utherakalimaya.com

  • Home
  • Features
  • _ARTIKEL
  • _CATATAN
  • _UNDANGAN
  • DOKUMENTASI
  • contact




Tan hana, anaking...
Tan hana...,
Tan hana wighna tan sirna.


Kabar baik-kabar buruk serupa kunang-kunang yang hinggap di jendela. Serangga golongan Lampyridae dari famili dalam ordo kumbang Coleoptera itu kadang menemanimu hingga pagi, atau hingga kau mengantuk di dini hari. Saat kecil dahulu, saat seekor kunang-kunang menembus lubang angin dan hinggap di kelambu tempat kau dan nenekmu berbaring. Nenekmu selalu mengatakan bahwa kunang-kunang adalah kuku orang yang telah meninggal. Ada pamali untuk menangkapnya. Ada pantangan untuk mengusiknya. 

"Biarkan saja menjadi teman dalam perjalanan menuju ke dunia mimpi." Kata nenek sembari terus mengusap-usap punggungmu.

Seiring berjalannya waktu, dan nenekmu kini sudah pulang ke sisi-Nya, kunang-kunang seperti pemberi kabar baik dan buruk bagimu. Cahaya yang dihasilkan dari sinar dingin di bagian ekornya itu adalah kabar baik. Kabar buruknya adalah bila ia tidak mengedipkan cahayanya, seolah ia kehabisan tenaga untuk menghidupkan cahayanya.

Dan kabar buruk itu, sudah datang lebih dulu bersama pandemi Covid-19 yang melanda dunia, termasuk Indonesia. Hingga hari ini, jutaan orang telah terpapar dan korbannya tak bisa kau jabarkan. Kau enggan menghitung, bahkan kau menolak untuk mengetahui angka-angka kematian itu. Bukan tidak berempati pada korban dan keluarganya, bukan pula ingin mengabaikannya.

Malam ini, kunang-kunang hinggap di tiang saung dekat tenda yang sengaja kaudirikan. Sementara di langit timur, bulan besar muncul dengan gaun merahnya. Pendaran cahayanya malam ini membuatmu kembali mengajukan pertanyaan yang sama entah untuk siapa; purnama ini kau di mana?

Meskipun, kau juga sempat mengkhawatirkan satu hal, namun kau merasa yakin bila hal itu masih jauh di depan. Karenanya, sore tadi kau datang ke Panyaungan tempat keluarga yang kau sebagai keluargamu tinggal. Kedatanganmu disambut hujan poyan. Hujan ngajuru maung, begitu sebutan para orang tua dahulu. Tak hanya sekali atau dua kali, berbagai peristiwa di dalam hidupmu diawali dengan sambutan hujan poyan. Kadang, peristiwa selanjutnya membuatmu terkejut dan tersuruk dalam kebingungan, tangisan dan kekecewaan. Kadang pula, membuatmu merasakan kebahagiaan yang samar. Tapi kau masih belum menjadikannya sebagai patokan pertanda apapun. Meski semesta sudah memberitahumu mengenainya.

Sebelum ke Panyaungan, kau mampir ke warung untuk membeli berbagai keperluan. Terutama makanan untuk berbuka dan sahur. Kau belum menentukan berapa lama kau akan berada di sana, hanya saja biasanya 3 hari 2 malam atau lebih lama 4 hari 3 malam tergantung situasi dan kondisi saja.

"Kamu mah ya, udah keluyuran aja...,"
Sebuah pesan pendek melalui Whatsapp kau terima.
"Iya, nggak tahu, nih. Kayaknya harus segera selesai aja urusan yang di sini,"
"Urusan apa? Bertapa?"
"Nggak kok nggak bertapa. Sinilah susul, sekalian ngopi di bawah terang bulan,"
"Engga, ah. Lain waktu saja,"
"Baiklah...,"

Urusan yang kau maksud itu tidak hanya urusan duniawi saja. Ini melampaui akal dan logikamu sendiri. Meski pernah berulang kali kau menolaknya, tapi akhirnya kau merasa tidak tenang dan selalu dihantui hal-hal yang tidak masuk akal hingga kau bertemu seorang tua dan dituakan di kampung yang memberi penjelasan; nu kitu mah (perjalanan) teu bisa dihayang-hayang, teu bisa diengke-engke, mun geus ninggang ka wanci kudu miang, bral geura miang. Sabab jawaban tina pertanyaan eta bakal katimu di jalan atawa di tempat tujuan. (yang seperti itu (perjalanan) tidak bisa diinginkan, tidak bisa ditunda, bila sudah sampai waktunya pergi, lekas pergi. Sebab jawaban dari pertanyaan itu akan ditemukan di jalan atau di tempat tujuan).

Karenanya, sebagai pemegang kendali, kau pastikan dirimu memegang pedoman seperti yang diajarkan para leluhurmu. Bagimu, kebijaksaan-kebijaksanaan yang muncul dan sedang coba kau jalani itu adalah untuk dirimu sendiri dan bukan tugasmu untuk meyakinkan orang lain atas segala pembelajaran di perjalanan ini.

Dan malam ini, satu hal lain harus kau pelajari. Hal yang belum kau pahami arahnya, meski tujuannya bisa kau raba dan kau bayangkan juga. Setidaknya, kau tahu, kau harus menjalaninya dengan caramu sendiri.
  • 0 Comments



Setelah VIP, Jang Na-Ra kembali turun gunung melalui drama terbarunya. Pada drama sebelumnya, Jang Na-Ra menjadi isteri yang diselingkuhi suaminya, sekarang  ia mengambil peran yang berbeda di drama komedi romantis Oh My Baby. Di drama yang mulai ditayangkan tvN pada Rabu dan Kamis pukul 22:50 waktu Seoul ini, Jang Na-Ra berperan sebagai Jang Ha-Ri.

Jang Ha-Ri ini adalah seorang perempuan lajang berusia 39 tahun yang menjadi wakil manager di perusahaan majalah parenting "The Baby". Majalah yang segmentasinya para ibu. Posisi Ha-Ri yang belum berkeluarga tentu menjadi sorotan, meskipun cita-citanya adalah memiliki anak. Ha-Ri juga tidak bisa dipromosikan karena statusnya itu. Petinggi media juga merasa tidak masuk akal bila seseorang yang belum menjadi ibu mengepalai perusahaan itu.

Tak hanya itu, banyak cemoohan juga yang mengarah pada dirinya. Tulisan Ha-Ri yang dirasakan oleh pembaca berasal dari yang belum menikah, Ha-Ri dicemooh di kolom komentar. Tidak hanya itu pula, statusnya juga mulai dipertanyakan. Pertanyaan kapan nikah dan memiliki anak mulai didengungkan. Ha-Ri semakin terpojok ketika dokter memberitahunya bahwa usianya akan segera menginjak angka 40 tahun. Artinya, kesempatan memiliki anak hanya 5% saja. Bila ingin mengambil program bayi tabung pun keberhasilannya kurang dari 10%. Ha-Ri juga memiliki penyakit endometriosis sehingga ia harus segera dioperasi. Masalah yang bertumpuk-tumpuk ini membuat Ha-Ri frustasi. Ia harus segera menemukan pasangan.

Jang Ha-Ri kemudian terlibat dengan 3 lelaki tampan. Lelaki pertama adalah Han Yi-Sang (Go-Joon) yang bekerja sebagai fotografer freelance dan terus mencari hobi yang membuatnya bahagia. Yi-Sang ini sering mengeluh, tetapi dia sangat menikmati pekerjaannya. Lelaki kedua yaitu Yoon Jae-Young (Park Byung-Eun) yang bekerja sebagai dokter anak dan sudah berteman lama dengan Jang Ha-Ri. Hanya saja, Yoon Jae-Young mendadak menjadi ayah tunggal dan dia harus berjuang menghadapi situasinya itu. Lelaki ketiga adalah Choi Kang Eu Ddeum (Jung Gun-Joo). Dia adalah karyawan baru yang bekerja untuk Jang Ha-Ri. Kepribadiannya sangat positif.

Lalu, bagaimana nasib Jang Ha-Ri? Lelaki mana yang akan dipilih Jang Ha-Ri?

Tonton saja drama pengganti Memorist yang disutradarai Nam Ki-Hoon ini. Meskipun ide ceritanya sedikit relatable dan sensitif, penulis skenario No Sun-Jae menyuguhkannya dalam genre komedi romantis. Ada banyak scene yang bisa mengundang tawa, meskipun tidak selucu drama komedi lainnya. Tapi drama ini bisa menghalau kejenuhan selama kita #dirumahaja. Yah, selingan drama intens sebelah itulah.

Selain itu, aktingnya Jang Na-Ra juga patut diacungi jempol. Ia sudah berhasil keluar dari karakter di drama sebelumnya. Di drama ini, Jang Na-Ra sangat menjiwai. Ia benar-benar konyol, sombong dan kekanakan. Sangat menyegarkan! Mungkin karena related dengan kehidupan pribadinya sehingga ia mampu berakting dengan sangat baik. Semangat, Oeni!

PROFIL

Drama: Oh My Baby
Revised romanization: Oh My Baby
Hangul: 오 마이 베이비
Director: Nam Ki-Hoon
Writer: No Sun-Jae
Network: tvN
Episodes:
Release Date: May 13, 2020 --
Runtime: Wed. & Thu. 22:50
Genre: Romantic-Comedy
Language: Korean
Country: South Korea

CAST



  • 0 Comments




Hari ini rencananya mau nonton serial Marvel saja sampai kenyang di HOOQ. Tapi, saat membuka aplikasi HOOQ, di layar ponsel saya terdapat pengumuman pamitannya HOOQ pada 30 April 2020 lalu. Wadiaw! Ketahuan banget saya tidak buka-buka aplikasi itu selama #dirumahaja ini. Yah, mau buka bagaimana bila sinyal provider di rumah saya sulit sejak baheula. Dan saat ini, saya sedang buka tenda di tempat yang bersinyal.

Di sini, angin sedang bersiut kencang dan pemberitahuan dari HOOQ itu juga membuat saya merasa kurang senang. Aplikasi yang sudah turut menuh-menuhi memory ponsel saya itu sekarang sudah pamitan, goodbye. Mau bagaimana lagi?

Perasaan ini juga mungkin dirasakan 10juta lebih pengguna aplikasi yang berkantor di Singapura itu. Selama 5 tahun terakhir, berbagai suguhan hiburan film maupun serial disuguhkan aplikasi yang menurut Crunchbase disokong oleh 3 perusahaan besar yaitu Warner Bros, Singtel dan Sony Picture Entertainment. Dan seperti pengguna lainnya, saya juga sering menghabiskan waktu dengan suguhan  hiburan yang disuguhkan HOOQ. Film-film berbagai genre yang tidak sempat saya tonton di bioskop, serial-serial yang sering saya tonton secara maraton. Ah, sekarang HOOQ sudah tidak ada. Di home page resminya hanya ada ucapan selamat tinggal saja.

Baiklah, meskipun terlambat, saya ucapkan selamat tinggal, HOOQ. Terima kasih sudah turut mengisi hari-hari saya.  
  • 0 Comments



Drama yang disutradarai Choi Do-Hoon ini ditayangkan di Channel A sejak 27 Maret dan rencananya akan selesai pada 16 Mei. Drama yang naskahnya ditulis oleh penulis Kim Kyung-Soo dan Jung Yoo-Ri ini bercerita tentang seorang chef terkenal, Moon Seung-Mo (Eric) yang bertemu perancang busana terkenal Yoo Yoo-Jin atau Bella yang bekerja di Belleombre.

Cerita drama yang ditayangkan pada Jumat dan Sabtu pukul 23.00 waktu Seoul ini dimulai ketika Yoo Yoo-Jin atau Bella (Go Won-Hee) yang bekerja sebagai perancang busana Belleombre masih belum menemukan rancangan finalnya. Sementara fashion show akan segera dilaksanakan. Di sisi lain, koki terkenal Moon Seung-Mo (Eric) mampir ke restoran orang tuanya sebelum pergi ke Australia. Di sana, seorang anak perempuan datang dan mengaku sebagai anak Seung-Mo, meskipun Seung-Mo tidak merasa pernah berhubungan dan memiliki anak. Namun, kedua orang tuanya tetap mengurus anak itu saat Seung-Mo pergi ke Australia. Di Australia, Seung-Mo tidak sengaja bertemu dengan Bella yang sedang berjalan-jalan. Kesalahpahaman terjadi di antara mereka dan diakhiri dengan pingsannya Bella. Bella didiagnosa kekurangan gizi terpaksa menginap di rumah sakit. Padahal di waktu yang sama, fashion show Belleombre akan segera dilaksanakan.

Moon Seung-Mo terpaksa pulang lebih cepat akibat kematian orang tuanya dalam kebakaran di restoran mereka. Seung-Mo kemudian memutuskan pindah ke Desa Seoha dan memulai kehidupan sehari-harinya di sana bersama anak kecil yang mengaku sebagai anaknya, Seol-A (Ko Do-Yeon) dan Bang Da-Hoon (Choi Kwang-Je). Di sana, mereka bertemu dengan penduduk desa yang ramah. Meskipun Seung-Mo terus menolak Seol-A. Di sisi lain, Bella bersama Belleombrenya yang pulang ke Korea bertemu dengan Donghan Group. Im Hyun-A (Cha Jung-Won) yang mengaku sebagai penggemar Bella memberikan tumpangan pada Bella ketika ia hendak menengok lahan. Di perjalanan terjadi kecelakaan dan membuat Bella terpental dari mobil, sementara Im Hyun-A selamat. Menghilangnya Bella, tentu menjadi masalah bagi Madam Jang (Gil Hae-Yeon) sebagai direktur Belleombre.

Sementara itu di Desa Seoha, Seol-A yang kabur duduk di sisi jurang dan ditemukan oleh Seung-Mo. Saat Seung-Mo sedang membujuk Seol-A untuk kembali, Bella muncul dan mengaku lapar. Ia juga kehilangan ingatan. Perilaku Bella yang eksentrik dalam keadaan hilang ingatannya itu membuat orang-orang di sekitarnya menjulukinya sebagai Yoobyeolna (yang eksentrik). Lalu, bagaimana nasib Belleombre tanpa Bella? Saksikan saja sendiri, ya.


PROFIL

Drama: Eccentric! Chef Moon (literal title)
Revised romanization: Yoobyeolna! Chef Moon
Hangul: 유별나! 문셰프
Director: Choi Do-Hoon
Writer: Kim Kyung-Soo, Jung Yoo-Ri
Network: Channel A
Episodes: 16
Release Date: March 27 - May 16, 2020
Runtime: Friday & Saturday 23:00
Language: Korean
Country: South Korea







  • 0 Comments


Halo, genks! Apa kabar hari ini? Masih semangat, kan? Hari kesekian #dirumahaja, kamu sudah melakukan apa saja? Daripada #dirumahaja cuma tiduran, lebih baik kita jalan-jalan ke Rangkasbitung melalui gambar bangunan tua ini, yuk?

Beberapa bangunan ini mungkin pernah kamu lihat saat kamu bermain langsung ke Rangkasbitung. Tapi kamu masih belum ngeuh fungsi bangunan yang berada di pusat kota itu apa? Kenapa ada di sana? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Nah, mungkin salah satu bangunan yang kamu lihat itu ada di daftar situs cagar budaya Kabupaten Lebak ini, genk. Yuk, cek di bawah ini.

1. Water Turn Rangkasbitung (Water Torrent)


Menara air yang dibangun zaman Belanda ini memiliki fungsi sebagai menara pengatur bagi suplay air bersih dari Gunung Pulosari untuk keperluan kota Rangkasbitung. Dengan memanfaatkan tekanan air, air bersih ini dapat didistribusikan ke sekitaran kota Rangkasbitung tanpa bantuan mesin, karena itu letak bangunan yang berdiri di atas lahan seluas 200 meter persegi dan tinggi bangunan 9 meter ini berada di area lebih tinggi dari daerah sekitarnya. 
Berdasarkan angka tahun (Anno) yang tertera di atas pintu air menara, menara air ini dibangun pada tahun 1931. 


2. Water Turn Warunggunung (Water Torrent)

Tower air zaman Belanda ini masih kokoh berdiri di Desa Baros, Kec. Warunggunung. Bangunan ini dibangun pada tahun 1931 dengan fungsi menyalurkan air ke Kota Rangkasbitung.


3. Rumah Tahanan Rangkasbitung

Gedung Lembaga Pemasyarakatan Rangkasbitung (LP) atau Rumah Tahanan Kelas II B Rangkasbitung ini berada di Jl. Multatuli No. 12, Muara Ciujung Barat, Kecamatan Rangkabitung, Kabupaten Lebak.
Bangunan yang terbuat dari batu ini merupakan penjara baru yang dibangun pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1918. Sebelum tahun 1917 di Hindia Belanda belum mengenal pidana kurungan. Sistem ini diambil oleh pemerintah Belanda dari negara asalnya, Belanda. Bentuk hukuman ini sebenarnya merupakan cara pandang kaum liberalis sebagai perwujudan revolusi Prancis yang sebelumnya memberlakukan hukuman mati, potong tangan, dipukul, ditusuk dengan besi panas, dan dibuang.


4. Pabricken Mixoil

Pabricken Mixoil terletak di belakang pertokoan Rabinsa Rangkasbitung. Pabrik minyak kelapa terbesar di Asia Tenggara ini dibangun pada tahun 1926. Pabrik ini memiliki luas lahan yang tersisa saat ini kurang lebih 1600 meter persegi. Sementara sebagian lahan pabrik PT. Semarang ini telah digunakan untuk pembangunan kawasan pertokoan. Pabrik ini yang mencapai masa kejayaan antara tahun 1920-1940-an ini tutup sejak kebakaran pada tahun 2005. 


5. Residentie Mixoil Complec (Kantor PDAM)

Gedung di Jl. Sunan Giri, Kampung Pasir Sukarakyat, Kel. Muara Ciujung Timur, Kecamatan Rangkasbitung ini adalah kantor PDAM. Dahulunya, gedung yang dibangun pada tahun 1926 ini termasuk komplek pabrik minyak kelapa PT. Semarang dan difungsikan sebagai perumahan pejabat pabrik, khususnya pekerja tingkat menengah. 

Gedung ini berseberangan dengan gedung KODIM 0603 Lebak yang memiliki fungsi yang sama. Gedung ini memiliki ciri khas kolonial yang kental pada bentuk arsitektur bangunannya. Denah bangunan tidak bujur sangkar polos melainkan terdapat lekukan. Atap berbentuk limas. Terdapat jendelajendela kecil dengan panil kaca mati pada bagian atas pintu. Ada pula jendela yang dapat dibuka. Bangunan utama memiliki luas 84 meter persegi.



6. Residentie Mixoil Complec (Makodim 0603 Lebak)

Sebelum digunakan sebagai Markas Komando Distrik Militer (Makodim) 0603 Lebak, bangunan yang dibangun pada tahun 1926  ini dahulu merupakan satu kesatuan dengan gedung PDAM di bagian samping gedung eks pabrik minyak kelapa, PT. Semarang. Gedung KODIM 0603 Lebak tampak muka masih terlihat kokoh. Denah bangunan secara keseluruhan berbentuk seperti huruf “L” dengan pos jaga di gerbang masuk. Banguna utama memiliki luas sekitar 72 meter persegi.

Kompleks ini mempunyai jenis atap tumpang dengan satu bangunan tambahan di satu sudutnya.  Bangunan utama memiliki serambi. Tepat di tengah-tengah komplek terdapat bangunan dengan denah huruf “T” dengan serambi yang diberi pagar tembok sehingga tidak berbentuk serambi terbuka.  Terdapat beberapa jendela dengan satu daun pintu yang dihiasi potongan kayu horisontal serta bercanopy. 

7. Residentie Mixoil Complec (Polsek Rangkasbitung)

Pada tahun 2018, gedung yang menjadi satu kesatuan dengan gedung-gedung lainnya milik PT. Semarang ini, dialihfungsi menjadi kantor Polisi Sektor Rangkasbitung (Polsek Rangkasbitung). Pada tahun sebelumnya, gedung ini juga digunakan sebagai kantor Mapolres Lebak. Sebelum dialihfungsi, gedung yang dibangun pada 1926 ini digunakan sebagai  rumah dinas pekerja pabrik minyak kelapa PT. Semarang.


8. Bunker Jepang

Bunker ini terletak di bagian belakang SDN 2 Pasirtariti, Rangkasbitung. Sebagian bunker masih tertutup tanah. Di bagian depan terdapat celah untuk pengintaian. Pada sudut celah tampak sebuah engsel besi.

  • 0 Comments


"Senen, senen, salasa Rebo. Ooh, ngaleupeut..." kata bapa saat kami membicarakan tradisi membuat ketupat di pertengahan Ramadan. Hitungan 'kolot baheula' itu bapa pakai. Tak hanya bapa, di kampung kami, hampir semua kolot masih memakai hitungan yang sama untuk menjawab pertanyaan kapan kegiatan tertentu dijadwalkan. Misalnya, kegiatan menyebar benih, tandur dan lainnya.

Saya yang mengingat hari dan tanggal saja sering diingatkan kalender ponsel, menjadi miskomunikasi. Sebab dahulu, seingat saya, ende (nenek) mengatakan hal serupa yang diakuinya sebagai hitungan untuk menentukan waktu dua minggu dari hari ini. Tapi ternyata saya salah ingat, salah dengar.

Saat sahur hari ini (7/5/2020), bapa, mamah dan saya membahasnya lagi. Rupanya, itu hitungan 10 harian, men! Bukan dua mingguan seperti yang selama ini saya ingat. Pantas saja beberapa jadwal menjadi tidak tepat. Heu.

Jadi hitungannya itu rupanya dimulai dari hari dimana seseorang itu mengatakannya. Dalam kasus ini, bapa mengatakannya di hari Senin yang ia temukan ke Senin minggu berikutnya dan ditambah dua hari setelahnya. Jumlahnya 10 hari.

Yah, saya kira masih 2 minggu lagi!

Ramadan sudah memasuki pertengahan dan qunut dalam tarawih akan mulai dibaca imam. Yah, cepat sekali. Tapi setidaknya, saya tahu sebenar lagi kita makan ketupat. Sebab, hari ini di kampung kami akan mulai sesi "ngala" janur kelapa dan membuat bungkus ketupat. Meskipun hari ini juga, saya pergi menginap di Pandeglang untuk menyelesaikan urusan yang sudah lama belum selesai juga. Yah, hitung-hitung peregangan di punggung Pulosari setelah lama rebahan.

Selamat sahur. Selamat berpuasa.
Semoga kita semua selalu sehat.

  • 0 Comments



Ada kebanggaan khusus bila gedung sekolah kita terdaftar sebagai cagar budaya. Apalagi gedung sekolah kita juga dahulunya dipakai untuk gedung sekolah, entah HIS atau ELS atau lainnya. Pasti senang, pasti bangga!

Eh, tapi seram, lho, sekolah itu mah. Komentar itu jangan dianggap, genks. Di gedung tua mana pun, residual energi itu pasti ada. Jadi, dibawa enjoy saja. Woles. Anggap saja sebagai bagian dari kebanggaan itu sendiri.

Nah, ini daftar sekolah yang gedungnya pernah dipakai sebagai gedung sekolah zaman Belanda di Kabupaten Lebak. Hayo, siapa alumni sekolah-sekolah ini? Masih ingat sejarahnya? Yuk, bagikan di kolom komentar.

1. Hollandsche Indlandsche Shool (HIS) - SD Kejaksaan Rangkasbitung

Holand Inlander School (HIS) berada di Jl. H.M. Iko Jatmiko No. 4 
Rangkasbitung bersebelahan dengan TK PGRI Rangkasbitung. Masyarakat sering menyebutnya sebagai Sekolah Dasar (SD) Kejaksaan. Tahun 1980-2000 bangunan di area ini dipakai secara bergantian oleh SDN 1  Rangkasbitung dan SDN 4 Rangkasbitung. Bangunan peninggalan sekolah Belanda ini dibangun pada tahun 1930. Sekolah favorit ini hingga kini masih dipergunakan oleh SDN 1 Rangkasbitung Barat. Tidak hanya itu, sekolah ini juga menjadi sekolah dasar rintisan internasional dan menjadi salah satu sekolah unggulan di Kabupaten Lebak khususnya dan umumnya di Propinsi Banten.

Hayo ngaku, siapa alumni SD Kejaksaan?



2. Europeesche Lagere School (ELS) - SMPN 1 Rangkasbitung

Europeesche Lagere School (ELS) terletak di Jl. Multatuli No. 37 Rangkasbitung. Bangunan ini dibangun pada tahun 1928 dan dipergunakan sebagai sekolah orang-orang Eropa pada masa penjajahan Belanda. Setelah merdeka, gedung sekolah ini dialihfungsi menjadi Sekolah Kepandaian Putri (SKP) yang dipimpin oleh R. Soenardi. 

Sekarang, digunakan sebagai SMP Negeri 1 Rangkasbitung. Tentu, sejarah perjalanan menuju jenjang sekolah menengah ini sangat panjang. Dari ELS ke SKP, ke SMP Nasional, hingga ke SMP Negeri 
Rangkasbitung. 

Siswa dan alumni SMP 1 Rangkasbitung pasti hapal sejarah sekolahnya, nih! Ayo siapa yang masih hapal?



3. Fordvoorlg School - SD Multatuli

Fordvoorlg School berada di Jl. Multatuli No. 32, Muara Ciujung Barat, Rangkasbitung. Sekolah dasar ini juga dikenal sebagai Komplek SD Multatuli karena letaknya berada di Jl. Multatuli. Bangunan sekolah ini dibangun pada tahun 1928.

Siapa alumni SD Multatuli? Masih hapal sejarahnya? 
Yuk bagikan di sini.


4. Mardhi Oetomo School - SD Mardi Utomo Rangkasbitung

Mardhi Oetomo School berada di Jl. Kalijaga No. 188, Muara Ciujung Barat, Kec. Rangkasbitung, Kabupaten Lebak. Bangunan SD ini dibangun pada tahun 1928. Dahulunya, bangunan ini adalah bagian dari Gereja Kristen Pasundan (GKP) Rangkasbitung yang bersebelahan dengan sekolah ini.


Siapa alumni sekolah ini? 



Nah, bagi kamu yang hapal mengenai sejarah sekolah-sekolah ini, silakan bagikan di kolom komentar, ya. Komentar yang seru, yang asyik, akan mendapat hadiah ketjutan. Mau tahu hadiahnya? Ya kejutan dong. Hihihi...
  • 0 Comments


Beberapa hari ini, saya terus berada di Lebak. Tepatnya di Karanganyar, GPS saya maksudnya. Karena saya masih tetap #dirumahaja, sejak pulang beberapa waktu lalu. Pulang, ya, bukan mudik. Pfffrrtt! Sepertinya memang, saya harus meneruskan apa yang sudah saya mulai sebelumnya, membahas mengenai cagar budaya seperti dalam daftar yang beberapanya disuguhkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak pada 2018 lalu.

Jadi, yuk kita jalan-jalan melalui gambar ke situs-situs Yang Disucikan, Yang Tersisa dan Berserak di Sudut Zaman ini. Sebenarnya ada 2 teras lagi yang mestinya berada di daftar ini, namun karena sudah saya posting di Batu-Batu yang Bicara Masa Lalu, maka--semoga tidak menyalahi apa-apa, inilah 5 situs itu:

1. Situs Sasaka Domas

Situs Sasaka Domas disebut juga Sasaka Pada Ageung atau Sasaka Pusaka Buana. Situs ini terletak di Kampung Cikeusik, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar. Situs ini disucikan oleh urang Kanekes dan larang bagi orang luar. Bangunan teras berundak berbentuk piramida dan terbuat dari susunan batu andesit itu memiliki 7 teras dengan 13 undakan dengan arah hadap Utara-Selatan.

Dijelaskan, 13 undakan itu adalah simbol tahapan yang harus ditempuh roh untuk mencapai langit. Roh memulai perjalanannya dari undakan paling bawah menuju undakan kedua setelah melalui proses pensucian di Lumpur Sibalagadagama agar dapat melalui undakan selanjutnya sehingga roh bisa bersatu dengan Batara Tunggal, penguasa langit yang bersemayam di puncak undakan.

Setiap tahun, para lelaki urang Kanekes, melakukan upacara muja di situs ini. Tepatnya di bulan Kalima penanggalan Sunda. Selain upacara muja, para lelaki urang Kanekes juga akan membersihkan Sasaka. Kegiatan membersihkan Sasaka ini dalam naskah Sanghyang Siksa Kanda(ng) Karesian disebut Ngomean Sang Hyang.



2. Situs Purba Parigi

Situs Purba Parigi berada di tepi sungai Cimandur yang bermuara di sungai Cidikit dan berada di ketinggian 381 meter di atas permukaan laut. Menurut penduduk, dahulu di daerah ini terdapat kampung bernama Kampung Parigi. Namun karena suatu sebab, mereka pindah ke Kampung Lebakbinong.

Di situs ini terdapat punden berundak yang terdiri dari 7 teras. Di teras tertinggi diprakirakan adalah lokasi yang disakralkan, ditandai dengan adanya makam. Teras kelima yang berbentuk persegi empat berukuran 9,5 x 8,5 meter dikelilingi sisa tatatan batu serupa benteng yang tersisa hanya sepanjang 100 cm dan tinggi 0,4 cm.

Di areal ini ditemukan 3 buah lumpang batu besar, 2 buah lumpang batu berukuran kecil, 1 buah batu pipisan, 2 buah gandik dan 3 buah batu pelor. Adapun teras 2, 3 dan 4 tampak mirip seperti tangga penghubung menuju teras utama yang bersifat sakral dan bersifal provan. Situs ini diprakirakan berasal dari tradisi megalitik.


3. Situs Cipujangga

Situs Cipujangga terletak di Kampung Cibadak, Desa Warungbanten di ketinggian 500 meter di atas permukaan laut. Tepatnya di area hutan larangan kasepuhan Cibadak. Cipujangga diambil dari nama parit yang berada di kaki bukit.

Di area bukit dengan luas kurang lebih 4 hektar ini terdapat makam Raden Prabu Aria Bujangga berada dan punden yang terdiri atas 5 teras.  Teras teratas terdapat fitur susunan batu berbentuk segi empat (geometris) membujur dari arah tenggara ke arah barat laut dengan ukuran panjang 4,30 meter dan lebar 3,20 meter. Pada permukaan fitur ini ditemukan satu batu monolit berbentuk limas segi empat dengan tinggi 113 cm. Sementara ukuran sisi-sisinya yaitu; ukuran sisi timur laut-barat laut 65 cm, sisi barat laut-barat daya 60 cm, sisi barat daya-tenggara 49 cm, dan sisi tenggara-timur laut 79 cm. 

Pada permukaan batu bagian atas berbentuk segi empat dengan ukuran panjang sisi timur laut-barat laut 9 cm, sisi barat laut - barat daya 23 cm, sisi barat daya-tenggara 13 cm, dan sisi tenggara-timur laut 13 cm. 


4. Situs Parigi Lebak Ciherang

Situs Parigi Lebak Ciherang berada di ketinggian 43 meter di atas 
permukaan laut dengan luas area 322 meter persegi. Situs ini berada di Kp. Ciherang, Desa Cibeber, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak. Tepatnya sebelah barat aliran sungai Ciherang yang mengalir dari selatan ke utara. Masyarakat mengenal situs ini sebagai peristirahatan Raden Arya Pananjung. 

Di situs ini terdapat 6 batu tegak (menhir) berukuran 1,5-2 meter dengan kondisi telah roboh dan tersebar di area situs. Batu bulat berukuran lebih kecil yang tersusun mengelilingi situs dan menyebar tak beraturan. 


5. Situs Wongwongan

Situs Wongwongan terletak di Kp. Gunung Julang, Desa Lebaksitu, 
Kecamatan Lebakgedong, Kabupaten Lebak. Tepatnya di sebuah lahan hutan lindung. Di sebelah selatan situs ini mengalir sungai Ciupih.

Secara keseluruhan, sebagian besar situs ini sudah hancur. Bagian yang tertisa hanya serakan batu kali, bongkahan batu andesit dan 
sisa pondasi bangunan, Lingga-Yoni dan Arca Nandi. 

Lingga dan Yoni yang berada di situs ini masih terkait satu sama lain. Meskipun tertutup lumut dan agak aus. Pada tepian atas yoni terdapat hiasan tengkorak, karenanya penduduk di daerah ini menyebutnya wongwongan (orang-orangan). 


Nah, itulah kelima situs. Memang, belum ada gambarnya. Lain waktu, saat wabah telah usai, semoga saya bisa menampilkan gambar-gambarnya. Tetap #dirumahaja, ya. Semoga kita semua selalu sehat.

Semoga seluruh makhluk selalu berbahagia. Rahayu.




  • 0 Comments



Duh, ceritanya hampir serupa.
Banyak webtoon bucin. Males.

Komentar-komentar itu sering saya dengar ketika sedang asyik membaca webcomic di kedai kopi. Ya, memang, beberapa aplikasi penyedia webcomic ini memang menawarkan ratusan cerita dengan genre romance yang terkadang ceritanya sangat klise dan malesin. Tapi, biasanya selama saya suka gambar dan ceritanya, genre apapun pasti saya ikuti dan saya baca kecuali lelah. Hihi...

Salah satu aplikasi yang menawarkan cerita webcomic yang menarik adalah Kakaopage.  Saya mengikutinya beberapa bulan ini. Sebenarnya sih banyak webtoon yang saya baca dan ikuti ceritanya di aplikasi ini. Nah, ini 8 di antaranya:

1. God of Soul



Lee Soyeon, seorang pengawal berbakat dan Namho ditugaskan mendampingi utusan Kang Heeun yang ceria dan baik hati. Ketiganya membasmi roh jahat yang berkeliaran di dunia manusia. Jiwa yang hatinya memiliki dendam, ia akan menjadi Wongwi, melawan peraturan dan tidak akan dapat pergi dari dunia fana. Mereka itulah yang mesti disucikan sang utusan. Meskipun begitu, utusan ini memiliki limit waktu. Karenanya banyak dari mereka yang saling berebut, mencuri bahkan memanipulasi pensucian roh jahat agar sang utusan dapat menyelesaikan tugasnya.

Pencurian pensucian roh jahat ini dituduhkan pada tim Soyeon dan utusan Heeun. Selain itu, berbagai masalah lainnya juga mengarah pada mereka. Berhasilkan Heeun menyelesaikan tugasnya?



2. My Lovely Wongja



Ceritanya berawal dari kisah seekor beruang dan seekor harimau yang ingin menjadi manusia. Adalah Ho (harimau) dan Wong Nyeo (beruang) itu yang datang pada Hwang Woong putera dari Hwang Im yang turun untuk memerintah dunia manusia melalui pohon keramat di puncak gunung Taebaek. Hwang Woong memberi mereka bawang putih dan tanaman Mugwort dan memerintahkan mereka memakannya selama 100 hari dan tidak boleh terkena sinar matahari. Mereka masuk ke dalam goa.

Namun dalam prosesnya, Ho si harimau tidak mematuhinya. Ia keluar dari goa saat manusia hendak mencelakakan mereka. Karenanya, hanya Wong Nyeo yang menjadi manusia, sementara ia dan keturunannya menjadi setengah manusia harimau.

Wongja adalah keturunan Wong Nyeo yang tak sengaja bertemu Beom Ho si idola yang ternyata adalah keturunan Ho si harimau. Pertemuan tidak sengaja ini membawa Wongja bertemu dengan klan Ho dan kandidat pasangannya yang lain. Siapakah yang akan dipilih Wongja?

Ikuti saja cerita penulis dan ilustrator Yun Mi Kyoung ini, ya.


3. Koki Berbintang (Michelin Star)


Restoran masakan Prancis, La Petite Maison hampir bangkrut setelah ditinggalkan Head Chef-nya. Sementara chef-chef yang ada bersekongkol dengan perusahaan waralaba.

Adalah Eun Bi, direktur sekaligus anak pemilik restoran itu. Ia tidak dapat mencicipi masakan karena lidahnya tak bisa membedakan rasa. Saat Ryu Tae Hwan, koki yang baru pulang dari Prancis dan berencana membuka restoran Michelin pertama di Korea itu makan di sana, masakannya tidak dimakannya. Alih-alih dimakan, malah dibuangnya. Ia juga menunjukan kesalahan-kesalahan dalam masakan itu.

Para chef di dapur La Petite Maison pun akhirnya ketahuan kecurangannya. Mengetahui hal itu, Eun Bi tentu kecewa. Ryu Tae Hwan kemudian menawarkan bantuan. Namun, perusahaan waralaba tidak membiarkannya. Berbagai macam trik meruntuhkan La Petite Maison pun dilakukan. Akankah tim La Petite Maison bertahan?

Silakan baca cerita dari pengarang dan ilustrator Kim Song ini dengan ceria.


4. Time Share House


Yoon Do-ah diusir dari rumahnya setelah tahu orang tuanya telah lama.
Di rumah tua yang reyot itu, tiga orang manusia dari 3 zaman berkumpul.
Mereka adalah Yoon Do-ah, perempuan yang baru bekerja di stasiun televisi abad ke-21 yang keluar dari rumahnya setelah kedua orang tuanya bercerai lama itu berterus terang telah memiliki kekasih masing-masing. Cendikiawan Yonip, seorang cendekiawan dari zaman Joseon yang tak lain adalah adik Raja Joseon pada tahun Ayam (1777)  dan Myeoksal yang datang dari tahun 1930 di era kolonial Jepang.

Mereka disatukan dalam Time Share House murah di Hanyang, Gyeongseong dan Seoul itu oleh sang pemilik rumah, Ju In-jang.
Hanya saja, satu peristiwa membuat ketiganya tidak bisa bersama lagi. Komputer waktu mereset Ju In-jang hingga ia lupa dan berubah dari karakter sebelumnya yang ceria.

Cerita selanjutnya dari pengarang dan ilustrator JOO, Jo Hee, HONG, Gil Dong ini bisa kamu ikuti sambil mikir.

5. Flower In The Palace


Cerita menyedihkan tentang seorang perempuan cantik, Kae Li yang sejak kecil terpincut Putera Mahkota Kerjaan Yin, Eon.  Pertemuan pertama di masa kecil itu berakhir buruk karena suatu insiden. Setelah dewasa, mereka menikah. Meskipun Eon tidak memperlakukan Kae Li dengan baik hingga membuat Kae Li berusaha mendapatkan perhatian dan cinta tulus Eon dengan berbagai cara.

Kae Li tumbuh sebagai isteri raja yang dikenal sewenang-wenang dan dibenci banyak orang. Akankah Kae Li mendapatkan cinta tulus Eon?

Silakan ikuti cerita dari pengarang dan ilustrator Yoon Tae-Roo, Shin Ji-sang dan Ga-yan ini. Tapi jangan ikut terhanyut, ya.

6. Queen of Flower


Pemilihan permaisuri dilangsungkan tanpa diminati Sang Raja. Adalah Kim Sohye, anak perempuan yang terpilih itu. Sang Raja yang sudah memiliki selir itu terus mempermainkan Sohye yang polos itu. Seiring berjalannya waktu, Sang Raja yang keras kepala itu mulai menyadari ketulusan Sohye dan mulai mencintainya. Sementara selirnya pun rupanya memiliki kepentingan dan niat mencelakakan Sang Raja dan permaisurinya itu. Ia berusaha menghancurkannya dengan segala cara.

Apa saja yang dilakukan sang selir? Silakan ikuti cerita dari pengarang dan ilustrator Seo Yun-Young dan Lee Jih-wan ini.

7. The Greatest Chicken



Han Sang-Wook berada dalam masalah besar setelah ayahnya kecelakaan. Toko ayam ayahnya tidak ada yang bisa mengelola. Mau tak mau, akhirnya Sang Wook mengelolanya meskipun ia tidak memiliki keahlian menggoreng ayam sama sekali. Restorannya terancam bangkrut!

Hyeri adalah adik tingkatnya di kampus. Ia selebgram yang sering mereview restoran-restoran. Ia adalah musuh bebuyutan Sang Wook. Kepadanyalah Sang Wook meminta tolong menemukan resep ayam goreng. Pada akhirnya, Hyeri mau menolong dan mengajaknya berkeliling mencari ayam goreng terenak. Apakah mereka berhasil?

Ikuti saja cerita dari pengarang dan ilustrator Boogie ini, ya. Yang pasti bikin pengen makan ayam goreng! Heu...

8.  Goblin Si Pelindung



Setelah kehilangan adiknya, Pangeran Yeong Chang, Tuan Puteri Jeong Myeong dan ibunya, Ratu In Mok, terkurung di dalam istana Gyeong-un. Kepala Dayang Kim Gae Si yang menjadi tangan kanan  Pangeran Gwang Hae, dengan bantuan Goblin ingin membunuh Jeong Myeong bahkan sejak dalam kandungan Ratu In Mok. Selain itu, dengan bantuan kakaknya yang seorang dukun, Kim Gae Si juga menggunakan ilmu hitam. Alhasil, bukan saja membuat tuan puteri Jeong Myeong dan ibunya tidak bisa keluar, namun para penjaga yang menjaga istana Gyeong-un juga berubah dan bernafsu membunuh tuan puteri. Hingga akhirnya tuan puteri bertemu Goblin pelindung. Kesempatan untuk menyelamatkan adik dan juga mengubah nasibnya datang dengan pergi ke masa lalu.

Berhasilkah tuan puteri Jeong Myeong? Ikuti cerita pengarang dan ilustrator Robin Bae ini, ya. Dijamin bikin kamu gregetan!


Gimana? Mana yang menjadi favoritmu, genk?
Atau kamu punya webcomic favorit di Kakaopage? Share di kolom komentar yuk. Kita gosipin webcomic. Hoho...
  • 0 Comments



"Assalamualaikum. Izin bertamu..."

Rumah kokoh dengan dindingnya yang tebal dan jendela dan daun pintu rangkap yang tinggi dan bertahan selama ratusan tahun, menjadi ciri rumah yang selalu membuat mata saya menatap lebih lama dan lebih bercahaya. Suka!

Entah sejak kapan saya mulai menyukai tipe rumah seperti ini. Hanya saja, setelah di SMA saya mengunjungi rumah seorang teman yang tinggal di komplek perumahan polisi di Menes sana, kesukaan saya pada bangunan tua semakin menjadi saja. Bahkan, sering menjadi salah satu rujukan rumah tinggal yang ingin saya huni pada suatu hari nanti.

Di Lebak, khususnya Rangkasbitung, Rumah antik yang kokoh ini, beberapa di antaranya masih ada dan dipertahankan pemiliknya. Ingin rasanya mengetuk pintu untuk bertamu. Yah, sekadar menikmati teh di berandanya sembari mengobrol apa saja dengan pemiliknya. Tapi saya tidak bisa meluluskan keinginan ini, tentu saja.

Karena itu, saat rumah-rumah yang membuat mata saya terbinar-binar itu ada di buku daftar Cagar Budaya di Kabupaten Lebak yang diterbitkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak pada 2018 lalu, rasanya jiwa tua saya langsung melompat kegirangan. Syukurlah!

Di tengah zaman dimana orang-orang bernafsu menyuguhkan segala hal yang baru, para pemilik bangunan tua itu masih mempertahankannya. Dan penambahan status cagar budaya untuk rumah antik itu, saya rasa adalah bentuk dukungan pemerintah kepada para pemilik bangunan untuk terus mempertahankan keasliannya, merawat dan menjaga tinggalan masa lalu itu.ebab, rumah itu adalah aset berharga. Tak hanya untuk para pemilik dan keluarganya, tapi bagi negara ini juga.

Nah, mari kita bertamu ke #sixfantastic rumah-rumah dalam daftar cagar budaya di Kabupaten Lebak versi noni tjantik. Heu.

1. Rumah Mr. Soetadisastra





Rumah ini setiap pagi selalu saya tatap dari seberang jalan, tepatnya lapak mas bubur ayam. Sembari menunggu pesanan, saya sering bertanya-tanya apa yang sedang dilakulan penghuni rumah yang sunyi dan nyaman untuk dihuni itu di pagi hari? Apakah mereka sudah sarapan?

Berkali-kali saya utarakan keinginan untuk bertamu pada teman ngobrol saya yang asli urang Rangkasbitung itu. Katanya, memang rumah antik yang saat ini dihuni menantu Mr. Soetadisastra, Bu Hj. Kania, isteri dari Pak H. Mas Hudaya Soetadisastra ini memiliki sejarah yang panjang. Dan tamu pembesar, pernah mengunjunginya. Presiden Soekarno salah satunya.

2. Administratur van Tjisalak (Bangunan Administratur Perkebunan Cisalak)




Komplek administratur perkebunan Cisalak ini dibangun pada tahun 1940an di area perkebunan kelapa sawit. Bangunan yang kini digunakan sebagai rumah dinas pejabat perkebunan Cisalak ini, dahulunya digunakan sebagai kantor administrasi perkebunan dan rumah tinggal pejabat perkebunan di masa itu.

Hayo, mau tebak-tebakan siapa nama pejabat yang menghuninya?

3. Residentie van Mixoil complec (Rumah Dinas Kapolres Lebak)


Rumah bergaya kolonial ini sekarang digunakan sebagai rumah dinas Kapolres Lebak. Sepertinya memang, sudah banyak perubahan di eks rumah karyawan PT. Semarang  yang dibangun pada tahun 1926 ini.

4. Residentie Meneer Doojer (Rumah Dinas Wakapolres 



Rumah ini ada di daftar Cagar Budaya di Kabupaten Lebak. Meskipun tampaknya, sudah ada beberapa perbaikan di beberapa bagian rumah eks residentie meneer doozer atau rumah dinas kepala HIS ini. Selain itu, keterangan yang sedikit membuat saya sebagai tamu eh pembaca jadi bertanya-tanya; siapakah pak guru meneer yang pernah menghuninya?

Saat ini, rumah ini digunakan sebagai rumah Pak Wakapolres Lebak.

5. Rangkasbitoeng Spoor Shander Complec (Perumahan Karyawan Perusahaan Jawatan Kereta Api/PJKA)



Komplek perumahan karyawan PJKA ini adalah salah satu komplek dengan rumah-rumah bergaya khas masa lalu. Komplek ini dibangun pada 1902 atau setahun setelah pembangunan Rangkasbitoeng Spoor Wegent Diensteen (Stasiun Rangkasbitung) pada tahun 1901.

6. Rangkasbitoeng Spoor Shander Complec (Gedung Pasturan)


Rumah pasturan atau asrama pastur di seberang Rumah Sakit Misi itu rupanya menjadi salah satu saksi sejarah juga. Saya baru ngeuh setelah melihatnya ada di daftar cagar budaya. Sebab, beberapa bagian rumah yang pembangunannya diprakirakan bersamaan dengan pembangunan komplek perumahan karyawan PJKA pada tahun 1902 itu sudah tampaknya sudah banyak mengalami perubahan.


Nah, gimana #sixfantastic rumah antik Cagar Budaya di Kabupaten Lebak ini? Bikin ingin bertamu juga? Eh, tapi jangan bertamu sekarang, nanti saja setelah covid-19 hilang. Dan selayaknya bertamu pada umumnya, jangan lupa ucapkan salam dan membawa buah tangan, ya. Hihi.

Semoga kita semua selalu sehat dan semoga seluruh makhluk selalu berbahagia.


Cag deui.

  • 0 Comments



Halo-halo Indonesia. Apa kabar hari ini? Semoga kita semua selalu sehat, ya. Setelah kemarin kita berjalan-jalan ke 6 Situs Cagar Budaya di Kabupaten Lebak, hari ini mari kita berjalan-jalan ke 6 Gedung Cagar Budayanya. Tentu saja masih via gambar. Karena kampanye #dirumahaja masih berlaku, tjoi!

Gedung-gedung yang masuk daftar Cagar Budaya Kabupaten Lebak ini sekarang sudah banyak dialihfungsikan menjadi kantor. Ada pula gedung yang dibiarkan terbengkalai. Tetapi untuk merobohkan dan menggantinya dengan gedung baru, siapapun tentu saja harus berhadapan dengan Undang-undang tentang Cagar Budaya, beserta dendanya yang banyak itu.

Karena itu, selagi #dirumahaja saya iseng memberikan kategori #sixfantastic seperti jargon Dinas Pariwisata Lebak untuk destinasi wisatanya. Meskipun tetap, informasinya bersumber dari buku Cagar Budaya di Kabupaten Lebak yang diterbitkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak pada tahun 2018 lalu.

Berikut #sixfantastic gedung-gedung "yang menyapa dari masa lalu" versi tuan meneer? Heu..


1. Gedong Nagara


Memasuki gedong nagara ini serasa memasuki rumah yang di dalamnya sudah berdiri sang ayah yang sangat tegas dan berwibawa. Ia sudah berulang kali memperingatkan untuk tetap di rumah saat ia sedang pergi. Tapi ketika ia pulang, puterinya masih belum pulang karena keasyikan bermain di luar. Tapi saat melihat puterinya mengendap-endap masuk, tak urung ia tertawa. Hahaha...

Secara keseluruhan, saya suka dengan seluruh bagian dari gedung yang sekarang menjadi rumah dinas sekaligus tempat Bupati menjamu para tamu-tamunya ini. Arsitekturnya, suasananya....

Deuh! Kantor dengan suasana rumah itu emang paling nyaman sih, ya. Jadi betah. Pengen mah ngendong (menginap). Wadezig! Kantor Bupati, tjoi!


2. Gedong Wedana (Museum Multatuli Lebak)




Memasuki gedung yang sekarang menjadi Museum Multatuli ini, sudah seperti masuk ke rumah sendiri. Sebab, banyak kegiatan yang digelar di museum anti kolonialisme pertama dan satu-satunya di Indonesia ini.

Tentu saja, sesekali saya pun memasuki gedung utama. Di dalam, saya sering merasa ditarik ke sana ke mari, karena memang setiap ruang pamernya memiliki konsep dan tema tersendiri. Ada 7 ruang pamer dengan 4 tema di museum yang menampilkan sejarah kolonialisme dan antikolonialisme ini.

Keempat tema itu yakni tema sejarah datangnya kolonialisme ke Indonesia, tema Multatuli dan karyanya, tema sejarah Lebak dan Banten dan Rangkasbitung masa kini. Selain itu, ada ruang audiovisual dan labirin informatif bagi para pengunjung.

Untuk koleksi, museum ini juga memiliki koleksi asli dari tegel eks rumah Multatuli, novel Max Havelaar bahasa Prancis edisi pertama (1876), litografi/lukisan wajah Multatuli, peta lama Lebak, arsip-arsip Multatuli, surat Multatuli kepada Raja Willem II dan buku-buku koleksi lainnya.

Berkunjung ke dalam museum sesekali, lainnya lebih banyak di luar, tepatnya di dekat monumen interaktif Multatuli, Saidjah dan Adinda sambil ngopi. Itu saya. Kalau kamu?

3. Eks Rumah Multatuli (Edurd Douwes Dekker)


Residentie Assisten Recident van Lebak ini dulu pernah dijadikan tempat tinggal Asisten Residen Lebak, Eduard Douwes Dekker alias Multatuli (2 Maret 1820-19 Februari 1887).

Kondisi rumah ini saat ini hanya tinggal dinding di sebelah Timur dengan profil di bagian atas. Namun, temuan lainnya berupa intak pondasi di sudut Timur Laut menunjukan bahwa bangunan ini berdenah empat persegi panjang. Sementara dindingnya, sudah dijadikan dinding dari bangunan zaman sekarang.

Huaduh banget, kan?


4. Gedung DPRD Kabupaten Lebak


Jujur saja, saya masih mengingat-ingat lokasi gedung DPRD ini. Ketahuan banget nggak suka tengok-tengoknya, kan? Hihi.
Mungkin lain waktu, saya akan berkunjung untuk melihat bangunannya. Ingat ya, bangunannya. Tapi kalau Pak Dewannya ngajak diskusi sembari ngopi mah uatuh tidak ditolak. Hahaha.. Ndasku!

5. Rangkasbitoeng Spoor Wegent



Tahu tidak kenapa saya suka naik kereta? Bangunan stasiunnya gagah-gagah! Bukan hanya bangunan stasiunnya, tapi rumah-rumah karyawan PT KAI juga khas dan membuat jiwa tua saya melompat-lompat gembira.

Meskipun memang, seiring berjalannya waktu, saya melihat banyak pembongkaran dan renovasi besar-besaran dari bangunan-bangunan itu. Dan kadang membuat saya merasa kecewa sendiri saat melihatnya. Tapi, yah, gimana ya?

6. Eks Kantor Perwakilan Pengadilan Negeri Lebak



Gedung yang setiap kali melewatinya membuat saya melirik dan kadang hingga membuat saya menatap lebih lama ini sudah lama terbengkalai. Rerumputan tumbuh liar di halaman dan bagian lainnya. Ingin rasanya masuk, tapi pasti tidak aman karena bisa saja menjadi sarang hewan liar. Sempat terbersit harapan agar gedung yang tampak kokoh ini tidak dirobohkan dan diganti dengan gedung baru. Tapi, dibiarkan terbengkalai saja juga membuat sedih saat melihatnya.

Aha! Bagaimana bila pihak-pihak terkait udunan atau kolekan untuk renovasi?

Saya yakin, bila sudah bisa dihuni, akan banyak yang ingin menghuninya. Tapi, akan baik bila dialihfungsi untuk tempat bertukar pikiran, berdiskusi dan kegiatan-kegiatan yang bersifat penggalian ide-ide kreatif.

Nah, gimana #sixfantastic versi tuan meneer ini? Bikin ingin berkunjung? Jangan sekarang, nanti saja setelah covid-19 ini musnah. Kalau nanti kamu imgin berkunjung untuk menikmati keindahan arsitektur ke-6 gedung ini sambil menikmati tahu Ciujung dan kopi kupu-kupu, silakan ikuti prosedur yang diberlakukan oleh empunya gedung.

Berikut beberapa akun empunya gedung:
.
1. Gedong Nagara bisa tanya ke @lebakkab atau ke @humasprotokollebak atau ke @diskominfolebak.

2. Gedong Wedana dan Eks Rumah Multatuli bisa tanya ke @museummultatulilebak.

3. DPRD Lebak bisa ke @sekretariat_dprdlebak

Besok, kita bertamu ke Rumah Antik Tinggalan Masa Lalu. "Assalamualaikum empunya rumah. Izin bertamu, ya.." (Salamnya dari sekarang. Heu).

Tetap #dirumahaja. Semoga kita selalu sehat dan seluruh makhluk berbahagia.



Cag deui.

  • 0 Comments



Suara ayam yang baru turun bertelur begitu riuh. Sangat riuh hingga saya meneriakinya untuk diam. Ayam betina bercorak hitam itu langsung berlari ke luar pagar dan bergabung dengan ayam lainnya. "Biasa aja kali," ujar saya.

Sejak adik saya diberi ayam oleh saudara dan tetangga, ayam-ayam itu berkembang biak dengan pesatnya. Beberapa bahkan sudah dipotong untuk lauk baik hari-hari biasa, suguhan saat perayaan keagamaan, sedang ada tamu ataupun saat sedang ada yang bekerja di rumah.

Beberapa minggu lalu, di halaman belakang kami hanya ada dua kandang ayam. Kandang pertama ditempatkan di bawah saung tempat menyimpan kayu bakar, tapi setelah 4 ekor ayam ditemukan mati di sana, ayam-ayam itu enggan mengisinya. Mereka memilih naik ke papan dekat tempat induk ayam mengeram. Mungkin mereka takut dihantui? Hiyah...

Kandang kedua adalah kandang bertingkat dua dengan 4 pintu tempat ayam-ayam muda dan induk ayam dengan anak-anaknya yang baru menetas.

Saat ini, ada satu kandang ayam lagi yang dibuat khusus oleh mamah. Karena kasihan si induk ayam yang anak-anaknya baru menetas itu tidak ada tempat tinggal, katanya. Pantas saja saat melihat balok kayu yang saya jadikan kursi itu, mamah langsung sumringah; "ada bahan buat kandang ayam."

Beternak ayam kampung yang tidak serius macam ini sih, tidak sesulit yang dibayangkan. Karena memang ayam-ayam ini tidak dipersiapkan untuk dijual. Ayam-ayam ini hanya untuk hewan peliharaan, dan dipotong saat ada tamu atau untuk makanan dikala tukang sayur tidak berjualan saja. Hihi.

Untuk induk ayam yang akan bertelur, tempatnya pun disiapkan seadanya. Kotak kayu yang ditempatkan di atas saung, ada juga kardus bekas yang dipakai si ayam dara yang baru bertelur. Sedangkan untuk perawatannya hanya pembersihan kandang di waktu tertentu saja. Kecuali saat musim penyakit yang mengakibatkan ayam-ayam mati mendadak itu. Maka penyemprotan dengan pestisida pun dilakukan. Di kampung kami, penyakit itu disebut penyakit dodolog. Kalau di tempatmu disebut apa?

Sementara untuk pakan, sekam yang dicampur nasi atau beras saja pun sudah bisa mereka habiskan. Karena memang dibiarkan liar, maka ayam-ayam itu bisa mengurus dirinya sendiri saat kokoreh di belakang rumah yang terdapat pabrik penggilingan beras itu.

Nah, kalau kamu ingin beternak ayam kampung dengan serius, kamu bisa memulainya dengan persiapan kandang yang memadai. Kamu bisa memilih kandang sistem ren, kandang postal atau kandang baterai.

Kandang Sistem Ren dimana kandang dibagi dua bagian menjadi area pengumbaran dan area berteduh. Biasanya, luas area pengumbaran ini dibuat 2/3 dari luas kandang. Sisanya dibuat area berteduh.

Kandang Postal ini adalah jenis kandang yang sering dipakai oleh kandang ayam potong atau pedaging. Jika memang ayam kampung yang akan kamu pelihara itu diorientasikan menjadi ayam potong atau pedaging. Model ini memiliki dua jenis yaitu postal litter dan postal panggung. Postal litter alasnya tanah liat yang dilapisi sekam dan kapur. Fungsi dari alas ini adalah untuk menampung kotoran sedangkan kapur untuk mencegah penyakit. Sedangkan postal panggung, kandangnya dibuat dengan ketinggian sekitar 2 meter dari tanah. Fungsinya agar ayam tidak bersentuhan langsung dengan kotoran di bawahnya.

Kandang baterai ini adalah kandang yang dipakai untuk peternak ayam petelur. Biasanya dibuat bertingkat 3-4 lantai. Dimana dalam satu kotak persegi ditempatkan satu ayam. Sedangkan untuk lantainya dibuat miring ke depan. Dengan lantainya yang miring itu, telur akan menggelinding hingga tidak terinjak si induknya. Lantainya juga terbuat dari bambu yang disusun dengan jarak 1-2 cm agar kotoran bebas jatuh ke tanah atau alas yang sudah disiapkan di bawahnya.

Selain persiapan kandang, untuk perawatan dan pembesarannya kamu bisa menyiapkan pakan ternak yang berkualitas beserta obat-obatan alami atau kimia. Untuk menekan biaya produksi, kamu bisa memilih pakan alami yaitu dedak yang dicampur sayuran seperti daun pepaya atau daun lamtoro yang biasanya dipakai para peternak karena kandungan nutrisinya dan zat lainnya dapat berguna untuk pertumbuhan ayam. Campuran pakan ini bisa kamu berikan saat ayam berusia 2-3 bulan ke atas. Sedangkan untuk ayam yang berusia 1-21 hari, kamu bisa menggunakan pakan pabrikan.

Untuk penjualan, kamu bisa menawarkannya pada para pengusaha rumah makan. Atau kamu juga bisa menjualnya langsung di pasar. Meskipun memang, cara kedua ini agak kurang menguntungkan.

Kembali lagi ke ayam di halaman belakang rumah kami, mamah yang mengurus dan merawatnya. Meskipun mamah sudah lama tidak memakan daging-dagingan. Sementara bapa dan saya adalah predatornya. Saya jahat. Maafkan saya, ayam. Lain waktu saya buatkan kandang. 😁
  • 0 Comments


Kamis pagi, (23/4/2020) sudah diriuhkan suara ayam. Pagi lainnya pun begitu. Ayam-ayam peliharaan mamah itu semakin banyak saja menghuni halaman belakang rumah kami.

Di halaman belakang itulah, mamah dan bapa mengobrol sembari memetik jamur-jamur yang tumbuh di batang mangga yang sudah lama ditebang. Batang pohon itu sempat meneduhkan halaman depan rumah kami dan buahnya pun selalu membuat saya ketagihan. Tapi karena akarnya merusak pagar, akhirnya pohon itu ditebang.

"Jamur apa itu, mah?" Tanya saya sembari menghampiri mamah dan bapa.
"Jamur mireug," katanya.

Secara bergantian, mamah dan bapa bercerita mengenai jamur mireug. Katanya, duly di rumah mbah Pandeglang banyak sekali didapatkannya. Mamah juga tidak mau kalah, mamang kami pernah membawa pulang banyak sekali jamur mireug.

Jamur yang habitatnya di batang pohon yang hampir membusuk itu memiliki tudung yang kecil, sekilas tidak tampak bisa dimakan. Tapi rupanya bisa dimakan juga. Pengetahuan ini berguna untuk survival. Pikir saya.

Panci kecil di tangan mamah sudah hampir penuh terisi, bapa sudah pergi ke halaman depan sementara saya dan mamah beriringan masuk ke dapur. Mamah mencuci jamur itu hingga bersih untuk kemudian direndam.
Proses perendamannya memakan waktu setengah hari. Kata mamah, kalau akan dibuat olahan bacem, setelah setengah hari, jamur harus dicampur nasi dan bumbu bawang merah, garam, cabai merah dan penyedap rasa, lalu didiamkan lagi hingga tiba waktunya memasak di sore hari atau malam hari. Proses mendiamkannya ini tergantung tingkat keasaman yang ingin didapatkan dari si bacem. Jika terlalu lama, tentu akan sangat asam. Jadi, prakirakan saja kapan adonan itu akan dimasak.

Cara memasaknya sih mudah. Setelah dicampur nasi dan bumbu-bumbu itu, bungkus olahan itu dengan daun. Takaran perbungkusannya tergantung selera saja. Mau dua sendok lalu dibungkus, atau bahkan mau langsung dibungkua semua pun tak jadi soal. Setelah proses pembungkusan, jamur-jamur yang sudah dibacem itu masukan ke panci kukusan. Kukus hingga matang dan bacem siap dihabiskan.

Eiy, yang mamah olah ini mah saya yang menghabiskannya. Jangan sedih, ya. Hihi.


  • 0 Comments
Older Posts Home

Where we are now

o

About me

a


@NYIMASK

"Selamat datang dan selamat membaca. Semoga kita semua selalu sehat, berbahagia, dan berkelimpahan rezeki dari arah mana saja.”


Follow Us

  • bloglovin
  • pinterest
  • instagram
  • facebook
  • Instagram

recent posts

Labels

#dirumahaja #tukarcerita Artikel Catatan Perjalanan Celoteh Cerpen E-Book Esai Info Lomba Journey Jurnal Kamar Penulis Lowongan Kerja Naskah Poject Promo Puisi Slider Undangan

instagram

PT. iBhumi Jagat Nuswantara | Template Created By :Blogger Templates | ThemeXpose . All Rights Reserved.

Back to top