utherakalimaya.com

  • Home
  • Features
  • _ARTIKEL
  • _CATATAN
  • _UNDANGAN
  • DOKUMENTASI
  • contact



: Catatan Ngopi Dipit 1

Oleh Uthera Kalimaya


Seorang pernah berkata pada saya; “mencicipi varian kopi itu lebih nikmat bila ada seseorang di ujung meja.” Sebelumnya, ia berkata bahwa ia sering melihat saya sibuk dengan buku atau gadget. Ia tidak pernah melihat saya datang ke kedai kopi itu bersama seseorang.  Beberapa tahun lalu itu, keberadaan saya di kedai kopi memang tidak lain hanya untuk mengerjakan tugas kuliah dan menulis dan menumpang browsing. Karena itu, saya selalu mencari kedai kopi ber-wifi (bukan ber-wife) gratis dengan meja yang bisa saya jajah sendirian. Kopi hanya sebagai alasan agar saya tidak segera diusir oleh pemilik kedai. Tapi, kehadiran orang itu dengan isi obrolan yang saya taksir tidak mendekati pada ‘modus’ lelaki, membuat saya kemudian membalikkan tujuan kedatangan saya di kedai kopi. Dari awalnya cuma mencari wifi gratis, berganti menjadi mencari kopi sembari mengerjakan tugas atau pekerjaan dan obrolan mencerdaskan yang gratis.
Memang, isi obrolan saya dan kawan baru itu mungkin tidak seberisi obrolan Jean-Paul Sartre, Ernest Hemingway, Voltaire, Betold Brecht dan tokoh-tokoh lainnya yang menjadikan kedai kopi selain menjadi tempat menulis, juga sarana interaksi sosial dan intelektual. Saat itu, saya dan kawan baru itu hanya membicarakan tugas yang sedang saya kerjakan dan perihal keseharian saja. Tapi memang benar, keberadaan seseorang di ujung meja bisa menambah kenikmatan lain pada setiap cangkir kopi yang saya pesan. Kenikmatan itulah yang membuat saya memutuskan untuk menyukai kopi dibandingkan minuman lainnya.
Kemunculan kedai-kedai kopi di Serang saat ini, sudah seperti uban di kepala. Banyak. Masing-masing dari kedai itu menawarkan berbagai fasilitas yang modern. Mulai dari kopi dan menu lainnya, hingga tempat yang cozy dan instagramable (baca: layak dijadikan tempat selfie). Hingga tidak heran bila pada akhirnya istilah ‘ngopi cantik’ (dipakai oleh gerombolan gadis muda dan mama-mama muda) dan ‘ngopi ganteng’ (dipakai oleh gerombolan lelaki muda dan papa-papa muda) pun marak didengungkan oleh kaum muda di Serang. Meskipun mereka tidak menyukai kopi dan pesanan mereka pun tidak fure kopi. Bagi para pemilik kedai, tentu saja itu merupakan potensi yang besar bagi kelangsungan bisnis mereka.
Potensi itu pula yang dilirik para pecinta kopi dan peracik yang menyebut diri sebagai ‘Pendekar Hitam’. Mereka pun tidak kalah dengan mengeluarkan istilah ‘ngopi jujur’. Ngopi yang tidak sekadar ngopi, tetapi sembari berdiskusi. Karena itulah, pada Sabtu (30/4/2016), para pecinta dan peracik kopi berkumpul di Padepokan Kupi dalam acara Ngopi Dipit.
Acara diskusi yang berlangsung mulai dari pukul 20:00 WIB itu, menyuguhkan pemaparan Ebot Feng, penyedia (atau supplier) kios kopi TSJ Serang, Agan K. Fridayanto yang menjadi pengusaha kopi dengan brand Stubruks Coffee, dan Syahid Hurriyatna peracik muda. Selain itu, para pemilik kedai kopi di Serang, seperti Marlan Rainhard dari Rumah Kopi, Imam Munandar dari Grounded Coffee dan lainnya, turut hadir untuk membincangkan kopi sekaligus workshop itu. Tampak hadir pula Ali Soero, Andi Suhud, Atif Natadisastra, Niduparas Erlang, Nuril Aswanto, dan para penikmat kopi lainnya, seperti yang disebut sebagai ‘pemburu tahrim’—penikmat kopi yang suka berlama-lama nongkrong dan berdiskusi apa saja di kedai kopi hingga dini hari.
Diskusi “Ngopi Dipit” itu dibuka oleh pemaparan Ebot Feng. Selain menceritakan sejarah, ketersediaan varian origin coffee di kiosnya dan konsep sederhana yang diusung kios kopi TSJ di Serang, pemegang tongkat kedua (generasi kedua) itu mengatakan bila kultur masyarakat penikmat kopi di Serang didominasi oleh penikmat kopi jenis robusta. Sedangkan kopi jenis arabika baru diminati ketika kedai-kedai kopi mulai bermunculan. Menurut Ebot, kopi memiliki sifat tidak konsisten, penuh misteri dan energi, akan sulit mendapatkan rasa yang sama persis dari penyeduhannya. Satu-satunya cara untuk dapat mengetahuinya, hanyalah dengan menikmatinya. “Lu nggak akan pernah tahu nikmatnya kopi, kalau lu nggak mau nyoba,” ujar Ebot.
 Sementara itu, pemilik brand Stubruks Coffee, Agan K. Fridayanto bercerita perihal keberhasilannya dalam menyaingi kedai-kedai kopi modern melalui kedai kopi pinggir jalan. Aroma origin coffee asli nusantara seperti Gayo, Aceh, Toraja, Wamena, Bali, dan varian kopi arabika lainnya pun pernah menyemerbak di Alun-alun Serang, kemudian berpindah ke Jl. Veteran. Ia bergerilya mengenalkan kopi berkualitas dengan harga yang terjangkau dan dengan cara seduhan kopi tubruk yang telah mendarah daging di Banten.
Lain Ebot dan Agan, lain pula Syahid. Pemuda berambut keriting itu mengaku baru  mengenal kopi di rumah temannya di Bandung. Cara meracik kopi yang ribet (manual brewing) itu—mulai dari menggiling biji kopi sendiri, memanaskan air dengan suhu yang diatur (92-95 °C), menyaringnya dengan filter dan lainnya—sukses menarik perhatiannya. Apalagi saat kopi telah terhidang dan ia menemukan rasa cokelat dari kopi Eithopia itu. Dari semenjak itu ia mulai bergerilya belajar meracik kopi dari satu warung kopi ke warung kopi lain. Menurutnya, barista (peracik kopi) yang baik itu tidak pelit membagi pengetahuan tentang kopi. Baik itu barista yang sudah pernah bersekolah maupun para roaster (penyangrai kopi).
“Karena kopi itu energi. Energi tidak akan habis kecuali kiamat. Itulah kenapa kopi tidak konsisten, karena banyak sekali hal-hal yang memengaruhinya. Mulai dari suhu airnya, kebersihan tempatnya dan banyak hal lainnya. Karena kembali lagi ke sifat kopi, yaitu bisa meresap aroma apa pun yang ada di sekitarnya. Kalau berhubungan dengan kopi itu sih, asal kita tahu kopi itu apa dan kopi itu untuk apa,” terangnya.
Pemilik Padepokan Kupi yang malam itu didaulat menjadi moderator, Koelit Ketjil (Aliyth Prakarsa) pun tak mau kalah melontarkan pertanyaan; kenapa rasa kopi bisa berbeda ketika diseduh dengan menggunakan cara berbeda?
Syahid mencontohkan dengan penggunaan dua alat filter seperti produk Melita dan Kalita. Meskipun keduanya seperti kembar—salah satunya tiruan dari yang lain, keduanya memiliki perbedaan. Alat filter kopi Melita yang dilahirkan oleh ibu rumah tangga berkebangsaan Jerman bernama Melitta Benz itu memiliki satu lubang kecil. Format satu lubang itu menyebabkan kopi terendam sedikit lebih lama, sebelum akhirnya mengucur ke bagian server di bawahnya. Sementara filter Kalita yang hadir setelah keberadaan Melita itu memiliki tiga lubang pada dasar alat tetesnya (flat dripper). Konsep Kalita lebih pada perendaman (immersion) dan perembesan (permeation). Tiga lubang itu untuk melancarkan proses penetesan dan mencegah over ekstraksi kopi yang diseduh.
Selain ketiga pembicara itu, moderator pun menyilakan pemilik kedai kopi dan para penikmat kopi lainnya untuk turut berbicara. Pemilik Grounded Coffee, Imam Munandar bercerita perihal muasal nama kedainya itu yang diakuinya berhubungan dengan pekerjaan sebelumnya di bidang travel. Selain itu, ketersediaan menu di kedainya pun turut ia bicarakan selain tentu saja undangan mampir pada para penikmat kopi. Sedangkan pemilik Rumah kopi, Marlan Rainhard, mengawali pembicaraannya dengan mengatakan bahwa acara mengumpulkan pecinta kopi malam itu merupakan momemtum yang tidak bisa ia ciptakan. Sebelum akhirnya ia bercerita perihal kehadiran Rumah Kopi sebagai pelopor kedai kopi di Serang. Kehadiran kedai kopi yang didirikannya itu ia sebut sebagai suatu kegilaan. Sebab pada tahun 2010 itu, di Serang sulit mencari kedai kopi yang serius. Reinhard juga berbagi tips sebelum berkecimpung dalam bisnis kopi, yaitu memiliki visi dan misi dan terus menggali kreativitas dengan menciptakan menu baru yang dijadikan identitas kedai kopinya.
Sementara itu, Ali Soero pun mengaku bila pembicaraan mengenai kopi ini sangat menarik. Selain karena budaya ngopi di Banten yang sudah sangat kental, juga karena kopi menyatukan perbedaan-perbedaan. “Budaya ngopi di Banten itu sangat kental. Ke mana pun kita pergi, pasti akan ada saja yang meminta mampir dengan mengatakan ‘woy ngopi’. Apalagi dalam pergerakan (baca: organisasi), kopi itu sangat dekat sekali,” ujarnya. Ali Soero juga berharap bila di lain waktu diadakan festival kopi sebagai ajang silaturahmi pemerintah, para petani, pegiat atau pemilik kedai kopi dan para pecinta kopi di Banten.
Selain diskusi tentang kopi, acara kumpul bersama para peracik dan pecinta kopi itu juga mengadakan donasi kopi untuk para ‘Fakir Kopi’. Gerakan berbagi kopi varian nusantara yang awalnya untuk mencegah para pemuda kekurangan kopi itu, kini berkembang menjadi gerakan berbagi kopi langsung ke jalanan. Entah itu petugas kebersihan, satpam, pemulung, penjaga palang pintu kereta, tukang parkir dan lain-lain.


Apa Kabar Kopi di Tanah Banten?


Dari seluruh varian kopi asli nusantara yang pernah saya cicipi di kedai-kedai kopi, saya belum pernah menemukan kopi Banten sebagai salah satu menunya. Saat ditanyakan pun, sebagian besar peracik kopi—bahkan penyedia kopi, tidak mengetahuinya. Kopi yang tersedia di Serang saat ini didominasi kopi dari luar daerah, sementara kopi asli tanah Banten seperti menghilang di pasaran. Padahal sewaktu kecil dulu, ende (baca: nenek) saya sering mengolah kopi yang diambil dari belakang rumah, hingga kemudian bisa kami nikmati di beranda. Pengalaman masa kecil seperti itu pun pernah dirasakan oleh kawan-kawan lainnya. Mulai dari pengalaman mencicipi, hingga disuruh memungut kopi dan menjualnya untuk uang jajan.

Ingatan itu kemudian membawa saya pada permainan ‘dulu’ dan ‘kini’. Melirik jauh ke tahun 1696 ketika Wali Kota Amsterdam, Nicholas Witsen, memerintahkan Adrian Van Ommen untuk membawa biji kopi ke Batavia. Kopi arabika saat itu mulai ditanam di timur Jatinegara dan menggunakan tanah pertikelir Kedaung (kini dikenal Pondok Kopi), kemudian menyebar ke berbagai daerah dan Banten merupakan salah daerah yang dibidik menjadi perkebunan kopi. Tidak lama setelah itu, kopi menjadi komoditi dagang yang menjadi andalan VOC dan menjadikan kopi Jawa atau dikenal secangkir Jawa (bukan secangkir kopi), menjadi minuman terenak di Eropa dan dunia hingga abad ke-19.

Demi mendukung stok kopi di pasar Eropa, VOC membuat perjanjian Koffieselsel (sistem kopi) dengan para penguasa daerah. Perjanjian itu dilanjutkan dengan dengan cultuurstelsel (sistem tanam paksa) yang diciptakan Johanness van den Bosch (1780-1844). Saat itu rakyat diwajibkan menanam komoditi ekspor milik pemerintah, salah satunya kopi, pada seperlima luas tanah yang digarap, atau bekerja 66 hari di perkebunan-perkebunan milik pemerintah. Akibatnya, kelaparan di tanah Jawa dan Sumatera terjadi pada 1840-an.

Tanam paksa ini pula yang menjadi isu yang ditulis Multatuli dalam novelnya Max Havelaar. Melalui tokoh Batavus Drooggstoppel, si makelar kopi yang tinggal di Lauriergracht No. 37 Amsterdam. Diceritakan bila saat itu, Drooggstoppel ingin menulis tentang sebuah buku mengenai kopi. Buku yang penuh kebenaran, bukan kebohongan. Pertemuannya dengan teman lama, Sjaalman yang digambarkan sedang kusut, merupakan jalannya untuk meluluskan keinginannya itu. Drooggstoppel pun menerima paket surat dan dokumen—salah satunya berisi dokumen tentang kopi (Mengenai Harga Kopi Jawa). Dari data itu, Droggstoppel kemudian meminta Ernest Stern (pemuda Jerman) menuliskan buku tentang kopi dengan bahan-bahan dari Sjaalman dengan judul “Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda”.

Tokoh Max Havelaar pun dimunculkan Stern, dan Banten Selatan (baca: Lebak) menjadi tempat tugasnya sebagai Asisten Residen yang baru. Havelaar digambarkan sebagai pemimpin yang pro rakyat pribumi, sementara kesewenang-wenangan itu dilakukan oleh para bupati dan kepala daerah rendahan yang nota bene berasal dari penduduk pribumi. Namun, Drooggstoppel mengharapkan cerita yang berkaitan dengan kopi, bukan cerita kemiskinan dan penindasan yang terjadi pada rakyat Lebak.

Saat itu, Stern menjawab: “Tenanglah, banyak jalan menuju Roma, tunggulah sampai akhir pendahuluan. Aku berjanji semuanya akan tiba pada kopi. Kopi, kopi, dan tidak ada yang lain, kecuali kopi.” “Ingatlah Horatius,” lanjut Stern, “bukankah dia berkata, “Omne tulit punctum qui miscuit”—Kopi dengan sesuatu yang lain? Dan, bukankah kau bertindak dengan cara yang sama ketika memasukkan gula dan susu ke dalam cangkir?” (hlm. 184)

Tapi saya tidak sedang mendukung Anda menjadi seorang Droggstoppel, atau menjadi Tuan Slijmering, atau menjadi Gubernur Jenderal Belanda yang tidak menanggapi permohonan audiensi Havelaar dalam kisahan Multatuli itu. Sekarang, mari kita intip saja data perkebunan kopi di Banten.

Dalam berita yang saya kutip dari talitarahmagina.blogspot.co.id (host-nya kontakbanten.com), Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Provinsi Banten mencatat bila pada tahun 2015 Banten memiliki lahan perkebunan kopi seluas 6.685 hektare yang tersebar di Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, Kota Cilegon, dan Kota Serang. Wilayah utama pertanaman berada di Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandeglang, tepatnya di wilayah kaki Gunung Pulosari dan Gunung Karang. Pada data hasil produksi tahun 2015, tercatat sebanyak 2.607 ton dengan luas tanam 6.737 hektare yang tersebar di Kabupaten Lebak (520 ton), Kabupaten Pandeglang (839 ton), Kabupaten Serang (1.214 ton), Kota Cilegon (25 ton) dan Kota Serang (8 ton).

 Badan Pusat Statistik Provinsi Banten pada tahun 2009-2014 merilis data dengan rincian sebagai berikut: tahun 2014 tercatat menghasilkan produksi kopi sebanyak 2.524 ton, tahun 2013 hasil produksi menghasilkan 2.607, 61 ton, tahun 2012 produksi kopi menghasilkan 2.525,32 ton, tahun 2011 menghasilkan 2.239 ton, tahun 2010 menghasilkan 2.216 ton, dan tahun 2009 menghasilkan 2.216 ton.

Sementara data dari Statistik Perkebunan Indonesia Komoditas Kopi 2013–2015 yang dikeluarkan Kementerian Pertanian, Direktorat Jenderal Perkebunan, mencatat perkebunan kopi di Banten memiliki luas 6.737 hektare dengan hasil produksi sebanyak 2.608 ton/tahun 2013. Pada tahun 2014, luas perkebunan kopi di Banten berada di angka 6.934 hektare dengan hasil produksi sebanyak 2.553 ton. Sedangkan pada tahun 2015 hasil produksi kopi di Banten berada di angka 2.592 ton.

Dari data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik Provinsi Banten itu bisa kita lihat, bahwa produksi kopi di Banten mengalami kuantitas yang naik turun. Pada tahun 2013, produksi kopi di Banten cukup tinggi dibandingkan tahun-tahun lainnya. Pada tahun 2009 dan 2010 hasil produksi kopi berada di angka yang sama. Tahun 2011 grafik produksi mengalami kenaikan sebesar 23 ton. Tahun 2012 mengalami kenaikan yang cukup signifikan dari sebesar 289,32 ton, dan tahun 2013 mengalami kenaikan kembali sebesar 82,29 ton. Sedangkan pada tahun 2014, produksi kembali mengalami penurunan sebanyak 83,61 ton.

Penurunan hasil produksi itu disinyalir akibat kurangnya perhatian pengelola kebun. Masyarakat menganggap, perkebunan kopi hanya sebagai sampingan selain sektor pertanian. Sebab, produk kopi lokal tidak akan mampu bersaing dengan kopi kemasan yang beredar di pasaran sehingga mereka tidak pernah melakukan maintenance pada tanaman kopi di kebun mereka. Lamanya pertumbuhan kopi ke masa panen juga membuat para petani enggan melakukan regenerasi atau penanaman kembali. Hingga pada akhirnya sampai pada anggapan, kopi hanyalah menjadi tanaman di kebun yang bisa mereka panen dan konsumsi sendiri saja.

Meskipun, memang, Pemerintah Provinsi Banten dalam hal ini Dishutbun Banten pernah mengklaim telah melakukan imbauan agar para petani mengembangkan perkebunan kopi. Tapi, imbauan tanpa turun langsung ke lapangan untuk melakukan penyuluhan atau workshop di lapangan (baca: lahan perkebunan kopi atau di tengah masyarakat, bukan di hotel), baik pembibitan maupun perawatan itu ibarat minum kopi robusta tanpa gula setelah patah hati berkali-kali. Pahitnya sampai ke ulu hati para petani.

Padahal, seluruh dunia—termasuk kumpeni—tahu, bila Banten memiliki karakteristik dataran yang mumpuni untuk ditanami kedua jenis kopi, yaitu robusta yang memerlukan dataran 400-700 m.dpl., dan arabika yang memerlukan ketinggian 700-1500 m.dpl. Selain itu,  harga komoditas kopi di pasaran pun sangat baik. Kopi robusta Rp20-25ribu/kg dan kopi arabika harganya jauh lebih tinggi lagi. Karena itulah, keliru kiranya bila masih menganggap kopi sebagai komoditas perkebunan yang tidak menguntungkan. Apalagi bila mengingat para penikmat cairan hitam yang misterius itu tidak pernah menyusut, bahkan terus bertambah.

Maka tidak heran bila permasalahan lainnya yang muncul adalah stok kopi lokal ini tidak terdeteksi di pasar lokal Banten. Tidak heran pula bila pada akhirnya banyak pihak, khususnya para pecinta kopi, meragukan data statistik yang membingungkan itu. Saking bingungnya, saya enggan mencari tangan siapa yang melakukan kesalahan pengetikan (typo) dan siapa yang memunculkan dan menyembunyikan angka. Tangan saya, Anda, atau siapa?

Saya jadi curiga pada secangkir kopi di meja itu; sebenarnya kopi ini dari tanah mana? Ini kopi siapa? [*] 


  *** Catatan ini dimuat di Tabloid Menara Banten, edisi 5.

  • 0 Comments
 
Ilustrasi: matamaduranews.com/





*Apresiasi Buku Bahasa Cabe-cabean karya Encep Abdullah


Beberapa tahun lalu, netizen diramaikan produk cabe-cabean. Wartawan dan orang-orang bahasa pada akhirnya kecipratan pekerjaan. Jika menyoal bahasa yang menyangkut urusan perut seperti ini, kawan saya, Encep Abdullah, tidak mau tertinggal. Ia tidak mau menerima begitu saja istilah baru itu. Selain karena merasa sebagai jebolan Pendidikan Bahasa Indonesia yang kesehariannya mengajar bahasa, juga karena—saya menyakini ini—ia sedang membutuhkan uang untuk mentraktir pacarnya. Maka, ia pun menulis tulisan pendek yang ia kirimkan ke kolom bahasa di media massa. Brengseknya, tulisannya itu langsung dimuat. Begitu pula dengan tulisan-tulisannya yang lain. Entah dari hasil tangkapannya di lapangan ketika ia asyik membonceng pacarnya, dari hasil obrolannya dengan siswa, maupun dari hasil pertengkaran dengan orang tuanya. Betapa brengsek, bukan?
Mengusung nama Azka EA Abhipraya, ia terus mengulas persoalan bahasa ini hingga honornya naik. Meski kemudian ia memutuskan kembali pada nama asli, yaitu Encep Abdullah. Keputusan itu ia ambil atas dasar pemikiran; 1) ia sudah akan kawin, beranak dan berbahagia—mengutip puisi Tak Sepadan karya Chairil Anwar.; 2) Nama pena tidak berlaku di SK; 3) Tidak mau durhaka pada orangtua. Dalam hal ini, ia menerima konsekuensi honornya kembali ke honor penulis pemula, meskipun dengan sangat jengkel.
Dari tulisan-tulisan itulah, buku bertajuk Cabe-Cabean ini lahir. Meskipun dengan susah payah karena sempat menghadapi kenyataan ‘ditipu’ percetakan yang berimbas pada penundaan kelahiran, padahal saat itu pesta sudah dirayakan.
Buku ini mendapat Kata Pengantar serta dieditori langsung oleh “Polisi Bahasa” kami sewaktu di kampus, yaitu dosen pembunuh mood berbahasa generasi kekinian alias dosen pembimbing yang paling rajin mencoret seluruh isi skripsi alias mantan Ketua Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Untirta, Odien Rosidin. Saya yakin, saat mengeditori naskah buku ini pun, segala macam kembang bermekaran. Oleh karena itu, Anda tidak perlu mengkhawatirkan keberadaan kesalahan berbahasa di buku yang diterbitkan oleh Kubah Budaya ini.
Dalam Kata Pengantar, Odien memberikan pemaparan kasus berbahasa di media sosial yang diperkarakan secara hukum. Dari beberapa kasus itu, ia tarik kesimpulan bahwa kita tidak bisa bermain-main dengan urusan bahasa untuk sekadar mencari kesenangan demi meluapkan emosi. Meskipun, bahasa secara hakikat adalah lambang manasuka berupa nomenklatur yang disepakati sebagai alat penghubung. Tetapi, bahasa juga melekat dengan pikiran, nilai, norma, budaya, dan ideologi. Odien juga mengatakan bahwa urusan bahasa adalah urusan yang serius dan bukan perkara iseng ataupun candaan.
Sampai di paragraf itu, saya mulai deg-degan. Jangan-jangan setelah tulisan ini dihantarkan ke khalayak, saya akan disidang dosen yang memberi saya nilai C pada mata kuliah Linguistik itu. Bisa-bisa nilai itu ia ralat menjadi Z (zonk!). Oh, tidak! Lebih baik saya langsung kabur dan masuk pada isi Cabe-cabean.
Encep Abdullah ini berengsek. Alih-alih menghidangkan bahasa yang membuat deg-degan, serius seperti buku-buku rujukan mata kuliah, ia malah membahas persoalan bahasa yang menyebalkan itu dengan cara yang menyenangkan. Meskipun sadar atau tidak, sebenarnya pembaca sedang dibawa masuk ke dalam arena persidangan bahasa. Dalam hal ini, Encep Abdullah berhasil mengubah suasana yang sering membuat pembaca tertidur pulas, menjadi suasana pesta dansa yang memiliki 28 hidangan. yaitu: 1) Persoalan Aku dan Saya; (2 Bahasa Plang Jalan Tol; 3) Rokok Membunuhmu; 4) Cabe-cabean: Reduplikasi atau Akronim?; 5) Keberengsekan Vokal E dan I; 6) Fonem /H/antu; 7) Doktrin Bahasa Nenek Moyang; 8) Dinamika Slogan Para Caleg; 9) Mempercayai Pakai P?; 10) Woles Aja Keles; 11) Kata Ustaz; 12) Piala Dunia; 13) Ramadan; 14) Low Batt; 15) Telanjur Telentang; 16) Bahasa Nembak, Damai dan Korupsi; 17) Berteduh; 18) Begal; 19) Buang Air Harap Disiram!; 20) Bulan Bahasa di Mata Kita; 21) Pertamini; 22) Ok, Fix!; 23) Ngisi, Mengisi, dan Berisi; 24) Pedofil atau Paedofil; 25) Wakwaw; 26) Tunjuk Tangan; 27) Dirgahayu RI; 28) Lebaran.
Dari ke-28 hidangan itu, pembaca akan menemukan tawa, canda dan suasana keseharian yang tidak berjarak. Tidak terlalu serius dan sangat kekinian. Tapi, alam bawah sadar pembaca akan menerima rasa yang sama seperti saat membaca buku rujukan mata kuliah, buku how to dan buku-buku sejenisnya, yaitu kesadaran. Kesadaran yang dibalut keriangan inilah yang ditanak Encep Abdullah dalam ke-28 hidangan itu. Encep seperti tidak ingin mengikuti jejak para pendahulunya yang sering membuat suasana malas membaca itu begitu lekat. Begitu dekat dengan diri generasi masa kini yang mengaku sebagai pelajar, mahasiswa, guru, atau profesi lainnya.

Generasi Cabe Maksimal

Selain kerenyahan dan kekinian yang disuguhkan Encep, buku setebal 97 halaman ini juga seperti tantangan Encep kepada para generasi saat ini. Apalagi jika bukan untuk lebih memaksimalkan pengetahuan berbahasanya. Generasi yang mana? Tentu saja generasi yang sering dan suka mencampuradukan bahasa, sering menjawab soal UTS dan UAS dengan bahasa tutur, sering mengirim SMS dengan huruf BeSaR K3C1L mengganti saya menjadi saia atau aku menjadi aq atau kita menjadi qita, kalau menjadi kalo, mau menjadi mo dan lain-lain. Suka membuat singkatan seenak perut. Generasi Cabe-cabean.
Banyak pihak menduga jika kehadiran generasi ini akibat dari mahalnya harga Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Banyaknya orang yang meremehkan bahasa Indonesia. Banyaknya guru-guru keilmuan lain yang mengajarkan bahasa Indonesia kepada siswa. Selain itu, kemunculan kamus bahasa prokem atau bahasa gaul, menambah kekhawatiran jika bahasa Indonesia akan punah.
Tapi, alih-alih mengkhawatirkan kepunahan Bahasa Indonesia, Encep Abdullah malah mendukung keberadaan generasi ini. Dalam sesi diskusi, Encep berseloroh jika kehadiran generasi ini malah akan menambah kosakata Bahasa Indonesia. Hal itu akan berakibat pada ketebalan Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi selanjutanya. Hanya saja, menurut Encep, pengguna bahasa generasi ini kurang kreatif dan cenderung tidak konsisten. Selain tidak memiliki rumus sendiri, generasi ini cenderung sembrono dan tidak memiliki aturan penggunaan.
Oleh karena itu, apabila ingin menjadi generasi masa kini, jadilah “Generasi Cabe Maksimal”. Young Lex yang dikutip Encep dalam buku ini memberikan ciri Cabe-cabean itu: (1) pakai behel untuk bergaya, (2) segala sesuatu di-update dan memakai rok di atas perut, (6) cabe sering teriak cabe, (7) malam mingguan di pasar malam, (8) pacaran di fly over, (9) tidak terima keadaan, dan (10) berbaju ketat, bercelana pendek, naik motor. Maka, “Generasi Cabe Maksimal” lebih kepada memaksimalkan pergaulan dengan terlebih dahulu 1) mempelajari bahasa Indonesia dengan baik, 2) berkreativitas, 3) memahami rumus tata bahasa, 4) berkonsisten, dan 5) gemar membaca.
Kelima komponen dasar ini yang bisa membalikkan makna buruk yang selama ini dilekatkan pada istilah Cabe-cabean. Seterah (baca: terserah) mau nongkrong di mana, sama siapa, memakai pakaian seperti apa dan berwarna apa (cabe ijo, merah, oranye), asalkan bisa memaksimalkan dan menerapkan kelima komponen dasar itu, maka generasi ini akan terselamatkan sehingga isengers seperti Encep Abdullah ini tidak akan mendapat pekerjaan. Jika tidak, maka generasi ini hanya akan menjadi generasi ternak saja. Dan orang-orang seperti Encep yang iseng itu dengan senang hati memerah dan mengisi perutnya. Sementara ternak tidak mendapat apa pun. So, siap menjadi “Generasi Cabe Maksimal?” [*]


*Uthera Kalimaya, tukang ngopi dan pembaca yang bergiat di Kubah Budaya.
  • 0 Comments
     
     Kadang kalau sedang dalam keadaan 'genting' seperti siang ini (24 Oktober 2012), saya suka berpikir; betapa asyik jadi binatang yang tidak memiliki rasa malu, bisa kencing di mana saja, di depan betina atau jantan, di plang bertuliskan 'Dilarang Kencing Sembarangan Kecuali Binatang', di belakang gedung, atau di mana saja. Dan kamu pasti tahu betul bagaimana rasanya menahan pipis itu, bukan? Sakit di kantung kemih itu lebih sakit dari diselingkuhi pacar. Oke, pengandaian itu memang tidak masuk akal karena saya belum merasakan--atau mungkin sudah tapi saya tidak sadar. Tapi, apa pun itu, pokoknya sangat tidak nyaman.
      Di sisi lain, saya juga ingat film Korea berjudul Small Town Rivals yang beberapa waktu ditayangkan di teve Net. Plotnya silakan lihat di wikipedia saja, ya. Saya hanya akan menceritakan adegan saat Chun-Sam sedang memimpin unjuk rasa, tapi mendadak kebelet ke toilet. Dia lalu pergi ke gedung di tempat mereka unjuk rasa. Tapi, malangnya, saat hendak masuk ke toilet, ia bertemu dengan Dae-Gyu dan orang-orang yang sedang diprotesnya itu. Dae-Gyu dan orang-orangnya merasa perlu mengusir Chun-Sam, sementara Chun-Sam tentu saja perlu ke toilet. Dorong-dorangan pun terjadi, hingga akhirnya Chun-Sam tidak tahan lagi, dan buang air besar di celana, di hadapan mereka yang mendorongnya.
      Itu memang dua penggal kisah yang berbeda. Tapi intinya; betapa toilet diperlukan  oleh manusia, siapa pun dia, bagaimana pun keadaannya (ingin pipis atau buang air besar). Jadi, marilah kita langsung ke inti cerita saja. Begini ceritanya (gaya seorang kawan yang selalu memulai cerita dengan mimik serius dan selalu awal mula begitu). Siang itu saya buru-buru pergi ke kantin Untirta untuk bertemu dengan Dedod (panggilan sayang untuk Dhee Lintang Weungi) yang mengajak membuat kejutan di hari ulang tahun suaminya (Irwan Sofwan) yang jatuh di hari ini.
      Sampai di Kafe Ide, sudah banyak orang yang duduk-duduk di bawah pohon Mangga itu. Tentu mereka ada campuran, warga asli Kafe Ide, dan warga sekitar yang merasa di sana adalah tempat paling nyaman. Begitu pula saya. Ngobrol ke sana ke mari, mendengarkan, atau cuma termangu menatap ke arah orang-orang di kantin dengan segala makanan dan minuman di meja mereka sedang di hadapan cuma ada kopi. Saya menunggu Dedod di sana. Katanya ia sedang beribadah dulu, begitu jawaban SMS-nya. Tidak berapa lama--yah sekitar dua kali memutar lagu Melukis Wajah Tuhan, dua kali memutar Tidurlah Perempuanku, dan Candu Rindu bersama seorang kawan, Pita yang mengaku senang mendengar Musikalisasi Puisi grup Serenada itu. Tapi rencana membuat kejutan sepertinya agak meleset; kue tart belum dibeli, lilin tidak ada hanya ada obor (itu pun harus buat dulu). Dan akhirnya, kue tart gagal, hanya gorengan seharga 20ribu saja. Tapi, tentu saja apalah perayaan, atau kejutan dari orang-orang, bukan? Sebab hidup kita pun sudah sering memberikan kejutan-kejutan itu.
     Setelah beberapa lama, kantung kemih saya mulai mengajak ke toilet. Saya pamit sebentar menuju ke gedung PKM B. Saya tahu, toilet di lantai satu mampet, jadi saya langsung menuju lantai dua. Tapi, rupanya para pekerja sedang membetulkannya juga. Kembali ke lantai satu, toilet di sana sudah tertutup (ada orang di dalamnya), sementara di pintu ada tulisan dengan cat; Rusak!
     Saya langsung menuju ke gedung. Pikir saya, masa sih toilet di gedung rusak juga? Gedung B tujuan saya, dan dari pintu itu saya langsung berjalan ke sebelah kanan. Seorang perempuan yang usianya jauh di atas saya rupanya baru membuka pintu, dan membetulkan lengan baju di depan pintu. Jadilah saya menunggunya. E-eh, tapi dia keluar sembari menarik pintu dan menutupnya. Saya mengerutkan dahi, dan memberanikan diri bertanya; "Ini toilet khusus dosen, ya, bu?" Ia memandang saya sekilas, bergumam tidak jelas, mimiknya malas, tapi dia menganggukkan kepala. Saya berujar lagi. "Oh, kalau begitu, toilet khusus mahasiswa di sebelah mana, ya, bu?" Ia menatap saya lagi, mungkin menaksir 'apa saya mahasiswa kampus ini atau bukan'. Tapi mimik malas, dan ucapannya tidak jelasnya masih ada saat menunjuk dengan dagu ke ujung lorong lain yang tampak gelap. "Oh, terima kasih, ya, bu," ucap saya sebelum berjalan cepat-cepat ke lorong itu. Tapi, bukan toilet dengan bak penuh berisi air. Hanya pintu yang ditempeli tulisan; "WC Mampet". Saya langsung balik kanan, kembali ke tempat berkumpul. Mereka bertanya pada saya ketika saya datang dengan kikik geli 
    Entahlah, saya tidak tahu kenapa saya tertawa, hanya saja seperti ada yang menggelitik perut. Saya ingat film Korea itu, saya hafal mimiknya, mengingat apa yang dulu ia katakan, dan membayangkan bila saat ini saya berada di posisi pria itu. Akh! Apa yang terjadi kemudian? Malu di saya, mungkin. Tapi, rasanya pasti puas melihat wajah kaget dosen atau entah siapa dia yang berkantor di samping toilet itu. (Hihi)
      Hanya saja, bila saya review ke dahulu, permasalahan di kampus ini sepertinya tidak pernah move on dari permasalahan seputar fasilitas belajar; kursi-kursi, white board, AC, tempat parkir, tempat sampah, genset, dan tentu saja permasalahan toilet ini juga. Dahulu, beberapa pembicara di seminar yang diadakan organisasi di kampus ini sempat membicarakannya di forum; betapa toilet di sini aduhai. Ini sindiran yang mengandung tamparan keras sebetulnya, meskipun nadanya bercanda dan orang-orang yang mendengarnya tertawa. Tapi saking bebalnya, hal macam ini terus saja berulang dan berulang. Tentu saja posisi saya bukan pembicara itu, saya hanya seorang kekasih-yang-tidak-dianggap, itu saja. (Eh?)
      Dahulu, pernah saya bicara pada seorang pejabat rektorat yang kebetulan sidak ke PKM A. Saya mengeluhkan permasalahkan toilet ini; saluran air sering mampet, banjir, pintu rusak, dan lainnya. Ia mengatakan bahwa mahasiswanya kurang menjaga kebersihan. Sementara mahasiswa kemudian menyalahkan pekerja kebersihan yang bekerja di setiap gedung (termasuk PKM) tidak menyentuh toilet. Memang, siapa yang mau disalahkan masalah dalam toilet, sih? Mahasiswa yang memakai tidak merasa merusak, sementara pejabat tidak merasa memakai pun. Tapi, pihak mahasiswa memang kurang telaten juga dengan kebersihan toiletnya ini. Terlepas dari pemikiran 'ada yang membersihkan' itu. Tapi, kalau habis makan jengkol dan tidak menyiramnya dengan benar, kan, kepala situ juga yang harus dipentung, men! Sadar diri, sadar lingkungan. Bagaimana kalau pihak rektorat mempunyai pemikiran untuk menyerahkan kepengurusan toilet ini ke pihak swasta, sehingga nanti setiap kali ke toilet mesti bayar macam di terminal? Apa memang perlu begitu? Saya yakin rektorat mendukung, malah mungkin sudah lama punya pemikiran ke sana (siul).
     Tapi, tentu keluhan masalah toilet ini di-follow up. Buktinya, tidak lama kemudian, toilet PKM A diperbaiki. Lantai baru, penampung airnya baru, wc baru, gayung baru. Hanya saja ada kekeliruan, sebab sebentar kemudian hal itu terjadi lagi. Ya, sampai Alien berkunjung ke bumi untuk ikut pemilihan Miss World pun, permasalahan tolet yang melulu rusak ini akan tetap saja terjadi. Sebab saluran pembuangannya tidak diperbaiki, septic teng-nya tidak 'disentuh' ahlinya (perusahaan sedot septic teng ada, kan?).
       Perbaikan toilet yang sedang dikerjakan saat ini pun rasanya akan sangat percuma. Kecuali memang niatnya membuang anggaran yang tidak seberapa itu. Kaya kok kampus ini (lihat saja parkirannya), ratusan juta mah tidak apa-apa, kali ya. Tapi kalau cuma mau menjual 'betapa baru dan bagusnya keramik dan wc, sepertinya itu tidak cukup, bung! Kecuali kalau mau jualan keramik, dan wc, maka segeralah membuat lapak di depan sana (Cuma usul. Heu.. :D).
     Semoga saja saat saya mampir ke Untirta, toilet sudah 'nyaman sentosa'. Setidaknya asyiklah untuk baca buku sambil nongkrong. :-D

Salam, sayang
kekasih-yang-tidak-dianggap.

Penampakan: dipotret setelah kejadian. Hihi
'tolong jangan BAB' tambahannya, terlihat pas motret. -_-")>
Diperbaiki; dapat lantai dan bak baru, ye.. :p

TKP: Nggak enak motret dari depan, ada ibu-ibu yang melihat dari dalam ruang sebelah. *eh?
  • 0 Comments
    


 Ceritanya hari ini saya joging. Eh, bukan ding, tapi jalan-jalan. Sebenarnya salah satu alasan saya melakukan jalan pagi ini adalah rasa keuheul (kesal) saya pada mas-mas tukang sayur. Biasanya pukul 05.30/06.00 mas-mas itu sudah berisik meneriakkan kata 'yuuurrr!' saat lewat. Tapi, sudah beberapa hari ini blok tempat tinggal saya sepi. Paling, ibu-ibu sayur yang jualan siang hari saja. Nah, karena kekesalan inilah, saya sengaja jalan ke depan. Siapa tahu berpapasan dengan mas-mas sayur blok A. Dan benar saja, saya bertemu. Tapi, mungkin karena mamang sayur ini setia pada ibu-ibu di blok itu, jadi ia mengajak saya ke blok A saja. Tentu saja saya tolak. Jauh. Puguh dari tempat saya mencegatnya ke rumah tempat tinggal saya pun jauh, apalagi harus jalan dulu ke blok A. Rempong si mamang. Jadilah saya belanja sayuran di tengah jalan. Haha... Tapi, karena hal ini, acara jalan-jalan paginya jadi harus dipotong karena harus pulang dulu menyimpan sayuran. :-))
      Setelah saya simpan, dengan buku Hikmah Zharathustra (Nietzsche), dan binder, saya meneruskan acara jalan-jalannya. Dan tentu saja, Melukis Wajah Tuhan terus melagu di telinga saya. Pagi ini saya ingin bersenang-senang, bersenandung, dan mungkin menggambar atau membuat tulisan apa saja di jalan. Rencananya begitu. Tapi, rencana ini berubah ketika di jalan tidak jauh dari gerbang depan, saya melihat tulisan kelamin perempuan di jalan. Ini maksudnya apa? Ya sudah, insting saya mulai bekerja dengan sendirinya. Saya potret tulisan-tulisan. Di pepohonan pinang atau sejenis itu, di jalan, di tembok, tiang, dan di mana saja. 
      Memang, areal gerbang depan Bumi Mutiara Serang ini, setiap sore, sering dijadikan tempat kumpul-kumpul remaja tanggung. Entah bersama gengnya, atau bersama pacar. Tempatnya asyik, sih. Cuma, tangan-tangan mereka itu yang tidak asyik. 'Terlalu kreatif, sampai merusak pemandangan di tempat nongkrong mereka sendiri. Mungkin maksud mereka menandai 'ini kawasan gue', macam hewan yang mengencingi kawasan mereka. Lihat saja foto-fotonya, ya.
    Lalu, mereka yang saking 'jatuh cinta'-nya pada pacar, jadi mengukir nama dirinya dan pacar di pohon pinang. Misalnya: "Koyod love Kiyid." Jelas sekali yang menulis masih remaja tanggung. Asa kacida kalau sudah dewasa masih mengukir di pohon begitu. Eh, saya juga pernah mengukir di pelepah pinang, ding. Tapi bukan nama dan love-love-an begitu. Lagian saya pikir, pelepah akan jatuh saat sudah tua (pembelaan diri). Tapi memang, judulnya tetap ukiran, di mana pun itu. Saya juga salah. Mungkin saja, pohon pinang yang saya ukir pelepahnya itu bicara: "Aduduh, situ apa-apaan, sih? Sakit!" Sementara pohon-pohon pinang yang mereka ukir itu menggerutu: "Situ yang jatuh cinta, kok tubuh saya yang situ ukir? Tubuh situ sendiri dong ukir."
      Orang yang sedang jatuh cinta memang suka tidak berpikir panjang. Kalau putus karena disakiti orang yang namanya ditulis itu, apa mereka tidak berpikir ingin menebang pohon itu? Tapi sepertinya ada juga yang kembali lagi untuk menghapus nama di sana. Sebab, saya menemukan semacam ukiran baru yang menganga. Apa mereka tidak malu sama pohon pinang itu? Mungkin si pohon nyocohkeun (semacam mensyukuri) putusnya hubungan mereka. Mungkin, mereka putus karena doa pohon pinang juga.:p
Ah, sudahlah. Selamat pagi, semuanya. Semoga di hari depan kita bisa lebih menjaga segala sesuatunya. Termasuk menjaga tempat nongkrong kita bersih dari segala sampah, dan coretan-coretan tanda kawasan dewek (semoga ada ruang untuk berekspresi anak muda ini), dan semoga jatuh cinta tidak membikin kita lupa bahwa pohon itu hidup, dan mungkin kesakitan saat kita ukir tubuhnya. Dan semoga nasib baik, kebahagiaan, dan rezeki berpihak pada kita hari ini.

Salam, semangat
dari yang belum mandi. (9^_^)9

P.S: Nanti saya tulis yang lebih serius mengenai ini. Untuk saat ini, begini saja dulu. :p





  • 0 Comments
   

    Beberapa waktu lalu saya membaca berita perihal Ibu Negara kita, Ani Yudhoyono, mengatai 'sangat bodoh' pada seseorang yang mengomentari fotonya di Instagram. Dan saya yang bodoh ini ingin menulis cerita yang dibawa pulang seorang kawan. Cerita ini memang bukan pengalaman saya di lapangan, dan kawan saya itu tidak menceritakannya langsung pada saya. Saya mendapatkan cerita ini dari sebuah video wawancara yang dibawa kawan lainnya. Tapi, rasanya akan tetap sama saja bila ia menceritakan secara langsung pada saya.
       Setahun lalu, tepatnya November 2012, kawan saya yang baru pulang itu menjadi peserta Program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T) yang diselenggarakan oleh LPTK UNJ. Ia menjadi salah satu peserta dari 99 orang yang diberangkatkan ke tiga wilayah yaitu Kupang, Kutai, dan Sangihe. Ia termasuk peserta yang dikirim ke Kupang, dan menghabiskan waktu setahunnya dengan mengajar di Semau Selatan, Kupang, Nusa Tenggara Timur. Hal pertama yang terpikir oleh saya, tentu kehebatan dan keberaniannya. Dalam video yang berjumlah dua video itu, ia menceritakan hampir seluruh pengalamannya. Dari awal mula prakondisi (pelatihan teori mengajar, dan mental) sebelum diberangkatkan, persiapan keberangkatan, peristiwa yang terjadi di Kupang saat pertama kali ia menginjakkan kaki di sana, saat ia melakukan interaksi sosial, keindahan alamnya, dan tentu saja, saat ia mulai mengajar.
        Namun, ada hal yang mengganggu saya ketika menonton video wawancara bagian dua. Saat ia menceritakan bagaimana jarak tempuh anak-anak untuk pergi ke sekolah yang sangat jauh, sementara di sekolah tidak ada guru (maksudnya kurang). Minat belajar siswa yang kurang, sehingga ia mendapati siswa berbeda di setiap jam pelajaran. Dan usahanya membujuk mereka yang tidak pergi ke sekolah dengan cara berkunjung ke rumahnya, namun keesokan harinya saat mereka pergi ke sekolah ternyata tidak memiliki niat belajar, tapi ternyata hanya ingin bertemu dengannya saja. Bagaimana mudahnya siswa-siswa itu membuang buku tulis yang sudah penuh tulisan semua mata pelajaran ke luar jendela. Pekerjaan Rumah yang tidak pernah dikerjakan, bahkan ketidakhadiran siswa saat ulangan. Lalu, alat peraga yang tidak digunakan, sebab (mungkin) guru tidak tahu cara memakainya.
       Dan hal terakhir inilah yang sekarang sedang wara-wiri di kepala saya, yaitu mengenai keinginan atau mimpi anak-anak di sana. Bila anak-anak sebaya mereka di tempat saya dahulu melakukan PPL, sebagian besar memiliki mimpi atau cita-cita menjadi dokter, guru, polisi, dan profesi lainnya, anak-anak di sana ternyata memiliki keinginan yang berbeda. Mereka seperti benar-benar anti mainstream, pikir saya. Bahkan anti mainstream yang sangat ekstrim. Mereka ingin menyebrang ke Australia dan menjadi penjahat di sana, sebab menurut mereka, di sana bila dipenjara pun bisa dibayar belasan juta.
       Di kepala saya langsung terbayang, bagaimana mimik anak-anak yang mengatakan ingin menjadi penjahat itu. Barangkali dengan mimik sumringah, mengatakan; "Saya ingin menjadi penjahat, bu!" seolah penjahat adalah pahlawan dalam dunia mereka. Penjahat akan sangat kaya raya, meskipun mereka ada dalam penjara. Saya juga membayangkan, bagaimana kemudian keinginan itu didukung orang tua. "Ayo, jadilah penjahat yang baik, nak. Penjahat yang santun."
           Saya kira ini hanya akan terjadi di kisah fiksi saja. Tapi ternyata ada pula di sekitar saya. Aduh! Mendengarnya dari mulut orang lain saja kepala saya langsung kleyeng-kleyeng. Apalagi mendengarnya langsung? Jika saya hubungkan ke kemungkinan mereka sering menonton film aksi di bioskop, itu tidak mungkin, sebab mereka tinggal di tempat yang cukup terpencil. Selain itu, kebanyakan orang yang menonton film aksi, pasti menyukai pahlawannya. Lalu saya jadi bertanya-tanya, apa keinginan menjadi penjahat di usia itu ada juga di kepala anak-anak sebayanya di daerah lain? Apa karena sosial budaya di sana? Apa karena mereka sering menonton berita di televisi dan melihat para orang tua nan pintar, dan memiliki jabatan itu ramai-ramai menjadi penjahat?
        Bila benar keadaan di sana seperti itu, sepertinya--ah, seharusnya, tidak hanya pengajar yang dikirim dalam program SM3T ini. Harus ada psikolog, dan sarjana-sarjana di bidang sosial budaya, dan keilmuan lainnya. Dan saya bersetuju dengan apa yang dikatakan kawan saya dalam video itu. Bahwa misi mencerdaskan bangsa yang diusung SM3T itu, tidak cukup bila hanya dilakukan selama setahun. Butuh sekitar 7 tahun, bahkan puluhan tahun untuk bisa mencapai misi itu.
     Meskipun, benar, bila seorang peserta program ini telah menyelesaikan misi setahunnya itu, akan digantikan oleh peserta lain. Tapi, alangkah lebih baik jika 'personil pengganti' itu lengkap. Maksud saya, sebanyak peserta yang dikirimkan sebelumnya. Misalnya, setiap daerah sepuluh orang, maka personil pengganti pun sepuluh orang. Sebab, bila kurang dari sepuluh (apalagi cuma dua), tentu akan 'kewalahan'. Apalagi ditambah, bila 'personil pengganti' tidak mengetahui apa yang telah dilakukan orang yang digantikannya itu. Atau dia tidak meneruskan apa yang dilakukan orang sebelumnya. Dan mungkin akan patah-patah setiap tahunnya. Sebab, bila saya ibaratkan, seorang peserta program SM3T itu adalah 'sedepa tali', maka jika ia sudah menyelesaikan program ini sementara penggantinya--yang 'sedepa tali' pula, tidak pas jumlahnya, dan tidak mengetahui apa yang dilakukan orang sebelumnya, maka apa yang selama ini dikerjakan hanya akan menjadi tumpukan tali saja, bukan sambungan tali untuk mencapai misi 'mencerdaskan bangsa'.
       Ah! Rasanya bidang yang saya pelajari di kampus memanggil saya untuk ikut program ini. Tapi, di sisi lain, saya merasa tidak cukup baik, dan tidak pandai mengajar. Hanya saja, hal ini tidak bisa untuk 'cukup tahu saja'. Saya harus melakukan sesuatu. Setidaknya untuk saat ini, saya menuliskan cerita ini. Hal ini untuk mengingatkan saya bahwa saya bagian dari 'orang lapangan', dan harus menjadi seperti orang-orang yang berjuang menjadi 'sedepa tali'. Seperti orang-orang yang tidak membutuhkan publikasi untuk berbagi. Seperti orang-orang yang sibuk mencerdaskan bangsa, tanpa sedikit pun pernah menyebut orang lain bodoh, atau pun mengomentari orang yang menyebut orang lain bodoh dengan komentar-komentar bodoh, dan seolah mendukung kebodohan. Ah! Hiduplah kebodohan raya, bila melulu terjadi demikian.


Salam hormat,

orang yang belum pintar.
  • 0 Comments



Selamat, selamat, selamat, selamatkanlah dirimu, Banten. Selamatlah. 
Dulu, saya dan teman-teman sepadepokan diboyong ke alun-alun Serang dengan seragam hitam-hitam. Saya merasa gagah sekali saat itu. Di kepala saya cuma ada satu hal; kami pasti akan shooting iklan seperti kakak-kakak kami. Maklum, padepokan tempat saya tinggal sempat diminta menjadi bintang iklan salah satu minuman berenergi. Jadi weh senang. Skip sekolah, tidak masalah. Yang penting gagah. *frrttt :p*
Saya tidak tahu kalau ternyata acara akbar itu adalah peresmian provinsi Banten. Dan itu artinya, saya tidak akan melihat wajah Gubernur Jawa Barat menggantung di dinding rumah. Terus terang, saya suka sama Gubernur Jawa Barat saat itu (nge-fans kali ya kalau sekarang mah). Ini terjadi setelah listrik ada di desa kami. Dan mungkin ini juga akibat dari semua doa yang dicurahkan pada Gubernur saat itu, terdengar oleh saya (kalau mendengar, mungkin hidung Pak Gub saat itu bakal mekar selama setahun, deh). Karena itu, saya bertekad someday saya harus bertemu dengannya. Tentu dengan memakai pakaian merah putih. Tapi, setelah saya keluar dari rumah, dan akhirnya sampai di acara akbar itu, ya keinginan itu tidak kesampaian, dong.
Setelah Banten lahir, dan orang-orang mulai berebut kursi. Janji-janji bertebaran. Masyarakat kecil yang tidak tahu apa-apa, diberi visi misi pun tidak mengerti, toh? Jadi, mereka selalu dijanjikan hal-hal yang dekat dengan mereka, misalnya perbaikan jalan, tempat ibadah. Puguh kalau mukena, kerudung, sarung, mie instan bergambar wajah mereka. Itu diberikan saat si calon/perwakilan hadir di sana. Dari, kabar tetangga yang disediakan alat berat untuk perbaikan jalan jika mereka memilihnya, sampai diberi semacam piagam yang katanya berguna saat hendak mendaftar PNS. Akh! Selalu ramai bila hari-hari itu.
Tapi, terus terang saja, dari awal mula usia saya sah menjadi pemilih, saya baru sekali pergi ke TPS. Itu pun saat pertama kali 'sah', selebihnya tidak. Alasan saya? Pertama, waktu pemilihan bertepatan dengan musim hujan. Hujan, selain berkah bagi penduduk desa kami, juga musibah bagi orang yang sudah merasa asyik berjalan di jalanan beraspal. Selain itu, ada 3 titik banjir pula di jalannya. Kedua, ongkos ojeknya mahal, men. Maklum saja, ojeknya punya kemampuan lebih gagah dari pengendara motor di lapangan balap. Ketiga, males. Yang terakhir itu lebih sering saya rasakan, sih. Males kalau jalan pulang saya masih suka bikin saya jatuh dari motor, masih suka menerobos kebun orang demi mencari jalan 'baik' meski tidak benar.
Sekarang, Banten sudah berusia 13 tahun. Angin perlahan menyingkirkan kabut yang selama 13 tahun ini menutupi Banten. Sekarang, orang-orang ramai berbicara tentang penderitaan di twitter atau jejaring sosial lain. 'Salah', kata itu yang berulang mereka tuliskan. Semuanya berkata, bahkan yang bukan orang Banten. Walaupun saya merasa ingin sekali berteriak, sebab dada terasa sesak, tapi ucapan mereka 100% benar!
Aduh! Selamat hari jadi, Banten. Maaf telat posting tulisan ini.
Semoga Tuhan memberkahi segala kebaikan; semua kebusukan yang tersembunyi segera tampak. Dan mereka diganjar dengan hukuman yang setimpal; dimiskinkan, dan dibuang ke tempat yang paling mereka takuti. Semoga pemimpin Banten selanjutnya memiliki 2 hal seperti dalam logonya; iman dan tawqa. Semoga situs-situs bersejarah dirawat dengan baik, tidak dirobohkan menjadi mall lagi. Semoga jalan-jalan yang kami lalui tidak membuat sakit badan melulu; diperbaiki, dan dirawat. Juga, semoga pegawai di 'bagian depan', baik di pemerintahan, rumah sakit, maupun di mana saja, mukanya bisa penuh senyum saat menyambut orang lain. Semoga, gedung kesenian segera berdiri agar kami tidak kebingungan saat hendak mengadakan acara indoor. Semoga tempat sampah selalu ada di mana saja, agar orang-orang lebih sadar. Semoga pegawai pemerintah memiliki pekerjaan yang pasti agar nonton bokep di kantor tidak terjadi. Semoga, ah, semoga....

  • 0 Comments



Tawuran.Berasal dari kata tawur yang berarti; perkelahian beramai-ramai; perkelahian massal (KBBI ver 1.1). Akhir-akhir ini kata itu menjadi popular di kalangan pelajar. Beritanya disiarkan di televisi, maupun di Koran. Tawuran pelajar SMA A dengan SMK B, SMP C dengan SMP D. Sebagai akibatnya, dari wajah bonyok karena terkena pukulan, hingga nyawa hilang. Entah karena permasalahan sepele, bahkan dendam turunan senior, semuanya terangkum dalam ajang baku hantam yang bisa terjadi kapan pun, dan di mana pun itu. 

Namun, tahukah anda? Dahulu di daerah saya (Desa Turus, Kecamatan Patia, Pandeglang) juga ada semacam ‘tawuran’. Bedanya, jika tawuran pelajar membawa rantai, gir, samurai, dan senjata tajam lainnya, sedangkan ‘tawuran’ yang dilakukan anak-anak muda di kampung saya saat hendak menyerang anak-anak muda di kampung tetangga itu, hanyalah berbekal semacam beduk kecil yang dibuat dari kaleng—bekas susu, cat, atau kaleng lainnya, penutupnya terbuat dari plastik bekas permen, dan ikatannya dari karet gelang. Juga penabuh dari ranting yang dililit karet pada ujungnya. 

Ubrugan, demikian kami menyebutnya. Dan tentu saja, ‘tawuran’ ini tidak akan menghilangkan nyawa, atau membuat wajah bonyok. Meski saling ejek, saling berhimpitan—semacam ingin menjatuhkan lawan, tidak pernah pula sekalipun pemukul beduk melayang ke kepala lawan, atau bagian tubuh lawannya. Karena barangkali, emosi mereka sudah tertumpah ke-seberapa-keras mereka memukul beduk mininya itu. Alhasil, sudah bisa dipastikan, apabila suasana sudah memanas, maka bunyi-bunyian itu akan semakin ramai. Semakin tidak berirama. Hingga beduk lawannya bolong atau rusak. Setelah itu, barulah mereka pulang. Entah membawa kemenangan karena beduk-beduk kelompoknya tidak rusak, atau sebaliknya.

Uniknya, untuk memulai ‘tawuran’ ini mudah. Pukul beduk satu kali di batas kampung, maka anak-anak kampung tetangga yang dipanggil itu akan membalas dengan pukulan di bedug-bedug mereka masing-masing sembari berdatangan ke batas kampung itu. Irama yang dihasilkan terdengar rancak, dan khas. Dan sayangnya, kegiatan ini tidak pernah dilakukan lagi. *
  • 0 Comments





Entah cerita ini benar, atau tidak. Entah ini hanyalah karangan almarhum Ende (Kakek) saya ketika hendak menina-bobokan cucu-cucunya. Atau memang, ini adalah hasil dari apa yang ia rekam dari cerita-cerita sebelumnya. Dan bukankah itu sastra asli kita? Sastra tutur? Dan ini adalah cerita asal usul nama kampung di Kecamatan Patia, Pandeglang. Atau nama desa dimana keluarga besar saya tinggal.
Baiklah, sebelumnya, marilah kita membuka lagi buku sejarah tentang Krakatau. Kepulauan vulkanik yang masih aktif hingga sekarang, dan berada di Selat Sunda yang membelah Pulau Jawa dan Sumatra. Barangkali ini adalah cerita basi, yang bisa membuat anda mengucap ‘ciyus miyapah’, atau ‘terus gue harus salto sambil bilang pucuk, pucuk, pucuk, gitu?’.
Tapi, tidak apa. Saya akan tetap mengulasnya, sekedar pengingat bagi kita semua bahwa setelah Krakatau Purba, Krakatau pernah ada. Pernah meluluh-lantakkan 195 desa di sepanjang Merak hingga Karawang, Ujung Kulon hingga Sumatera bagian Selatan. Pernah merenggut 36.000 jiwa, dan merenggut/menghilangkan dirinya sendiri dalam letusan dahsyatnya pada tanggal 26-27 Agustus 1883. Dan peristiwa ini pernah disaksikan kakek saya, hingga kemudian menjadikan kampung di dataran tinggi di desa saya diberi nama Turus. Bukan Taurus[1], atau Tartarus/Tartaros[2].
Itu pula yang saya tanyakan kepada kakek saya ketika itu. Kenapa harus Turus? Kenapa tidak pilih nama yang lain? Pakai Ci—; atau Kadu—. Karena di Pandeglang banyak sekali nama daerah yang memiliki awalan nama itu.
Dan inilah jawaban kakek saya;
Syahdan, ketika gelombang tsunami setinggi 40 meter menerjang desa-desa, termasuk desa di mana kakek saya tinggal. Semua penduduk berlari menyelamatkan diri ke daerah dataran tinggi yang dahulu menjadi huma atau ladang penduduk. Namun, air yang datang rupanya lebih tinggi. Hingga mencapai ujung bambu untuk merambatkan tanaman kacang panjang. Tuturus. Dari sanalah kemudian nama tempat itu—yang tadinya tak bernama—diberi nama. Tuturus, sesuai dengan sebutan bilah bambu untuk merambatkan tanaman kacang panjang itu. Namun, entah siapa yang memulai kekacauan penyebutan nama itu. Hingga akhirnya menjadi Turus saja. Tanpa Tu—.
Dan memang, bila ditilik sampai tidaknya air di desa saya, di sana memang beberapa sisa-sisanya masih ada. Semisal, batu karang, besar atau kecil, di beberapa tempat masih ada. Kulit-kulit kerang (bukan kerang yang bisa dimakan), dan lainnya. Padahal, sekali lagi saya sebutkan, desa kami jauh dari laut. Laut terdekat hanyalah laut Panimbang di sebelah Barat yang jaraknya kurang lebih 20 kilometer. *



[1] Nama rasi bintang zodiak, dan kerbau sebagai lambangnya.—peny
[2] Berasal dari mitologi Yunani Kuno yang diasosiasikan sebagai suatu tempat di bawah tanah yang kelam dan kejam (ada juga yang menyebutkannya sebagai neraka). Tartaros dipakai oleh Dewa Zeus untuk mengurung sekaligus menghukum para perusak dan penjahat, seperti Titan, Tantalos dan lainnya.—wikipedia
  • 0 Comments
Older Posts Home

Where we are now

o

About me

a


@NYIMASK

"Selamat datang dan selamat membaca. Semoga kita semua selalu sehat, berbahagia, dan berkelimpahan rezeki dari arah mana saja.”


Follow Us

  • bloglovin
  • pinterest
  • instagram
  • facebook
  • Instagram

recent posts

Labels

#dirumahaja #tukarcerita Artikel Catatan Perjalanan Celoteh Cerpen E-Book Esai Info Lomba Journey Jurnal Kamar Penulis Lowongan Kerja Naskah Poject Promo Puisi Slider Undangan

instagram

PT. iBhumi Jagat Nuswantara | Template Created By :Blogger Templates | ThemeXpose . All Rights Reserved.

Back to top