Ternyata Ini Sejarah Umah Kaujon!



Tahun 2005 menjadi awal perjalanan saya di Serang. Kaujon menjadi kampung pertama yang saya tinggali. Kampung ini adalah kampung tua dimana rumah-rumah tua masih banyak berdiri kokoh. Diam-diam saat melewatinya, saya berdoa semoga para pemiliknya tetap mempertahankannya. Setidaknya, tidak merobohkan dan menggantinya dengan bangunan baru. Itu menyedihkan.

Salah satu rumah yang sering membuat kepala saya berputar hanya untuk melihatnya lebih lama adalah rumah kedua setelah jembatan Kali Cibanten. Karena itu, setiap kali saya diserang ingin jogging atau sedang ingin berjalan kaki ke Alun-alun Serang, saya selalu berharap ada seseorang memanggil saya untuk mampir. Entah untuk sekadar minum teh atau mendengarkan dongeng di berandanya. Tentu saja, saat itu saya tidak punya keberanian untuk mengetuk pintu rumah itu. Bisa-bisa saya dianggap gila karena kepoin properti orang lain.

Waktu dan musim berganti, kehidupan juga semakin berwarna-warni. Saya pun melupakan keinginan itu hingga akhirnya dipertemukan dengan cucu pemilik rumah yang sering saya kepoin itu. Namanya, Kak Syaleeta (@syaleeta). Menurutnya, ia pun tidak begitu tahu kapan rumah ini dibangun. Dari data awal yang ia dapat dari keturunan Hasan Djajadiningrat, anak kelimanya (dari tujuh bersaudara), Prof. Sindian Isa Djajadiningrat lahir di rumah itu pada tahun 1915. 

Kamu pasti tahu atau setidaknya mengenal siapa Hasan Djajaningrat, bukan? Iya, tokoh Sarekat Islam di Serang yang menjabat sebagai ketua hingga tahun 1920 saat ia meninggal dunia. Namanya kemudian diabadikan sebagai nama jalan yang melewati Umah Kaujon hingga pertigaan Kaloran.

Di masa kolonial Belanda, keluarga Djajadiningrat ini memegang peranan penting dalam sejarah Banten. Coba deh kamu tengok daftar nama Bupati Serang, kau pasti menemukan namanya di sana. Mulai dari Raden Bagus Djajawinata diteruskan puteranya Aria Achmad Djajadiningrat yang kemudian menjadi Bupati Batavia dan anggota Volksraad serta bergabung dengan Sarekat Islam. Bukan hanya itu saja, adik Achmad, Hossein Djajadiningrat menjadi orang Indonesia pertama yang meraih gelar doktor dari Leiden, Belanda dan menjadi guru besar pribumi pertama di Indonesia. Ia juga dikenal sebagai Bapak Metodologi Penelitian Sejarah Indonesia. Hasan Djajadiningrat sendiri adalah anak ketiga dari 8 bersaudara, genk.

Entah sampai kapan Hasan Djajadiningrat menempati rumah ini. Namun, pada tahun 1952 rumah ini dijual dan dibeli oleh M. Rachman, seorang Kepala Sekolah Guru Bantu di Serang yang berasal dari Tulung Agung. M. Rachman ini menikah dengan Raden Soleha, kakak dari Raden Eti Sukanti Nataprawira istri dari Prof. Sindian. Di rumah ini, M. Rachman juga sering menampung para murid Sekolah Guru dari luar kota untuk tinggal di paviliun rumahnya.

Bertahun kemudian, rumah ini kosong dan ditinggalkan oleh para pemiliknya. Keluarga Besar keturunan M. Rachman kemudian memutuskan merenovasi rumah ini yang prosesnya dipimpin oleh Amir Djajadiningrat, seorang arsitek yang juga putra bungsu dari Prof. Sindian Djajadiningrat. Setelah M. Rachman meninggal pada tahun 1977, istinya menyusul tahun 1981. Rumah ini kemudian ditempati oleh anak mereka, Apriliani dan suaminya Andi Hikmat. Setelah Andi Hikmat meninggal, istrinya yang menderita stroke pindah ke Jakarta sehingga rumah ini kosong. Pada 2015, keluarga besar M. Rachman ini kemudian memutuskan untuk merestorasi rumah ini dan selesai pada tahun 2016.

Saat restorasi itu, Kak Syaleeta menemukan buku resep dan buku menjahit yang biasanya dimiliki keluarga. Di zaman itu, para perempuan dari kalangan tertentu memang rajin menulis resep masakan, cara menjahit, merajut dan lainnya untuk kemudian mereka aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. 

Pada beberapa keluarga yang apik, buku-buku itu kemudian dipindahtangankan tidak hanya sekali, tapi terus menerus ke anak cucu. Dan Kak Syaleeta sangat beruntung memilikinya. Lebih beruntung lagi, sekarang kamu bisa mengunjungi Umah Kaujon tanpa mupeng seperti saya dulu, genk. Sebab, setelah direstorasi Umah Kaujon kemudian dijadikan function house dan resto sebelum akhirnya berganti pengelola di tahun 2021 ini.

Sekarang, mari kita urutkan perjalanan saya mengenal rumah ini; tahun 2005 saya mupeng, 2017 baru dapat berkunjung dan menikmati teh di berandanya dengan dongeng yang hanya sekilas lalu dan saya tak ingat lagi. 2021, bebas wara-wiri Umah Kaujon

Semoga data-data mengenai sejarah rumah ini semakin bertambah sehingga siapapun yang berkunjung ke Umah Kaujon dapat mengaksesnya sembari menikmati kopi, teh, atau wedang sambil menikmati penganan dan mendiskusikan hari depan yang lebih mengasyikan, berdua atau bersama teman-teman.

Lalu, kapan kamu ajak aku membuat sejarah terbaru tentang kita di Umah Kaujon, beb?


Umah Budaya Kaujon

Instagram: @umahkaujon.

Operasional: 10.00 s.d 21.00 WIB.

Food Court: 15.00 s.d 00.00 WIB | Ramadhan: 16.00 s.d 00.00 WIB

Narahubung: +62 878-7836-6264

Lokasi


You Might Also Like

0 Comments