Mandor Sang Kalajengking dan Perjalanan Pulang



Pagi di hari Kartini, Selasa 21 April 2020, langit masih mendung. Di kejauhan, seseorang terdengar meneriakan "kuluk, kuluk, kuluk" sebagai tanda memanggil hujan. Saya masih terus packing barang-barang yang rasanya tak selesai-selesai. Hari ini, bapa akan menjemput saya beserta barang-barang yang ada di kostan untuk pulang. Meskipun awalnya saya meminta dijemput hari Rabu.

Sejak lama, sudah terpikir membawa pulang seluruh barang-barang di kostan. Buku-buku yang terus bertambah akibat lapar mata dan kepala, pakaian-pakaian yang banyak tapi yang dipakai hanya yang paling nyaman saja, dan segala barang yang sudah bersama saya sejak awal saya jauh dari rumah.

"Sepertinya akan mudah bila hanya membawa sekoper pakaian saja," gumam saya setiap kali memikirkannya. "Baiklah, setelah mengantar barang-barang ini, mari cari kostan yang fasilitasnya sudah lengkap saja." Sambung saya.

Meskipun memang, saya tidak bisa menjamin tidak akan ada buku-buku di kamar kostan saya yang baru itu.

Sembari terus packing, mulut saya dengan sendirinya menyenandungkan lagu yang diciptakan mantan Bupati Purwakarta, Kang Dedi Mulyadi itu....

"Langit angkeb, dimumunggang
Angin nganteurkeun kamelang..."

Jika lagu itu mengisahkan tentang Perang Bubat, maka saat packing saya sedang berperang dengan barang-barang yang selalu menjadi rantai yang mengikat saya untuk bepergian jauh dan agak lama.

Dan memang, saat ini langit sedang mirip seperti yang dikisahkan dalam lirik lagu itu. Angkeb sejak pagi hingga sore hari. Kilat beberapa kali tampak. Entah di mata saya saja, atau memang ada kilat. Sebab di sisi lain, saya merasa ada begitu banyak pasang mata di sekeliling kostan. Mungkin hanya perasaan saya saja. Tapi tak urung saya membatin memohon maaf karena harus pulang untuk mengantar barang-barang saya. Namun, saya akan segera kembali lagi untuk melanjutkan beberapa hal yang masih tertunda.

Bapa datang pukul 20.00 WIB. Saya masih menyelesaikan packing terakhir dibantu bapa, Ka Abrag dan Pak Supir. Setelah beristirahat sebentar, Ka Abrag dan Pak Supir mulai mengangkut lemari dan tempat tidur yang menjadi benda paling besar. Tapi ada yang menarik saat tempat tidur diangkut ke mobil. Seekor kalajengking yang tak terlalu besar bermukim di bawah tempat tidur.

"Hai, sejak kapan kamu di sana?" Tanya saya saat menyapu ruang tidur. "Kamu di sini aja kalau mau. Terima kasih tidak nyeureud (menyengat) aku saat sedang tidur," Sambung saya sembari terus menyapu.

Setelah berpamitan pada teteh dan aa di sebelah, serta menghubungi Bu Haji, kami pun pulang. Kendaraan melaju ke arah Pandeglang. Masker sudah menjadi aksesoris kami. Obrolan pun tidak jauh dari wabah, panen dan Ramadan yang sebentar lagi datang serta rencana saya kembali ke Rangkas atau Serang. Dari terminal Kadu Banen, kendaraan melaju menuju Labuan.

Jalur menuju rumah yang dipilih adalah jalur Pagelaran, kampung halaman bapa lainnya saat mbah masih berdagang. Jalur yang jalan aspalnya sudah berkubang dan banyak benjolan tak layak dilewati di beberapa titik setelah beton. Mungkin, aspal itu masih aspal yang sama di tahun 2005-an saking tidak ada perbaikannya. Dari Pagelaran menuju Patia pun tak berbeda. Beberapa titik jalannya masih tidak layak. Bahkan, jembatan Surianeun yang menjadi satu-satunya penyeberangan yang menghubungkan 2 kecamatan sudah bolong di tengahnya dan penduduk hanya menambahinya dengan seng saja. Tak jauh dari jembatan, kendaraan kami diberhentikan. Ada truk pengangkut berton gabah yang bannya meletus di tengah jembatan. Masya Allah!

Saat berhenti itu jarum jam di tangan saya sudah menunjuk angka 23.03 WIB. Prediksi bapa sebelumnya kami sampai rumah pukul 00.00 WIB. Tapi rupanya kami harus mendapati hari Rabu di dekat rumpun bambu kuning di samping kiri itu. Dan memang, kepulangan saya pada akhirnya tetap hari Rabu. Terima kasih, ibu.

Setelah satu jam lebih dan bos padi dengan para pegawainya sudah bolak-balik membawa beberapa dongkrak, truk itu berhasil berjalan lagi dan kami akhirnya bisa lewat. Para pemuda setempat yang nyalar itu membantu kendaraan melewati lubang jembatan dengan bayaran seiklasnya.

Sepanjang jalan, kami berdoa agar di kampung kami tadi tidak hujan. Meskipun pick up yang dipakai mengangkut barang ini sering bolak-balik mengangkut gabah juga, tapi rasa khawatir selalu saja ada. Alhamdulillah, kami sampai rumah saat jarum jam hampir menunjuk angka 01.00 WIB. Sebenarnya, bila jalannya berbeton semua, perjalanan ini akan lebih lekas sampai dan distribusi padi dari lumbung padi Banten ini juga akan lebih mudah.

Tapi, Bupati Pandeglang sudah mengisyaratkan tidak akan ada pembangunan apapun di Kabupaten Pandeglang. Artinya, jalan ke kampung saya ini akan tetap alakadarnya sampai datang Bupati baru yang lebih mengutamakan pembangunan jalan dibanding lainnya yang pikasebeleun seluruh makhluk, kecuali kerbau.

Alhamdulillah, malam kepulangan ini langit sedang tampan-tampannya. Meskipun tak saya lihat 5 bintang besar di langit seperti dalam mimpi saya tahun 2013 lalu, tapi bintang Timur dengan milky ways yang jelas itu tampak luar biasa indahnya juga. Serta, rasa sambutan luar biasa yang menghangat di antara celoteh "barang ini mau ditaruh di mana?" serta celotehan mamah sembari terus sibuk memasak untuk kami yang lapar kepagian. Meskipun di saat yang sama, listrik mati kepagian eh kebiasaan! Terima kasih, mamah.

Sebelum Subuh, pick up pamit pulang. Begitu pun orang-orang yang membantu mengangkut. Di tanjakan Cikeder yang selalu membuat kendaraan keder, terdengar pick up berdengung, mater. Jalan berbatu yang terjal bercampur tanah dan sekam membuatnya tak bisa menanjak.

Idih waw, bukannya dianterin malah dipegangin. Udah kasihan. Bisik saya pada walang yang mendadak nemplok di dinding kamar. Haish.
Well, terima kasih teman-teman baik yang sudah menginap dan mampir di kostan Pasir Tariti, Rangkasbitung. Sementara ini saya tinggal di rumah dulu. Segera, saya akan kembali dan kita nanaonan lagi. Saat ini, mari kita bertapa di rumah masing-masing dulu. Tentu, kita tetap terhubung melalui media sosial saja. Semoga sinyal seluler berpihak pada saya.

Tetap #dirumahaja. Semoga kita semua selalu sehat dan wabah covid-19 serta segala penyakit lainnya musnah dari muka bumi.


Semoga seluruh makhluk berbahagia. Svaha.


Cag.

Rahayu ing Bhuana.

You Might Also Like

0 Comments