Pembohong Nomor Satu



"Apa yang kamu lakukan ketika kamu dibohongi seseorang?"
"Percaya."
"What? Serius masih percaya?"
"Percaya dia akan mengulanginya lagi dan lagi atuh."
"Ooh, kirain."
"Kirain aku bego atau kamu mau mengakui dosa?"
"Hehe."
"Leh."
"Makan, yuk?"
"Susah amat bilang 'maaf'."
"Makan aja yuk, aku traktir. Mau makan di mana?"
Itu hanya sebagian percakapan kita setiap kali kamu membohongiku. Kamu yang sulit meminta maaf, aku yang memiliki radar paling sensitif dan tahu kapan kau berbohong. Bahkan saat kamu menyembunyikan hal-hal yang entah bagaimana bisa kuketahui juga.
Curiga berlebihan? Mungkin saja. Meskipun ini agak berbeda. Sebab, jika aku mencurigai sesuatu, aku pasti bersusah-susah mencari tahu kebenaran dari yang sedang aku curigai. Ini hanya seperti aku menemukan beberapa kata bagus di buku yang belum kubaca.
Aneh, kan? Aku sendiri pun masih sering gagal paham tiap kali hal ini terjadi.
"Jadi makan?" Tanyaku saat kulihat kamu masih sibuk dengan handphone dan kadang tersenyum sendiri. Kamu tak menjawab.
"Dasar pembohong nomor satu," gerutuku sembari mencubit pinggangmu.
"Adududuh! Sakit...," jeritmu. Setelah kulepas, kamu buru-buru memasukan handphone ke saku. "Ayo kita makan, pemaaf nomor satu," ujarmu sembari memelukku.
"Ngeledek," dengusku.

You Might Also Like

0 Comments