Di Tamansari, Bulan Seperti Sepotong Semangka

 
Doc. @al_anyudi.

Setelah banyak 'hayu' yang tidak bisa direalisasikan karena ketidaktepatan waktu, akhirnya bisa dilakukan juga. Adalah kawan saya, Al-Anyudi yang mengajak saya untuk ikut kemping sembari silaturahmi dengan kawan-kawan dekatnya, para pendaki dan pecinta alam di Banten. Meskipun tidak seluruhnya diundang, tapi bumi perkemahan Tamansari, Mandalawangi, Pandeglang di hari Sabtu (7 November 2020) itu pun ramai sekali.

Awalnya, saya kira ajakannya untuk kemping bersama itu tidak jadi dilakukan. Karena sampai dzuhur, tidak ada kabar darinya. Tapi ketika saya melihat ia mengupdate status whatsappnya, ternyata jadi. Karena itu, saya buru-buru menghubunginya dan bertanya apakah ada tebengan untuk saya? Karena di sisi lain, saya pun sedang ingin tiduran di rumput. Dan dia menjawab ada beberapa kendaraan yang kosong dan mereka sebentar lagi melintas di area Banten Girang. Karena itu, saya segera mandi (alakadarnya), menyiapkan beberapa pakaian dan memintanya untuk menjemput ke kostan saya.

Persiapan singkat itu membawa saya bertemu dengan orang baru, teman baru dan itu selalu menjadi sesuatu yang saya hargai dan nikmati di antara rasa malu yang terkadang ada di dalam saya. Hanya saja, saya membebaskan diri dari penilaian-penilaian apapun yang biasanya ada di first impression seseorang atas diri orang lain. Terserah mereka menganggap saya seperti apa, yang penting saya tetap menganggap mereka adalah orang-orang yang memiliki jiwa yang baik, yang mencintai alam ini dengan sepenuh hati mereka.

Perjalanan menuju tempat yang dulu sering saya datangi ini, sedikit terhambat. Langit sudah tampak mendung dan saat melewati Ciomas, ada hujan poyan atau hujan "ngajuru maung" dan gerimis-gerimis lucu yang mulai membuat rambut sedikit basah. Tapi kami tidak berhenti untuk sekadar berteduh. Basah sih tidak, karena setelah melewatinya, kamu menemukan tempat yang tidak gerimis. Bahkan saat tiba di pertigaan Mandalawangi pun, tanah tidak basah sama sekali. Di sanalah, kami bertiga menunggu mereka yang tertinggal di belakang, sekaligus menunggu kawan baiknya dari Picung. Setelah lama menunggu, akhirnya diputuskan untuk menunggu sembari membeli buah-buahan di Pasar Pari.

Semangka dan melon sudah di tangan, kawannya belum juga datang. Karena itu, kami berhenti lagi di belokan menuju Kp. Cikoneng. Langit sudah gelap, kilat menyambar lebih dekat dan sangat dekat. "Ya Allah, aku sieun..." gumam saya sembari menyisi ke dekat warung. Sementara Al-Anyudi dan saudaranya tetap menunggu di motornya hingga kawan baik ituu datang dan kami beriringan menuju Bumi Perkemahan Tamansari. Jalan yang baru diaspal itu hanya sepotong saja, tidak sampai ke sisi Bumi Perkemahan itu. Batu-batu besar muncul dari tanah, dan itu menyeramkan untuk dilewati.

"Lho, emang kemarin ada hujan merah? Atau longsor?" Tanya saya ketika mata saya melihat noda merah seperti tanah di dedaunan di blok itu. Tapi saya tidak melihat bekas longsoran atau apapun yang bisa menggenangi pepohonan setinggi itu. "Ada apa, ya? Kok seram...," gumam saya lagi. Al-Anyudi tidak menjawab celotehan saya, sebab dia sedang fokus menyetir kendaraannya di jalan terjal milik Perhutani itu.

"Mungkin hama?" Jawab Al-Anyudi ketika ia sudah melewati turunan terjal dekat pohon besar itu.

"Masa sih? Kok hanya di daerah ini aja?" Saya terus berceloteh hingga di hadapan kami, ada satu tanjakan terjal lagi yang harus dilewati sebelum memasuki tanah lapang itu. Jeritan kengerian saya pun mulai terdengar. Seram sekali melewati jalan itu, lebih seram dari jalan ke rumah yang sama seperti itu tapi tidak seseram itu juga.

Di sisi lapangan di bagian atas itu, sudah ada dua tenda yang berdiri. Ada dua orang lelaki di sana. Mereka teman baiknya Al Anyudi. Bersalaman, berkenalan, ngobrol sembari beristirahat menjadi moment lainnya di samping menunggu tenda yang dibawa kawan di belakang itu datang.

Mengenal orang-orang di luar diri saya, selalu menjadi sesuatu untuk saya. Mereka memiliki sifat dan karakternya masing-masing dan saya hanya harus memperhatikan serta menerimanya saja sebagai bagian dari penghargaan atas pertemuan kami. Saya bersyukur bisa mengikuti acara silaturahmi ini dan mengenal mereka dalam waktu kurang dari 24 jam. Tidak ada ekspektasi untuk melakukan perjalanan jauh bersama, mungkin nanti akan terjadi juga jika semesta mengizinkan.

Hanya saja, saat tiduran di rerumputan itu, saya berdoa semoga perjalanan apapun yang nanti saya lakukan dan mereka lakukan, tetap berada dalam kebaikan dan untuk kebaikan saja. Kebaikan untuk diri saya, untuk diri mereka dan lebih bagus lagi bila bisa menjadi kebaikan komunal. Dan tentu saja, kebaikan untuk alam juga.

Sementara Al-Anyudi berbelanja, saya masih meneruskan tiduran sembari ngobrol bersama teman-teman baru. Obrolan standar untuk mereka yang baru berkenalan. Menjelang maghrib, Al-Anyudi datang diiringi kawan-kawan yang tadi ketinggalan di belakang. Ada sayuran segar yang dibawanya dan mereka pun segera membuka tenda. Tenda baru yang besar dan berat itu dipasang. Saya menempati salah satunya bersama Viona.

Waktunya memasak tiba. Saya yang tidak begitu pandai memasak, hanya menawarkan diri untuk bagian potong memotong saja yang sepertinya saya cukup bisa melakukannya. Tapi, gerimis datang lagi. Kilat dan gluduk terus terdengar. Kawan-kawan lelaki mulai memasang flysheet di atas kepala kami yang sudah enggan pindah.

*

Di langit pada dini hari, bulan seperti sepotong semangka. Sepotong lagi entah siapa yang menyimpannya. Dan sepertinya, hal-hal yang tadinya saya khawatirkan sebelumnya, tidak terjadi. Padahal, saya sudah membuat skenario apabila hal itu terjadi. Hahaha. Maafkan saya, karena sudah berpikir begitu lucu. Skenario cadangan ini juga saya ceritakan pada Al-Anyudi dan kedua kawan baiknya. Syukurlah skenario cadangan ini tidak harus saya pakai. Karena itu juga akan memberatkan saya dan aktor yang terlibat dalam skenario itu nantinya. Kami tertawa, menertawakan kebodohan itu. Saya benar-benar merasa bodoh. Bagaimana bisa saya memikirkannya? 

Tentu, bukan karena ingin melarikan diri, marah atau benci sama orang lain. Tapi karena malas, malas membiarkan diri saya terhubung dengan orang-orang manipulatif yang tidak pernah menghargai orang lain.

Dan prakiraan apapun yang terdengar dan tampak, seperti biasa, tidak akan mendapat tempat terluas dalam pikiran saya. Kumaha Gusti Alloh saja. Dan saya dengan tangan terbuka menerima hal-hal baik yang akan terjadi di hari ini dan esok.



A poem

SORE DI TAMANSARI


selalu saja,

ada 'hujan poyan'

petir menyambar, menggelegar, mematikan

: di jauh, dua orang mati tersambar!


dan gerimis,

masih serupa tangisan ibu di pundakku

: utara terus memanggilku, bu.

bolehkah aku menemuinya?

(Tamansari, November 2020)


Terima kasih sudah mengajak, Al-Anyudi. Jangan kapok, ya cu. Salam kenal untuk teman-teman baru. Panjang umur, para pencinta alam!

You Might Also Like

0 Comments