Segera Menjumpamu Dengan Tawa


 “Jika kau manusia, maka menulislah,” katamu.

i/
Kang, sudah hampir tujuh ratus dua puluh hari kau di sana.
Sementara aku masih meragu menancap jejak di sampingmu.
Ah!
Biarlah, di sini saja aku bercerita.
Enam puluh hari ini, lima puluh lembar kertas tak lagi kosong.
Namun, rasaya, masih akan sangat lama, aku menjumpamu dengan tawa.
ii/
Kang, dalam petak kamar yang berserak baju kotor, buku,dan abu rokok ini,
kepalaku sepertinya telah bolong.
Katakata terus menguap serupa asap rokok yang melulu kuhisap.
Tapi, tenanglah.
Aku tetap berusaha mendulang kata, agar segera menjumpamu dengan tawa
iii/
Kang, tadi aku bertemu sahabat lama, yang kini miliki garis luka di perutnya.
Ia yang mengajakku bekerja sama, menyusun novel dari naskah drama yang kami cipta.
Tapi, rasanya aku tetap patut haturkan maaf.
Atas isi dalam amplop coklat berlabel koran ternama di meja.
Ya, mereka kembalikan kertas lainku yang tak lagi kosong.
Walau isinya mereka anggap bolong.
Meskipun begitu, aku tetap akan segera menjumpamu dengan tawa,
dengan buku berlabel namaku di atasnya.

Serang, 4 November 2011.

You Might Also Like

0 Comments