utherakalimaya.com

  • Home
  • Features
  • _ARTIKEL
  • _CATATAN
  • _UNDANGAN
  • DOKUMENTASI
  • contact




Dari awal tahun ini, sesi beberes masih berlangsung. Ada banyak hal yang saya temukan. Baik kelakuan orang, sifat mereka, maupun arsip-arsip yang membuat saya nyengir sendirian karena ini sungguh menggelikan. Tapi, mungkin karena itu pula saya sampai pada pemahaman saat ini. Beruntungnya saya telah melewati hal itu, meskipun asli agak menggelikan jika mengingatnya kembali. Sampai segitunya. Cuma dua kata yang begitu saja meluncur dari mulut saya saat ini.

Saya jadi teringat beberapa kalimat bagus tentang apa yang kita bayar dari setiap perbuatan. Khususnya hubungan antar sesama manusia. Mungkin ini juga menjadi penyebab beberapa hal harus dibayar oleh orang-orang yang telah berlaku kurang ajar pada saya, terlepas dari banyak atau sedikit mereka berkontribusi di dalamnya.

Yah, beruntungnya menyerahkan segala pembalasan pada semesta itu adalah kita tidak perlu repot-repot melakukan apapun, kita hanya perlu duduk manis dan menonton kejatuhan demi kejatuhan dari orang-orang itu. Dendam? Oh, iya awalnya. Karena itulah sajak-sajak ini hadir dan saya kirimkan ke Banjarbaru Rainy Days Festival 2017. Lucu jika saya baca saat ini. Mau tertawa bareng?

Supata I

kau yang tertidur di belantara

bangun dan sembunyilah 

di balik halimun atau gugur daun

hingga tangan semesta menyentuh temali

untuk mempertemukan kita lagi

kau yang dibawa pergi 

bangun dan segeralah kembali

supata purba yang mengakar ke pusar bumi

telah menjerat kaki si serakah dan si dengki

hingga tak akan bisa menginjak tanah ini lagi

kau yang sering alpa

bersiaplah terjaga

tangan-tangan penghancur

sedang tunaikan tugas baru 

tipu muslihat begitu pengar

agama dibuatnya begitu pemarah

ras dan suku dibuatnya serupa tisu murah

keadilan semakin sulit terarah

kau yang khianat

bersiaplah dilaknat

pusar angin telah terbuka

Dia yang murka akan segera tiba

membawa janji semesta

kau akan binasa!

(Mandalawangi, 2017) 

* * *

Supata II

angin Selatan bersiut mengirim badai ke Utara

bersama tujuh kutuk paling purba

seakan bersiap melilit angka-angka

dalam kalender sebelum purnama tiba

sebelum sembilan pedang dihunus,

ditunjuk ke langit dan ditujah ke bumi


O’ biyung, petaka apa kiranya?

siapa dia yang menghela puja-puja di sandekala?


bola api menyala di udara

suara genta terdengar gemerincing

dari jauh hingga pekak telinga

entah siapa yang memainkannya

atau dari mana asalnya

O’ biyung pencipta tiga Loka!

kutangkup tangan di dada

sungguh, aku tak hapal mantra penolak bala

di antara kesiut angin yang mengubah rambut

menjadi mata pisau paling sengit

(Baros, Oktober 2017)

 * * *

Supata III

sajakku lahir dari kedalaman segara

yang mengirim gelombang 

kehancuran bagi yang menyuguhkan dusta,

air mata dan cinta yang merana 

sajakku lahir dari pusar angin

yang menghela kepedihan untuk kau rasa

penghianatan, putus asa, karma 

menjadi tali kekang ini supata

sajakku lahir dari pusat bumi

yang keluar untuk menelikungmu

di kehidupan mana saja

bila kau ingkari janji di tepi telaga

: bersama selamanya 

atau mati sebagai pendosa

(Mandalawangi, Oktober 2017)

Bagaimana? Apakah kamu merasakan sesuatu? Kalau saya sendiri, nyengir. Njir, ini apaan? Saya merasa bahwa diri saya saat itu sedang 'menghilang' atau 'tenggelam' dalam amarah yang luar biasa di dalam diri saya. Kemarahan yang kemudian saya keluarkan melalui ketiga sajak itu. Bagaimana pun, saya bersyukur sudah melewati dan terlepas dari masa-masa itu. Saya tidak menyimpan dendam. Perasaan marah atau benci pun sudah tidak ada. Satu hal yang pasti, saya tidak memiliki keinginan untuk mengulang, atau bahkan berhubungan lagi dengan apapun di masa-masa itu. Saya sudah mengembalikan perasaan-perasaan tidak mengenakan itu pada yang punya, pada semesta alam. Dan itu melegakan, sekaligus meringankan langkah saya saat ini. Saya menolak terhubung, bergantung atau bahkan melekat pada segala sesuatu yang hanya membuat jiwa saya tidak berkembang.

Karena apa? Hidup ini harus terus berjalan sesuai dengan apa yang sudah digariskan pada saya oleh-Nya, dan bukan oleh siapapun di luar diri saya. Terima kasih, ya.

  • 0 Comments

 





sisipkan aku di rambutmu

agar kelopakku menyaksi

malam panjangmu

saat kau mulai mengurai

tali rasa yang mengusut itu


silakan,

kutemani kau mengurai satu persatu

hingga bertemu warna yang satu;

merah dengan merahnya

biru dengan birunya

emas dengan emasnya


selipkan aku di telingamu

agar wangiku menemanimu

mengheningkan diri di janari

kubantu mengamini doadoa baik

yang kau lesatkan ke langit

kau tujahkan ke bumi

dan kau kirim ke segala penjuru

bukan hanya untuk dirimu sahaja


silakan,

kutemani kau bersiap

menyambut dia di hidupmu

dia, kekasihmu


(Banten Girang, 20-10-2020)


  • 0 Comments


Jauh sebelum hari ini,
kita terbiasa bersembunyi
di balik tabir yang setipis ari
berpura tak membaca, tak terbaca
meski kita dilahirkan kata-kata

Jauh sebelum hari ini,
kita selalu saling menerka
siapa dan di mana dia
yang selalu menyapa dalam doa

Jauh sebelum hari ini,
pertemuan diam-diam digariskan
semesta memberiku kabar
perihal yang menjadi kedatangan.
"Bersiaplah," katanya dalam semilir dingin
di pucuk telinga.

Jauh sebelum hari ini,
aku diam-diam mengakar dan mekar di dadamu


Rangkasbitung, 2019
  • 0 Comments




tak akan lagi aku memohon kehadiran
yang hanya serupa lagu paling sentimentil
selalu mengayun ke perasaan tak tentu

sesak semakin rutin datang
amarah banyak diperam
kecurigaan cepat sekali matang

kau mungkin lupa,
kita pernah berbagi pesan yang diputus zaman
menyusun tanda yang disisakan
dan menujahkan semoga dalam sujud tengah malam

tapi jalan panjang yang kita tapaki
berubah menjadi hitam dan putih di papan catur
bidak-bidak banyak tersungkur dengan dada hancur
tak ada yang gaduh mengaduh
hanya burai tawa yang membuat sakit telinga

pada akhirnya,
susunan tak pernah yang menjadi utuh

meski seluruh bagian sudah di hadapan
dan kita tahu harus darimana memulai

(2018)
  • 0 Comments






Aku tidak tahu di mana aku akan mati.
Aku pernah melihat laut lepas di Pantai Selatan, ketika aku di
sana membuat garam bersama ayahku;
Jika aku mati di lautan, dan mereka membuang jasadku ke air dalam, hiu-hiu akan datang.
Mereka akan berenang mengelilingi mayatku, dan bertanya:
“Yang mana dari kami sebaiknya menelan tubuh ini, yang tenggelam ke dalam air?”—
Aku tidak akan dengar.

Aku tidak tahu di mana aku akan mati.
Aku pernah melihat rumah Pak Ansu yang terbakar, yang telah dia bakar sendiri karena dia sudah gila.
Jika aku mati dalam rumah yang terbakar itu, kayu yang membara aku terjatuh ke mayatku,
Dan di luar rumah aka nada orang-orang yang berteriak dengan nyaring, sambil melemparkan air untuk memadamkan api.
Aku tidak akan dengar.

Aku tidak tahu di mana aku akan mati.
Aku pernah melihat Si Unah kecil jatuh dari pohon kelapa, ketika dia sedang memetik sebuah kelapa untuk ibunya.
Jika aku mati dari pohon kelapa, aku akan terbaring mati di kaki pohon, di semak-semak, seperti Si Unah.
Ibu tidak akan menangisiku, karena dia sudah meninggal. Tetapi yang lainnya akan menangis dengan suara nyaring: “Lihat, di sana terbaring Saijah!”
Aku tidak akan dengar.

Aku tidak tahu di mana aku akan mati.
Aku pernah melihat jasad Pak Lisu, yang meninggal karena umur tua, karena rambutnya berwarna putih.
Jika aku mati karena umur tua, dengan rambut putih, para wanita yang berduka akan berdiri mengitari jasadku.
Dan mereka akan meretap dengan nyaring, seperti para wanita yang berduka mengelilingi jasad Pak Lisu. Dan para cucu juga akan menangis, sangat nyaring—
Aku tidak akan dengar.

Aku tidak tahu di mana aku akan mati.
Aku sudah melihat banyak orang di Badur mati. Mereka dibungkus dengan kain putih, dan dikubur dalam tanah.
Jika aku mati di Badur, dan mereka menguburku di luar desa, di sebelah Timur di balik bukit, di mana rerumputan begitu tinggi,
Ketika Adinda melewati jalan itu, dan keliman sarungnya dengan lembut akan menyapu rumput yang dilewati…
Maka aku akan dengar.
  • 0 Comments





Nyanyian Saijah untuk Adinda

Adinda! Adinda!
Aku dirampok orang di jalan.
Mereka tikam perutku, punggungku dan leherku.
Mereka rampas seluruh uang simpananku.

Ya, Allah!
Tinggal beberapa kilo dari kampong.
Membawa sepuluh tahun kerinduan.
Yang terbayang kini berkabut.
Yang tergenggam kini lupuT.

Adinda! Adinda!
Kemiskinan telah memisahkan kita.
Sepuluh tahun menahan dahaga asmara
Alangkah sulit cinta di zaman edan,
di dalam hidup penuh ancaman.
Semua hak dianggap salah.
Tak punya apa-apa dianggap sampah.
Alangkah hina orang yang kalah.
Meskipun miskin tanpa daya
aku toh harus berupaya
karena takut gila
Dan dosa.

Tapi kini
setelah kudapat rezekiku,
aku tercapak ke dalam rawa.
Gugur sudah harapan rinduku.
Sia-sia jasadku menahan nyawa.
Orang miskin dihabisi orang-orang miskin.

Adinda! Adinda!
Kamukah itu yang muncul dari kabut?
Kusangka kamu, kusangka maut.
Aduh, berahi diakhir hari!
Badanku meregang
waktu wajahmu membayang.
Mulutku kering oleh gairah nafsu.
Tubuhmu telanjang di langit.
Kelangkangku dibelai kupu-kupu
Tanganku menggapai, menggenggam dadamu.
Adinda!

Seribu kunang-kunang
menghiasi rambutmu yang tergerai
dan menyentuh mukaku
karena tubuhmu turun dari langit
menghimpit tubuhku.
Lalu kurasa lidahmu
masuk ke dalam mulutku.
Dan bersamaan dengan truk gandeng
yang lewat menderu,
muncratlah air berahiku.
Sesudah itu
perlahan-lahan
lenyaplah bayanganmu
Bersama nyawaku.

Depok I, 12 Januari 1991.
  • 0 Comments




Nyanyian Adinda untuk Saijah

Di Kalijodo aku menyanyi di dalam hati.
Kawih asih seperti pohon tanpa daun.
Mengandung duka seperti pohon tanpa akar.
Saat adalah malam menanti pagi.

Saijah, akang!
Tanpa petunjuk dan jejak yang nyata
tembang cintaku yang berdebu
mencari kamu.

Sebelum sepuluh tahun yang lalu
cintaku tabah lagunya menderu
Tapi kini ia jengah
Merayap dengan penuh rasa malu.

Akang, aku telah berdosa
Tanpa daya aku nodai cinta.

Tak lama setelah akang berangkat ke Sumatera,
aku gelisah dalam jaring rindu asmara.
Setiap menjelang masa datang bulan
wajahmu selalu membayang.
Rasanya seperti menjadi gila.

Setiap kali memuncak rasa rindu
rasa gatal menjalar ke putting-putting susu.
Rasa geli yang lembut di seluruh kulit perut.
Sungai darah di tubuhku bergolak.
Aku terengah-engah
dan bernapas lewat mulut.
Akang, alangkah berat rasanya
bila jantungku berdetak
jauh dari jantungmu.

Pada suatu hari
di masa aku linglung oleh rindu kepadamu
aku kenal lelaki seperti seorang bapa
di balai desa.
Ia mandor proyek jalan raya.
Di desa yang dirundung kemiskinan
ia menjadi harapan dan hiburan.
Suka berbagi rokok
mampu memberi pekerjaan.
Royal dalam pergaulan
Dan kata-katanya mengandung keramahan.
Waktu itu aku berjualan kue ketan,
Pisang rebus dan nasi dengan sayuran.
Ia selalu memborong sisa dagangan.
Kepada buruhnya dibagi-bagikan.
Aku terpesona kepada kemampuan uangnya
dan sikapnya yang seperti bapa.
Kepadaku ia selalu berkata
jangan ragu menyusul akang ke Sumatera.
Dan bila di balik rumpun pisang
ia memeluk pundakku
tangannya terasa hangat dan nikmat
membuat hidupku jadi sentosa.

Lalu datang surat akang dari Menggala.
Akang bilang mau membuka lading di Karta
Aku kembali linglung dan gila.
Dada menjadi tungku dan rindu menjadi bara.
Kepada Pak Mandor aku bercerita semuanya.
Kembali pundakku merasakan pelukannya.
Dalam kedamaian yang hangat ia berkata:
"Siapkan dirimu.
Seminggu lagi kuantar kamu
Menyusul Saijah ke Sumatera."

Ya, Allah, seumur hidup belum pernah keluar desa.
Kini gerbang kurungan tiba-tiba terbuka.
Keluasan dunia menjadi goda yang mempesona.

Seluruh warga desa memberi restu
waktu kami pamit berangkat ke Sumatera.
Di dalam bis ia genggam tanganku.
Rasanya sirna hidup miskin dan sengsara.
Kami melaju ke arah surya.

Apa tahuku tentang jalan ke Sumatera!
Tapi toh aku ada pandu, ada bapa.
Ia mengajak nginap di Karawaci.
Di waktu malam ia mengetuk pintu.
Ia memberiku kain, selendang dan baju baru.
Ketika aku meluap oleh rasa gembira
ia memelukku dengan tiba-tiba.
Tubuhnya rapat ke seluruh tubuhku.
Susuku yang kenyal tertekan ke dadanya
menyebabkan darahku bergelora.
Tak bisa bilang tidak.
Kepalaku hilang di dalam kemabukan
ketika ia bertubi-tubi
menciumi wajah dan leherku.

Malam itu ia ambil perawanku.
Keperkasaannya menindih kesadaranku.

Akang, sejak malam itu di Karawaci
aku telah menodai cinta kita.
Aku telah menjamah dosa
dan melengkapkannya ke dadaku.
Ya, akang, aku telah menikmati candu dunia.

Malam itu
sambil terlentang dengan lunglai
dan mendengar ia mendengkur di sampingku
aku telah bertekad
untuk menyerahkan jiwa ragaku
kepada lelaki itu.

Aku piker aku akan jadi istrinya.
Ternyata ia hanya ingin menjadi tuan.
Dan menikmati diriku selama sebulan.
Tetapi aku ikhlas mengabdi
tanpa melawan.

Selanjutnya pada suatu hari
ia bawa aku ke Cikupa.
Dimana semua orang mengenalnya.
Memang benar ia mandor
tetapi rupanya
ia juga majikan pelacuran

Bagaikan tertenung
menikmati cinta dan derita
aku selalu mematuhinya.
Aku menjadi pelacur kesayangan.
Di antara para sopir truk menjadi rebutan.

Aku menjadi dagangan yang menguntungkan.
Diedarkan ke Karawaci,
Cimone, Cikupa, dan Balaraja.
Di Cilegon aku diantri.

Dari Karawaci Sampai ke Merak
di sepanjang jalur pembangunan,
dari desa-desa yang porak poranda
muncullah gadis-gadis remaja
menjadi bunga di warung-warung pelacuran.

Pabrik dan pelacuran
adalah satu pasangan.
Orang Korea, Jepang dan Jerman
semua sudah aku rasakan
Adalah di Cilegon
aku pertama terkena rajasinga.

Dengan tabah aku lawan penyakitku.
Di jagat raya tidak kurang obat-obatan
Dan ketika kembali seperti sediakala
majikan membawa aku ke Ancol, Jakarta.

Jakarta, oh, Jakarta!
Pohon lampu-lampu neon.
Sungai raya dengan arus mobil dan bis kota.
Langganan yang bersih dan kaya.
Setiap subuh sarapan di restoran.
bangun siang terus ke toko berbelanja.

Hidup rasanya seperti mimpi.
Tanpa bumi.
Banyak yang terjadi.
Tanpa ada yang masuk ke hati.
Aku hanyut di dalam aneka pengalaman
di mana selalu bukan aku yang berkuasa.

Segala ingatan kepadamu, akang
segera aku singkirkan.
Rasa malu kepadamu
Aku benamkan ke dalam batin kebal rasa.
Rajasinga demi rajasinga aku kalahkan.
Sampai pada suatu hari
Aku merasa demam tinggi
Dan tubuhku serasa tanpa tulang.
Sejak saat itu
aku dirundung sakit tak tersembuhkan.
Sakit kepala sering datang tiba-tiba.
Rasa lemas tanpa daya.
Kanker rahim.
Berulang kali keputihan.

Bagaikan barang rongsokan
nilaiku merosot
menjadi pelacur ketengan.
Mengembara ke Kalidere,
Muara Angke, Tanah Abang Bongkaran,
dan Jati Petamburan.

Sebagai mahluk setengah bangkai
aku terlindung di tempat-tempat ini.
Yang sudah sah
menjadi gua-gua sampah
Aku bercampur dengan mereka.
Cendawan-cendawan kehidupan
Menghibur para lelaki kumuh
yang pura-pura lupa kemiskinan.

Akhirnya, akang
aku tersingkir ke Kalijodo.
Tanpa rumah
Tanpa kesehatan
Tanpa perlindungan.

Kini, di malam hari,
teronggok di tepi jalan raya ini
sambil menghadap kiblat arah desa kita,
aku merasa mengambang
di udara yang gelap gulita.
Seakan aku mabuk dan mati rasa.
Jasadku tak berdaya.
Dunia lenyap
Segala macam peristiwa berlalu.
Namun tanpa aku duga,
Di dalam senyap muncul wajahmu.

Ada kehangatan terasa dijidatku.
Kepada bayangan wajahmu
aku tembangkan kawih asih yang berdebu
dengan mulutku yang bisu, biru, ternganga dan kaku.

Akang, kamu seperti dewa.
Sangat jauh dan mulia.
Maafkan, aku sudah berdosa.
Tembangku ini, akang
ingin bergayut di pucuk bamboo.
Sia-sia
ia disambar truk gandeng yang lewat menderu.

Bila tembangku ini selesai, akang,
aku mati

Depok, 14 Januari 1991
  • 0 Comments





Demi Orang-orang Rangkasbitung

Tuan-tuan dan nyonya-nyonya,
Salam sejahtera!
Nama saya Multatuli.
Datang dari masa lalu.
Dahului abdi kerajaan Belanda.
Ditugaskan di Rangkasbitung,
ibu kota Lebak saat itu.
Satu pengalaman penuh ujian.
Rakyat ditindas oleh bupati mereka sendiri.
Petani hanya bisa berkeringat,
tidak bisa tertawa
dan hak pribadi diperkosa.
Demi kepentingan penjajahan,
Kerajaan Belanda bersekutu dengan kejahatan ini.
Sia-sia saya mencegahnya.
Kalah dan tidak berdaya.

Saya telah menyaksikan
bagaimana keadilan telah dikalahkan
oleh para penguasa
dengan gaya yang anggun
dan sikap yang gagah.
Tanpa ada ungkapan kekejaman di wajah mereka.
dengan bahasa yang rapi
mereka keluarkan keputusan-keputusan
yang tidak adil terhadap rakyat.
Serta dengan budi bahasa yang halus
mereka saling membagi keuntungan
yang mereka dapat dari rakyat
yang kehilangan tanah dan ternaknya.
Ya, semuanya dilakukan
sebagai suatu kewajaran

Dan bangsa kami di negeri Belanda
Pada hari Minggu berpakaian rapi,
berdoa dengan tekun.
Sesudah itu bersantap bersama,
menghayati gaya peradaban tinggi,
bersama sanak keluarga,
menghindari perkataan kotor,
dan selalu berbicara
dalam tata bahasa yang patut,
sambil membanggakan keuntungan besar
di dalam perdagangan kopi,
sebagai hasil yang efisien
dari tanam paksa di tanah jajahan.
Dengan perasaan mulia dan bangga
kami berbicara
tentang suksesnya penaklukan dan penjajahan.
Ya, begitulah.
Kami selalu mencuci tangan sebelum makan'
dan kami meletakkan serbet di pangkuan kami.
Dengan kemuliaan yang sama pula
ketika kami memerintahkan para marsose
agar membantai orang-orang Maluku dan orang-orang Java
yang mencoba mempertahankan kedaulatan mereka!

Ya, kami adalah bangsa
yang tidak pernah lupa mencuci tangan.

Kita bisa menjadi sangat lelah
apabila merenungkan gambaran kemanusiaan
dewasa ini.
Orang Belanda dahulu
juga mempunyai keluh kesah yang sama
apabila berbicara tentang keadaan mereka
di zaman penjajahan oleh Spanyol.
Mereka memberi nama yang buruk
kepada Pangeran Alba yang sangat menindas.
Tetapi sekarang apakah mereka lebih baik
dari Pangeran yang jahat itu?

Tentu tidak hanya saya
yang merasa gelisah
terhadap dawat hitam
yang menodai iman kita.
Pikiran yang lurus menjadi bercela
karena tidak pernah bisa tuntas
dalam menangani keadilan.
Sementara waktu terus berjalan
dan terus memperlihatkan keluasan keadaannya.
Kita tidak bisa seimbang
dalam menciptakan keluasan ruang
di dalam pemikiran kita.
Memang kita telah bisa berpikir
lebih canggih dan kompleks,
tetapi belum bisa lebih bebas
tanpa sekat-sekat
dibanding dengan keluasan waktu.
Bagaimana keadilan bisa ditangani
dengan pikiran yang selalu tersekat-sekat?
Ya, saya rasa kita memang lelah.
Tetapi kita tidak boleh berhenti di sini.

Bukankah keadaan keadilan di sini
belum lebih baik dari zaman penjajahan?
Dahulu rakyat Rangkasbitung
tidak mempunyai hak hukum
apabila mereka berhadapan kepentingan
dengan Adipati Lebak.
Sekarang
apakah rakyat kecil
sudah mempunyai hak hukum
apabila mereka berhadapan kepentingan
dengan Adipati-adipati masa kini?
Dahulu
Adipati Lebak bisa lolos dari hukum
Sekarang
Adipati-adipati yang kejam dan serakah
apakah sudah bisa dituntut oleh hukum?
Bukankah kemerdekaan yang sempurna itu
adalah kemerdekaan negara dan bangsa?
Negara Anda mungkin sudah merdeka.
Tetapi apakah bangsa Anda juga sudah merdeka?
Apakah bangsa tanpa hak hukum
bisa disebut bangsa merdeka?

Para pemimpin Negara-negara maju
bisa menitikkan air mata
apabila mereka berbicara tentang demokrasi
kepada para putranya.
Tetapi di kolam renang
dengan sangat santai dan penuh kewajaran
mereka mengangkat telepon
untuk memberikan dukungan
kepada para tiran dari negara lain
demi keuntungan-keuntungan materi bangsa mereka sendiri

Oh, Ya, Tuhan!
Saya mengatakan semua ini
sambil merasakan rasa lemas
yang menghinggapi seluruh tubuh saya.
Saya mencoba tetap bisa berdiri
meskipun rasanya
tulang-tulang sudah hilang dari tubuh saya.
Saya sedang melawan perasaan sia-sia
Saya melihat
Negara-negara maju memberikan bantuan ekonomi.
Dan sebagai hasilnya
banyak rakyat dari dunia berkembang
kehilangan tanah mereka,
supaya orang kaya bisa main golf,
atau supaya ada bendungan
yang memberikan sumber tenaga listrik
bagi industri dengan modal asing.
Dan para rakyat yang malang itu, ya Tuhan,
mendapat ganti rugi
untuk setiap meter persegi dari tanahnya
dengan uang yang sama nilainya
dengan satu pak sigaret bikinan Amerika.

Barangkali kehadiran saya sekarang
mulai tidak mengenakkan suasana?
Keadaan ini dulu sudah saya alami.
Apakah orang seperti saya harus dilanda oleh sejarah?

Tetapi ingat:
sementara sejarah selalu melahirkan
masalah ketidakadilan,
tetapi ia juga selalu melahirkan
orang seperti saya.
Menyadari hal ini
tidak lagi saya merasa sia-sia atau tidak sia-sia.

Taun-tuan, para penguasa dunia,
kita sama-sama memahami sejarah.
Senang atau tidak senang
ternyata tuan-tuan tidak bisa
meniadakan saya.
Nama saya Multatuli
saya bukan buku yang bisa dilarang dan dibakar.
Juga bukan benteng yang bisa dihancurleburkan.
Saya Multatuli:
sebagian dari nurani tuan-tuan sendiri.
Oleh karena itu
saya tidak bisa disamaratakan dengan tanah.

Tuan-tuan, para penguasa di dunia,
apabila ada keadaan yang celaka,
apakah perlu ditambah celaka lagi?
Pada intinya inilah pertanyaan sejarah
kepada Anda semua.
Tuan-tuan dan nyonya-nyonya
yang hadir di sini,
setelah memahami sejarah,
saya betul tidak lagi merasa sepi.
Dan memang tidak relevan lagi bagi saya
untuk merasa sia-sia atau tidak sia-sia,
sebab jelaslah sudah kewajiban saya.
ialah: hadir dan mengalir.

Tuan-tuan dan nyonya-nyonya,
Terima kasih.

Bojong Gede, 5 Nopember 1990


  • 0 Comments



Kesaksian Bapak Saijah

Ketika mereka bacok leherku,
dan parang menghunjam ke tubuhku berulang kali,
kemudian mereka rampas kerbauku,
aku agak heran
bahwa tubuhku mengucurkan darah.
Sebetulnya sebelum mereka bunuh
sudah lama aku mati.

Hidup tanpa pilihan
menjadi rakyat Sang Adipati
bagaikan hidup tanpa kesadaran,
sebab kesadaran dianggap tantangan kekuasaan.

Hidup tanpa daya
sebab daya ditindih ketakutan.
Setiap hari seperti mati berulang kali.
Setiap saat berhadap menjadi semut
agar bisa tidak kelihatan.

Sekarang setelah mati
baru aku menyadari
bahwa ketakutan membantu penindasan,
dan sikap tidak berdaya
menyuburkan ketidakadilan.

Aku sesali tatanan hidup
yang mengurung rakyat sehingga tak berdaya.
Meski tahu akan dihukum tanpa dosa,
meski merasa akan dibunuh semena-mena,
sampai saat badan meregang melepas nyawa,
aku tak pernah mengangkat tangan
untuk menangkis atau melawan.
Pikiran dan batin
Tidak berani angkat suara
karena tidak punya kata-kata.

Baru sekarang setelah mati
aku sadar ingin bicara
memberikan kesaksian.

O, gunung dan lembah tanah Jawa!
Apakah kamu surga atau kuburan raya?
O, tanah Jawa,
bunda yang bunting senantiasa,
ternyata para putramu
tak mampu membelamu.

O, kali yang membawa kesuburan,
akhirnya samudera menampung air mata.
panen yang berlimpah setiap tahun
bukanlah rezeki petani yang menanamnya.

o, para Adipati Tanah Jawa!
Tatanan hidup yang kalian tegakkan
ternyata menjadi tatanan kemandulan.
Tatanan yang tak mampu mencerdaskan bangsa.
Akhirnya kita dijajah oleh Belanda.
Hidup tanpa pilihan
adalah hidup penuh sesalam.
Rasa putus asa
menjadi bara dendam
Dendam yang tidak berdaya
membusukkan kehidupan
Apa yang seharusnya diucapkan
tidak menemukan kata-kata
Apa yang seharunya dilakukan
tidak mendapat dorongannya.
Kesaksian ini
kesaksian orang mati
yang terlambat diucapkan.
Hendaknya ia menjadi batu nisan
bagi mayatku yang dianggap hilang
karena ditendang ke dalam jurang

Depok, 17 Januari 1991


  • 0 Comments






ufuk tempatmu berpijak masih tampak seperti titik
pada nun tanpa fathah, hingga meraba menjadi cara
membaca cuaca di bahumu saban hari
ketika kekosongan terasa sangat mencekik ujung lidah
untuk berkirim tanya perihal apa yang terjadi
di ujung jalan yang kau lewati hari ini?
daun apa yang pertama kali kau lihat jatuh
saat kau menalikan sepatu di beranda?
dan kata apa yang tersirat di kepala saat matamu
baru saja terbuka, meninggalkan mimpi-mimpi
di mana setiap pertemuan menjadi niscaya
meski aku tak pernah kau undang bertamu

di lain waktu, saat mataku terkena debu
dan dadaku menjadi kanak-kanak yang mencomot
cemburu seperti kembang gula saja
saat itu pula, ingin sekali kukirimkan suar
langsung ke jendelakamarmu agar kau tahu
bertapa kau selalu menjadi taman firdaus
yang mendadak hadir di Tartarus

ketika hujan menderas mengurungku
di perjalanan, tempias terasa seperti tamparan
keras atas ketakwarasanku menatapmu
di sebalik hujan yang mengabut itu
dadaku mendadak perih. tak bisakah kau buka
payung di kamarmu agar kau merasa bisa
menjemputku pulang ke dadamu?

pada ufuk tempatmu berpijak itulah alamat
kampung halaman yang kelak menjadi tempat
segala rasaku selalu berpulang

(Serang, 2015)
  • 0 Comments




maka kutuklah aku
menjadi bening Subuh
yang mengusir keruh
mimpi-mimpimu
lantunan doa keselamatan
kutitip pada parau suara murai
di balik jendela kamarmu

bila kau merasa
tak lagi miliki waktu
untuk menyapa
dan suarakan rindu
maka kutuk saja
aku menjadi secangkir cokelat
agar kucairkan kesepian di matamu
hingga aku dapat menjagamu
dari apa saja yang membuatmu merana,
barangkali cuaca?

namun, bila akhirnya jarak yang membentang
telah buatku meniada dalam dirimu
kutuk saja aku
menjadi dadamu

(Serang, 2014)
  • 0 Comments




cinta hanyalah bangau yang bermigrasi
ke hutan bakau di pesisir Utara
musim kawin dan bertelur
menjadi satu-satunya hiburan
yang bisa kau pandang dari jendela
sebelum membuka buku Neruda di meja
belajar dan membacakan soneta untuk dirimu saja

“kenapa perempuan selalu berharap kepastian
untuk cinta yang mereka rasakan?”
tanyamu suatu waktu. tatapanmu menjauh
ke mata perempuan yang memelihara
tikus rakus di dadanya.

di saat yang sama, semut di dadaku mendadak liar
mantera pejinak dipekatnya kopi
dan dicairnya puisi tak juga bisa
menjinakan hingga pagi ini
kutulis sebaris pesan di udara
“mengapa kau memakai jam tangan
bila waktu selalu mati di sampingmu?”
sebelum kawanan bangau lekas pergi
ke benua lainnya dan meninggalkanmu
bersama bau kotoran di udara

(Serang, 2015)
  • 0 Comments
Older Posts Home

Where we are now

o

About me

a


@NYIMASK

"Selamat datang dan selamat membaca. Semoga kita semua selalu sehat, berbahagia, dan berkelimpahan rezeki dari arah mana saja.”


Follow Us

  • bloglovin
  • pinterest
  • instagram
  • facebook
  • Instagram

recent posts

Labels

#dirumahaja #tukarcerita Artikel Catatan Perjalanan Celoteh Cerpen E-Book Esai Info Lomba Journey Jurnal Kamar Penulis Lowongan Kerja Naskah Poject Promo Puisi Slider Undangan

instagram

PT. iBhumi Jagat Nuswantara | Template Created By :Blogger Templates | ThemeXpose . All Rights Reserved.

Back to top