Menuju Sukabumi: Memenuhi Undangan Ngukuluan Sanghiyang

by - December 16, 2019



Undangan Ngukuluan Sanghiyang yang diselenggarakan oleh Museum Kipahare sudah saya bagikan juga, kan? Nah, pada Minggu (10/11/2019) lalu, saya pergi memenuhi undangan itu. Sebenarnya, saya masih tidak percaya diri untuk bepergian sendirian. Karena itu, saya mengajak Mariz Mario untuk pergi bersama. Sekalian mendokumentasikan perjalanan ini. Sesekali didokumentasikan ahlinya tak apa toh? Hanya saja, kesibukan membuatnya tidak bisa ikut di perjalanan ini. Tapi, ia mengatakan akan menyusul. Ah, itu juga sudah membuat saya senang dan mantap pergi ke terminal.

Ya, saya memilih bus tujuan Rangkasbitung-Bogor dan disambung kendaraan lain ke Sukabumi. Sengaja saya memilih bus agar bisa tahu bagaimana rasanya melewati jalan-jalan berliku menuju Bogor di jalur ini. Ongkos bus kecil Rudy trayek Rangkasbitung-Bogor Rp. 30.000. Harga itu dibayar dengan pemandangan lembah, gugusan pegunungan dan sayangnya beberapa penambangan pasir atau tanah pun terlihat juga. Perjalanan panjang itu berakhir setelah hampir 5 jam duduk di kursi paling belakang bus Rudy. 1 jam terakhir, saya habiskan dengan berdiri meski kursi-kursi sudah kosong. Panas bokongku!

Sampai di Baranangsiang, hari sudah gelap. Kendaraan menuju Sukabumi sudah menyambut di luar terminal. Tak ingin berlama-lama, saya langsung naik saja. Meskipun memang, tidak ada yang meminta saya untuk buru-buru ke Sukabumi. Tapi, macet adalah niscaya, kata mamang supirnya. Karena itu saya segera mengisi bangku di belakang supir yang sudah diisi seorang pemuda.

Mobil kecil itu membawa saya dan para penumpang lain menembus macet di jalur langganan macet, Nagreg. Untuk menghindarinya, Kang Supir membawa kendaraanya melalui gang-gang kecil yang sering membuat saya mengerutkan dahi akibat hantaman de javu. Lho, ini kan.... Kalimat itu sering sekali muncul di benak saya. Sehingga saya mulai iseng bermain tebak-tebakan, misalnya 'setelah belokan ini akan ada....' keisengan ini membuat saya sering nyengir sendiri. Dan untungnya, dia menemani saya di whatsapp sehingga saya tidak merasa harus menghubungkan hal-hal yang saya rasakan ini dengan sesuatu di luar nalar. Meskipun ya mau tidak mau, saya juga masih tetap memikirkannya dan menerimanya sebagai sesuatu yang ya udahlah ya, memang gitu.

Saya berpesan pada Kang Supir untuk menurunkan saya di terminal ketika kendaraan memasuki Sukabumi dan satu per satu penumpang turun di tujuannya. "Tolong turunkan saya di tempat makan di dekat terminal ya, kang," ujar saya saat itu. Terus terang saja, saya mendadak merasa lapar sekali karena sedari pergi tadi saya lupa makan. Kang Supir menurunkan saya tidak jauh dari terminal. Restoran sudah banyak yang tutup, karena waktu sudah menunjuk angka 22.00 lebih. Yah, saya mesti memakan apa saja untuk mendiamkan perut. Sembari mencari tempat makan ini, saya menghubungi Mang Dody dan mengabarinya bila saya sudah sampai terminal.

Setelah sempat bertanya pada kasir mini market, saya akhirnya memilih warung soto yang tidak jauh dari lokasi itu. Meskipun saya sendiri tidak suka dengan masakan itu, tapi karena si perut mesti diisi nasi, saya menyerah juga akhirnya. Kopi adalah pesanan pertama datang, sementara soto menyusul kemudian. Mang Dody datang bertepatan dengan datangnya soto pesanan. Sembari memaksakan diri untuk makan, kami mengobrol tentang rencana acara Ngukuluan Sanghiyang. Mang Dody mengatakan bila Kang Sandy, Kepala Museum Kipahare, juga akan datang sehingga saya bisa segera beristirahat. Di suapan kelima, saya menghentikan makan. Ampun, tidak enak!

Beranjak ke Museum Kipahare, saya terus meminta maaf kepada perut saya yang meminta makanan enak. Berkumpul bersama dulur-dulur yang sudah lebih dulu hadir, ngobrol dari kopi ke kopi dengan selingan tawa, bau dupa ke bau dupa lainnya, membuat saya mendadak ingin membeli martabak meskipun sedang tidak ingin memakannya.

Semalaman ngobrol ngalor ngidul hingga pagi datang. Padahal pukul 08.00 WIB harus ikut Sosialisasi Hasil Penelitian Arkeologi Persebaran Makam-makam Kuna di Sukabumi Abad ke XIX-XX yang diadakan oleh Badan Arkeologi Nasional di Hotel Santika, Sukabumi (11 november 2019). Yah, namanya juga dulur yang sudah lama tidak bertemu. Pastilah begitu, ya. Heuheu...

[bersambung, ya]


You May Also Like

0 Comments