Membaca Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982

by - January 16, 2020



Oleh: Firda Rastia

...Rasanya wajar apabila laki-laki selalu mendapat nomor awal, apabila laki-laki mendapat nomor satu, dan laki-laki selalu didahulukan... (Hal. 43)

Kim Ji-yeong adalah tokoh fiksi dalam novel Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982 karya Cho Nam-joo dan diterjemahkan langsung oleh Iingliana. Novel ini beberapa bulan lalu diadaptasi menjadi sebuah film dengan judul yang sama. Bersamaan dengan diputarnya film ini di Indonesia, novel terjemahannya juga diterbitkan oleh Gramedia. Hal ini tentu menjadi sebuah kebahagiaan bagi para pencinta film Korea dan karya-karya sastra Korea. Terlebih pemeran utama dalam filmnya adalah sekelas Gong Yoo dan Jung Yu Mi.

Saya sendiri terlambat mengikuti filmnya di bioskop. Di kota tempat saya tinggal, film ini hanya berkesempatan diputar satu hari. Hari berikutnya, ketika saya ingin menonton, film ini justru sudah lenyap dari jadwal. Sebulan kemudian, saya memutuskan untuk menikmati novelnya. Dalam tulisan ini, saya tidak akan spoiler terlalu banyak, tetapi lebih menyuarakan pendapat sebagai salah seorang pembaca karya sastra Korea yang antusias.

Novel Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982 secara umum menceritakan kehidupan tokoh Kim Ji-yeong itu sendiri. Mulai dari perjalanan hidupnya semasa kecil (1982--1994), masa sekolah (1995--2000), masa kuliah dan masa mencari pekerjaan (2001--2011), serta masa kerja dan masa-masa sebelum-sesudah menikah dengan Jeong Dae-hyeon (2011--2015).

Sebelumnya, novel ini di awali prolog (Musim Gugur 2015), menceritakan keanehan-keanehan Kim Ji-yeong yang dialami langsung oleh suaminya, Jeong Dae-hyeon. Pada saat itu, diceritakan Kim Ji-yeong sudah menjalani kehidupan sebagai seorang ibu dari putri cantiknya bernama Jeong Ji-won yang berusia satu tahun. Terakhir, novel ini ditutup dengan cerita dari sudut  seorang psikiater yang menangani masalah Kim Ji-yeong (2016).

Persoalan yang diangkat dalam novel ini sebenarnya menyangkut persoalan umum perempuan di Korea Selatan. Sebagai negara yang meroket karena K-Pop-nya ini, justru masih dihadapkan pada suatu ketimpangan sosial yang menempatkan bahwa laki-laki--dalam hal apa pun--lebih unggul daripada perempuan. Menjadi perempuan di Korea Selatan ternyata lebih menakutkan dari yang kita bayangkan selama ini di drama-drama Korea.

Membaca Kim Ji-yeong tak ubahnya melihat kembali ke kehidupan kita. Kehidupan yang ditempati makhluk bernama "laki-laki" dan "perempuan". Kalau kamu laki-laki, kamu pasti beruntung. Kenapa? Karena kamu laki-laki. Lalu, bagaimana jika kamu terlahir sebagai perempuan? Mungkin seperti ini: menjadi perempuan adalah hal yang luar biasa. Perempuan adalah surga bagi anak-anak yang dilahirkannya kelak. Perempuan adalah mahkota terindah yang menghiasi dunia ini. Kita bisa saja berkata demikian. Berkata sedemikian hebat sebagaimana halnya perempuan. Namun, semua kalimat-kalimat itu hanyalah sebuah penghiburan yang diciptakan oleh sebagian besar laki-laki. Kalimat-kalimat itu tidak cocok untuk menggambarkan keresahan dan kegelisahan Kim Ji-yeong.

Saya berani berkata "Coba saja kau jadi Kim Ji-yeong. Apakah kau akan segampang itu berkata demikian?" Apa yang coba saya katakan sebenarnya adalah "Kau baca saja dulu Kim Ji-yeong.  Bayangkan kau adalah Kim Ji-yeong dan renungkan bagaimana sulitnya menjadi Kim Ji-yeong."
Saya sendiri menghabiskan waktu hanya dua hari untuk membaca  dan sekadar merenung sebentar menikmati  novel karya Cho Nam Joo ini. Sepanjang pembacaan, saya membayangkan diri saya adalah Kim Ji-yeong dan betapa  engap-nya saya menyelami kehidupannya.

Bolehlah saya merasa bahwa hidup saya lebih beruntung daripada Kim Ji-yeong. Saya mesti bersyukur sebab saya membaca novel ini di usia 26 tahun dan belum menikah. Saya masih bisa menikmati menjadi diri sendiri dan bekerja sesuai dengan keinginan hati. Setidaknya, Kim Ji-yeong memberikan gambaran sebagian kehidupan wanita sebelum-sesudah menikah dan sebelum-sesudah melahirkan.

Catatan: 
Sebelum membaca Kim Ji-yeong ada baiknya menyiapkan beberapa keperluan, seperti bantal yang empuk, kursi yang nyaman, dan cemilan yang manis, serta secangkir kopi panas. Bacalah sampai kamu merasa bahwa ketidakadilan itu bersemayam dalam diri dan kehidupan kita masing-masing.

Serang, 14 Januari 2020

You May Also Like

0 Comments