Pertemuan Kecil di Ranukumbolo, Mahameru

 


Untuk kau, yang datang dan duduk di depan saya di tepi telaga. Yang mendengarkan dengan seksama setiap keluh kesah saya. Yang tersenyum pada setiap lelucon saya. Yang saya misuh-misuhi setiap kali saya kesal pada seseorang, tapi yang selalu memberi nasihat terbaik ketika saya sedang membutuhkannya, maafkan saya.

Ya, ingatan itu saya bawa dan terus saya pelihara hingga kini. Ingatan itu pula yang sering menjadi penguat saya ketika hari-hari paling buruk dan menyedihkan datang bertamu. Serupa tali kasat mata yang menghubungkan saya denganmu, entah bagaimana ingatan itu muncul di kepala saya, kemudian lupa dan ingat lagi. Saat ini, saya masih terus berusaha meningkatkan diri, melepas apa yang mesti saya lepaskan dan menerima apapun yang harus saya terima. Sembari menunggumu muncul di hadapan saya. Iya, secara nyata. Agar saya bisa benar-benar jelas melihat matamu, memegang tanganmu, atau mungkin..., memelukmu jika kau bolehkan?

Tak perlu bertanya kenapa saya tahu tempat ini, padahal belum pernah saya kunjungi. Iya, saya juga bertanya-tanya kenapa harus Mahameru? Ada apa dengan Ranukumbolo? Kenapa di sana di antara telaga-telaga lainnya di seluruh dunia? Tapi sudahlah, mungkin karena tempat ini tidak mungkin saya kunjungi setiap hari. Karena itu, ada di kepala saya dan karena itu pula, saya bisa bertemu denganmu dan memohon maafmu. 

Maaf atas segala yang kamu lalui tanpa saya di sampingmu. Tanpa saya yang mendengarkan keluh-kesahmu. Tanpa saya yang mengusap air matamu. Iya, ini saya. Hidup yang saya pernah dan sedang saya jalani, berbeda jauh dari bayanganmu. Tapi, saya mensyukurinya dan menerimanya sebagai bagian dari saya saat ini. Jalan apapun yang pernah dilalui, sudah banyak mengajarkan saya untuk menjadi apa yang seharusnya ada di dalam saya. Begitu pula dengan apa yang pernah dan sedang kau jalani saat ini. Saya menghargainya sebagai bagian dari dirimu saat ini. Segala hal di dunia ini selalu berubah, bukan? Perubahan-perubahan itu, semoga tetap dalam kebaikan dan untuk kebaikan saja, ya.

Saya yakin, ada begitu banyak alasan kenapa hingga saat ini pertemuan itu belum terlaksana. Pandemi, salah satu alasannya. Lainnya, masing-masing dari kita bisa membuat daftar panjangnya. Beberapa saat lalu, saya sempat ragu apakah kau akan memilih menunjukan diri dan mengatakan apa yang mesti kau katakan, atau memilih untuk diam dan melakukan apa yang saat ini sedang kau jalani. Manusia memang selalu punya alasan dan punya pilihan-pilihannya sendiri, bukan? Bagaimanapun, atas alasan dan pilihanmu itu, saya memaafkanmu. 

Saya selalu menyayangimu.

Terima kasih.

You Might Also Like

0 Comments