Serang — Dua puluh enam tahun bukan waktu yang singkat. Sejak 4 Oktober 2000, ketika Banten resmi menapaki perjalanan sebagai provinsi sendiri, wilayah ini telah berubah sangat jauh. Dari kawasan industri di Tangerang dan Cilegon, pertumbuhan kawasan perkotaan Tangerang Selatan, geliat pariwisata di Anyer dan kawasan selatan Banten, hingga konektivitas jalan tol, pelabuhan, bandara, dan berbagai kawasan investasi baru, wajah Banten hari ini tentu tidak sama dengan Banten 26 tahun lalu.
Tetapi memasuki usia ke-26, ada pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar “seberapa besar Banten tumbuh?”, Pertanyaannya adalah "sudah sejauh mana Banten bergerak, dan siapa yang benar-benar merasakan dampak dari gerakan tersebut?" Pertanyaan ini menjadi penting karena pertumbuhan ekonomi, investasi, pembangunan infrastruktur, dan peningkatan indikator makro tidak selalu otomatis berarti peningkatan kesejahteraan yang dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat.
26 Tahun Banten: Dari Perjuangan Menjadi Provinsi hingga Menjadi Kekuatan Ekonomi
Provinsi Banten dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000. Tanggal 4 Oktober 2000 kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Provinsi Banten, bertepatan dengan momentum pengesahan RUU Provinsi Banten dalam Sidang Paripurna DPR RI. Ada semangat besar di balik pembentukan provinsi ini: mendekatkan pemerintahan kepada masyarakat, mempercepat pembangunan, mengembangkan potensi daerah, serta menciptakan kesejahteraan yang lebih baik.
Dua puluh enam tahun kemudian, Banten telah menjelma menjadi salah satu provinsi dengan posisi ekonomi strategis di Indonesia. Banten berada di jalur yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Sumatra. Provinsi ini memiliki kawasan industri besar, pelabuhan, bandara internasional, kawasan metropolitan, pusat perdagangan, kawasan pariwisata, serta basis pertanian dan perikanan yang cukup besar.
Bahkan berdasarkan proyeksi penduduk terbaru BPS, jumlah penduduk Banten pada 2026 mencapai sekitar 12,64 juta jiwa. Kabupaten Tangerang menjadi wilayah dengan jumlah penduduk terbesar, sekitar 3,47 juta jiwa, disusul Kota Tangerang sekitar 1,98 juta jiwa dan Kabupaten Serang sekitar 1,74 juta jiwa. Artinya, tantangan pembangunan Banten bukan hanya bagaimana membuat ekonomi tumbuh.
Lebih dari itu, bagaimana pertumbuhan tersebut mampu menjangkau lebih dari 12 juta penduduk dengan karakter wilayah yang sangat beragam.
Ekonomi Banten Tumbuh 5,49 Persen: Sebuah Kabar Baik, tetapi Bukan Akhir Cerita
Secara makro, Banten memiliki alasan untuk optimistis. BPS mencatat ekonomi Banten pada triwulan II 2026 tumbuh 5,49 persen secara tahunan (year-on-year). Pada semester I 2026, ekonomi Banten tumbuh 5,57 persen dibandingkan semester I 2025. PDRB Banten atas dasar harga berlaku pada triwulan II 2026 mencapai sekitar Rp253,09 triliun.
Bank Indonesia juga mencatat bahwa ekonomi Banten pada triwulan I 2026 tumbuh 5,64 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional pada periode yang sama sebesar 5,61 persen. Pertumbuhan tersebut didukung oleh konsumsi rumah tangga, investasi, dan konsumsi pemerintah.
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa mesin ekonomi Banten masih bergerak. Namun, angka pertumbuhan ekonomi pada dasarnya menunjukkan seberapa cepat ekonomi bertambah, bukan secara otomatis menjelaskan siapa yang menikmati pertambahan tersebut.
Di sinilah pertanyaan tentang kualitas pertumbuhan menjadi penting. Apakah pertumbuhan ekonomi menciptakan pekerjaan yang layak? Apakah pendapatan masyarakat meningkat? Apakah UMKM mendapatkan pasar? Apakah petani memperoleh nilai tambah yang lebih besar? Apakah anak muda Banten memiliki kesempatan bekerja di daerahnya sendiri? Dan yang tidak kalah penting, apakah masyarakat di Pandeglang dan Lebak mendapatkan manfaat pembangunan yang setara dengan masyarakat di kawasan metropolitan Tangerang?
Investasi Rp66,3 Triliun: Besar di Angka, Seberapa Besar Dampaknya?
Salah satu indikator yang sering digunakan untuk menunjukkan kemajuan Banten adalah investasi. Pada semester I 2026, realisasi investasi Banten mencapai sekitar Rp66,3 triliun. Angka tersebut memperkuat posisi Banten sebagai salah satu tujuan investasi utama di Indonesia.
Investasi tentu penting. Investasi dapat membangun pabrik, kawasan industri, pusat teknologi, fasilitas kesehatan, pendidikan, pariwisata, dan berbagai aktivitas ekonomi baru. Tetapi investasi tidak boleh berhenti pada angka realisasi.
Ukuran yang lebih penting adalah berapa banyak masyarakat Banten yang memperoleh pekerjaan? Berapa banyak UMKM lokal yang masuk ke rantai pasok? Berapa banyak tenaga kerja lokal yang naik kelas secara keterampilan? Berapa besar nilai tambah yang tinggal di Banten? Contoh menarik dapat dilihat dari KEK Edukasi, Teknologi, dan Kesehatan Internasional (ETKI) Banten.
Pada tahun pertama pengembangannya, kawasan tersebut mencatat investasi sekitar Rp1,9 triliun dan menyerap sekitar 1.773 tenaga kerja. Sebanyak 29 tenant telah beroperasi maupun membangun fasilitas, dengan progres pembangunan sekitar 50 persen. Dalam jangka panjang, nilai investasi kawasan tersebut diproyeksikan mencapai Rp18 triliun dalam 20 tahun. Angka ini memberikan gambaran tentang bagaimana investasi dapat diterjemahkan menjadi aktivitas ekonomi dan kesempatan kerja.
Tetapi ada satu catatan penting. Investasi akan benar-benar berdampak apabila masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi bagian dari ekosistemnya. Karena itu, keterhubungan antara investasi, pendidikan, pelatihan, UMKM, dan tenaga kerja lokal menjadi sangat penting.
Lapangan Kerja: Pertumbuhan Ekonomi Harus Terasa di Rumah Tangga
Pada Mei 2026, jumlah angkatan kerja Banten mencapai 6,29 juta orang, sementara penduduk yang bekerja mencapai 5,88 juta orang. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat 6,48 persen, turun 0,11 poin persentase dibandingkan Februari 2026. Sekilas, penurunan pengangguran adalah kabar baik. Namun ada sisi lain yang perlu diperhatikan.
BPS mencatat sekitar 2,88 juta pekerja atau 48,99 persen bekerja dalam kegiatan formal pada Mei 2026. Pangsa pekerja formal tersebut justru turun 3,20 poin persentase dibandingkan Februari 2026. Pada saat yang sama, persentase setengah pengangguran dan pekerja paruh waktu mengalami peningkatan.
Ini menunjukkan bahwa tantangan Banten bukan sekadar menciptakan pekerjaan, tetapi menciptakan pekerjaan yang berkualitas. Seseorang bisa saja tercatat bekerja, tetapi belum tentu memiliki pendapatan yang cukup. Seseorang bisa saja memiliki pekerjaan, tetapi jam kerjanya tidak penuh. Seseorang bisa saja bekerja di sektor informal, tetapi tanpa perlindungan sosial dan kepastian pendapatan. Karena itu, indikator ketenagakerjaan harus dibaca lebih dalam. Pekerjaan bukan sekadar status “bekerja”. Pekerjaan adalah pintu menuju kesejahteraan.
Kemiskinan Menurun, tetapi 746 Ribu Orang Masih Berada dalam Kemiskinan
BPS mencatat jumlah penduduk miskin Banten pada Maret 2026 sebanyak 746,73 ribu orang, dengan tingkat kemiskinan sebesar 5,38 persen. Jumlah tersebut turun sekitar 14,1 ribu orang dibandingkan September 2025. Ini merupakan perkembangan positif. Namun, angka tersebut juga mengingatkan bahwa masih terdapat ratusan ribu warga Banten yang hidup dalam kondisi miskin.
Lebih jauh lagi, garis kemiskinan Banten pada Maret 2026 mencapai Rp753.492 per kapita per bulan. Untuk rata-rata rumah tangga miskin yang terdiri dari 5,17 anggota rumah tangga, garis kemiskinan tersebut setara sekitar Rp3,90 juta per rumah tangga per bulan. Artinya, membicarakan pembangunan tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa angka kemiskinan turun.
Pertanyaan berikutnya adalah seberapa jauh keluarga yang keluar dari kemiskinan mampu bertahan dan naik kelas? Karena keluar dari garis kemiskinan belum tentu berarti telah mencapai kondisi ekonomi yang aman.
Ketimpangan Mulai Membaik, tetapi Kesenjangan Wilayah Masih Terlihat
Salah satu indikator positif lainnya adalah Gini Ratio. Pada Maret 2026, Gini Ratio Banten tercatat 0,312, sama dengan September 2025 dan membaik dibandingkan Maret 2025 yang mencapai 0,330. Namun, ketika pembangunan dilihat dari perspektif wilayah, kesenjangan masih terlihat jelas.
Data BPS menunjukkan IPM Banten 2025 sebesar 77,25. Tetapi angka tersebut tidak tersebar secara merata. Kota Tangerang Selatan memiliki IPM 84,81, Kota Tangerang 82,41, dan Kota Cilegon 79,54. Sementara itu, IPM Kabupaten Pandeglang tercatat 71,84 dan Kabupaten Lebak 69,24. Perbedaan ini penting. Sebab pembangunan Banten tidak bisa hanya diukur dari performa wilayah metropolitan. Banten bukan hanya Tangerang Selatan. Banten juga bukan hanya Kota Tangerang dan Cilegon. Banten adalah Lebak, Pandeglang, Kabupaten Serang, Kabupaten Tangerang, Kota Serang, dan seluruh desa serta kampung yang ada di dalamnya. Jika pembangunan ingin disebut inklusif, maka jarak antardaerah tersebut harus terus diperkecil.
Pendidikan: Bukan Sekadar Berapa Anak Masuk Sekolah
Pembangunan manusia menjadi salah satu indikator penting untuk melihat apakah kemajuan ekonomi benar-benar diterjemahkan menjadi peningkatan kualitas hidup. Pada 2025, umur harapan hidup bayi yang lahir di Banten mencapai 75,33 tahun.
Pada dimensi pendidikan, Harapan Lama Sekolah mencapai 13,11 tahun, sementara Rata-rata Lama Sekolah penduduk usia 25 tahun ke atas meningkat menjadi 9,56 tahun. Pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan juga meningkat menjadi sekitar Rp13,50 juta per tahun. Ini merupakan kemajuan. Tetapi pendidikan menghadapi tantangan yang lebih besar daripada sekadar angka partisipasi. Anak-anak Banten harus memiliki pendidikan yang membuat mereka mampu memasuki dunia kerja, menciptakan usaha, menguasai teknologi, dan bersaing di ekonomi masa depan. Karena itu, gagasan link and match antara pendidikan dan industri menjadi penting.
Terlebih ketika Banten terus menarik investasi pada sektor manufaktur, kesehatan, pendidikan, teknologi digital, dan ekonomi kreatif. Investasi tanpa SDM lokal yang siap akan menciptakan kesenjangan. Sebaliknya, investasi yang terhubung dengan pendidikan dan pelatihan dapat menjadi mesin mobilitas sosial.
Petani Juga Harus Menjadi Bagian dari Banten yang Bergerak
Banten tidak hanya hidup dari industri. Di selatan, pertanian masih menjadi bagian penting kehidupan masyarakat. Pada Agustus 2026, Nilai Tukar Petani (NTP) Banten mencapai 113,02. Pemerintah Provinsi Banten juga mencatat perbaikan jaringan pengairan hingga September 2026 mencapai sekitar 6,9 kilometer, yang mampu mendukung pengairan sekitar 881,28 hektare sawah. Namun sekali lagi, pembangunan pertanian tidak boleh berhenti pada infrastruktur.
Petani membutuhkan produktivitas, akses pasar, kepastian air, teknologi, pembiayaan, distribusi, serta nilai tambah. Petani yang hanya menjual komoditas mentah akan memperoleh nilai ekonomi yang berbeda dibandingkan petani yang terhubung dengan industri pengolahan dan pasar digital. Maka, pertanyaan tentang siapa yang merasakan pembangunan juga harus diarahkan kepada petani. Apakah pembangunan Banten sudah membuat petani semakin sejahtera? Banten Bergerak, tetapi Apakah Semua Orang Bergerak Bersama?
Pemerintah Provinsi Banten pada peringatan HUT ke-26 mengusung tema “Banten Bergerak Maju Berdampak.” Makna “bergerak” adalah pemerintah tidak boleh berhenti dalam merencanakan, mengambil keputusan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembangunan. “Maju” berarti pembangunan harus meningkatkan kualitas sumber daya manusia, menggerakkan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan memperbaiki infrastruktur. Sedangkan “berdampak” berarti pembangunan harus menghasilkan perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat. Di sinilah ukuran keberhasilan Banten seharusnya diletakkan.
Bukan hanya berapa kilometer jalan yang dibangun? Bukan hanya berapa triliun investasi yang masuk?Bukan hanya berapa persen ekonomi tumbuh? Tetapi, berapa banyak keluarga yang kehidupannya menjadi lebih baik? Berapa banyak anak muda yang memperoleh pekerjaan layak? Berapa banyak UMKM yang naik kelas? Berapa banyak petani yang mendapatkan nilai tambah? Berapa banyak masyarakat desa yang memiliki akses pendidikan dan kesehatan yang semakin baik? Dan yang paling penting apakah masyarakat di seluruh wilayah Banten merasakan kemajuan tersebut secara lebih merata? Siapa yang Paling Merasakan Dampaknya? Jika membaca data terbaru secara bersamaan, jawabannya tidak bisa hitam-putih.
Ada kelompok yang jelas mendapatkan manfaat dari pertumbuhan Banten: pekerja yang masuk ke sektor-sektor yang berkembang, pelaku usaha yang memperoleh pasar, masyarakat di kawasan yang mengalami pembangunan infrastruktur, serta tenaga kerja yang terserap oleh investasi baru. Tetapi ada pula kelompok yang masih membutuhkan perhatian lebih besar. Mereka adalah pekerja informal, pekerja dengan jam kerja tidak penuh, keluarga miskin dan rentan miskin, masyarakat di wilayah dengan IPM lebih rendah, petani yang belum memperoleh nilai tambah tinggi, serta generasi muda yang belum memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri. Dengan kata lain, dampak pembangunan Banten sudah ada, tetapi belum selesai dan belum sepenuhnya merata.
26 Tahun Banten: Saatnya Mengubah Ukuran Keberhasilan
Usia 26 tahun seharusnya tidak hanya menjadi momentum untuk merayakan keberhasilan. Tapi juga merupakan kesempatan untuk mengevaluasi perjalanan. Banten telah memiliki fondasi ekonomi yang kuat. Pertumbuhan ekonomi berada di atas 5 persen. Investasi terus mengalir. Kawasan industri berkembang. Infrastruktur terus dibangun. Indeks pembangunan manusia meningkat. Kemiskinan menurun. Ketimpangan pengeluaran membaik. Namun, tantangan berikutnya jauh lebih sulit memastikan pertumbuhan menjadi kesejahteraan. Karena ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya seberapa tinggi gedung berdiri, seberapa besar investasi masuk, atau seberapa panjang jalan dibangun.
Ukuran keberhasilan pembangunan pada akhirnya adalah manusia. Ketika seorang anak dari Lebak dapat memperoleh pendidikan berkualitas. Ketika anak muda Pandeglang mendapatkan pekerjaan layak tanpa harus selalu meninggalkan daerahnya. Ketika petani mendapatkan harga yang adil. Ketika UMKM lokal menjadi bagian dari rantai pasok industri. Ketika pekerja mendapatkan penghasilan dan perlindungan yang layak. Ketika keluarga miskin tidak hanya keluar dari garis kemiskinan, tetapi mampu membangun kehidupan yang lebih aman. Dan ketika masyarakat di seluruh penjuru Banten merasa bahwa pembangunan bukan sesuatu yang hanya terjadi di kawasan tertentu.
Banten 26 Tahun: Bergerak Lebih Cepat, Berdampak Lebih Luas
Dua puluh enam tahun Banten adalah perjalanan panjang dari sebuah cita-cita menjadi provinsi dengan kekuatan ekonomi yang semakin diperhitungkan. Kini, tantangannya bukan lagi sekadar membuat Banten tumbuh. Tantangannya adalah memastikan pertumbuhan tersebut memiliki wajah manusia. Karena Banten yang benar-benar maju bukan hanya Banten dengan ekonomi besar.
Banten yang maju adalah Banten ketika pertumbuhan ekonomi diterjemahkan menjadi pekerjaan layak, pendidikan berkualitas, kesehatan yang mudah diakses, UMKM yang berkembang, pertanian yang sejahtera, dan kesempatan yang lebih merata.
Pada akhirnya, pertanyaan paling penting di usia 26 tahun bukanlah “Seberapa jauh Banten sudah bergerak?”, melainkan “Seberapa banyak masyarakat Banten yang sudah ikut bergerak maju bersama?” Dan mungkin, jawaban atas pertanyaan itulah yang akan menentukan wajah Banten pada 10, 20, bahkan 26 tahun berikutnya.
Selamat ulang tahun ke-26, Banten.
Terus bergerak. Terus maju. Dan yang paling penting, terus memastikan pembangunan benar-benar berdampak.










.png)
.png)
