Padma di Pertemuan Pertama



Aku pasti akan ke sana, tapi setelah dia menemuiku di sini. Enak aja aku yang nyamperin duluan.

Kau berceloteh seriang biasa, seolah apa yang kau katakan itu sungguh berasal dari lubuk hatimu. Meskipun setelah kau mengucapkannya, kau merasa terkejut sendiri dengan kalimat yang keluar dari mulutmu. Apalagi bila kalimat itu perihal hal-hal yang belum terjadi. Kau akan langsung diliputi ketakutan, sungguh pun kalimat itu baik, tapi kau selalu begitu. Kau selalu merasa menyesal sudah mengucapkan kalimat yang belum tentu bisa kau pertanggungjawabkan kebenarannya. Kau takut hal itu terjadi, kau juga takut hal itu tidak terjadi.

Sering kau dapati dirimu merutuki dirimu sendiri dan mempertanyakan ulang hingga menyesalinya. Terus menerus seperti itu. Kadang, kau merasa harus diam saja. Tapi mulutmu seperti tak memiliki daun pintu. Padahal, kau sadar betul, setiap kata-katamu bisa saja termanifestasikan hingga akhirnya menjadi kenyataan. Tapi karena kau juga yakin, tidak ada seorang pun yang akan mempercayai ucapanmu, maka kau membawanya ke dalam candaan dan tawamu saja. Seperti yang terjadi ini. Kawanmu tidak mempercayai ucapanmu.

Alah, bisa aja. Mana ada yang begitu. Temanmu menjawab celetukanmu.
Ah, kita lihat saja nanti. Tapi alurnya seperti itu. Ujarmu sembari menyeringai dengan mimik dibuat lucu.

Saat itu, kau mengatakannya dengan keyakinan penuh. Sebab keyakinan itulah yang sedang memenuhi seluruh inderamu. Radar di kepalamu seolah menangkap sinyal yang kuat hingga kau sendiri merasa tidak percaya dengan apa yang kau rasakan, apa yang kau lakukan, dan yang kau katakan. Kau mesti berulang kali memperingatkan diri untuk tidak berbuat macam-macam, tetap diam, tetap berada di posisimu sebagai yang tidak tahu apa-apa. Kau bukan cenayang yang bisa memprediksi masa depan, kau bukan peramal yang bisa meramalkan nasibmu sendiri. Kau hanyalah seorang perempuan biasa, yang tak dapat melihat apa-apa, tak mendengar apa-apa dan tak merasakan kehadiran-kehadiran di sekitar pun. Kau hanyalah kau.

Sungguhpun sejak bocah kau merasa yakin akan ada yang datang menemui dan menjemputmu. Kau akan dibawa pergi ke tempat yang jauh dan hanya sesekali pulang. Keyakinan itu, sadar atau tidak, sering menolongmu di hari-hari terburuk, di hari-hari paling sedih--paling menyedihkan dalam hidupmu. Kau merasa, seseorang--entah kapan, pernah menjanjikannya padamu. Ia memintamu menunggu, sebab ia akan menjemputmu. Meskipun kau tidak tahu, siapa dan bagaimana rupanya. Kau hanya merasa, ia akan benar-benar menepati janjinya. Dan ketidaktahuan itu sering memunculkan ego beserta kawan-kawannya di dadamu, karena itu kau memutuskan bersama orang lain sembari bertanya-tanya; 'diakah?'. Jika bukan, kau kembali bertanya; 'kapan putusnya?'. Dan seperti anak-anak yang bosan, kau akan segera mengakhirinya dengan riang gembira. Ah, tidak, kadang kau menangis sebentar, lalu lekas berlari dan bermain lagi.

Serupa tetesan embun setiap pagi, serperti itu pula kesadaranmu mulai terbentuk. Ah, tidak, perumpamaan itu terlalu lembut untuk seorang keras kepala sepertimu. Tapi tak apa, karena kesadaran memang selembut itu meskipun peristiwa yang membangkitkan kesadaran itu bisa saja keras dan akan lebih keras lagi. Setelah kesadaran itu mulai memenuhi cangkir di dalam dirimu, kau berhenti bermain dan masuk ke dalam jiwamu sendiri.

Lalu, apakah kalimat yang kau ucapankan pada kawanmu itu menjadi kenyataan? Jangan dijawab, kuceritakan saja padamu.

Setelah mengatakan itu pada kawanmu, kau putuskan untuk mengenal orang yang dimaksudkannya itu melalui media sosial. Kau lihat aktivitasnya dan kau juga memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan apa yang sudah kau ucapkan pada kawanmu. Terjadi atau tidak, itu urusan belakangan. Yang penting, sudah berkenalan. Toh, jika semesta sudah merestui pertemuan, seseorang yang berada di ujung dunia pun pasti bisa saling menemukan. Kau berusaha berinteraksi dengannya untuk sekadar menyapa agar kau tidak merasa berdosa karena telah mengatakan sesuatu yang semestinya tidak kau katakan pada kawanmu.

Lalu, ketika pertemuan itu sudah digariskan dan ia akan berangkat menuju kotamu, kau kirimkan pesan padanya:

"Tolong bawakan bunga yang di kolam itu, ya,"
"Oke, nanti aku bawakan," jawabnya.

Hah? Semudah itu? Pikirmu tak percaya seolah selama ini apapun yang kau inginkan tidak pernah kau dapatkan dengan mudah. Padahal, sebaliknya. Kau selalu bisa mendapatkan apapun yang kau inginkan dengan sedikit usaha saja. Hanya saja, mungkin kau baru kali itu merasa seseorang yang belum mengenalmu dengan utuh, belum bertatap muka dapat dengan mudah meluluskan permintaanmu. 

Kau sedang iseng atau sedang mencoba melihat reaksi orang lain yang sedang kau repotkan? Seperti biasa, kau tidak pernah takut melakukannya meskipun kau bisa saja dianggap sebagai seseorang yang hanya mengambil keuntungan dari orang lain. Kau seperti anak kecil yang naif, yang tidak pernah memikirkan bagaimana seseorang menempelkan penilaian itu padamu. Kau biarkan saja mereka memberikan tempelan-tempelan itu di tubuhmu, sementara kau asyik tertawa--menertawakannya. Kau senang bila seseorang telah salah memberi penilaiannya untukmu, lalu kau biarkan saja seperti itu tanpa mau repot-repot memberikan klarifikasi. Sebab bagimu, ada yang lebih penting dari memberikan klarifikasi pada hal-hal yang nanti juga ia tahu bagaimana dan siapa dirimu yang sesungguhnya. Bagaimana ketulusan tetap berada di urutan pertama dalam lakumu.

Kini, ketika kesadaran penuh di tanganmu. Kehidupan ini bagimu adalah taman bermain di antara pelajaran-pelajaran langsung yang kau dapatkan. Ya, tugasmu adalah belajar. Belajar menerima apapun yang ada di hadapanmu. Belajar bersabar dalam setiap ketidaksabaranmu. Belajar berhenti dan merenung pada setiap ketergesaan. Belajar diam dalam setiap kecerewetanmu. Belajar menahan pada setiap dorongan di dalam dirimu. Kau belajar saja terus meski kau kadang tidak menyadarinya. Pelajaran ke pelajaran yang terus menerus, yang bertumpuk-tumpuk, membuat kepalamu penuh. Kau lupa bila kapasitas memorimu tidak bisa menampung segala peristiwa.

Dan ketika hari pertemuan itu tiba, kau masih hank. Pelajaran keras yang kau dapatkan--yang berjejalan di antara berbagai peristiwa yang belum kau pilah itu--membuat kepalamu sungguh berat. Bilamana kepala adalah komputer, maka file-file itu sudah memenuhinya. Kau belum sempat membuang file-file yang tidak penting itu, bukan?

Karena itu, saat kau bertemu dengannya, dengan malu-malu kau mengakuinya. 
"Maaf, aku sedang hank," ujarmu malu-malu.
"Nggak apa-apa. Wajar. Kamu sedang lelah," katanya seraya mengedarkan pandangan ke keramaian festival.

Kepalamu boleh hank tapi tubuhmu memiliki bahasanya sendiri. Kau nyaris tidak menyadarinya, kau nyaris melewatkannya. Hanya saja, kesadaran yang dibawa serta dirinya membuatmu merasakan sesuatu yang lain. Kau merasa sedikit lega. Kau lega bertemu dan bersitatap dengannya. Meskipun kau harus berusaha keras mengingat perannya di hidupan lalumu. Setidaknya, sekarang ada padma yang dibawakannya. Padma yang berbunga sebesar purnama jika memang segala pertemuan itu sudah mendapat persetujuan semesta. Adapun maksud dan tujuannya, biarlah nanti terlihat dengan sendirinya.

Karenanya, seusai pertemuan itu, meskipun bunga itu layu dan tinggal akar saja, kau bisiki doadoa lekas tumbuh kembali, berkembang biak dengan bahagia sebelum akhirnya kau lemparkan ke kolam. Di sisi lain, saat ia mengajakmu singgah ke tempat yang serupa kampung halaman itu, kau putuskan untuk pergi menemuinya.

Perjalanan pertama yang selalu kau takuti itu, berhasil kau taklukan. Benar, ketakutan itu harus dilawan dengan keberanianmu. Kau datang dan menikmati segala tawa serta hal-hal yang sepertinya tak masuk akalmu. Tapi seperti halnya kau menerima matahari terbit di Timur dan tenggelam di Barat, kau juga menerimanya sebagaimana seharusnya keberterimaan. Kau bertemu jiwa-jiwa yang indah, yang murni dan kau mensyukurinya. Meskipun kau belum tahu lebih jauh, tapi setidaknya saat itu kau merasa lega. Satu persatu yang membuatmu hangover, kau lepaskan dan diganti dengan segala yang melegakan.

Dan jika suatu hari nanti kawanmu menanyakannya padamu, kau dapat menjawabnya seperti biasa. Kau tidak mengambil apapun selain kehangatan suasananya yang membuat dadamu merasa lega. Kau tidak menginginkan apapun selain kesadaranmu mengenai apa yang hak dan bukan hakmu. Dan kau tidak pernah mengingkan sesuatu yang bukan hakmu. Bahkan, jikalau sesuatu itu adalah hakmu dan orang lain mengakuinya sebagai miliknya, kau akan melepasnya saja. Ya, kau melepas ke semesta bagaimana akhirnya. Sebab, mungkin saja apapun yang kau miliki di hari ini, adalah milik seseorang di hari lalu dan di hari lain akan menjadi milik yang lain lagi. Kau meyakini, apapun yang menjadi hakmu akan tetap menjadi hakmu. Tidak akan tertukar. Meski harus tersesat sebentar.

Kini, nun di punggung gunung itu, setiap pagi dan sore, bunga-bunga di kolam kecil itu mekar sempurna.

Bagaimana? Apakah kau sudah tahu jawabannya? Sudah tahu arah mana yang kau tuju? Mari berdoa semoga semesta memberi restu dengan menghilangkan aral rintang. Bukankah kau sudah tahu bila tugasmu di kehidupan ini bukan hanya untuk jatuh cinta saja? Ada yang harus kau lahirkan. Dan apapun yang kau harapkan, asal untuk kebaikan dan demi kebaikan bukan hanya untuk dirimu sendiri, akan terjadi. Semesta merestui...

Rahayu sagung dumadi.

You Might Also Like

0 Comments