, Mahakala, Dewi Durga, Ananta (Dewa Ular), Surin-Dra, putera Hiyang kalamercu, gana (makhluk setengah dewa), buta (sebangsa raksasa), para arwah. Semoga ikut menjelma meraksuki semua orang. Kalian gerakkanlah supata, janji, sumpah dan seruan raja Sunda ini. Oh, ketahuilah kamu sekalian hyang.

Barangsiapa yang melanggar ketetapan dalam prasasti ini, supata atau kutukannya yaitu terbelah kepalanya, terpotong ususnya, terisap otaknya dan terbelah dadanya. Kutukan ini juga berlaku sepanjang masa.

Mengerikan sekali supata-nya, ya. Meskipun saya belum tahu dengan jelas bagaimana keadaan saat ini, apakah ketentuan ini masih dipegang teguh oleh masyarakat sekitar Cicatih atau sudah tidak dipakai lagi. Semoga saja masih, ya. Dan semoga kita semua selalu sehat, bahagia dan kaya raya.

Cag.



  • 0 Comments


Undangan Ngukuluan Sanghiyang yang diselenggarakan oleh Museum Kipahare sudah saya bagikan juga, kan? Nah, pada Minggu (10/11/2019) lalu, saya pergi memenuhi undangan itu. Sebenarnya, saya masih tidak percaya diri untuk bepergian sendirian. Karena itu, saya mengajak Mariz Mario untuk pergi bersama. Sekalian mendokumentasikan perjalanan ini. Sesekali didokumentasikan ahlinya tak apa toh? Hanya saja, kesibukan membuatnya tidak bisa ikut di perjalanan ini. Tapi, ia mengatakan akan menyusul. Ah, itu juga sudah membuat saya senang dan mantap pergi ke terminal.

Ya, saya memilih bus tujuan Rangkasbitung-Bogor dan disambung kendaraan lain ke Sukabumi. Sengaja saya memilih bus agar bisa tahu bagaimana rasanya melewati jalan-jalan berliku menuju Bogor di jalur ini. Ongkos bus kecil Rudy trayek Rangkasbitung-Bogor Rp. 30.000. Harga itu dibayar dengan pemandangan lembah, gugusan pegunungan dan sayangnya beberapa penambangan pasir atau tanah pun terlihat juga. Perjalanan panjang itu berakhir setelah hampir 5 jam duduk di kursi paling belakang bus Rudy. 1 jam terakhir, saya habiskan dengan berdiri meski kursi-kursi sudah kosong. Panas bokongku!

Sampai di Baranangsiang, hari sudah gelap. Kendaraan menuju Sukabumi sudah menyambut di luar terminal. Tak ingin berlama-lama, saya langsung naik saja. Meskipun memang, tidak ada yang meminta saya untuk buru-buru ke Sukabumi. Tapi, macet adalah niscaya, kata mamang supirnya. Karena itu saya segera mengisi bangku di belakang supir yang sudah diisi seorang pemuda.

Mobil kecil itu membawa saya dan para penumpang lain menembus macet di jalur langganan macet, Nagreg. Untuk menghindarinya, Kang Supir membawa kendaraanya melalui gang-gang kecil yang sering membuat saya mengerutkan dahi akibat hantaman de javu. Lho, ini kan.... Kalimat itu sering sekali muncul di benak saya. Sehingga saya mulai iseng bermain tebak-tebakan, misalnya 'setelah belokan ini akan ada....' keisengan ini membuat saya sering nyengir sendiri. Dan untungnya, dia menemani saya di whatsapp sehingga saya tidak merasa harus menghubungkan hal-hal yang saya rasakan ini dengan sesuatu di luar nalar. Meskipun ya mau tidak mau, saya juga masih tetap memikirkannya dan menerimanya sebagai sesuatu yang ya udahlah ya, memang gitu.

Saya berpesan pada Kang Supir untuk menurunkan saya di terminal ketika kendaraan memasuki Sukabumi dan satu per satu penumpang turun di tujuannya. "Tolong turunkan saya di tempat makan di dekat terminal ya, kang," ujar saya saat itu. Terus terang saja, saya mendadak merasa lapar sekali karena sedari pergi tadi saya lupa makan. Kang Supir menurunkan saya tidak jauh dari terminal. Restoran sudah banyak yang tutup, karena waktu sudah menunjuk angka 22.00 lebih. Yah, saya mesti memakan apa saja untuk mendiamkan perut. Sembari mencari tempat makan ini, saya menghubungi Mang Dody dan mengabarinya bila saya sudah sampai terminal.

Setelah sempat bertanya pada kasir mini market, saya akhirnya memilih warung soto yang tidak jauh dari lokasi itu. Meskipun saya sendiri tidak suka dengan masakan itu, tapi karena si perut mesti diisi nasi, saya menyerah juga akhirnya. Kopi adalah pesanan pertama datang, sementara soto menyusul kemudian. Mang Dody datang bertepatan dengan datangnya soto pesanan. Sembari memaksakan diri untuk makan, kami mengobrol tentang rencana acara Ngukuluan Sanghiyang. Mang Dody mengatakan bila Kang Sandy, Kepala Museum Kipahare, juga akan datang sehingga saya bisa segera beristirahat. Di suapan kelima, saya menghentikan makan. Ampun, tidak enak!

Beranjak ke Museum Kipahare, saya terus meminta maaf kepada perut saya yang meminta makanan enak. Berkumpul bersama dulur-dulur yang sudah lebih dulu hadir, ngobrol dari kopi ke kopi dengan selingan tawa, bau dupa ke bau dupa lainnya, membuat saya mendadak ingin membeli martabak meskipun sedang tidak ingin memakannya.

Semalaman ngobrol ngalor ngidul hingga pagi datang. Padahal pukul 08.00 WIB harus ikut Sosialisasi Hasil Penelitian Arkeologi Persebaran Makam-makam Kuna di Sukabumi Abad ke XIX-XX yang diadakan oleh Badan Arkeologi Nasional di Hotel Santika, Sukabumi (11 november 2019). Yah, namanya juga dulur yang sudah lama tidak bertemu. Pastilah begitu, ya. Heuheu...

[bersambung, ya]


  • 0 Comments


Di kejauhan, anjing mengonggong bersahutan. Suaranya seperti datang dari sekeliling Gunung Padang. Gunung dengan tinggi kurang lebih 900 mdpl ini memiliki anak tangga yang panjang dan berkelok. Kurang lebih ada 200-an anak tangga yang baru belakangan ini dibuat. Tangga yang baru itulah yang kuinjak. Bukan tangga batu yang sejak dulu ada di situs megalitik ini.

Meskipun begitu, saya yang jarang nanjak, sudah tersenggal dari tadi. Sementara Kang Yusuf, tuan rumah tempat kami menginap dan yang bersedia mengantar saya, sudah beberapa tangga di depan. Di balik rimbun dedaunan, bulan mengintip. Saya matikan penerangan di ponsel, melihat apakah sinar bulan pun menerangi anak tangga di hadapan saya atau tidak. Rupanya memang benar, seperti purnama saja.

Sebenarnya, kenekatan saya naik di pukul 23.30 WIB ini, bukan untuk merasakan kemistisan tempat yang beberapa kali sempat saya lihat videonya di channel youtube. Bukan untuk uji nyali. Tapi lebih kepada berangkat dari pertanyaan iseng; bagaimana ya rasanya menikmati bulan di puncak Gunung Padang?

Apalagi sebelumnya, di halaman rumah panggung itu, anak-anak meributkan bulan yang muncul dengan warna oranye. Ditambah teteh, istrinya Kang Yusuf mengatakan bahwa bulannya masih bulat padahal bukan purnama. Ah, tentu saja, sejak awal menginjakan kaki di tanah ini, rasanya tangga itu memiliki tangan-tangan yang melambai dan mengajakku naik.

Alasan yang aneh, kan? Tapi saya mendadak beranggapan bahwa kesempatan ini tidak akan datang dua kali. Apalagi jarak Rangkasbitung (tempat saya tinggal sekarang) ke Cianjur, sangat melelahkan. Kapan lagi bisa menikmati padang bulan di Gunung Padang? Meskipun purnama sudah lewat beberapa hari lalu.

Saat saya mengutarakannya, saya ajak juga Kang Kang Sandy, pupuhu Museum Kipahare. Namun, ia menolak untuk ikut. Kang Yusuf juga memberitai bila tamu juga banyak yang datang di malam hari. Di malam Minggu seperti ini pun ada saja tamu yang datang untuk bersemedi, bertirakat atau apapun itu. Jadi, tidak akan merasa sendirian karena banyaknya orang.

Sebelum pucuk tangga, sendal jepit biru yang saya pakai, sengaja saya buka. Ini cara saya untuk menghormati tempat yang disucikan oleh beberapa kalangan. Dan mungkin, menjadi tempat suci juga di zaman baheula-nya. Saya ucapkan salam dalam berbagai bahasa yang saya tahu. Assalamualaika..., sampurasun, svaha, dan lainnya. Salam juga adalah cara saya menyapa alam, barangkali, ini hanya sekadar prakiraan, alam pun menjawab salam yang saya ucapkan.

Kang Yusuf membawa saya ke bale riung yang dikelilingi batu berdiri. Di pintu masuknya terdapat batu yang lebih tinggi dengan lantai yang terbuat dari batu juga. Ada batu pancalikan di kiri dari pintu masuk. Menurut Kang Yusuf, di sinilah para pendahulu melakukan riungan entah belajar, atau mendengarkan ia yang duduk di batu pancalikan bicara.

Setelahnya, Kang Yusuf mengajak saya ke batu berbunyi. Batu gamelan Sunda, katanya. Ia memukul beberapa kali dan memang terdengar ada nada yang dihasilkannya. Meskipun di dekatnya ada tulisan
"Dilarang memukul-mukul semua batu yang ada di area situs megalit Gunung Padang". Tapi, saya rasa tidak apalah larangan itu dilanggar. Hihi.

Dari batu berbunyi, Kang Yusuf mengajak saya naik ke tempat lainnya. Gundukan batu di sebelah pohon yang masih muda itu, ia sebut sebagai tempat berkumpulnya para wali. Saya hanya ber-Ooh saja lalu menyusulnya naik ke tempat selanjutnya. Di dekat pohon Kimenyan itu, ada batu kujang.
"Biasanya, mereka bersemedi di sana, di sana, di sana juga, ah banyaklah. Penuh ini," ucap Kang Yusuf seolah meralat ucapan sebelumnya.

Saya hanya terus ber-Ooh saja. Sampai di bawah pohon Kimenyan yang dipagari 2 atau tiga utas kawat, Kang Yusuf mengulangi ucapannya. "Di sana pun biasanya ada yang bersemedi." Lalu, ia mengajak saya ke area batu kanuragan hingga akhirnya mengajak naik ke puncak kelima. Di sana, ada batu singgasana yang dikurung dua utas kawat. Plangnya tergeletak di sisi batu berdiri yang serupa sandaran.

"Kalau mau masuk, tidak apa-apa. Tapi hati-hati, ada kawat," ujar Kang Yusuf. Saya mengiyakan dan mulai ceriwis soal sepertinya asyik mengheningkan cipta atau semedi atau apalah itu di area ini. Kang Yusuf lalu pamit ke air. Sementara saya duduk dan mulai menikmati purnama.

Sendirian di atas gunung, di antara batu-batu andesit entah dari abad mana, rasanya tidak menakutkan. Malah, saya merasa haneuteun atau seperti di kampung saja. Saya malah ingat halaman rumah Abah Ende ketika purnama. Berkumpul bermain bebentengan, gobag sodor, atau hanya duduk di tepas sambil menyanyikan bulan tok dan kakawihan lainnya. Rasanya, rasa takut yang disuguhkan di channel-channel Youtube perihal gunung ini hanyalah rekaan saja. Yah, pemirsa saya merasa ada.... Kalimat yang selalu menjadi pembuka bilamana ada acara uji nyali itu malah berganti kalimat yang lain di mulut saya; subhanallah, wal hamdulillah... Sungguh indah menikmati purnama di sini.

Kang Yusuf datang lagi. Ia sudah memakai kain sarungnya. Mungkin ia bersiap hendak memimpin doa, tapi ternyata saya malah memintanya membabadkan atau mendongengkan bagaimana Gunung Padang semasa ia kecil. Bukan perihal sejarah penemuan area cagar budaya ini, sebab bila kau rajin membuka ulasan-ulasannya, kau pasti tahu bila gunung ini sudah ada dalam laporan R.D.M Verbeek (1891) di Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (ROD) atau buletin Dinas Kepurbakalaan Hindia-Belanda, serta De Corte. Kemudian, sejarawan N.J Krom (1914) melakukan pendokumentasian catatan terkait Gunung Padang ini. Mereka sebenarnya menduga bila area ini hanyalah kuburan kuno. Meskipun dalam penelitian selanjutnya, hal itu tidak terbukti juga. Bagi saya, akan menarik bila mendengar cerita Akamsi alias anak kampung sini dibanding membaca ulang catatan-catatan itu. Toh, memang tujuan saya duduk di sini bukan untuk melakukan penelitian apapun. Hiya, saya membela diri. Heu

Karenanya, ketika Kang Yusuf sudah duduk agak jauh di hadapan saya. Saya memintanya untuk membabadkannya. Tentu, setelah saya melihatnya santai dengan tubuh bersandar pada batu pembatas. Saya pun mengikutinya dengan bersandar sembari meluruskan kaki.

Menurut Kang Yusuf, sewaktu ia kecil, gunung ini sangat rimbun. Dalam cerita para orang tua, dahulu di sini ada pohon besar yang bila orang bersembilan bersembunyi di baliknya, tidak akan terlihat saking besarnya. Setelah ditemukan, banyak juga cerita-cerita mistisnya. Tapi, saya tidak sedang ingin masuk ke ranah uka-uka, karenanya saya segera mengalihkannya pada hal-hal sederhana yang termasuk dalam kesehariannya saja.

"Aneh, biasanya di sini banyak yang bersemedi. Tapi kenapa sekarang sepi, ya?" Kang Yusuf sepertinya terganggu dengan suasana yang tidak biasa ini.
"Ah, biar saja, kang. Malam ini memang khusus untuk saya saja," seloroh saya untuk menenangkannya. "Sekarang, akang lanjutkan sama membabadkan tempat ini. Mumpung bulan sedang terang dan saya sedang ingin mendengar," sambung saya seraya menyunggingkan senyum. Tentu ia tidak melihatnya.

Ia kembali bercerita perihal bagaimana Gunung Padang ditemukan, prakiraan usia peradaban yang bertumpuk di wilayah ini, hingga hal-hal yang sedang dilakukan oleh para peneliti di situs megalitik ini. Saya hanya terus mendengar, sembari mendengar suara alam dan nurani saya sendiri. Tonggeret di kejauhan, anjing yang terus menggonggong, kepak sayap kelelawar yang hilir mudik, suara tokek, cicak, dan kunang-kunang yang mendekat.

"Saya merasa sangat bersyukur, berada di sini malam ini, kang. Kalau disengajakan datang dari Banten mah mungkin akan lama untuk sampai di sini. Saya hanya bisa berdoa semoga seluruh makhluk berbahagia dan seluruh pekerjaan terkait penelitian, pemugaran dan perlindungan tempat ini dilancarkan. Dan tentu, semoga Indonesia tetap aman, damai dan sentosa. Gemah ripah loh jinawi. Saya sangat bahagia," ujar saya setelah sekian lama mendengarkan Kang Yusuf. Terdengar Kang Yusuf mengamininya.

Lalu, suara itu terdengar sendu. Suara seseorang yang menyanyikan lagu yang saya sendiri tidak tahu lagu apa dan siapa yang menyanyikannya. Sementara di langit, bulan yang bukan purnama lagi itu masih membulat sempurna. Kunang-kunang terbang mendekat. Bahu saya terasa diusap pun punggung. Rasanya ingin menangis saja tapi malu. Kesabaran memang ibu dan kebijaksanaan adalah bapa, bukan?

Entah bagaimana, semenjak kaki keluar dari area Batu Singgasana itu, kepala saya diisi kamu, iya kamu orang yang berjanji akan menjemput saya dan berlibur bersama di Sukabumi. Saya terus mengekori Kang Yusuf sembari sesekali memeriksa ponsel. Ini menyebalkan. Tapi saya ingin malam itu juga kamu menyanyikan lagu yang sama yang tadi saya dengar. Sialnya, sinyal sangat kacau dan kesedihan begitu terasa hingga rasanya tidak ingin saya turuni tangga-tangga itu.

Cag!

Rahayu ing bhuana...


  • 2 Comments



Apakah sedang ada hajat lain, selain upacara menanam padi?

Perjalanan yang ditempuh selama 4 jam berjalan kaki, akhirnya sampai di tujuan. Perjalanan turun dan naik perbukitan melewati kampung-kampung sepi dan huma-huma yang riuh itu membawa saya ke rumah huma yang tak asing. Terlebih lingkungannya. Rasanya, saya pernah menginjakan kaki di wilayah ini. Pohon durian, rumpun bambu, bunga wera atau kembang sepatu, semuanya saya hapal. Teramat hapal untuk orang yang pertama kali menginjak tanah di perbukitan Pasir Ipis, Baduy Dalam ini.

"Rasanya aku pernah ke sini," ujar saya pada tuan rumah, Asmin dan keluarga kecilnya saat kami duduk di beranda. Isterinya Asmin, Arni menyiapkan api untuk menjerang air dibantu putrinya, Yarpah.

Sejak datang tadi, selain lingkungannya yang tak asing dan membuat saya takjub, Yarpah adalah anak yang membuat saya akhirnya memutuskan ikut Asmin pulang, masih seceria pertama kali kami beremu. Sementara kakaknya, Sapri, pemuda cilik itu masih saja pemalu meski sudah beberapa kali bertemu. Ah, si bungsu yang baru pulang bermain, Sarta, tidak sepemalu dahulu. Dia lebih aktif khas anak-anak seusianya.

Kami bercengkrama di beranda sebentar. Sementara Arni dan Yarpah meneruskan kembali pekerjaannya menjahit jamang atau baju khas Baduy Dalam. Baju pesanan yang dijahit manual itu sedang memasuki tahap pemberian pernik atau motif di bagian kerahnya. Saya takjub melihat tangan kecil Yarpah begitu cekatan dan telaten. Di sisi lainnya, Sapri juga sibuk memasukan manik-manik untuk gelang. Mereka bekerja dengan santai. Kesantaian yang saya suka, karena saya datang bukan sebagai tamu di hari Sabtu, meski ini hari Minggu.

Asmin mengajak saya masuk ke rumah huma untuk beristirahat. Dari pintu, mata saya langsung menabrak pintu kecil yang terbuka dengan pemandangan lembah yang indah. Tubuh saya langsung bereaksi menuju ke arahnya. Pintu kecil itu ada di area pangkeng yang hanya dipisahkan sekat kayu dari area tepas. Ruang lainnya, ruang keluarga, tentu disekat dengan bilik bambu. Di sana, ada dapur dan pangkeng keluarga Asmin. Tentu saya tidak kepo menengok ke area privasi keluarganya itu. Selain tidak etis, itu pun larang untuk tamu yang berkunjung ke Baduy.

Area tamu hanyalah tepas dan pangkeng ini saja. Jika di rumahnya di kampung sana, ada 3 ruang yang bisa digunakan untuk tamu. Salah satunya terdapat tungku untuk memasak air atau apa saja, bilamana tamu ingin memasak. Bila musim dingin, tamu juga bisa menggunakan tungkunya sebagai penghangat ruangan.

Ada para-para di sisi tepas dan pangkeng, juga gantungan pakaian serta tempat penyimpanan samak lampit atau tikar pandan. Asmin menggelarkan samak lampit untuk saya duduk dan beristirahat. Sejak memutuskan ikut, saya mewanti-wanti Asmin untuk memberitahu apa yang boleh dan tidak boleh, yang pamali, dan larang dilakukan. Meskipun keceriwisan saya tetap seperti biasanya, apalagi ketika mendesiskan ketakjuban atas suguhan pemandangan di balik pintu kecil itu. Yarpah dan ambunya ikut naik dan menisik jamang. Tak berapa lama, gerimis membuat ambunya Yarpah keluar untuk mengangkat jemuran. Sementara Asmin pamit untuk istirahat. Saya juga memutuskan memejamkan mata sejenak.

Saya terbangun ketika si bungsu, Sarta, pulang. Asmin sudah bangun juga. Ia menyiapkan sabut kelapa untuk mengambil madu seusai hujan nanti. Sapri dan Sarta juga ikut bersiap. Sementara Yarpah dan ambunya, serta saya tetap di rumah.

"Kalau mau mandi, sekarang aja. Nanti mah takut hujan lagi atau ada yang mandi dari saung lain," sambungnya. Saya mengiyakan dan segera menyiapkan kain dan baju ganti untuk saya pakai. Tentu, saya tidak membawa sabun dan peralatan mandi saya.

Jalan menurun menuju tempat mandi itu licin. Yarpah berjalan di depan saya sembari membawa lodong bambu. Lodong sebuku bambu dengan pegangan di ujungnya dan bolongan kecil itu nantinya akan diisi air untuk keperluan di rumah. Sembari berjalan, Yarpah menanyakan apakah saya akan hapal jalan bila saya pergi sendirian? Saya jawab, tentu, saya akan hapal. Namun, saya tetap harus ditemani Yarpah. Saya balik menanyakan apakah tempatnya masih jauh? Yarpah menjawab di bawah pohon gempol itu tempatnya. Memang benar, setelah berjalan menurun di antara akar-akar, saya melihat pancuran. Pancuran itu terbuat dari bilah bambu dengan daun di ujungnya sebagai corong air. Sepertinya, daun itu baru ditempatkan di sana. Sementara untuk penampung airnya adalah lesung kecil.
"Teteh mau mandi? Tapi lupa tidak membawa honje," ujar Yarpah setelah ia menadahkan lodong airnya.
"Tidak apa-apalah, besok aja sambil keramas," jawab saya.
Suara burung terdengar di antara suara angklung. Rasanya, kami tidak hanya berdua di pancuran itu. Ada begitu banyak mata dan tetabuhan yang serupa hajatan saja.
"Apa ada yang hajat selain upacara menanam padi?" Tanya saya pada diri saya sendiri.
"Mungkin yang pulang dari huma," ujar Yarpah. Saya ber-oh panjang. Kami mandi di tengah dingin yang menusuk hingga ke tulang. Air itu, dingin sekali. Tapi tidak sedingin air di Cibeo.
Suara burung itu terus mengiringi kami mandi, suara angklung dan tetabuhan lainnya pun masih terdengar. Hanya saja, seperti ada tabir putih yang menyelimut sekeliling pancuran sehingga kami bisa mandi dengan bebas.

Seusai mandi, kami kembali ke saung huma sembari terus berbincang mengenai nama burung yang tadi terdengar. Burung Wene, kata Yarpah. Burung yang sepertinya belum pernah saya lihat dalam hidup saya. Bahkan ketika Sapri dan Sardi pulang membawa lahang. Minuman dari tuak aren itu menyegarkan sore kami. Sapri dan Sardi bercerita bila hari itu ayahnya gagal mengambil madu karena lebah hutannya balik menyerang. Kami tergelak bersama. Puputan asap dari sabut kelapanya mungkin tidak mempan untuk mereka. Mereka sudah kebal.

Lembayung menyemburat. Saya segera berlari ke tepi ladang untuk sekadar duduk menikmatinya. Meskipun saya enggan menyebutkan seperti yang dikatakan Project Hambalang dalam lagunya Senja Senja Tai Anjing. Dan untungnya, kami tidak sambil mendengarkan lagunya atau berselfie dan menguploadnya ke media sosial dengan caption Mahatma Ghandi itu karena memang hal itu larang di Jagat Batara ini.

Kami hanya berbincang. Membincangkan segala hal, termasuk tentang jaring yang dipasang dan burung yang terperangkap di sana. Serta jalan yang di mata saya sangat besar dan bagus di bukit nun jauh di sana. Ah, mungkin saya pun kelak akan memilih hidup seperti mereka. Kedamaiannya sungguh terasa hangat di dada. Tak ada bising kendaraan, hanya suara shalawatan di Cicakal Girang yang terdengar hingga ke tempat kami duduk.

Mungkin, mungkin pintu itu sudah terbuka. Pintu Doraemon, saya menyebutnya. Dan jalan untuk saya lalui juga sudah terbentang di sana. Saya hanya bisa berdoa, semoga seluruh makhluk berbahagia. Sebab saya pun bahagia bisa menikmati lembayung di Jagat Batara.


Cag.
  • 0 Comments


Jalan kecil yang terjal itu, pohon jati di sisi kiri dan beberapa di sisi kanan, rumpun bambu, jembatan kecil, lio arang atau tempat pembuatan arang di pinggir sungai kecil, dan sungai besar itu, semuanya terasa tidak asing. Jalan itu membawa saya ke perkampungan dengan tiga leuit di sisi kirinya. Kampung Genteng, kampung sunyi yang tak lebih dari 17 bangunan baik rumah yang masih berdiri dan yang tinggal pondasi serta lantai, pun majlis taklim dan masjid itu sunyi sekali. Beberapa ternak tampak berkeliaran di jalan dan halaman.

Saya tidak sendiri, ada tiga orang lelaki bersama saya. Dua orang di antaranya saya panggil mamang dan Oom atau om, mang Heri dan om Feri, dan salah seorang lagi saya panggil aa atau a Ari. Usia kami tak terpaut terlalu jauh, meski saya lebih muda, tentu saja.

Salah satu rumah tempat kami menitipkan kendaraan, pintunya terbuka. Hanya saja, tak ada siapa pun di sana. Tak ada suara kehidupan anak manusia sekali, pikir saya. Seorang lelaki setengah baya tampak berjalan dari arah pinggir sungai. Pakaiannya basah separuh, di punggungnya tampak tas ransel lusuh.
"Mungkin di masjid," ujarnya.
"Oh iya, Ashar...," sahut salah seorang dari kami.
 Setelah mengucapkan terima kasih, kami kemudian berjalan menuju pinggir sungai.
"Di sini hanya ada 8 kepala keluarga lagi yang masih bertahan," terang om Feri, saya memanggilnya. Saya ber-oh panjang dan terus mengambil beberapa cuplikan gambar melalui ponsel.

Beberapa orang anak kecil dan seorang lelaki dewasa tampak duduk di rumah dengan mobil di saung yang lain itu. Tulisan 'warung kopi' yang dicat di tembok tempat duduk di depan warung. Kami terus berjalan menuju pinggir sungai. Rakit-rakit tertambat di salah satu titik. Katanya, hari ini sungai sedang meluap sehingga akan sulit bila ingin menyeberang tanpa rakit. Di seberang itulah komplek makam tua berada. Artinya, kami harus menyeberang sungai Ciberang untuk sampai di sana.

Di salah satu titik sungai yang tidak terlalu dalam, sepaha orang dewasa, om Fer dan A Ari memutuskan berjalan menyeberangi sungai. Sementara saya dan mang Heri, memilih mencari orang untuk menyeberangkan dengan rakit. Yah, lebih baik bayar upah menyeberangkan daripada pulang dengan celana basah, sementara saya tidak membawa pakaian ganti selain kain panjang saja.

Abah yang rumahnya tadi kami kunjungi tampak berjalan menuju ke arah kami. Tampaknya ia baru pulang dari masjid. Setelah bersalaman, kami meminta tolong untuk diseberangkan dan diantar menuju ke tempat tujuan kami.

7 batang bambu panjang yang direkatkan menjadi rakit itu  memiliki 5 batang bambu lebih pendek di tengahnya. Rakit itu yang dipilih abah untuk menyeberangkan. Ketakutan saya langsung naik ke leher. Jeritan kecil dan racauan saya langsung terdengar di sela-sela anjuran untuk tidak bergerak. Tubuh saya benar-benar tidak bergerak, hanya jantung yang terasa melompat-lompat. Ini memalukan, sebenarnya. Tapi kau tahu, ketakutan itu tidak tahu atau punya malu. Di seberang, om Feri sengaja melempar kerikil untuk mengisengi kami. Orang tua iseng itu tertawa saja mendengar jeritan ketakutan saya. Senang betul!

"Duh! Aki, nini, eyang, buyut, na atuh kudu nyeberang segala. Da saya sieun tigubrus laju tilelep dan paeh," racau saya dalam ketakutan itu dan langsung disambut tawa yang sudah di seberang.

Pasir, orang-orang kampung itu menyebutnya. Dataran tinggi yang ada di seberang sungai itu selain kebun warga, juga ada area pemakaman tua. Nisan-nisan yang ada di sana tak hanya terbuat dari batu pipih bermotif atau berukiran, ada pula yang terbuat dari batu fosil baik dengan ukuran kecil dan pendek, maupun ukuran besar dan menjulang ke atas. Semua tertancap di beberapa titik. Di sana pun tak hanya kuburan berbentuk memanjang, ada kuburan yang menggunung serupa kuburan orang Cina yang saya lihat di film-film kolosalnya. Di salah satu makam dekat saung, nisannya tampak ukiran Allah (dalam bahasa Arab), di batu nisan lainnya motif pucuk pakis terukir di atas nisan. Sedangkan di nisan-nisan dengan batu fosil itu, tampak tak ada ukuran atau tulisan apapun.

Nisan berlafad Allah itu, konon adalah milik  Pangeran Artapati. Ia adalah salah satu tokoh penguasa kecil di area Lebak. Keunikan yang ada di area makam tua ini terdapat pada batu-batu fosil yang menjadi ciri atau nisan, selain ukirannya juga.

Sempat terbersit dalam benak saya perihal pemindahan nisan-nisan yang ada di area ini. Tapi, ke mana dipindahkan dan siapa yang memindahkan, saya belum dapat memastikannya. Hanya saja, menurut hemat saya, bila area ini tenggelam kelak, setidaknya kita masih punya tanda bahwa mereka pernah benar-benar ada dan hidup di dunia ini. Tentu saja, area tempat pemindahan itu disiapkan khusus serupa tempat aslinya dengan berbagai catatan yang bisa mengenalkan mereka kepada khalayak.

Selesai berziarah dan berkeliling dari satu nisan ke nisan lainnya, kami pun segera beranjak menuju tepi sungai. Sementara om Feri dan a Ari menyeberang sungai di area dangkal, saya dan mang Heri kembali naik rakit 7 batang bambu bersama Abah. Saya masih diserang takut ketika berada di atasnya. Tak ayal, jeritan kecil pun terdengar hingga tepi tempat rakit-rakit lainnya berada. Beristirahat sebentar di rumah penduduk, kami memesan kopi dan mengobrol perihal pengalaman tadi di seberang serta dugaan-dugaan lainnya. Menjelang Maghrib, kami pun beranjak kembali menuju Ciuyah, tepatnya ke tempat tujuan lainnya.

Semoga kita semua selalu sehat sehingga kita bisa kembali ke area ini lagi. Tentu, sebelum area ini tenggelam oleh waduk terbesar ke-3 di Republik ini, Waduk Karian.



Rahayu.


  • 0 Comments





Di saung dekat rumah di bawah tower provider itu, seorang perempuan muda duduk dengan pakaian tidurnya. Ia menyambut dengan tawanya yang lebar. Ibunya yang keluar dari dapur pun turut menyambut dengan celotehan akrab sekali. Bukti nyata bila kedua orang yang datang bersama saya itu pernah berkunjung ke rumahnya.

Rupanya di sini tempat pertama yang saya kunjungi pada Sabtu (19/10/2019) ini. Kebo Bule, orang-orang mengenalnya. Kedatangan pertama ini, hanya bertiga saja, saya, Mang Heri dan a Ari. Sementara Om Feri akan menyusul setelah jam pulang kerja usai.

Setelah beramah tamah sebentar, saya digiring menuju area kosong di belakang rumah. Di sekelilingnya selain rumah warga, juga ada kebun rambutan dan tempat pembibitan tanaman warga. Di area kosong itulah tampak ada beberapa nisan yang ditutupi kain putih. Kurang lebih ada 5 nisan di area itu yang letaknya berjauhan.

Selayaknya memasuki area pemakaman, diam-diam saya mengucap salam. Agak rikuh, sebenarnya. Bagaimana tidak, area yang dimasuki itu diduga adalah area pemakaman. Bila benar area pemakaman, maka saya harus benar-benar memperhatikan langkah. Sebab sewaktu kecil, para orang tua sering mengingatkan bahwa kaki saya tidak dibolehkan melangkahi makam. Hal ini sebagai wujud dari penghormatan pada empunya jasad semasa ia hidup dan setelah ia meninggal.

Terkait alasan kenapa nisan dibungkus kain putih, saya jelas tak begitu paham. Hanya saja, biasanya, makam yang dibungkus kain putih adalah makam yang dikeramatkan masyarakat di sekitarnya. Dan kedatangan saya kali ini, jelas bukan untuk munjung atau meminta sesuatu pada makam. Saya justru ingin melihat dari dekat bentuk dan motif dari nisan yang dibungkus kain itu.

Meski saya tidak memiliki pengetahuan terkait urusan usia nisan dan dari zaman mana nisan itu berasal. Kelak, bila waktu menjodohkan kedatangan demi kedatangan lainnya, saat itu saya diiringi orang-orang yang memiliki kapasitas keilmuan yang bisa menjawabnya. Kali ini, anggap saja saya terlalu banyak waktu luang dan terlalu iseng.

Salah satu makam yang berada di area ini, konon, adalah makam Kebo Bule atau Rakean Munding Arya Satya yang diduga dahulunya adalah salah satu 'orang penting' di masa Pajajaran akhir.

Untuk melihat motif makam, tentu kami mesti membuka kain penutupnya. Emang boleh? Lho, yang melarang itu siapa? Empunya makamnya juga mengizinkan. Eiy, saya sok tahu. Heu.

Biasanya sih, jika kita melakukan pendekatan dulu dengan penjaga makamnya, mereka akan menyilakan kita membukanya atau dibantu penjaga makamnya untuk membuka kain penutupnya. Toh, memang tujuannya bukan untuk merusak makam yang dikeramatkan itu, tapi melihat dari dekat, meneliti, atau apapun itu judulnya. Seperti yang terjadi di beberapa tempat yang saya datangi, para juru rawat atau penjaga makam atau kuncen, menerima kita dengan tangan terbuka, lho. 

Seperti halnya penjaga makam yang ada di area ini. Meski di hari kedatangan saya ini, ia sedang keluar dan kami hanya diterima isteri dan putrinya saja. Namun, kepercayaan itu sudah didapatkan sebelumnya. Kedua mamang yang datang bersama saya ini sudah meminta izin, dan ia sudah mengizinkan membukanya bila maksudnya adalah untuk pengetahuan. Tidak ada halangan yang berarti bagi kami untuk melihat motif nisan di balik kain putih itu. Tentu bukan saya juga yang membukanya. Ada Mang Heri yang bersiap membukanya.

Sementara Mang Heri membuka kain putih, saya terus merekamnya. Setidaknya, ada tiga nisan yang dibuka penutupnya. Ada motif unik yang terukir di sana, khususnya pada makam yang disebut sebagai Kebo Bule itu. Motifnya serupa kembang pakis yang saling bersilang dan berhadapan. Ada pula motif tombak di makam terakhir yang kami buka penutupnya hari ini. Untuk mengetahui makam ini berasal dari zaman mana, tentu harus dilakukan penelitian lebih lanjut.

Dan tentu kedatangan saya kali ini akan disambung dengan kedatangan selanjutnya. Semoga kita semua selalu sehat.




  • 0 Comments

Cah Ayu, Segala sesuatu terkadang berjalan tidak seperti yang direncanakan. Ketika sebuah rencana disampaikan padamu, satu hal yang hanya bisa kau ucapkan adalah insya Allah dan kau menyerahkan segala urusan itu hanya pada Tuhan saja. Sebab kau sendiri pun tidak tahu, apakah kebahagiaan yang terpendar di dadamu saat rencana itu disampaikan benar-benar bisa terlaksana atau tidak. Bahkan, ketika tidak terlaksana pun, kau hanya dapat menerima saja seperti kau menerima dan mensyukuri matahari terbit dari Timur dan tenggelam di Barat. Meskipun kau menempatkan dirimu dalam posisi menunggu. Maka, menunggulah tanpa batas waktu dan kesabaran para ibu.

Siapapun yang tidak memahamimu, pasti akan menganggap dirimu sebagai yang bukan dirimu. Apa yang kau tampakan di mata orang-orang itulah yang hanya mereka tahu. Kau membiarkan anggapan-anggapan mereka terhadapmu menelan diri dan harga dirimu sendiri. Kadang, kau merasa sangat tidak berharga sebagai makhluk Tuhanmu. Kadang pula, kau tidak merasakan apa-apa. Di lain hari, kau hanya merasa dadamu sesak sekali. Tangis dan rengekanmu di tengah malam, mampu membuat siapapun tergugu bersamamu.

Matamu buta, tapi hatimu tidak. Hatimu masih tetap begitu sedari pertama kali engkau diciptakan. Hanya saja, kau sering mengabaikan kata hatimu sendiri. Setiap peringatan itu, sebenarnya adalah untuk dirimu sendiri. Bukan untuk orang-orang yang mendengarkan ceritamu. Karena itu, cah ayu, bertahanlah sedikit lagi. Bertahanlah sedikit lagi. Bertahanlah.

Apapun yang telah dan sedang kau jalani sekarang, akan menjadi indah dan kebahagiaanmu di hari mendatang. Tak usah kau pikirkan kata orang. Pikiran mereka tentangmu memang hanya sebatas itu saja. Tidak perlu dijadikan bahan pemikiranmu juga. Tetapkan saja hatimu dan berpeganglah pada Al-Qur'an dan firman-firman Tuhan. Jangan pula terlalu mendengarkan kabar burung. Kabar itu tidak selalu baik untukmu atau demi kebaikan dan kebahagiaanmu. Kadang, kabar itu sengaja dibuat untuk membingungkanmu dan menjauhkanmu dari jalanmu sendiri. Percayalah pada kata hati, cah ayu.

Nah, mengenai perjumpaan yang mestinya kita lakukan, tidak usahlah terlalu dipikirkan. Kita sudah berjumpa, selalu berjumpa. Kau masih anak kecil yang manja. Yang bisa membuatku tertawa dan bersukacita bersama. Tidak perlu sungkan bertanya kabar. Jangan menyembah karena aku bukan Tuhan. Kau tahu itu salah, karena itu kau tak pernah ingin mengagungkan siapapun atau apapun kecuali Tuhan saja. Itu sudah benar. Kau memang hanya perlu memperlakukanku sebagaimana kamu memperlakukan makhluk Tuhan lainnya. Jadi, percayalah, segala sesuatu yang sudah digariskan Tuhan, yang menjadi hakmu, akan tetap menjadi hakmu. Apapun yang dipinjam darimu, akan dikembalikan padamu dengan utuh. Mereka sudah berduyun mengirimkan segala simpanan. Hak Allah yang menentukan kapan waktunya. Kau hanya perlu mengangkat tangan. Berdoa dan sembahyang sebagaimana kewajibanmu sebagai makhlukNya.

Jadi, tahanlah sebentar lagi. Dia yang kau tunggu, sudah datang. Kau tahu bukan? Dia pun sama sepertimu, harus melalui berbagai hal. Masihkah kau percaya dia akan menjemputmu? Jika ya, tunggulah setenang air di kolam. Meskipun angin mengirim riak, tapi percayalah itu hanya sekilas saja. Seperti hakmu yang lain, dia pun memiliki hak mendampingimu hingga akhir. Karena kau ajimatku. Sampai kita bertemu lagi. Semoga keselamatan dan kebahagiaan selalu menyertaimu.

Selamat Tahun Baru Hijriah.
  • 0 Comments



Berawal dari ajakan seorang kawan, akhirnya pada Kamis (28/6) kaki saya menginjak kampung Sukajadi, Rahong, Malingping. Di rumah bapake (lupa namanya, karena blio memanggil saya ibu. Hiks) yang bertanggung jawab dalam project BPTP di kawasan itu, saya beristirah sembari mendengarkan kedua lelaki itu membahas segala keperluan dan persoalan yang terjadi di lapangan. Juga, mensyukuri keterlamabatan kedatangan setelah menempuh jarak Serang-Malingping melalui Saketi yang menurut catatan Google Map sekitar 100,6 KM dengan estimasi perjalanan sekitar 2 jam 39 menit itu.

Tentu karena kami berhenti tiga kali untuk mengisi bensin kendaraan plat merah itu di Pom Bensin Cipacung, mengisi perut kami yang tidak berplat dengan bubur ayam di daerah Goyang Lidah (lupa nama daerahnya, tapi dekat-dekat situ) dan karena saya izin ke toilet POM Bensin terdekat. Alhasil, kedatangan yang diprakirakan sekitar pukul 8.30 (berangkat pukul 06.00 WIB), sampai lokasi kurang lebih pukul 10.00 WIB. Sekitar 4 jam perjalanan sangat sesuai jika ditempuh dengan kendaraan keluaran Kawasaki yang bikin bokong nyeri itu. Andai kurang dari itu, saya sebagai boncengers sejati mungkin tidak akan sempat menulis catatan perjalanan ini. Ah, tentu saja hingga saya menulis catatan ini, status saya saat ini sedang membenci kendaraan itu.

Di rumah bapake itu, kami disuguhi air mineral dan kopi juga pisang yang saya langsung membuat mata saya berbinar. Meski saya lupa nyomot, karena perhatian saya teralih pada plastik-plastik berisi agen hayati, Beauvaria. Benda berbau dan berbentuk seperti peuyeum atau tape beras itu akan digunakan untuk mengendalikan hama dan penyakit padi. Isi di kantung plastik itu nantinya akan bertindak seperti kanker di tubuh para hama. Jamur putihnya akan terus berkembang biak di dalam tubuh si hama dan menelikung tubuhnya hingga menjadi seperti tempura. Kematian tragis bagi para hama sepertinya.


Setelah menjelaskan cara mengaplikasikan virus untuk para hama dan menyiapkan alat pengukur, mamangnya mengajak saya menuju ke lokasi untuk mulai pekerjaan. Digiring bapake, di sepanjang perjalanan itu keduanya terus membincangkan perihal hal-hal yang terjadi dan sesekali bercanda mengenai hal lainnya.

Pesawahan yang menghampar sudah di depan mata. Di petakan-petakan yang sudah ditandai itu, pekerjaan mencatat rumpun padi yang ditandai dengan bilah bambu itu akan dimulai.  Ada empat bilah bambu dari petakan-petakan yang sedang hijau-hijaunya itu, penanda blok dan cara bercocok tanam yang dipakai. Ada dua cara bercocok tanam yang dikaji di kawasan itu; cara alami dengan beauvaria dan cara para petani. Keduanya dilakukan untuk membandingkan hasil akhir dari penelitian BPTP ini.

Meskipun begitu, bagi mata minus seperti saya kedua cara itu sama-sama membuat mata jadi adem. Hijau, euy. Ditambah lagi ada tanaman penunjang selain jagung yang ditanam di beberapa area galangan sawah itu. Bunga. Ada beberapa jenis yang ditanam, termasuk bunga matahari. Fungsinya untuk mengalihkan perhatian para hama dari padi yang ditanam tanpa menggunakan  seperti asam mefenamat yang sedang bekerja meredakan keriweuhan rasa sakit saat datang bulan.

Sementara ia dan bapake bersiap menuju lokasi di ujung pandangan, saya disilahkan menuju area berbunga dan jika matahari terlalu menyengat, saya disilakan menunggu di beranda rumah penduduk yang berada di dekat pesawahan itu. Mata saya berbinar untuk area berbunga dan sedikit terpicing untuk anjuran tetap di pinggir itu. Tapi saya tidak ingin membantah, karena saya tahu mereka pasti melihat penampilan saya yang salah kostum. Ya kali ke sawah pakai flannel, jeans dan keds putih.

Bukan saya jika menurut anjuran untuk menunggu di pinggir. Apalagi saat matahari hanya terasa hangat kuku saja meski saat itu sudah pukul 11.00 WIB. Kalau matahari di Serang, tidak dianjurkan juga saya akan melipir sendiri. Perbedaan suhu benar-benar membuat saya enggan menerima pekerjaan di siang hari. Setelah menyapa bunga-bunga, saya menitipkan sepatu di rumah penduduk dan langsung berlari mengejar anak-anak yang sedang ngurek atau memancing belut. Cacing tanah yang menjadi umpan itu rupanya sudah berhasil memenjarakan belut dalam potongan botol plastik di tangan mereka. Setelah mengobrol sejenak dan mengambil gambar cara mereka memancing, saya pamit untuk melihat dari dekat caranya bekerja.

Tentu saja, saya juga ikut menjejakan kaki di petakan yang sedang ia teliti itu sembari ribut sendiri dengan bertanya dan mengomentari segala hal yang nggak penting-penting banget. Mulai dari mengomentari sensus 4 keluarga (rumpun) padi yang saya sedang ia lakukan, bertanya mengenai kondisi keluarga padi yang tidak sesehat keluarga padi lainnya dan hal lain yang berhubungan dengan apa yang sedang ia lakukan itu. Selain tentu saja menyemangatinya yang terus berpindah dari satu petakan ke petakan lain, sementara saya heboh sendiri dengan menyapa hama-hama seperti tomket, belalang, keong, telur keong dan berteriak ketika kodok melompat.

Adzan dzuhur yang terdengar di kejauhan menjadi petanda tengah hari sudah tiba. Meskipun begitu, sinar matahari rasanya masih seperti pukul 10.00 pagi. Hangat dan sama sekali tidak menyengat. Karena itu, saat saya pulang ke rumah bapake untuk mengambil air mineral dan beberapa camilan, bapake yang menyarankan untuk tetap tinggal di rumahnya saya abaikan. Saya mengatakan padanya bila saya suka berada di bawah matahari sehangat itu.

Selain heboh sendiri dengan kekatrokan yang saya sadari itu, saya juga meminta izin untuk mencari anak bunga untuk saya bawa pulang. Sebenarnya, saya ingin memindahkan semua bunga yang ada di sana. Tapi akibatnya pasti saya ditinggal pulang. Karena itu, saya mencari rumpun bunga yang sudah beranak saja. Sementara blio meminta perlengkapan jerat hama yang dititipkan pada saya.

Ada 5 kantung plastik yang sudah diisi hama, masing-masing plastik berisi 1-2 hama berlain jenis termasuk diantaranya belalang kecil. Plastik berisi hama itu dititipkan kembali pada saya. Entah ada insting apa, saya meniupkan udara di dalamnya agar para hama tetap hidup. Tentu saja keisengan saya itu juga dikomentari, sebab menurutnya para hama itu pada akhirnya akan dimatikan juga.

Turut berduka ya, hama yang entah namanya dan baru saya ketahui keberadaannya di dunia.

Pukul 13.55 WIB ia mengajak saya beristirahat sebentar dan meminta saya pulang duluan ke rumah bapake. Sementara dia akan meneruskan pekerjaan ke beberapa petakan lagi. Waktu Dzuhur yang sebentar dan betis yang mulai gatal membuat saya mengiyakan sarannya.

Saya menghampirinya lagi ketika saya kembali rapi. Rupanya, kali ini ia sedang mengerjakan petakan yang diolah dengan cara petani. Saya hanya menunggu di pinggir sembari melihatnya bekerja dan sesekali melemparkan komentar iseng perihal kondisi keluarga padi yang sedang disensusnya. Di petakan itu tertancap keterangan bila padi yang ditanam di petakan itu menggunakan cara petani. Ia juga memberi penjelasan bila padi yang ditanam dengan cara petani itu sedang diserang penyakit yang masih sulit saya ingat namanya. Hanya saja, ia berjanji akan sesegera mungkin menyelesaikannya. Setidaknya sampai pukul 15.00 WIB, setelahnya ia akan memenuhi janji selanjutnya; bermain ke pantai sebelum akhirnya pulang.

Yay! Itu menyenangkan. Gimmic terbaik setelah menonton padi di sawah. Heuheu


  • 0 Comments




"Kunaon ieu jadi paeh?" Gumam mamang supir angkot pada dirinya sendiri. Ia kemudian menstarter kembali angkutan umum trayek Pasar Pandeglang-Pasar Pari itu. Sementara aku tak menyiakan kesempatan memotret pemandangan Pulosari yang selalu mengandung banyak rindu itu. Tiga kali memotret dengan angle yang sama selesai bersamaan dengan mesin yang menyala lagi.

"Nuhun, ah." Gumamku entah pada siapa rasa terima kasih itu. Aku juga tidak tahu apa aku mensyukuri angkot mati pas di tempat yang negla (luas atau jelas terlihat) pemandangannya itu, atau bersyukur karena angkotnya tidak mogok tepat di kubangan jalan sementara tempat tujuan masih jauh.

Angkot berjalan pelan dan meliuk seiring mamang supir yang sibuk memilah jalan dengan lubang tak terlalu dalam. Lubang-lubang jalan yang dipenuhi air sehabis hujan semalaman itu banyak menipu pengendara, jika tidak berhati-hati dan sigap, alhasil siapapun bisa terperosok.

Bagiku, persoalan jalan di tanah lahirku ini tak pernah ada kata selesai. Siapapun Bupatinya, laki-laki atau perempuan, sama saja. Bukan hanya jalan yang kulewati ini, tapi seluruh jalan yang ada. Aku tidak ingin membicarakan soal siapa yang paling bertanggung jawab mengurus persoalan infrastruktur, baik tingkat desa, kecamatan, pun kabupaten. Toh, selama ini pengkategorian itu tidak pernah berhasil memuluskan setiap jalan di Kabupaten Pandeglang.

Persoalan regulasi kebijakan sering menjadi alasan. Belum lagi persoalan anggaran belanja daerah untuk insfratruktur yang seringnya dibilang smet (sedikit) itu. Wolu. Bosan dengarnya tuh udah mencapai tingkat lain bangsa urang. Selain itu, sebagian orang Pandeglang yang kuajak diskusi baik di tingkat desa, kecamatan, maupun kabupaten juga banyak yang masih memiliki pola pikir yang terpusat di puncak. Pola pikir 'sakumaha ibu/bapak bae' (asal ibu/bapak senang), itu sepertinya masih sulit dienyahkan dari kepala orang-orang. Itu yang kadang membuatku molohok.

Karena itu, jika pemangku kebijakannya tidak keras menumbuk bebatuan yang dicampur aspal/adonan beton untuk dipoleskan di jalan-jalan, maka jalan semulus kulit wajah hanya menjadi mimpi saja. Apalagi buat orang-orang jero atau masyarakat yang tinggal di peloksok Pandeglang. Mereka tidak akan mengacungkan papan bertuliskan 'perbaiki infrastruktur' atau 'perbaiki jalan menuju kampung kami' di depan Pendopo Bupati. Mereka hanya berpikir menjalani kehidupan seperti biasa; pergi ke sawah/kebun dan melakukan aktivitas seperti hari-hari biasa.

Saat Pilkada, orang-orang ini yang sering terkena jebakan Batman. Janji para calon mangjabat yang datang berkunjung atau timsesnya itu, menjadi harapan tertinggi mereka. Memang, ada beberapa janji yang direalisasikan. Misal, janji perbaikan jalan dengan banyak tapi itu. Misalnya, dijanjikan jalan semulus pantat bayi, yang datang pantat bisulan (bebatuan saja) atau janji jalan mulus yang diperbaiki sepotong doang selebihnya kapan-kapan kalau ingat.

Beberapa waktu lalau ada klaim penyelesaian infrastruktur sekian ratus kilometer. Siplah alus. Tapi ingat, ketahanannya bagaimana? Jangan sampai target ketahanan 5 tahun plus pemeliharaan, tapi baru 1 tahun sudah aus. Itu bisa menimbulkan banyak pertanyaan dari para penonton. Ada vermaenan apa di antara kelien? Oh, fifty-fifty (70:30)?

Ih wow, perkara kecurigaan ini pasti banyak dan tidak hanya aku yang mencurigai ada udang di balik beton itu. Hanya saja, si aku mah curiganya imut dan lucu tanpa terigu. Sementara yang lain mungkin, na...na...na... sabaraha? Karena keimutan itu, aku sempat mengeluh pada orang-orang yang menurutku paham soal itu. Beberapa di antara mereka menyarankan untuk mencungkil beton itu sedikit saja dan mengirimkannya ke laboratorium untuk diuji kadarnya. Tentu, prosesnya tidak sampai di situ saja. Ada hal lain yang harus dilakukan, termasuk mengintip Anggaran Belanja Daerah untuk pengerjaan proyek itu. Tapi, karena aku lucu--aing mah bodo dan kadang sabodo bae--, saran itu hanya disimpan di kepala saja. Selain itu, sebagai anaknya Bang Toyib yang jarang pulang--tentu jarang mengakses jalan itu--juga menjadi pertimbangannya.

Persoalan infrastruktur ini harusnya sudah selesai sejak lama, andai bidang itu yang lebih diutamakan oleh para mangjabat sebelumnya, sebelumnya, sebelumnya, sebelumnya dan sebelumnya. Pokoknya sebelumnya weh karena setelahnya itu pasti saenggeusna (setelahnya). Untuk pernyataan masalah kesalahan manajemen pemerintahan yang baru-baru ini diangkat ke permukaan, penonton pojokan sono mah nyeletuk gindang, cyin; memang selama ini sebangsanya mangjabat itu ngapain aja? Jadi melengek.

Karena sudah tidak bisa sabodo bae atau percaya saja juga tidak baik bagi awak yang rugrag akibat banyak gejrugan di jalan. Sakitu geh uyuhan untuk persoalan infrastruktur ini sudah bukan kalimat yang pantas diucapkan di zaman now. Apalagi beberapa waktu belakangan ini, Pandeglang sedang banyak gembar-gembor soal potensi pariwisata. Ina-inu pariwisata banyak bertebaran, tapi kadang suka melupakan efek mana yang ditimbulkan. Efek samping, efek depan, efek belakang, efek atas dan efek bawahnya. Sementara insfrastruktur yang mestinya menjadi efek depan, selalu saja dikesampingkan. Jadi suka mikir, betapa kerennya bonus untuk para tamu yang berkunjung ke Pandeglang. Khas banget. Sakit badan. :D
  • 0 Comments

"Tak! Tak! Tak!"

Suara itu terdengar dari setiap beranda yang kami lewati. Para perempuan berbagai usia, duduk menghadap alat tenun. Di beberapa beranda pula, hasil tenun dipajang beserta pernak-pernik lain khas Baduy. Termasuk madu odeng dan racikan jahe merah dicampur gula yang bisa langsung seduh. Mulutku berdecak sembari terus mencoba mengingat sembilan tahun lalu di tempat serupa yang tak sama lagi itu. Betapa industri pariwisata begitu berkibar di Baduy.

Menarik diri ke belakang, setidaknya aku pernah dua kali menginjakan kaki di kampung ini. Pertama antara tahun 2005-2006 saat mengantar seorang kawan yang melakukan penelitian di sana. Kami menginap hampir seminggu di rumah yang aku tak ingat letaknya sekarang, bahkan aku tak ingat lagi keluarga yang menampung kami itu. Dulu, kami sempat nekat menyusuri hutan menuju ke kampung Gajeboh. Tapi, karena hutan begitu panjang dan terasa menakutkan bagi dua perempuan sok nekad, kami memutuskan balik kanan. 

Kedua, 2010 saat aku diajak ikut tur untuk memandu acara yang diselenggarakan oleh salah satu perusahaan rokok. Tempat ketiga yang menjadi tugasku itu di lapangan parkir Ciboleger. Kru dan pengisi acara memutuskan beristirahat di salah satu rumah penduduk di Kadu Ketug. Aku tak ingat menginap di rumah siapa, hanya saja aku ingat ia memiliki anak gadis yang kutemani memasak ayam goreng untuk kru. Kalau tak salah, namanya Itoh. Dia gadis yang manis dan pemalu. Setiap pertanyaanku selalu dia jawab tak tahu. Bahkan ketika kutanyakan soal tenun itu.

Ah, mungkin Itoh kini sudah bisa menjawab pertanyaanku. Tapi, di mana Itoh tinggal? Ia pasti sudah berkeluarga dan beranak pinak di salah satu perkampungan orang Baduy. Jika berjodoh, aku pastikan kami bertemu lagi.

Kali ini, aku datang bersama rombongan Ngopi Outdoor Padepokan Kupi. Kepergian tanpa rencana ini terjadi akibat salah seorang kawan penari, Putri Wartawati, yang membawa cengcemannya dari Swiss itu mengatakan ingin berkunjung ke Baduy tapi tidak tahu jalan. Dasarnya tukang bolak-balik Baduy untuk ngopi saja, owner Padepokan Kupi langsung menanggapi serius. Begitu pula para anggota Ngopi Outdoornya yang sangat militan itu. Ditambah lagi ini musim durian. Alhasil, orang yang doyan ngopi sekaligus rebutan durian, langsung maju untuk ikut berburu di Baduy.

Rumah pertama yang kami datangi pertama kali di Baduy, tentu rumah Jaro. Pupuhu super sibuk ini seolah tahu kami akan datang, meskipun kami tidak mengirimkan pesan kedatangan. Duduk di rumah Pak Jaro, aku memilih mendekati gadis cilik yang asyik memperdengarkan suara 'tak-tak-tak' di sisi beranda yang hampir tersembunyi di balik kain tenun yang dipajang. Ia sedang membuat tenun putih yang tidak terlalu banyak motif. Kebiasaan lupaku kambuh saat itu, aku lebih fokus bertanya mengenai kain yang dibuatnya dibanding bertanya nama. Ah, sialnya. Meski memang, aku hanya sebentar mengajaknya ngobrol karena kemudian aku bergabung dengan kawan-kawan untuk bertemu Pak Jaro.

Baru saja duduk, seorang lelaki di beranda rumah itu mengatakan ada gempa. Padahal aku tidak merasa. Entah gempanya terlalu kecil, atau aku sedang memikirkan kasur karena kepergianku tidak diawali dengan tidur. Kawan-kawan yang lain pun banyak yang tidak merasa. Tapi dari informasi BMKG di media sosial, akhirnya kami tahu kebenaran soal gempa siang itu.

Seusai ngobrol, kami pamit untuk meneruskan perjalanan ke Kampung Gajeboh. Tentu saja kami tidak ingat untuk berpose terlebih dahulu bersama Pak Jaro. Alhasil, ketika kami mampir di rumah kenalan yang letaknya tak jauh dari rumah Pak Jaro, kami memutar balik hanya untuk berpose. Aih! Traveler banyak lupa seperti ini, gaes. Maklum saja ya. Mengenai berpose ini, sebelumnya kami juga berpose di patung Ciboleger. Tumben sekali dan hampir semua orang dalam rombongan mengatakan baru pertama kali berpose di sana, meski ada yang sudah beberapa kali bolak-balik Baduy.

Seusai pamit (lagi) pada Pak Jaro, kami meneruskan perjalanan menuju Kampung Gajeboh. Kami berpapasan dengan anak-anak setinggi sapu yang memikul durian begitu banyak. Pikulan yang diteriaki ampun oleh mamang bertubuh tinggi besar yang doyan bermain basket dan berkecimpung di berbagai ladang pertanian, Om Opik. Sedangkan mereka memikul beban seberat itu dari kampung yang entah di mana hingga ke Ciboleger ini. Om Opik kalah telak. Haha.

Jalan setapak kami lewati, kebun dan ladang menjadi pemandangan lainnya. Tentu, nun jauh di sana perbukitan yang hijau di antara awan yang lucu membuat lelah tidak begitu bermasalah. Tidak hanya itu, tamu yang kelelahan juga sudah disiapkan tempat duduk untuk beristirah di beberapa tempat. Keberadaan Toby di dalam rombongan ini, tentu menarik perhatian orang-orang yang sedang beristirah. Beberapa dari mereka diam-diam menghadapkan kamera ponsel padanya dan Toby pun mulai pundung. Sepanjang perjalanan setelah istirah itu, ia terus ngedumel. Aku paham sekali kenapa ia begitu. Pandangan dan perlakuan berbeda dari orang-orang membuat siapapun pasti tidak nyaman. Beberapa dari kami juga agaknya tidak nyaman menjelaskan alasan perlakuan itu. Tapi, suasana tidak nyaman itu sedikit demi sedikit teralihkan dengan banyaknya candaan di sepanjang perjalanan.

Hutan dan ladang, turunan panjang, kami lewati hingga perkampungan lainnya tampak di depan mata. Suara Tak-tak-tak terdengar dari tiap beranda rumah di sana. Semula, aku ingin mampir. Tapi karena rombongan tergesa ingin segera sampai kampung tujuan, niat itu kuurungkan. Nggak lucu juga kalau sengaja meninggalkan diri. Mesipun tetap saja tertinggal karena kaki mulai terasa pegal.

Kampung Gajeboh sudah kami injak. Rumah singgah dari kenalan mamang kopi pun sudah membuka pintu dan menyuguhkan air minum. Istirahat menjadi satu-satunya yang kami inginkan. Kami mengeringkan keringat sembari terus mengobrol. Sungai di samping rumah mengundang siapapun untuk mendinginkan badan setelah berkeringat. Tapi niat untuk mandi mesti ditunda, sebab ada ritual wajib yang harus dijalani terlebih dahulu oleh para traveler; foto-foto. Jembatan menjadi tempat favorit berpose banyak orang. Lihat saja di aplikasi foto, pasti banyak pose di jembatan itu. Selain itu, leuit yang berada di seberang sungai juga menjadi latar lainnya yang sepertinya wajib untuk diabadikan. Termasuk, berpose bersama aki yang bermain suling itu. Aki yang selalu mengaku berusia 100 tahun kurang satu itu sangat baik. Beberapa dari kami menyempatkan diri mengobrol dengannya. Selain perihal usia, aku tak tahu lagi apa yang sedang mereka obrolkan karena tentu saja aku pun tidak mau ketinggalan berselfie ria. Ngehek sekali, bukan?

Kenapa aku sebut ngehek? Karena akibat ini aku lupa memperhatikan hal-hal di sekitar. Aku lupa pada leuit, pada pepohonan, pada rumput, pada batu, pun lupa menyapa dan mengobrol dengan para perempuan yang kulihat ada yang sedang menenun di beranda rumahnya. Ini tentu kesalahanku sepenuhnya. Sebab di saat yang sama, aji mumpung di kepalaku sedang melakukan fungsinya. Mumpung ke sini, kenapa nggak berpose bersama seperti itu. Lain waktu mungkin aku bersama yang lain, atau mungkin sendirian berkunjung ke kampung baduy luar ini.

Bicara soal waktu, kami menutup aktivitas di sekitar jembatan ini setelah Destian mengeluarkan drone dan kami berpose bersama. Setelahnya, aku memilih balik ke rumah tempat kami beristirah. Aku memilih tidur, sementara yang lain bersiap mandi di sungai. Sebelum tidur, aku masih mendengar suara Mang Aliyth meminta dibuatkan mie instan ke Teh Sani, tuan rumah tempat kami beristirah.
  • 0 Comments


Sebenarnya sudah lama ingin mampir di Rumah Hutan Serang. Tapi karena satu dan lain hal, terutama sering ketinggalan 'hayu', akhirnya keinginan itu dipendam saja. Akhirnya, Rabu 31 Januari lalu, bersama kawan-kawan Eiger Cilegon yang sudah janjian ke hutan bareng, keinginan itu terlaksana juga.

Kami mengambil jalur Ciracas-Sayar, jalannya yang dulu sering dikeluhkan itu sudah diperbaiki sebagian. Yah, sebagian lagi sudah ada bolong-bolong dan gujlag-gejlugnya seperti keadaan jalan di tempat lainnya. Lalu lintas lancar, bahkan cenderung sepi. Mungkin akan berbeda jika kami mengambil jalur Taktakan yang lumayan memutar itu.

Jarak menuju Rumah Hutan melalui jalur Sayar ini kurang lebih 15 km. Pemandangannya menawan sekali. Selain disuguhi gugusan perbukitan, lembah, melewati komplek kuburan cina, juga di sisi kiri dan kanan atau di depan rumah penduduk itu menyuguhkan pemandangan yang membuat decak kagum; betapa tanah ini begitu subur. Bagaimana tidak, buah rambutan di depan rumah penduduk itu sudah hampir menyentuh tanah. Bahkan beberapa dahan tampak patah karena tak kuat menahan beban buah yang begitu melimpah. Selain rambutan, kecapi juga tidak ada bedanya. Di bawah pohon buah bernama latin Sandoricum koetjape itu berserakan di tanah. Tentu saja, buah durian juga begitu melimpah bila ditilik dari berjejarnya para pedagang buah itu di pingir jalan.

Berulang kali mulutku menggumamkan kata 'woah', dan mungkin kawan yang memboncengku sedikit terganggu karenanya. Meskipun dia tidak banyak komentar karena dia juga sibuk mengambil gambar video perjalanan dengan satu tangan memegang stang motor. Plis, jangan ditiru ya. Aku juga ngeri sebenarnya dan beberapa kali meminta ponselnya untuk aku ambilkan saja. Tapi, dasar badung, ya gitu... Muahaha...

Sesampainya di area parkir Rumah Hutan, kendaraan dihentikan. Stang dikunci, dan tentu saja menitipkan ke empunya lahan untuk dijaga selama kami masuk area perkebunan warga itu. Sebenarnya, di hari tanpa hujan, banyak orang yang membawa kendaraan langsung ke lokasi Rumah Hutan. Tapi hujan yang mengguyur Kota Serang membuat jalan menuju tempat favorit para tukang selfie itu menjadi licin. Belum lagi cerita mengenai kesulitan saat minggu sebelumnya kawanku memaksakan diri membawa kendaraan ke lokasi. Meskipun dia sendiri dengan bangga menunjukan betapa ia bisa melewati jalan licin itu, meski saling dorong dengan kawan lainnya.

Suara air menyambut di kejauhan. Aku bertanya padanya apa memang jalan di depan ada aliran sungai? Dan kawanku itu menjawab iya. Sebenarnya, jarak tempuh dari tempat menitipkan kendaraan hingga ke lokasi Rumah Hutan tidak terlalu jauh andai di perjalanan tidak terlalu banyak selfie, atau sengaja berjalan pelan. Karena maksud kedatangan kami hendak menunggu durian, maka kami juga termasuk bagian dari yang pelan berjalan sembari selfie dan memotret sekitar. Hihi.. Oho! Tentu saja sambil mengomentari plang peringatan yang dipasang pengelola Rumah Hutan itu. Salah satunya, dilarang untuk pulang terlalu sore, juga larangan untuk berpelukan di area itu bila belum muhrim dengan embel-embel mistismenya.

Aku sengaja mengambil gambar untuk larangan itu, bukan untuk mengingatkan. Tapi untuk ditunjukan padamu, duhai para Natural Bending. Sekaligus mencandai kawan Eiger Cilegon untuk tidak saling berpelukan, meskipun sama-sama jomblo dan sama-sama lelaki. Bukan apa-apa, hanya untuk menjaga agar penjaga tempat itu tidak kaget melihatnya. Heu...


Setelah melewati jalur menanjak dengan gurat bekas roda kendaraan yang dalam, bebatuan di pintu masuk menyambut kami. Suara salam kami teriakan pada seorang perempuan yang sedang tertidur di saung dekat pintu masuk. Dasar memang orang doyan ke hutan, kami santai saja meneriakannya dilanjutkan dengan menanyakan durian. Tapi, saat kakiku baru beberapa langkah saja memasuki area Rumah Hutan, pohon durian di dekatku menjatuhkan buahnya di dahan sebelah kiri jalan. Hampir semua orang di sana, termasuk ibu di saung itu meneriakan kata 'awas' padaku. Tentu aku mundur dan melihat area jatuh yang lumayan jauh itu. Sebagai orang Indonesia yang punya stok 'untung atau beruntung', durian yang jatuh bukan yang di atas kepalaku. Heu... Nuhun, ah.

Memasuki lebih dalam Rumah Hutan, lapangan tenis, beberapa saung yang masih kokoh dan satu yang sudah roboh, Warung Bu Mar yang akhirnya kami tahu ia bercita-cita membuka toko retail Indo-Mar yang menjual segala macam bahan pangan termasuk anak ayam--saran Farid, sih. Juga, ada rumah baca di area puncak, mushola, dan fasilitas lainnya yang sering dijadikan tempat selfie pengunjung. Karena dalam daftar niatku tidak ada selfie, jadi aku fokus ke durian saja. Meskipun beberapa kali diminta untuk memotretkan para jalu itu. Kesal, sih, tapi selama ada durian dan kopi, tidak apa-apa sesekali menjadi juru foto. Heu.

Awalnya kami hanya memesan tiga durian yang dibuka dengan cara teramat tidak durianwi oleh Bu Mar, tapi ketika bapak datang dari kebun lainnya kami langsung disodori durian lainnya. Bu Mar dan ibu yang tidur di saung itu ikut mengomentari dan menjuluki durian yang disodorkan. Durian Syahrini karena kuning dagingnya sangat mulus dan embel-embel lain. Dalam hatiku, thanks God, mereka tidak menyebut Mamah Dedeh. Aku sedang malas curhat.

Lai atau lay atau durian kuning, sebutan untuk varian yang disodorkan bapak itu. Bentuknya buahnya seperti durian, tapi tidak memiliki bau seperti durian. Rasanya seperti saat kamu memakan ubi mentah. Tapi, lumayanlah sebagainya hadiah ulang tahunku. Selain buah itu, bapak juga menyodorkan pisang yang ia bawa dari kebun sebelah, Bu Mar membiarkan kami memanjat rambutan dan celotehan menyegarkan yang Jawa Serang (Jaseng) banget itu. Aku sedikit tahu beberapa kata Jawa Serang, sementara kata atau kalimat lain minta diterjemahkan kawan yang terbiasa berkomunikasi memakai bahasa Jawa.

Bu Mar banyak bercerita keinginan membuat toko retail Indo-Mar itu, juga perihal anjing yang ditembak mati para pemburu durian di malam hari. Awalnya ada 6 anjing yang menjaga Rumah Hutan itu, tapi di musim durian, banyak orang jahat yang sengaja membunuh anjing itu agar dapat mengambil durian yang jatuh tanpa diketahui orang penjaga yang terlelap di saung. Ia juga bercerita mengenai kebiasaan pengunjung. Bahkan menurutnya, ada seorang pengunjung yang begitu penasaran perihal asal muasal dirinya yang dianggap mirip orang Ambon. Pengunjung itu sampai menguntitnya ke dapur hanya untuk memuaskan keingintahuannya itu. Hingga akhirnya, pengunjung itu pula bertanya 'sejak kapan ia masuk Islam?' dan Bu Mar langsung menjawabnya 'baru kemarin', saking kesalnya.

Cerita Bu Mar itu membuat kami mengutuk sekaligus tergelak di beberapa bagian. Kami mengutuk kejulidan orang yang tega menembak anjing penjaga itu, sekaligus tergelak mengenai aksi pengunjung dan jawaban Bu Mar itu. Tentu, kami juga mencandainya di beberapa bagian. Kami katakan pada Bu Mar bila pengunjung itu mungkin tertarik pada Bu Mar dan selorohan lainnya yang menambah gelak tawa kami saja.

Saat pamit pulang, Bu Mar menghitung durian yang kami makan tanpa menghitung buah-buahan lainnya, termasuk lai itu. Total tiga durian ditambah durian yang Bu Mar sebut tidak enak, tapi dipaksakan untuk dibawa saja. Ah, tentu saja pisang juga kami bawa pulang. Apalagi Bu Mar mengatakan di sana pisang tidak akan ada yang makan. Alhamdulillah, ya jalan-jalan rasa ngalasan. Terima kasih, Rumah Hutan Cidampit, Bu Mar, Bapak dan Ibu yang bertemu di sana. Beri kabar kalau si Gadis turun ya. :-D
  • 0 Comments

Hampir menjerit saya menanyakan keseriusannya. Dan ia mengiyakan. Oh mai gad! Hampir saya peluk itu si babang Gojek itu. Andai saja saya tidak segera sadar, jika babang itu pasti sudah berbini, beranak dan berbahagia. | Ketika Dora Kehilangan Peta (Bagian 1)
Macet, macet dan macet. Itulah lalu lintas Jakarta sekitar pukul 20:03 WIB. Babang Gojek yang menawari saya tebengan masih mencari celah. Sementara saya masih terus mencoba meminta kode verifikasi sembari membaca arah. Menyoal masalah arah ini, biasanya saya menghapal dari bentuk bangunan, selain tentu saja nama jalan/plang petunjuk arah jalan. Sebenarnya, nyasar itu suatu kebiasaan yang asyik jika tidak terlanjur diserang panik. Inilah kendala saya selama beberapa tahun ini. Ingin memenuhi undangan di daerah mana pun, saya selalu diserang panik duluan. Entah panik karena kantong sedang pas-pasan, atau karena di sana tidak ada teman. Kepanikan inilah yang biasanya membuat saya mengurungkan niat untuk bepergian.
      Setelah sampai di Jl. Dr. Susilo yang ditunjukan Dinay dan diiyakan Babang Gojek, saya segera turun dan membuka helm. "Abang, berapa ongkosnya?" Tanya saya sembari mencari dompet.
     "Tidak usah, kak. Itu pangkalan saya di depan hotel. Kakak serius mau turun di sini?" Babang Gojek seperti khawatir. Duh! Di saat seperti itu, dikhawatirkan oleh seseorang yang tidak dikenal itu seperti dikhawatirkan pacar kesayangan sejuta umat pecinta bal-balan; Neymar.
      "Lho? Kalau nggak usah bayar sayanya jadi keenakan ini, bang. Nggak apa-apa, kok. Teman saya katanya mau jemput di depan hotel 88." Suara saya sudah tidak sepanik di Central Park. Setelah mengucapkan terima kasih pada babang baik hati itu dan diberi pesan; "hati-hati, kak". Sungguh saya terharu mendengar kalimat itu. Dia orang yang tidak saya kenal, tapi seperti begitu peduli dan bahkan menjadi penyemangat saya di edisi nyasar ini. akhirnya saya mengirim pesan lagi pada Dinay.
       Bertemu Nana dan Dinay sama saja rasanya seperti bertemu pacar yang LDR-an. Kangen, lega, terharu dan segala macam rasa berkumpul di dada. Cerita-cerita pun berhamburan seiring kopi yang disuguhkan anak pemilik warung di samping hotel itu. 
  • 0 Comments

Pulau Tunda, saat ini sudah menjadi pulau tujuan untuk berwisata bahari yang sangat digandrungi. Berbagai penyedia layanan perjalanan, siap mengantarmu menjelajahi pulau yang berada di sebelah utara Teluk Banten atau tepatnya di Laut Jawa itu.

Tahun 2017 lalu, pertama kali saya menginjakan kaki di tanah berpasirnya. Pertama kali pula saya menginjak kampung halaman kawan saya di Kubah Budaya, Husaini Bayusegara alias Uchen. Sebenarnya, ikut ke kampung halamannya ini sudah sering kali diagendakan. Tapi karena ke-sok-sibukan, akhirnya beberapa kali dilewati begitu saja hingga akhirnya ia lulus dan fokus membawa orang-orang ke kampung halamannya.

Tentu, kedatangan saya ke kampung halaman Uchen itu bukan tanpa alasan. Karena jika hanya untuk bermain, mungkin sudah sejak lama dilakukan. Saat itu, alasan utama kedatangan saya adalah untuk ikut serta memeriahkan Writing Camp yang menjadi agenda tahunan Kubah Budaya saat rekruitment anggota. Setelah dihubungi panitia dan diajak turut serta, saya pun ikut bersama anggota baru dan para tetua Kubah Budaya.

Kami berangkat ke pulau dengan luas 300 hektar itu dari kampus Untirta. Setelah menyewa dua angkot untuk membawa kami ke pelabuhan Karangantu, kami pun naik kapal yang akan membawa kami ke pulau dengan jumlah penduduk kurang lebih 3000 orang itu. Perjalanan dari luar Kota Serang, sebenarnya bisa ditembuh melalui Tol Merak dan keluar dari pintu tol Serang Timur. Kalau memang sulit, kamu minta diturunkan di depan Kampus Untirta Pakupatan saja. Setelah itu, baru menyetop angkot menuju Pasar Lama Royal. Setelahnya naik angkot lagi menuju dermaga Karangantu. Dari Karangantu itulah, kita berangkat menggunakan kapal menuju Pulau Tunda.

Oh ya, untuk mencapai pulau ini, tidak perlu menyewa satu kapal, kok. Kamu bisa menggunakan KMP Tunda yang melayani transportasi penduduk setempat. Hanya saja, jadwalnya memnag sudah tetap. Dari Karangantu ke Pulau Tunda, ada kapal pukul 13.00 WIB, dan jadwal dari Pulau Tunda ke Karangantu pukul 07.00 WIB. Selain hemat, kamu juga bisa sambil ngobrol dengan penduduk setempat yang seperjalanan dengan kamu.


Uchen sudah pernah cerita perihal kegiatannya di desanya yaitu mendirikan Taman Baca Pulau Tunda. Itu juga yang menjadi daya tarik saya untuk ikut serta. Saya ingin tahu, apa saja yang sudah dilakukan si anak pulau itu dengan Taman Bacaan Masyarakat di desanya.

Sekilas mengenai pulau ini, nama desa sendiri adalah Desa Wanasara yang diberikan oleh Almarhum tokoh masyarakat, H. Mohammad Toha yang menjadi kepala desa kala itu. Arti dari nama Desa Wargasara sendiri adalah desa yang warganya taat hukum. Ada dua kampung yang dinaungi desa ini, Kampung Barat dan Kampung Timur. Pekerjaan penduduk desa umumnya buruh nelayan, selain ada juga yang bercocok tanam dan pedagang. Semenjak tahu Uchen anak pulau ini, ada satu makanan yang sering saya pesan untuk jadi oleh-oleh ketika ia kembali ke Kubah Budaya. Bontot dan kerupuk ikan. Tentu saja, rasanya ada ikan-ikannya.

Jujur saja, saya memiliki misi tersembunyi dalam keikutsertaan saya dalam Writing Camp Kubah Budaya. Selain memang ingin mengenal lebih dekat anggota baru komunitas yang menaungi saya itu, juga ada misi lainnya. Tentu, panitia sudah menyiapkan agenda yang baik dan benar juga. Tapi, sekali lagi, saya sedikit nakal karena misi tersembunyi ini. Keikutsertaan saya di Writing Camp 2017 itu hanya untuk tidur. Iya, tidur.

Saya termasuk orang yang sulit tidur di malam hari. Selain karena beberapa project, juga karena alasan 'tidak bisa tidur saja'. Insomnia akut, mungkin. Karena itu, ketika kawan-kawan Kubah Budaya fokus pada agenda acara, baik itu workshop penulisan, maupun sesi hura-hura, saya memilih untuk tidur saja di home stay yang disewa panitia.

Beruntung sekali, Pulau Tunda memiliki obat tidur yang diberikan langsung oleh Dokter Koala. Dialho. Dokter Koala ini pula yang menghipnotis saya untuk tidur melulu selama kegiatan Kubah Budaya di sana. Hanya beberapa kegiatan yang saya ikuti, malam keakraban di pinggir pantai itu, mendongeng dan melukis bersama di Taman Baca Pulau Tunda. Meskipun memang, saya sempat berkeliling sebentar ke kampung lainnya. Tapi hanya sebatas itu saja.
Mendongeng bersama Kak Adam, Teater Kafe Ide.
adalah tokoh rekaan kami ketika kemping di tepi pantai, setelah menghabiskan ikan bakar sebesar papan cucian. Ukuran ikan ini tidak bohong,

Bukan tidak tertarik ikut menyaksikan keindahan pulau ini lebih lama. Hanya saja, saya terlanjur terhipnotis untuk memperbaiki jam tidur. Meskipun Uchen sering promosi mengenai keindahan alam dan bawah lautnya. Tapi, karena saya tidak bisa berenang dan kadang-kadang anti air (kalau lagi malas mandi), keindahan alam bawah laut yang diunggulkannya itu menjadi biasa saja di mata saya.

Nah, bagi kamu yang bisa berenang, hobi snorkeling dan diving, alam bawah laut pulau ini bisa menjadi destinasi yang kurang bijak jika kamu lewati begitu saja. Apalagi ditambah dengan  keberadaan lumba-lumba dan hewan laut lainnya yang lucu dan imut. Kamu bisa kenalan dengan keluarga Dori atau keluarga Nemo di sana. Nah, jika kamu kebetulan bertemu dengan mereka, tolong sampaikan salam saya. Maafkan tidak bisa say hi langsung, gitu.

Kalau kamu yang berniat memperbaiki jam tidur, kamu juga bisa menemui Dokter Koala di pulau ini. Jadi, tunggu apalagi? Pesan tiketnya sekarang dan berkunjunglah ke sana. Atau, ikut saja perjalanan bersama si anak pulau Uchen-Uchen di laut itu.

Ini jadwal perjalanan bertemu Nemo yang bisa kamu ikuti bersama @explorepulau_id.



OPEN TRIP PULAU TUNDA  2D-1N
Jadwal: Every Weekend
350K/orang
.
Meeting Point    : Patung (Tugu Debus) Serang. Pukul 07:00 WIB.

INCLUDE:

- Sewa Angkot Serang – Pelabuhan Karangantu Pp.
- Kapal Karangantu – Pulau Tunda Pp.
- Homestay/Rumah Warga.
- Makan 3x Siang, Malam, Pagi.
- Air Mineral Di Kapal & Homestay.
-Tiket/Retribusi.
- 4 Spot Snorkeling.
- Kapal Snorkeling.
- Guide Lokal.
- Underwater Kamera.

EXLUDE:
- Transportasi Dari Kota Anda Menuju Lokasi Meeting Point PP.
- Sewa Alat Snorkeling
- Tips Guide (Suka Rela).

ITINERARY -  TRIP PULAU TUNDA
DAY 1.
07:00 wib: Meeting Point Patung (Tugu Debus) Serang
08:00 wib: Menuju Pelabuhan Karangantu
08:30 wib: Berlayar menuju Pulau Tunda
11:00 wib: Tiba, Check in Homestay
12:00 wib: Makan Siang dan persiapan Snorkeling
13:00 wib: Snorkeling spot Cemara 1 dan Cemara 2
16:00 wib: Hunting Sunset di Jembatan Putus
18:00 wib: Kembali ke Homestay
19:00 wib: Makan Malam dan acara bebas
22:00 wib: Istirahat

DAY 2.
05:00 wib: Hunting Sunrise di Jembatan Putus (bagi yang mau bangun)
07:00 wib: Sarapan Pagi dan persiapan Snorkeling
08:00 wib: Snorkeling spot Labuan Baja dan Batu Donat
10:00 wib: Kembali ke Homestay
12:00 wib: Makan Siang dan perispan Check out
13:00 wib: Berlayar menuju Pelabuhan Karangantu
15:00 wib: Kembali menuju Serang Patung
16:00 wib: Trip Selesai.

*) Catatan: Itinerary tidak mengikat dan bisa berubah sewaktu-waktu menyesuailan cuaca di lapangan.
______
Info detail:
Tlp/WA: Uchen 083804658620
IG: @explorepulau_id
  • 0 Comments
Older Posts Home

Where we are now

o

About me

a


@NYIMASK

"Selamat datang dan selamat membaca. Semoga kita semua selalu sehat, berbahagia, dan berkelimpahan rezeki dari arah mana saja.”


Follow Us

  • bloglovin
  • pinterest
  • instagram
  • facebook
  • Instagram

recent posts

Labels

#dirumahaja #tukarcerita Artikel Catatan Perjalanan Celoteh Cerpen E-Book Esai Info Lomba Journey Jurnal Kamar Penulis Lowongan Kerja Naskah Poject Promo Puisi Slider Undangan

instagram

PT. iBhumi Jagat Nuswantara | Template Created By :Blogger Templates | ThemeXpose . All Rights Reserved.

Back to top