5 Cerita dari Balik Kabut

by - April 05, 2020




Cerita Pertama

Hari sudah gelap. Lampu merkuri yang ada di sisi kanan dan kiri jalan tol sudah benderang, meskipun beberapa sisi tampak gulita. Kendaraan melaju dengan kecepatan sedang. Aku duduk di jok belakang.

Di kursi depan, kamu dan seorang perempuan duduk sembari menyenandungkan lagu dari radio. Aku beringsut memajukan diri ke sela kurai depan dengan maksud akan bertanya tujuan kepergian ini.

"Kita mau ke mana?" Tanyaku. Namun kamu tetap bersenandung seolah tak mendengar pertanyaanku. Aku mengulangi untuk yang kedua kalinya. Namun kau masih tidak menjawabnya.

"Kita mau ke mana? Ini 'kan sudah larut. Dia siapa? Kamu tidak mau mengenalkannya?" Tanyaku sembari melirik ke arah perempuan itu. Ada sebuket bunga di pangkuannya. Bunga darimu, pastinya. Kali ini pun kamu tetap tidak menjawabnya.

Sial. Kenapa harus menyaksikan macam ini? Pulang, ah!

Cerita Kedua

Kampus di malam hari sudah teramat sepi. Aku masih duduk di saung, menunggu kamu yang tak kunjung datang. Padahal sebelumnya, kamu mengatakan akan ke kampus untuk melakukan sidang.

Buku yang kubaca sudah hampir selesai saat kulihat kamu dan temanmu beriringan berjalan sembari terus tertawa. Aku menghampiri kalian. Topik pembicaraan macam apa hingga membuat kalian tertawa seperti itu?

Belum lama berada di belakang kalian, kupingku sudah terasa panas dengan isi pembicaraan kalian. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kamu mengatakan hal buruk macam itu tentang untukku? Kau apa? Mendekatiku hanya untuk mempercepat tujuanmu? Memangnya aku batu tempatmu melompat?

"Apa tadi kamu bilang?" Hardikku.

Tapi kamu dan sahabatmu itu terus berjalan ke arah lapangan dan terus meneruskan topik yang sedang kalian bicarakan. Kalian benar-benar tidak mendengar dan melihat keberadaanku.

Duh! Lagi-lagi aku transparan!


Cerita Tiga

"Kamu berbohong lagi? Hmm?" 
Pesanku belum kamu baca sejak semalam. Sementara di tanganku, potret itu menampilkan gambar siluet dirimu dengan perempuan yang kulihat duduk di sampingmu itu.

Padahal, sudah berulang kali kukatakan tak ada ruginya untuk menjawab jujur tiap pertanyaanku. Sebab, aku tidak akan marah pada orang yang jujur. Bukankah kejujuran adalah cermin dari hati? Karena itu, kamu tidak akan menyakiti orang lain.

Kamu masih belum membalas pesanku. Tapi bila kutebak, kamu akan membalasnya dengan nada kemarahan, mempertanyakan ulang dan menuduhku curigaan.

Mau bertaruh?


Cerita Empat

Kendaraan melaju cukup kencang. Kita tidak menyadari seseorang yang melambaikan tangan untuk menghentikan laju kendaraan. Perdebatan yang sedari tadi terjadi, terus berlanjut. Di sisi lain, aku menyadari tempat yang kita tuju terlewat.

"Balik kanan. Tempatnya terlewat," ujarku.

Kamu membelokan kendaraan menuju tempat itu. Perdebatan sudah berhenti. Saat kendaraan datang, seorang lelaki datang menyambut.

"Padahal tadi sudah diteriaki untuk berhenti di sini, non," ujarnya dengan bahasa Sunda yang halus. Padahal, saya tidak mengenalnya. Namun tak urung kami bersalaman dan saling memperkenalkan diri. Bapa itu menyebut dirinya sebagai Ajar.

"Maaf, pa. Sedang tidak fokus," ujarku seraya melirikmu yang sudah berdiri di sampingku. Aku mengenalkanmu padanya.

Sejenak, bapa itu menatapku dan kamu secara bergantian. Lalu menyenyum. Raut wajahnya tampak makin cerah seolah kita adalah sepasang insan yang memang benar sedang ditunggunya. Bapa itu bahkan tahu tempat apa yang sedang kami tuju dan mengaku akan mengantar kita ke tujuan kali ini.

"Baik. Mari saya tunjukan tempatnya," ujarnya seraya berjalan terlebih dahulu.

Tempat itu tidak jauh, hanya beberapa langkah saja dari jalan raya. Tepatnya berada di tempat yang lebih tinggi, semacam bukit kecil. Pepohonan besar yang berusia ratusan bahkan mungkin ribuan tahun berdiri berderet. Jaraknya antara 3-5 meter antar pohon dan seolah sengaja ditanam untuk menaungi kedua sisi jalur. Uniknya, cabang-cabangnya yang besar tampak saling jalin menjalin di antara satu pohon dengan pohon lainnya. Dahannya tersambung!

"Di sinilah tempatnya," ujar bapa itu seraya menatap kami yang sibuk menengadah. Betapa pohon ini dan jalan yang dinaunginya sangat indah!

"Iya, bapa," ujarku dengan mata terkaca-kaca. Bapa itu menghembuskan napas penuh rasa syukur.

Aku melirikmu yang sudah mengeluarkan kamera untuk mengabadikan tempat menakjubkan itu. Kubiarkan kamu dengan kegiatanmu. Sementara aku terus menyiapkan perayaan kecil dalam pertemuan besar di tempat para leluhur ini. Rasa syukur itu yang sedang coba haturkan kepada-Nya, pada semesta dan seluruh makhluk ciptaanNya.

Bapa itu memperhatikan sembari duduk di atas batu yang seolah ditempatkan di beberapa bagian. Sedangkan aku terus duduk di salah satunya untuk mulai mengheningkan cipta. Melepaskan diri dari segala rasa yang membelenggu jiwa. Kamu bergabung, tak lama setelahku duduk bersila. Kita mengheningkan cipta. Menembus batas sadar dan tidak.

Di batinku, kita sedang berada di tempat yang semestinya. Kamu dan aku, duduk sejajar dalam keheningan dan doa-doa kepada Tuhan Yang Maha. Bukan hanya doa tentang kita, namun tentang semesta dan seluruh makhluk-Nya.

Cerita Lima

Bapa yang menunjukan pohon bersambung itu mengantar ke tempat lainnya. Lebih jauh, dan pepohonan di sekeliling semakin rapat.

Tempat itu berada di ceruk yang tak begitu luas dikelilingi pepohonan besar. Ada pohon yang paling besar di antaranya. Suasananya sejuk dan akan membuat betah siapapun yang datang.

"Di sana," ujar bapa itu seraya menunjuk ke arah pohon yang paling besar. Aku melihatnya. Goa. Ya, goa. Tepat di bawah pohon yang paling besar. Pintu masuk goa tampak kecil dari goa yang pernah kulihat sebelumnya. Meskipun, seseorang masih bisa memasukinya tanpa menyampingkan badan. Prakiraanku tingginya pun hanya setinggi manusia normal saja.

"Lho, menutup sendiri, pa?" tanyaku ketika kusadari pintu goa seperti tertelan tanah. Bapa itu tersenyum seolah tahu alasan kenapa area ceruk itu seolah tidak menerima kedatangan kami.

"Kita melupakannya. Mari duduk dulu," ajaknya sembari melirik batu di samping kananku. Aku melirikmu yang tampak takjub dengan fenomena itu. Kusentuh lenganmu untuk mengajakmu duduk. Kamu menurut. Lebih penurut dan pendiam dari biasanya. Barangkali, kamu sudah merasakan apa yang sudah lama kurasakan. Pengulangan. Ya, pengulangan peristiwa yang sama di setiap tempat tujuan.

Selain tempat ini, akan ada tempat lainnya yang mesti kita kunjungi bersama. Ya, bersama. Meskipun aku tidak tahu apa dan bagaimana perjalanan kita di depan sana. Apa akan ada persimpangan, atau tetap lurus pada tujuan hingga kebersamaan ini menjadi lebih berarti dan saling melengkapi. Aku menyerahkan segala urusan ini padaNya Yang Maha Tahu.

Bersambung...

You May Also Like

0 Comments