Lembayung di Jagat Batara

by - November 23, 2019




Apakah sedang ada hajat lain, selain upacara menanam padi?

Perjalanan yang ditempuh selama 4 jam berjalan kaki, akhirnya sampai di tujuan. Perjalanan turun dan naik perbukitan melewati kampung-kampung sepi dan huma-huma yang riuh itu membawa saya ke rumah huma yang tak asing. Terlebih lingkungannya. Rasanya, saya pernah menginjakan kaki di wilayah ini. Pohon durian, rumpun bambu, bunga wera atau kembang sepatu, semuanya saya hapal. Teramat hapal untuk orang yang pertama kali menginjak tanah di perbukitan Pasir Ipis, Baduy Dalam ini.

"Rasanya aku pernah ke sini," ujar saya pada tuan rumah, Asmin dan keluarga kecilnya saat kami duduk di beranda. Isterinya Asmin, Arni menyiapkan api untuk menjerang air dibantu putrinya, Yarpah.

Sejak datang tadi, selain lingkungannya yang tak asing dan membuat saya takjub, Yarpah adalah anak yang membuat saya akhirnya memutuskan ikut Asmin pulang, masih seceria pertama kali kami beremu. Sementara kakaknya, Sapri, pemuda cilik itu masih saja pemalu meski sudah beberapa kali bertemu. Ah, si bungsu yang baru pulang bermain, Sarta, tidak sepemalu dahulu. Dia lebih aktif khas anak-anak seusianya.

Kami bercengkrama di beranda sebentar. Sementara Arni dan Yarpah meneruskan kembali pekerjaannya menjahit jamang atau baju khas Baduy Dalam. Baju pesanan yang dijahit manual itu sedang memasuki tahap pemberian pernik atau motif di bagian kerahnya. Saya takjub melihat tangan kecil Yarpah begitu cekatan dan telaten. Di sisi lainnya, Sapri juga sibuk memasukan manik-manik untuk gelang. Mereka bekerja dengan santai. Kesantaian yang saya suka, karena saya datang bukan sebagai tamu di hari Sabtu, meski ini hari Minggu.

Asmin mengajak saya masuk ke rumah huma untuk beristirahat. Dari pintu, mata saya langsung menabrak pintu kecil yang terbuka dengan pemandangan lembah yang indah. Tubuh saya langsung bereaksi menuju ke arahnya. Pintu kecil itu ada di area pangkeng yang hanya dipisahkan sekat kayu dari area tepas. Ruang lainnya, ruang keluarga, tentu disekat dengan bilik bambu. Di sana, ada dapur dan pangkeng keluarga Asmin. Tentu saya tidak kepo menengok ke area privasi keluarganya itu. Selain tidak etis, itu pun larang untuk tamu yang berkunjung ke Baduy.

Area tamu hanyalah tepas dan pangkeng ini saja. Jika di rumahnya di kampung sana, ada 3 ruang yang bisa digunakan untuk tamu. Salah satunya terdapat tungku untuk memasak air atau apa saja, bilamana tamu ingin memasak. Bila musim dingin, tamu juga bisa menggunakan tungkunya sebagai penghangat ruangan.

Ada para-para di sisi tepas dan pangkeng, juga gantungan pakaian serta tempat penyimpanan samak lampit atau tikar pandan. Asmin menggelarkan samak lampit untuk saya duduk dan beristirahat. Sejak memutuskan ikut, saya mewanti-wanti Asmin untuk memberitahu apa yang boleh dan tidak boleh, yang pamali, dan larang dilakukan. Meskipun keceriwisan saya tetap seperti biasanya, apalagi ketika mendesiskan ketakjuban atas suguhan pemandangan di balik pintu kecil itu. Yarpah dan ambunya ikut naik dan menisik jamang. Tak berapa lama, gerimis membuat ambunya Yarpah keluar untuk mengangkat jemuran. Sementara Asmin pamit untuk istirahat. Saya juga memutuskan memejamkan mata sejenak.

Saya terbangun ketika si bungsu, Sarta, pulang. Asmin sudah bangun juga. Ia menyiapkan sabut kelapa untuk mengambil madu seusai hujan nanti. Sapri dan Sarta juga ikut bersiap. Sementara Yarpah dan ambunya, serta saya tetap di rumah.

"Kalau mau mandi, sekarang aja. Nanti mah takut hujan lagi atau ada yang mandi dari saung lain," sambungnya. Saya mengiyakan dan segera menyiapkan kain dan baju ganti untuk saya pakai. Tentu, saya tidak membawa sabun dan peralatan mandi saya.

Jalan menurun menuju tempat mandi itu licin. Yarpah berjalan di depan saya sembari membawa lodong bambu. Lodong sebuku bambu dengan pegangan di ujungnya dan bolongan kecil itu nantinya akan diisi air untuk keperluan di rumah. Sembari berjalan, Yarpah menanyakan apakah saya akan hapal jalan bila saya pergi sendirian? Saya jawab, tentu, saya akan hapal. Namun, saya tetap harus ditemani Yarpah. Saya balik menanyakan apakah tempatnya masih jauh? Yarpah menjawab di bawah pohon gempol itu tempatnya. Memang benar, setelah berjalan menurun di antara akar-akar, saya melihat pancuran. Pancuran itu terbuat dari bilah bambu dengan daun di ujungnya sebagai corong air. Sepertinya, daun itu baru ditempatkan di sana. Sementara untuk penampung airnya adalah lesung kecil.
"Teteh mau mandi? Tapi lupa tidak membawa honje," ujar Yarpah setelah ia menadahkan lodong airnya.
"Tidak apa-apalah, besok aja sambil keramas," jawab saya.
Suara burung terdengar di antara suara angklung. Rasanya, kami tidak hanya berdua di pancuran itu. Ada begitu banyak mata dan tetabuhan yang serupa hajatan saja.
"Apa ada yang hajat selain upacara menanam padi?" Tanya saya pada diri saya sendiri.
"Mungkin yang pulang dari huma," ujar Yarpah. Saya ber-oh panjang. Kami mandi di tengah dingin yang menusuk hingga ke tulang. Air itu, dingin sekali. Tapi tidak sedingin air di Cibeo.
Suara burung itu terus mengiringi kami mandi, suara angklung dan tetabuhan lainnya pun masih terdengar. Hanya saja, seperti ada tabir putih yang menyelimut sekeliling pancuran sehingga kami bisa mandi dengan bebas.

Seusai mandi, kami kembali ke saung huma sembari terus berbincang mengenai nama burung yang tadi terdengar. Burung Wene, kata Yarpah. Burung yang sepertinya belum pernah saya lihat dalam hidup saya. Bahkan ketika Sapri dan Sardi pulang membawa lahang. Minuman dari tuak aren itu menyegarkan sore kami. Sapri dan Sardi bercerita bila hari itu ayahnya gagal mengambil madu karena lebah hutannya balik menyerang. Kami tergelak bersama. Puputan asap dari sabut kelapanya mungkin tidak mempan untuk mereka. Mereka sudah kebal.

Lembayung menyemburat. Saya segera berlari ke tepi ladang untuk sekadar duduk menikmatinya. Meskipun saya enggan menyebutkan seperti yang dikatakan Project Hambalang dalam lagunya Senja Senja Tai Anjing. Dan untungnya, kami tidak sambil mendengarkan lagunya atau berselfie dan menguploadnya ke media sosial dengan caption Mahatma Ghandi itu karena memang hal itu larang di Jagat Batara ini.

Kami hanya berbincang. Membincangkan segala hal, termasuk tentang jaring yang dipasang dan burung yang terperangkap di sana. Serta jalan yang di mata saya sangat besar dan bagus di bukit nun jauh di sana. Ah, mungkin saya pun kelak akan memilih hidup seperti mereka. Kedamaiannya sungguh terasa hangat di dada. Tak ada bising kendaraan, hanya suara shalawatan di Cicakal Girang yang terdengar hingga ke tempat kami duduk.

Mungkin, mungkin pintu itu sudah terbuka. Pintu Doraemon, saya menyebutnya. Dan jalan untuk saya lalui juga sudah terbentang di sana. Saya hanya bisa berdoa, semoga seluruh makhluk berbahagia. Sebab saya pun bahagia bisa menikmati lembayung di Jagat Batara.


Cag.

You May Also Like

0 Comments

Quantcast