utherakalimaya.com

  • Home
  • Features
  • _ARTIKEL
  • _CATATAN
  • _UNDANGAN
  • DOKUMENTASI
  • contact

 


Setelah sebelumnya tertunda karena dismenore, akhirnya Sabtu (03/09/2022) saya, kakang, Nuril dan Rizal berangkat menuju Kanekes untuk menengok para peserta Pelatihan [Residensi] Metik Kacapi Buhun. Dalam perjalanan ini, saya juga membawa serta data-data yang dibutuhkan untuk salah satu bagian dalam laporan pertanggungjawaban kegiatan Komunitas Aing sebagai salah satu penerima manfaat Fasilitasi Bidang Kebudayaan (FBK) 2022 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi ini. 

Selain itu, pesanan-pesanan lainnya dari teman-teman yang sudah berada di Rangkasbitung maupun di Baduy juga dibawa serta. Dan tidak lupa, pesanan yang datang bersama angin di minggu lalu itu juga dibawa. Meskipun salah satu bagian pentingnya sudah tidak segar karena terlalu lama dipendam di kulkas. Sebelumnya, kami juga sudah berusaha mencari penggantinya, namun karena tumbuhan itu sudah dibabat di samping rumah tetangga--sedangkan yang ditanam di depan rumah kami baru saja bertunas, ya sudah, bawa yang ada saja.

Dari Kota Serang, kami melaju ke Pandeglang untuk menjemput Rizal dan langsung ke Rangkasbitung untuk menjemput Nidu. Rencananya kami menginap semalam di Kp. Kadu Gede, tempat teman-teman peserta Residensi Metik Kacapi Buhun berada. Di jalan, kami berbincang mengenai pengisian BBM yang mesti memakai aplikasi, tertundanya kenaikan harga, maupun kabar gembira mengenai beasiswa yang diterima Nidu untuk studi doktoralnya. Syukurlah. Kami turut senang mendengarnya. Setidaknya, ia tidak akan riweuh nantinya. Karena apa? Kalau dia riweuh, kami juga akan turut riweuh! Karena persahabatan kami saling me-riweuh-kan satu sama lain. Haha.

Perjalanan Rangkasbitung-Ciboleger pun tidak terasa. Gerimis menyambut kami di terminal tempat pemberhentian seluruh kendaraan yang hendak memasuki kawasan Masyarakat Adat Baduy itu. Kendaraan-kendaraan tampak sudah memadati area yang tak begitu luas itu. Ada yang baru mau masuk, ada yang sudah bersiap pulang. Hari Sabtu dan Minggu, area ini pasti padat sekali, memang.

Setelah mendapat tempat parkir, kami berjalan menuju warung tempat biasa kami memesan makanan. Teteh dan Kaka Warung menyambut kami dengan sumringah seperti biasanya. Sudah hapal muka-muka lapar dan butuh kopi kami ini. Di warung ini, kami bertemu salah satu peserta dan panitia pendamping yang baru pulang dari huma di luar Desa Kanekes. Sementara peserta lainnya sudah kembali ke Kp. Kadu Ketug bersama Ki Pantun dan Nini. Mereka juga akan segera ke Kp. Kadu Ketug setelah menitipkan kendaraan, sementara kami masih anteng di warung sambil menunggu kabar dari Jaro Pamarentah dan atau perangkat desa lainnya, untuk melaporkan kegiatan kami yang sebelumnya tertunda karena saya menunda perjalanan karena nyeri bulanan. Sedangkan teman-teman lain juga tersandung kesibukan. Alhasil, baru hari ini kami bisa menemui perangkat desa. Meskipun 'uluk salam' mah sudah sejak lama. Heuheu.

Rombongan semakin banyak ketika kami tanpa sengaja bertemu teman-teman lainnya. Selain itu, Kepala Museum Multatuli Lebak, Kang Ubai juga berkabar akan menyusul kami ke Ciboleger. Alhamdulillah, akan semakin haneuteun. Setelah semua berkumpul, kami mulai berjalan menuju Kp. Kadu Gede melalui kampung di luar Desa Kanekes yang pernah ditinggali oleh Pater Nicolaas JC Geise OFM saat ia melakukan kajian etnografis di Baduy. Iya, Cipeureu. Kang Ubai tampak bersemangat menanyakan letak kampung Cipeureu pada beberapa warga yang berpapasan di jalan. Sementara kami terus nikreuh, jalan kaki dengan napas yang mulai kembang kempis.

Saat inilah saya merasa memang berat badan saya sudah di atas normal, masyaallah. Apalagi saat kami mulai memasuki jalanan yang menanjak dan menanjak. Padahal, tanjakannya tidak terlalu curam seperti halnya saat perjalanan ke Kampung Cisaban. Saya sudah mulai masuk fase 'terlalu bahenol' sepertinya. Beurat! Haha.

Perjalanan dari Ciboleger ke Kp. Kadu Gede melalui Kp. Cipeureu tidak memakan waktu lama. Saya yang berjalan paling belakang akhirnya sampai juga di kampung yang tampak sepi itu. Kebanyakan warga kampung ini banyak menghabiskan waktu di huma, karena itu dipilih sebagai tempat residensi. Tapi, kami yang baru pertama kali akan berkunjung ke Ki Pantun ini sedikit kebingungan mencari letaknya. Setelah bertanya pada anak-anak yang sedang bermain bola, sekaligus dipanggil oleh suara khas salah seorang peserta, kami akhirnya bergabung kembali dengan rombongan.

Di beranda rumah Ki Pantun dan salah satu rumah lainnya yang kosong, kami melepas lelah sambil bercengkrama. Kopi, air, dan suguhan lainnya sudah dikeluarkan. Begitu juga camilan yang kami bawa. Di salah satu sudut, mata saya melihat buah yang tidak asing. Buah sorga, saya menyebutnya. Apalagi kalau bukan petai. Meskipun petai yang ini memiliki karakteristik lain dari petai di pasaran. Kulitnya lebih keras dengan isi atau biji lebih kecil. Rasanya juga tidak pengar seperti petai. Tapi lebih ke rasa lamtoro atau petai cina. Dan ini bukan petai, tapi petir.

Anak-anak yang sebelumnya saya lihat bermain bola, turut bergabung bersama kami. Saya terus berusaha mengabadikan keriuhan itu melalui ponsel saya. Yah, tujuan kedatangan saya mah memang salah satunya untuk mengabadikan moment. Saya pun mengajak anak-anak itu ke area yang lebih tinggi agar saya dapat mengambil gambar pemandangan. Di depan rumah yang berada di dataran paling tinggi itulah saya mengambil beberapa cuplikan video dan foto. Tidak lupa meminta anak-anak berpose. Setelahnya, saya mengajak mereka kembali karena sandekala akan segera tiba.

Sekembalinya ke rumah Ki Pantun, beberapa teman sudah mulai membersihkan diri. Pakaian sudah berganti, saya juga turut berganti pakaian meskipun memutuskan untuk tidak mandi karena kabarnya airnya tidak keluar. Setelahnya, kami makan malam di pawon Ki Pantun.  kMalam harinya, Mang Jamal datang dan kami berkumpul di pawon sembari berbincang mengenai berbagai hal. Termasuk harapan-harapan mereka sebagai warga Baduy untuk kesenian dan kebudayaan Baduy. 



  • 0 Comments

Akhir tahun merupakan saat yang tepat untuk mengakhiri satu tahun dan memulai tahun baru dengan penuh harapan dan semangat. Banyak orang yang merayakan akhir tahun dengan berbagai cara, seperti mengadakan pesta, menonton pertunjukan, atau hanya bersantai di rumah bersama keluarga dan teman-teman. Di tengah kabar yang kurang mengenakan akhir-akhir ini mengenai fenomena alam, bencana, dan lain sebagainya, kami memutuskan untuk tidak keluar rumah.

Kemarin malam, saya sudah mengatakan ke kakang untuk tidak keluar dari wilayah Serang selama masa peralihan 2022 ke 2023. Kami fokus di rumah saja, beberes dan yah..., istirahat total di rumah. Lagi pula, cuaca sangat mendukung untuk tidak bepergian kemana pun. Lagipula, cuaca di Kota Serang sejak kemarin, hingga hari ini berhujan terus; reda sebentar, hujan deras lagi, begitu saja seterusnya.

Semalam, saya tidur lebih awal. Ketiduran lebih tepatnya. Karena saya sedang maskeran, dan entah ke mana masker itu kemudian. Kata kakang saya sempat ngomong eh minta tolong lepasin masker dan ia meminta saya cuci muka dulu sebelum tidur lagi. Tapi, saya tidak ingat sama sekali. Yang saya rasakan hanya cuacanya sedang dingin sekali. Baru ketika keesokan harinya, karena terus menerus hujan, saya mengajak kakang beberes rumah saja. Kami membereskan tanaman yang pada akhirnya kami masukan kembali ke beranda, karena di luar cuaca panas membuat daun-daunnya tidak bagus. Saat beres-beres itu, kami menemukan kelabang yang bersarang di tumpukan bata dan langsung membasminya bersama bayi-bayinya yang banyak. Sejak kapan dia bersarang di sana, kami tidak tahu. Hanya saja, mudah-mudahan selanjutnya tidak ada binatang seperti itu lagi. Ngeri.

Hmm, tahun 2023 ini sebenarnya saya tidak memiliki harapan yang muluk-muluk. Saya hanya akan menyelesaikan apa yang telah saya mulai di tahun sebelumnya. Oleh karena tahun lalu saya sudah tertinggal banyak hal, khususnya di studi saya, maka tahun ini pun akan lebih berusaha fokus untuk menyelesaikan studi. Peralihan fokus ini sebenarnya agak sulit, sempat membuat masalah baru dalam diri saya juga. Tapi, mau bagaimana lagi? Sekali diputuskan, tidak boleh mundur, bukan? Karena itu, semoga saya mendapat dukungan penuh dari semesta saya untuk melakukannya. Selain itu, ada juga beberapa hal yang sedang saya usahakan. Yah, itu bagian dari upaya yang saya lakukan di kehidupan ini.

Saya mesti mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang telah membuat tahun 2022 saya lebih berwarna. Terima kasih atas segalanya. Selamat tahun baru 2023, genks. Semoga tahun ini kita semua selalu sehat, selamat dan berkelimpahan rezeki dari arah mana saja.

 

  • 0 Comments



Ketegangan benar-benar menyergap saya. Bagaimana segala sesuatu yang mestinya dipersiapkan dengan baik, apik dan teliti tidak begitu mendapat perhatian. Alih-alih perhatian, malah semuanya asyik sendiri. Tugas dan kewajiban yang sudah jauh-jauh hari dibicarakan dan terus diingatkan, seperti tidak dilakukan. Gogodan! Ingin memaki, tapi malas gosok gigi! 

Seusai mengerjakan apa yang mesti dikerjakan di kedai kopi yang saya jajah, saya mengajak seorang kawan yang datang menyusul untuk pergi menepi sejenak. Meskipun ia agak enggan, tapi saya paksa saja karena kepala dan dada saya rasanya hampir meledak. Sebelumnya, tentu saja saya mengajaknya mampir ke tukang kelapa muda di Pasar Lama, Royal. Kemarin, sebenarnya saya ingin menikmati air kelapa muda karena tubuh saya rasanya mulai tidak karuan. Dan air kelapa muda biasanya bisa menetralkan segala ketidaknyamanan di tubuh saya.

Setelahnya, kami menempuh perjalanan 10 kilometer menuju tepian Keraton Kaibon atau Keraton Kaibuan yang berarti bersifat seperti ibu yang lemah lembut dan penuh kasih sayang. Keraton ini dibangun pada tahun 1815 pada masa Kesultanan Banten periode Islam. Keraton ini dibangun untuk ibunda Sultan ke-21, Sultan Syafiudin yang memerintah sekitar tahun 1809-1815. Setelah wafat, kedudukannya digantikan oleh putranya yang berusia lima tahun. Karena itu, untuk sementara pemerintahan diambil alih oleh ibunya, Ratu Aisyah. Konon, setelah Kesultanan Banten dihapuskan pada tahun 1816, keraton ini masih digunakan pada masa pemerintahan Bupati Banten pertama yang didukung Belanda yaitu Aria Adi Santika. Pada tahun 1832, Keraton Kaibon dibongkar oleh Pemerintahan Hindia Belanda dan disisakan berupa pondasi, tembok-tembok bangunan dan gapura keraton saja.

Perjalanan dadakan malam ini berjalan mulus. Di langit, bulan juga sedang bagus. Ada lingkaran 'kuwung-kuwung' yang memudar seiring kendaraan memasuki area Keraton Kaibon. Lampu-lampu yang biasanya menerangi reruntuhan dan taman-tamannya tampak mati. Hanya beberapa lampu saja yang menyala. Selanjutnya, dari keterangan Pak Satpam yang berjaga malam ini, saya tahu bila lampu-lampu itu mati karena konsleting listrik yang terjadi saat air menggenangi area keraton.

Di puing-puing keraton ini, pulang mendapat pengertian lainnya. Perasaan nyaman, aman dan tentram selalu menjegal niat untuk tidak berlama-lama. Tahu-tahu sudah berjam-jam saja berada di area ini. Entah saking asyiknya mengobrol dengan Pak Satpam, atau sekadar duduk di area reruntuhan sembari menatap bulan paro terang di langit sembari melangitkan doa-doa dan menyerahkan segala urusan pada-Nya.

Ah, tentu, maksud dan tujuan kedatangan setiap orang ke tempat ini berbeda-beda. Niat saya saat ini hanya menepi dan menyepi agar segala hal yang membuat kepala dan dada saya seperti mau meledak ini mereda. Tidak ada sakit kepala atau sesak napas. Kenapa sih harus datang malam-malam? kayak nggak ada siang aja. Karena kalau datang ke Kaibonnya siang, judulnya pasti ngumpulin bahan kerjaan. Bukan menepi atau menyepi, cuk.

Begini, setiap orang punya cara sendiri untuk mengurai keruwetan di pikirannya. Baik yang menyangkut urusan pekerjaan, percintaan, maupun persoalan-persoalan hidup lainnya. Tentu saja, cara saya dan caramu berbeda. Bagi saya, menepi dan menepi di tempat yang memiliki vibrasi menenangkan seperti ini adalah salah satu caranya. Karena saya bisa berbincang dengan diri saya sendiri mengenai keruwetan yang terjadi. Ini juga menjadi sesi melepaskan apa-apa yang tidak bisa saya handle. Termasuk mengusir seseorang yang sedang hilir-mudik di kepala dengan kalimat; permisi, saya mau mengerjakan PR, bisa pindah ke hati saya saja? Betah geura.

Karena, jika semuanya bertumpuk di kepala, keruwetan itu pasti akan mengakibatkan sesuatu yang tidak bagus. Persoalan komentar orang lain mengenai apa yang saya lakukan ini, sebenarnya saya malas meladeni. Karena  saat meladeni dengan memberitahunya bahwa anggapannya itu keliru, pasti akan muncul label baru. Entah itu saya terlalu serius, padahal dia bercanda, atau lainnya. Padahal, kalau dipikir ulang lagi, saya rasa dia pun menbutuhkan cara untuk menyembuhkan diri atau melihat ujung pangkal dari keruwetannnya. Hanya caranya saja yang berbeda.

Ah, anggapan orang mah memang seram. Apalagi jika sudah diberi bumbu ini dan itu. Kalau dibandingkan dengan keseraman tempat yang dipercaya teramat seram, seperti di area ini, bagi saya lebih seram anggapan-anggapan liar orang-orang macam itu. Kalau tempat yang katanya sangat seram mah paling apes ya lihat makhluk ciptaan-Nya yang lain. Sementara anggapan orang dengan segala penghakiman yang maha benarnya itu mah bisa membuat seseorang melepaskan nyawa ke alam lain. 

Di Kaibon ini, keseraman itu tidak ada. Hanya ada rasa nyaman, aman dan tentram. Entah kalau siang hari, ya. Dinding-dinding yang terbuat dari batu bata, pasir dan kapur itu tidak mendadak menjelma menjadi Lee Min Ho atau Gumiho*. Semuanya biasa saja. Bahkan, bayangan keseraman yang diceritakan orang-orang itu juga tidak saya temukan. Boro-boro seram, rasanya ingin bawa sleeping bag dan tenda saja untuk rebahan sampai subuh. Tentu saja, itu cuma ingin-inginnya saya doang. Tidak terpikir juga cara untuk mewujudkannya. Bagaimanapun, di lokasi ini ada aturan baku dan tidak bakunya. Karena itu, saya coba mengikuti saja alur yang ada.

Justru lebih aneh lagi kita yang selalu saja mengomentari hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dikomentari. Kita yang tidak pandai mensyukuri apa-apa yang kita miliki saat ini, termasuk memiliki tempat indah yang diwariskan para pendahulu ini. 

Iya, kita; kamu, saya dan mereka. Perjalanan masih panjang dan kita masih diberi waktu untuk memperbaiki apa-apa yang belum baik pada diri kita, pada sekeliling kita, pada Banten. Ah, entahlah. Saya tidak bisa menerka apa yang terjadi esok hari. Walaupun bisa, saya enggan melakukannya juga. Biar saja. Toh, semesta selalu punya kejutan sempurna untuk saya dan kamu, untuk kita.



LOKASI



  • 0 Comments

 



"Te, kau kerja di biem?"

Pertanyaan itu kerap ditanyakan pada saya. Jawaban saya hanya "bisa jadi". Memang, beberapa kali saya ditawari untuk berada di barisan orang-orang keren dan kreatif di perusahaan media online di Banten, Biem.co. Tapi karena saya masih punya hal yang harus dikerjakan dengan deadline-deadline yang banyak itu, maka saya masih belum memutuskan untuk bekerja di Biem.co. Karena saya pasti akan merasa kewalahan jika menambah deadline lagi. Walaupun sebenarnya bisa saja dilakukan dengan catatan 'hari bersamamu' jadi berkurang, karena sekali bekerja pasti tidak bisa diganggu saya mah. Hahaha. Tapi, percayalah saya mencintai biem.co.

Mencintai kok kalau datang ke kantor redaksi Biem.co cuma numpang ngopi sambil numpang kerja? Waiyah, itu cara saya mencintai Biem.co, genk. Dengan terus berada di antara mereka dan meriuhkan suasana kantor Biem.co dengan segala celotehan saya mengenai apapun. Selain itu, kantor Biem.co juga selalu menjadi tempat saya menyingkirkan 'hari menyesakan' dan menggantinya dengan hari menyenangkan. Saya punya sudut adem khusus di kantor biem.co, lho. Kalau sudah berada di sana, perasaan yang buruk dan rasa sesak di dada teh suka hilang.

Apalagi jika bisa ngobrol bareng CEO Biem.co, Kang Irfan Hq. Beudeuh! Blio ini sosok kakak yang selalu mendukung anak-anak muda seperti saya untuk memunculkan versi terbaik dirinya, genk. Dukungan apapun yang diberikan, bukan menjadi acuannya. Karena bagi orang-orang yang demen mikir mah, dikasih kalimat sedikit aja suka overthinking dan berusaha mewujudkannya. Hahaha. Karena itu, jika suatu waktu saya dapat meraih kesuksesan apapun di bidang yang saya geluti, maka salah satu orang yang akan saya sebut sebagai orang yang selalu menjaga punggung saya adalah blio ini.

Pernah suatu malam, saat kepala saya sedang penuh sekali, saya membuka instagram dan melihat instagram blio online. Tanpa banyak berpikir mengenai kesantunan yang adil dan beradab, saya menghubungi blio melalui direct message dan mengajukan pertanyaan yang pasti akan membuat blio bingung. Kebingungan blio itu saya sadari juga, sih. Apalagi saya tidak sedekat itu dengan blio. Tapi, saya bodoamat-kan saja, karena rasanya jawaban itu harus saya dapat dari blio malam itu juga. Ahahaha. My bad....

Dan alhamdulillah, saya mendapatkan jawaban itu dari blio. Tentu saja, akhirnya saya memohon maaf, karena sudah mengganggunya dengan pertanyaan saya itu dan membuatnya bingung. Hahaha.

Jadi, jika kau penasaran bagaimana sosok CEO Biem.co ini, silakan saja baca buku Catatan Sahabat Irvan HQ: Tentang Orang yang Memasangkan Sayap Kecil di Pundak Para Pemimpi. Di buku yang disusun oleh sahabat saya, Muhammad Rois Rinaldi itu terdapat banyak tulisan mengenai sosok Kang Irvan Hq di mata orang-orang yang dekat dengannya. Dan tentu saja tulisan saya tidak ada di sana. Karena saat buku itu disusun, saya sedang bertapa ditempat yang steril sehingga radar penyusun buku itu tidak dapat menjangkau saya. Hahaha.

Nah, di ulang tahunnya yang ke-6 ini, saya harap Biem.co menjadi perusahaan media online yang terus memberikan informasi yang banyak menginspirasi para pembacanya. Terus berkarya dan menginspirasix! By the way, kita belum pernah Buka Puasa bersama dengan menu kolak ruang angkasa, ya? Ditunggu undangannya atuh, ya, Biem.co. Hihi...


KANTOR REDAKSI BIEM.CO

Jl. Karya Bhakti 2A No. 99, Komplek KPPN, Ciceri, Serang, Banten 42151.

SALES & SUPPORT:

Telp: 0254-7924-330

Telp: 0813-8033-3400 (Pemred Biem.co)

Telp: 0812-2993-003 (Managing Director Biem.co)

E-MAIL:

redaksi@biem.co atau redaksibiem@gmail.com

LOKASI


  • 0 Comments


"Jadi gak?"

Pertanyaan itu tampak di layar ponsel saya. Sementara aplikasi Gojek masih terus berputar-putar mencari tujuan. Sinyal Telkomsel di negara bagian Tembong ini memang selalu menghilang mendadak, padahal sedang dibutuhkan. Hari ini, saya janjian dengan Al Anyudi dan Wisnu yang semalam hayu untuk bertemu di kedai kawan. Sepertinya, Senin (19 April 2021) ini akan asyik jika ngopi sembari nonton padi agar terwujud harmoni gitu. Lagian bosan juga ngopi di tempat yang selalu diberisiki kendaraan dan orang-orang yang berlomba bicara. Mending kalau tidak ada kebun binatangnya. Hihuhlah!

Setelah saya membalasnya, ia menjawab dengan mengatakan bahwa ia masih keliling membagikan takjil sambil sepedaan. Kegiatan baru yang sedang tekun ia kerjakan di Ramadhan ini. Terbaik memang bapabapaide yang satu ini. Jadi pengen ikutan kalau ada sepedanya mah.

Sementara itu, Driver Gojek datang dengan tawa. Katanya, dia tadi mutar-mutar di depan tanpa tahu arah dan tujuan. Perasaan saya mulai tidak enak. Apakah ia bisa mengantar saya ke Tepi Sawah? Atau jangan-jangan, kami akan nyasar ke tepi sungai atau tepi-tepian lainnya yang bukan menjadi tujuan? Duh! Apalagi peta lokasi yang saya minta pada kawan saya, Wahid, tampaknya kedainya ini berada di negara bagian Kota Serang yang BJKJD (blah jero ka jero deui). Pasrah sajalah. 

Jalan Empat-Lima sudah ditapaki, semakin lama jalanan semakin menyempit. Di samping kanan dan kiri tampak rumah-rumah penduduk, maupun komplek perumahan. Saya masih belum melihat hamparan sawah, hanya gugusan perbukitan dan kebun-kebun penduduk saja. Oalah, jangan-jangan beneran nyasar? Kalau dibawa nyasar sama kamu mah rela akutu." Pikir saya seraya nyengir karena geli sendiri. Sepertinya dari kemarin saya teh kesambet jurig receh, astaga.

"Ini Jalan Empat-Lima kan, mas?" Tanya saya.

"Iya, kak. Ini Jalan Empat-Lima. Saya pernah ke sini, kok," Jawabnya. "Nama tempatnya apa ya, kak?"

"Tepi Sawah, mas. Amanlah ya,"

"Aman, kak," jawabnya. Agak lega mendengarnya, tapi belum lega benar, karena belum melihat wujud manusia yang saya kenal. Karena itu, saya mencari plang nama daerah yang kami lewati agar nanti bila hal yang dikhawatirkan terjadi, saya bisa memberitahukan posisi saya di mana. Udara mulai terasa sejuk. Beberapa pengendara sepeda, tampak melintas menuju kota. Ooh, ini jalur sepedaan para tukang gowes.

"Kak, kita udah masuk ke daerahnya nih...," ujar masnya seraya menghentikan laju kendaraan di tepi sawah.

"Weits, iya itu sawah. Kedainya mana, ya? Sebentar saya tanya kawan dulu," ujar saya sembari memotret sawah dan mengirimkannya ke whatsapp Wahid.

"Ooh, Kedai Tepi Sawah? Masih di depan itu mah kak," ujar Mas Gojek sambil menunjukan map dengan nama kedai tujuan saya. Oalah, dikira beneran ke tepi sawah, makanya mas ini berhenti di tepi sawah beneran? Pengangguran amat kali sayanya, nge-Gojek dari negara bagian Tembong ke negara bagian Pancur hanya untuk melihat sawah yang bukan punya saya. Sawah saya saja nggak pernah saya tengokin. Muahaha.

"Nah, itu mas. Yuk, lanjut," ujar saya. Benar saja, tak hanya lima menit, Mas Gojek sudah menghentikan kendaraannya lagi. Saya langsung meneriakan 'masyaallah' dan 'subhanallah' saat turun dari kendaraan dan langsung disambut tawa Wahid. Kedai ter-janed (jauhnya jauh banget) yang pernah dengan sengaja dan sadar saya kunjungi! Edian, aing di mana ieu? (Gila, saya di mana ini?).

"Mas, sekalian buka bareng di sini aja, yuk," ajak saya saat menyerahkan ongkos dan helm. Tapi ia menolak dan saya merasa tidak enak karena sebentar lagi waktu berbuka akan tiba. Wahid juga mengajak masnya, tapi ia tetap keukeuh mau langsung kembali ke kota. Alhasil, saya hanya mengucapkan terima kasih karena sudah diantar.

Lampu-lampu di Tepi Sawah sudah menyala, kesan artistik sangat terasa. Bagaimana tidak, meja-kursinya ditata dengan rapi. Pemilihan lampu dan penataan ruangnya juga asyik. Tampak sekali kawan saya ini sangat serius mengonsep sekaligus menata kedainya. Ini keren. 

Wahid menghidangkan es buah dan penganan untuk berbuka. Es buah, gorengan dan kurma sebenarnya tidak ada di menu, katanya. Ini menu dadakan untuk orang yang mendadak ingin nonton padi. Tapi padinya baru dipanen. Jadi rasanya seperti Kasih Tak Sampai tea geun. Mestinya datang saat padi sedang hijau, atau sedang musim pare reuneuh. Pasti akan betah sembari mencicipi menu andalan Tepi Sawah. Tapi saat itu, mesti banget ada amben kayu atau bambu yang disesuaikan dengan konsep kedainya. Biar sayanya bisa rebahan. Istirah teh beneran ini mah. 

Maghrib tiba, Al dan Wisnu belum sampai juga. Yah, nyangkut di mana? Yang mau buka puasa kan mereka, saya mah besok puasanya. Tak berapa lama, Al datang dengan sepedanya dan cerita bila tadi ia buka puasa di gardu yang tak jauh dari Tepi Sawah, karena menyangka saya belum sampai. Juga, insiden saat melewati komplek pemakaman. Ada-ada aja. 

Sambil menikmati hidangan buka puasa yang disuguhkan, Wahid menceritakan Kedai Tepi Sawah ini baru 11 hari buka dan kami datang di hari ke-11. Wah! Kamu mau datang di hari ke berapa? 

Selain itu, Wahid juga menceritakan mengenai potensi pariwisata di daerahnya ini. Mulai dari jalur sepeda menuju Batu Gede, maupun jalur baru yang dibuat ke arah Batu Ngampar dan potensi pariwisata religi/ziarah yang ada di sekeliling Sayar. Ah, iya, tadi saya melewati salah satunya.

"Emang Sayar itu artinya apa?" Mulut saya mulai ceplas-ceplos, my bad.

Menurut Wahid, Sayar berasal dari kata sayaroh yang artinya kendaraan. Kendaraan? Hmm, ingatan saya melayang entah ke mana. Aigoo~ Pangeran... 

Oh ya, genk, Wahid ini salah satu pemuda yang bergabung di Pokdarwis Karangasem, Taktakan, Kota Serang. Karena itu ia tahu potensi apa yang dimiliki daerahnya. Apalagi menurutnya, banyak tamu-tamu dari luar kota yang berziarah ke makam panjang Ki Mas Dawa. Itu lho, makam yang panjangnya 8 meter. Juga ziarah ke Ki Buyut Sayar dan lainnya. Mungkin, salah satu alasan kenapa ia membuka kedai di kampung halamannya ini pun karena ingin mengangkat pariwisata daerahnya. Jadi, feel free untuk mampir kalau kamu sedang gowes di area Pancur, Sayar, ya, genk.

Kapan kita buka hati bareng di Tepi Sawah, beb? Agar tercipta harmoni antara aku, kamu dan calon sawah kita yang hektaran itu. Tentu saja untuk explore Sayar juga. Ehehe...

* * *

Tepi Sawah Coffee and Food

Instagram: @tepisawahcoffeeandfood

Buka Setiap Hari: 02.00 s.d 21.00 WIB | Ramadan: 16.00 s.d 21.00 WIB

Tersedia

Parkir Sepeda, Parkir Motor & Mobil, Toilet.

Lokasi



  • 0 Comments


Tahun 2005 menjadi awal perjalanan saya di Serang. Kaujon menjadi kampung pertama yang saya tinggali. Kampung ini adalah kampung tua dimana rumah-rumah tua masih banyak berdiri kokoh. Diam-diam saat melewatinya, saya berdoa semoga para pemiliknya tetap mempertahankannya. Setidaknya, tidak merobohkan dan menggantinya dengan bangunan baru. Itu menyedihkan.

Salah satu rumah yang sering membuat kepala saya berputar hanya untuk melihatnya lebih lama adalah rumah kedua setelah jembatan Kali Cibanten. Karena itu, setiap kali saya diserang ingin jogging atau sedang ingin berjalan kaki ke Alun-alun Serang, saya selalu berharap ada seseorang memanggil saya untuk mampir. Entah untuk sekadar minum teh atau mendengarkan dongeng di berandanya. Tentu saja, saat itu saya tidak punya keberanian untuk mengetuk pintu rumah itu. Bisa-bisa saya dianggap gila karena kepoin properti orang lain.

Waktu dan musim berganti, kehidupan juga semakin berwarna-warni. Saya pun melupakan keinginan itu hingga akhirnya dipertemukan dengan cucu pemilik rumah yang sering saya kepoin itu. Namanya, Kak Syaleeta (@syaleeta). Menurutnya, ia pun tidak begitu tahu kapan rumah ini dibangun. Dari data awal yang ia dapat dari keturunan Hasan Djajadiningrat, anak kelimanya (dari tujuh bersaudara), Prof. Sindian Isa Djajadiningrat lahir di rumah itu pada tahun 1915. 

Kamu pasti tahu atau setidaknya mengenal siapa Hasan Djajaningrat, bukan? Iya, tokoh Sarekat Islam di Serang yang menjabat sebagai ketua hingga tahun 1920 saat ia meninggal dunia. Namanya kemudian diabadikan sebagai nama jalan yang melewati Umah Kaujon hingga pertigaan Kaloran.

Di masa kolonial Belanda, keluarga Djajadiningrat ini memegang peranan penting dalam sejarah Banten. Coba deh kamu tengok daftar nama Bupati Serang, kau pasti menemukan namanya di sana. Mulai dari Raden Bagus Djajawinata diteruskan puteranya Aria Achmad Djajadiningrat yang kemudian menjadi Bupati Batavia dan anggota Volksraad serta bergabung dengan Sarekat Islam. Bukan hanya itu saja, adik Achmad, Hossein Djajadiningrat menjadi orang Indonesia pertama yang meraih gelar doktor dari Leiden, Belanda dan menjadi guru besar pribumi pertama di Indonesia. Ia juga dikenal sebagai Bapak Metodologi Penelitian Sejarah Indonesia. Hasan Djajadiningrat sendiri adalah anak ketiga dari 8 bersaudara, genk.

Entah sampai kapan Hasan Djajadiningrat menempati rumah ini. Namun, pada tahun 1952 rumah ini dijual dan dibeli oleh M. Rachman, seorang Kepala Sekolah Guru Bantu di Serang yang berasal dari Tulung Agung. M. Rachman ini menikah dengan Raden Soleha, kakak dari Raden Eti Sukanti Nataprawira istri dari Prof. Sindian. Di rumah ini, M. Rachman juga sering menampung para murid Sekolah Guru dari luar kota untuk tinggal di paviliun rumahnya.

Bertahun kemudian, rumah ini kosong dan ditinggalkan oleh para pemiliknya. Keluarga Besar keturunan M. Rachman kemudian memutuskan merenovasi rumah ini yang prosesnya dipimpin oleh Amir Djajadiningrat, seorang arsitek yang juga putra bungsu dari Prof. Sindian Djajadiningrat. Setelah M. Rachman meninggal pada tahun 1977, istinya menyusul tahun 1981. Rumah ini kemudian ditempati oleh anak mereka, Apriliani dan suaminya Andi Hikmat. Setelah Andi Hikmat meninggal, istrinya yang menderita stroke pindah ke Jakarta sehingga rumah ini kosong. Pada 2015, keluarga besar M. Rachman ini kemudian memutuskan untuk merestorasi rumah ini dan selesai pada tahun 2016.

Saat restorasi itu, Kak Syaleeta menemukan buku resep dan buku menjahit yang biasanya dimiliki keluarga. Di zaman itu, para perempuan dari kalangan tertentu memang rajin menulis resep masakan, cara menjahit, merajut dan lainnya untuk kemudian mereka aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. 

Pada beberapa keluarga yang apik, buku-buku itu kemudian dipindahtangankan tidak hanya sekali, tapi terus menerus ke anak cucu. Dan Kak Syaleeta sangat beruntung memilikinya. Lebih beruntung lagi, sekarang kamu bisa mengunjungi Umah Kaujon tanpa mupeng seperti saya dulu, genk. Sebab, setelah direstorasi Umah Kaujon kemudian dijadikan function house dan resto sebelum akhirnya berganti pengelola di tahun 2021 ini.

Sekarang, mari kita urutkan perjalanan saya mengenal rumah ini; tahun 2005 saya mupeng, 2017 baru dapat berkunjung dan menikmati teh di berandanya dengan dongeng yang hanya sekilas lalu dan saya tak ingat lagi. 2021, bebas wara-wiri Umah Kaujon. 

Semoga data-data mengenai sejarah rumah ini semakin bertambah sehingga siapapun yang berkunjung ke Umah Kaujon dapat mengaksesnya sembari menikmati kopi, teh, atau wedang sambil menikmati penganan dan mendiskusikan hari depan yang lebih mengasyikan, berdua atau bersama teman-teman.

Lalu, kapan kamu ajak aku membuat sejarah terbaru tentang kita di Umah Kaujon, beb?


Umah Budaya Kaujon

Instagram: @umahkaujon.

Operasional: 10.00 s.d 21.00 WIB.

Food Court: 15.00 s.d 00.00 WIB | Ramadhan: 16.00 s.d 00.00 WIB

Narahubung: +62 878-7836-6264

Lokasi


  • 1 Comments




Menurut kabar burung bernama A'u alias Fathul Rizkoh, sekarang genk Griya Kostan Kesuren sedang sibuk mengelola street food. Karena itu, Lulu dan Mitha tidak menampakan wujudnya di kedai langganan kami ataupun menghadiri acara-acara lainnya. Dan memang benar, dari media sosial mereka juga saya tahu lokasi dan menu apa saja yang mereka sediakan. Sialnya, genk Aing sudah lebih dulu datang tanpa mengajak saya. Kesal sih tidak, cuma agak kacida saja mereka itu.

Adalah Up2u, nama kedai yang para kesayangan saya ini kelola. Mereka menawarkan konsep self service dalam menjamu para pelanggannya. Varian menu seafood dan makanan lainnya sengaja dipajang untuk diambil sendiri dan dimasak sendiri oleh para pelanggan mereka, sementara mereka menyiapkan pesanan lainnya. 

Dan malam ini, ketika saya bertemu A'u yang juga sudah lama tidak bertemu, saya katakan padanya bahwa sudah lama kami tidak makan enak. Lalu, ia kembali menjadi burung yang memberi kabar perihal betapa enaknya cumi bakar yang mereka jual di Up2u. Karena itu pula, saat ia protes karena saya belum pernah mampir, maka saya memintanya tidak usah mengantar saya ke Tembong tapi langsung ke kedai mereka saja setelah mampir dulu ke ATM di Jl. Diponegoro.

Setelah menyelesaikan urusan, kami melanjutkan perjalanan ke Iwak Banten. Di jalan, saya memintanya menyebutkan menu apa yang harus saya makan? Ia sebutkan varian yang selalu diburu para pelanggan karena rasanya yang sedap. Menurutnya, ada tiga menu yang selalu diburu para pelanggan Up2u yaitu Chicken Barbeque, Suki Tomyam, dan Cumi Sultan. Mata saya langsung buricak burinong. Aku Suki padamu! Apalagi mengingat di Munggahan kemarin rencana babacakan tidak terlaksana. Jadi, sebal. 

Soal harga, saya tidak terlalu peduli. Tapi, menurut burung A'u harga cumi yang dimiliki Up2u ratenya tidak terlalu jauh berbeda. Menurutnya ada beberapa tipe cumi yaitu regular, large, extra large dan double dan triple large. Mau pesan frozen-nya juga bisa.

Jam tangan saya menunjukan angka 00.33 WIB saat kami sampai di Iwak Banten. Lampu-lampu sudah padam, beberapa toko dan kedai makan lainnya sudah tutup. Sepi sekali, hanya 2 perempuan itu saja yang masih saja asyik karaokean menghibur meja-meja kosong dengan perlengkapan panggang dan mangkuk serta piring kotor di atasnya. Saya langsung mengacak suasana sendu dengan keriuhan pemesanan yang tidak biasa. Ogah memilih dan masak sendiri serta ingin dilayani. Sengaja. Agar mereka tidak menyanyikan lagu-lagu sendu yang piwatireun (mengkhawatirkan).

Usaha saya berhasil, Blackpink mulai diperdengarkan di sound Up2u. Sambil terus joget dan mengikuti lagu How You Like That, pesanan saya disiapkan. Mitha menyiapkan panggangan sambil menari, Lulu memilih dua varian cumi dan memanggangkannya sambil ikut bernyanyi dan joget. Sementara A'u menyiapkan minuman sambil nyanyi juga. Dan saya? Oh, tentu saja saya pun ikut joget Pentol, Rudolf. 

Tidak terasa, Cumi Sultan Up2U yang dipanggang sudah matang dan posisi kembali ke awal. Lulu karaoke, Mitha mulai beres-beres dan A'u mengambil gitar dan belajar mengikuti lagu-lagu yang dinyanyikan. Sementara saya makan dengan lahap diselingi ikut menyanyikan Ost. Chibi Marukochan, Shinchan, Hamtaro dan lagu-lagu lainnya. Meskipun rasanya, ada yang kurang. Kurang enak makan sendirian!

Seusai makan, kedai Up2u sudah selesai dibereskan. Kami meneruskan leyeh-leyeh karena mendadak malas pulang. Tapi kemudian diputuskan, Lulu dan Mitha akan ke pasar. Sementara saya yang masih malas pulang, disarankan untuk pulang ke Griya Kost Kesuren saja sama A'u. Ide yang bagus! Artinya, malam ini saya ngendong (menginap) di kostan yang tetangga sebelahnya menggemaskan. U'uh! Malam ini tak ingin aku sendiri banget ini mah. Hihuh!


Up2u

Buka setiap hari, pukul 15.00 s.d 00.00 WIB

Khusus Ramadan, pukul 17.00 s.d 00.00 WIB

Instagram

@up2u_class.srg1

Lokasi

  • 0 Comments

 




".....

Tuhan bila masih 'ku diberi kesempatan

Izinkan aku untuk mencintanya

....."


Suara Glenn Fredly terdengar dari sound yang diletakan di dekat bar Woody's Coffee. Rasanya deja vu. Sepertinya, seseorang pernah menyanyikannya dan saya tidak tahu apa maksud dan tujuannya. Karena itu, saya membiarkannya lewat tanpa ucapan; selamat suara kamu bagus atau apapun itu yang menandakan saya menerima kodenya.

Sementara di dalam bar, menu 'kopi enak' yang saya pesan sedang dibuatkan. Entah apa yang disiapkan untuk orang yang malas melihat menu seperti saya. Tapi, biasanya para barista yang saya beri ucapan 'kopi enak' selalu menyiapkan signature kedai mereka. Ada pula yang malah sengaja membuatkan menu baru yang belum ada di menu dengan nama 'cobain aja dulu' atau 'pesan lagi kalau suka'.

Masalahnya, apapun yang diawali dengan 'coba-coba', biasanya bisa bikin saya ketagihan. Sama halnya ketika kamu mendadak mengajak 'nyobain ngopi di tempat baru'. Saya jadi ketagihan diajak lagi. Terlepas dari siapapun yang akan membayar, ya. Bicara mengenai ajak-mengajak, saya mengetahui Woody's Coffee ini pun karena diajak orang yang sering saya misuh-misuhi dengan kalimat 'nggak ngajak-ngajak' saat membalas story-nya. Terima kasih, ya.

Sebelumnya, saya tidak tahu bila di jalur cepat Jalan Lingkar Selatan Kota Serang, tepatnya di ruko RDM ini, ada kedai kopi yang asyik untuk menjadi tempat kongkow maupun kantor dadakan untuk orang yang malas pergi ke kantor seperti saya. Apalagi ada fasilitas free wifi. Sorga sekali untuk kamu yang suka ngegame atau mengerjakan tugas kantor mah.

Selain varian kopi maupun manual brew, Woody's Coffee juga menyediakan varian non kopi dan minuman lainnya. Untuk teman minum kopinya, ada penganan mulai dari roti bakar, kentang dan lainnya. Dan kalau lapar ada makanan berat juga berupa ricebow dengan varian topingnya. Soal harga, sih silakan langsung dan lihat di menu Woody's Coffee saja. Tapi, harganya pas dengan cita rasa, suasana dan fasilitas yang ditawarkan.

"Sweety Deja Vu," ujar perempuan cantik pemilik Woody's Coffee yang meracikannya untuk saya. Sweety Deja Vu? Hmm....

Seperti namanya, signature Woody's Coffee ini rasanya manis. Rasa kopinya tidak terlalu tebal, khas penyajian kopi memakai V60-lah, ya. Hanya saja dan ini entah kenapa, rasa itu sama persis seperti combo deja vu yang saya rasakan. Tidak terlalu tebal dalam ingatan, tapi ada dan ditambah susulan kesadaran lainnya mengenai beberapa hal penting yang saya lewatkan, membuat saya berulang kali mengucap astaga.

Mendadak, malam ini saya ingin menari tandav dengan perasaan yang entah apa namanya. Tapi, karena saya tidak bisa menari dan terlalu malu untuk melakukan tarian acak ala saya di hadapan orang-orang yang belum begitu saya kenal, maka saya memilih mengacak lagu yang sering diputar di Woody's Coffee dengan memutar Shiv Tandav Stotram ditutup dengan Semoga, Ya-nya Nosstress.

Semoga, ya kamu juga bisa menikmati Sweety Deja Vu-nya Woody's Coffe dengan deja vu yang lebih banyak sweet-nya agar kita bisa tukar cerita. Deal?




WOODY'S COFFEE

Buka setiap hari, pukul 11.00 s.d 23.30 WIB

Khusus Ramadan, pukul 17.00 s.d 23.30 WIB

Instagram: @coffeewoodys

Map:




  • 0 Comments
Older Posts Home

Where we are now

o

About me

a


@NYIMASK

"Selamat datang dan selamat membaca. Semoga kita semua selalu sehat, berbahagia, dan berkelimpahan rezeki dari arah mana saja.”


Follow Us

  • bloglovin
  • pinterest
  • instagram
  • facebook
  • Instagram

recent posts

Labels

#dirumahaja #tukarcerita Artikel Catatan Perjalanan Celoteh Cerpen E-Book Esai Info Lomba Journey Jurnal Kamar Penulis Lowongan Kerja Naskah Poject Promo Puisi Slider Undangan

instagram

PT. iBhumi Jagat Nuswantara | Template Created By :Blogger Templates | ThemeXpose . All Rights Reserved.

Back to top