The first day of recovery

by - March 21, 2012


Yang pertama ingin saya katakan adalah; saya tidak suka rumah sakit! Jarum suntik, bau karbol, dan orang-orang yang duduk menunggu antrian dengan kesakitan masing-masing. Yang terakhir itu sebenarnya bukan 'tidak suka' atau 'benci' pada yang sakitnya. Tapi pada apa yang mereka derita, dan tunggu itu. Saya bertanya-tanya, apakah karena banyak orang yang sakit lalu dibutuhkan antrian, atau karena yang menanganinya sibuk dengan kegiatan masing-masing? Entahlah. Untuk saat ini saya mencoba berpikiran positif saja.

Ini adalah hari pertama saya mengunjungi rumah sakit untuk berobat. Biasanya, menengok orang yang sakit pun saya merasa agak sedikit enggan, karena ketidaksukaan pada tempat itu, bukan karena saya tidak mau menengok yang sedang sakitnya.

Hal pertama yang saya lakukan saat sampai di rumah sakit adalah...........
BINGUNG.
Ini daftarnya di mana?
Berapa biayanya? (Yang ini sembari ngintip ke dompet beberapa kali)
Poly yang akan saya tuju di mana?
Semuanya saya tidak tahu. Mau bertanya pada orang lain, saya agak segan. Akhirnya, saya hanya diam saja di depan kantor bertuliskan 'Mohon Maaf kantor Askes akan pindah ke....... pada 2 April nanti' di pintunya. Saya lupa pindah ke mana, dan saya juga tidak terlalu mempedulikannya. Dan ketika seorang satpam lewat, segera saya cegat.
"Pak tempat daftarnya di mana? Dan untuk mengambil nomor antriannya juga di mana? Poly Syaraf di mana? Lalu anak bapak ada yang berjenis kelamin laki-laki, dan seganteng Lee Min Ho?"
Ah, ah, tentu saja. Pertanyaan mengenai anak itu hanya khayalan saya saja.
"Daftarnya di sebelah sana, mbak," ia menunjuk ke arah loket yang penuh orang yang mengantri. "Untuk mengambil nomor antrian di pojok sana," ia menunjuk lagi ke arah sebelah kiri yang juga banyak orang mengerubungi mesin kecilnya itu. "Poly Syaraf ada di sebelah sana," sambungnya lagi sembari menunjuk lurus ke arah koridor tempat saya dan dia berdiri. Saya mengangguk-anggukkan kepala beberapa kali, dan mengucapkan terima kasih.


Tut! Saya menekan tombol merah mesin antrian. Ini seperti menekan takdir. Hmm, saya rasa agak berlebihan. Mungkin tepatnya menekan angka togel. Nomor yang saya dapat; 339. Saya melirik ke arah layar kecil yang menerakan nomor antrian saat itu; hmm masih sangat lama. Cukup jika saya gunakan untuk tidur, makan, nonton film, dan membetulkan jalan yang berlobang. Argh! Tentu saja itu berlebihan!


Nomor antrian saya disebutkan. Akhirnya.
"Poly Syaraf?" Tanya Ibu-ibu dibalik loket. Say menganggukkan kepala beberapa kali, dengan tangan terus mengusap mata sebelah kanan yang sedari tadi terus bocor. "Pakai Askes? Ada surat rujukan?" Tanyanya lagi. Saya menggelengkan kepala.
"Askes, sih, ada. Tapi saya tidak sempat ke puskesmas, bu," jawab saya.
"Wah, kalau ada Askes, sih, mendingan di pakai saja. Ini akan mahal, lho," ujarnya dengan nada mengingatkan dengan tangan terus mencoret-coret kertas yang saya sodorkan, lalu mengambil kertas lain dan mencoret-coretnya lagi. Saya menyeringai, dan kembali melihat isi dompet.
"Oke, sekarang silahkan ke tempat pembayaran di loket sana," ujarnya lagi sembari menyerahkan kertas-kertas yang sudah dicorat-coretnya. Saya menganggukkan kepala, sambil mengucapkan terima kasih.
Sambil berjalan menuju loket pembayaran pendaftaran, saya melihat hasil coretannya. Dan, saya justru pusing. Dalam benak saya bertanya-tanya; "kenapa kebanyakan orang yang bekerja di bidang kesehatan cenderung sembarangan dalam menuliskan sesuatu? Apakah itu semacam sandi agar si pasien tidak bisa membaca tulisannya? Geez!"
Setelah sampai di loket yang saya tuju, saya disambut seorang bapak bertubuh gempal, berwajah agak masam, namun sangat ramah. Setelah membayar pendaftaran seharga; Rp. 25.000, saya pun berjalan menyelusuri koridor yang menuju ke Poly Syaraf seperti yang Pak Satpam tadi tunjukkan. Ini agak membingungkan; Poly Syaraf, tanda panahnya menunjuk ke arah kiri saya. Namun, saat saya menelusurinya, ada lagi tulisan; Bedah Syaraf. (Apakah syaraf saya harus dibedah?)
Tidak, tentu saja. Karena ternyata saya salah masuk. Haha... Saya kemudian menelusuri petunjuk dari dokter di ruangan yang baru saja saya kunjungi, Bedah Syaraf. Tapi, saya nyasar lagi!
OMG!
Yeah, waktu yang saya habiskan untuk mencari ruangan poly saaaarrrraaappp ini adalah 30 menit. Setelah ketemu, saya harus menunggu juga. Dan saat giliran saya masuk?
Dokter yang ada di poly itu ternyata sedang memarahi mahasiswa yang (semacam) PPL di sana yang saya lihat duduk berjajar di samping meja dokter.
"Saya heran, setiap hari wajah yang duduk di bangku kalian itu berbeda-beda, dan kalian juga sudah hampir selesai di sini, tapi kalian tidak mengambil kasus satu pun? Apa kalian tidak mengerti bagaimana caranya? Tidak baca buku panduannya? Bukankah kalian juga pasti punya bukunya?"
Saya duduk diam-diam, menaruh tas di kursi samping saya, dan ikut menatap ke arah mahasiswa-mahasiswa itu. Dalam hati saya berkata; "Oh, ternyata PPL, toh? Gue kira dayang-dayang dokter ini, karena tadi gue lihat jadi ekor si dokter ini."
"Kalian itu seharusnya mengambil kasus, seperti senior kalian yang dulu penelitian di sini juga. Mereka izin ke saya untuk menangani kasus. Nah, kalian saya lihat hanya duduk-duduk saja."
WOW, I think it's wrong time, in wrong place. Saya seharusnya tidak mendengar ini. Apa perlu saya keluar dahulu?
Saya hendak melakukannya, namun dokter perempuan itu menatap ke arah saya, yang langsung saya sambut dengan senyuman (agak nyengir sih sebenarnya, karena merasa tidak enak sudah ikut mendengar yang ia katakan). Ia kemudian meminta saya menutup mata, lalu tangannya menarik selembar kertas. Kemudian, ia menanyakan kapan saya mendapat penyakitnya, menyuruh saya menutup mata lagi, sementara tangannya terus mencoret-coret kertas dihadapannya. AKH! ITU SEMACAM SANDI LAGI! Mungkin agar mahasiswa itu tidak menghapalkannya? Haha..
"Dok, maaf, kira-kira ini pengobatannya berapa lama, dan apa ada kemungkinan sembuh?" Tanya saya setelah saya lihat dokter itu asyik dengan 'kaligrafi' di kertas resepnya.
"Oh tentu saja akan sangat lama, bisa sembuh, bisa juga cacat." Jawabnya dingin.
Boo? Jawaban macam apa itu? Saya mendelik kaget, sekaligus takjub. Apa mungkin bila saya bertanya ke dokter itu; "dok, kira-kira saya matinya kapan?"dia akan menjawab; "oh, tentu saja hari ini, tapi sekaratnya bisa menghabiskan waktu 100 tahun."
Cih! Tidak bisa dipercaya. Sama pasien yang sebetulnya dia tahu sedang tegang begini, bisa-bisanya dia menjawab seperti itu.
Really.
Setelah saya keluar, saya langsung menuju ke ruang therapy. Di sana, dokternya sangat baik. Yang memberikan therapy-nya juga sangat ramah. Bahkan di sana, dokternya menawarkan memberikan surat izin istirahat, karena saya menceritakan bahwa saya juga sedang PPL. Ini membuat saya sedikit lega. Orang-orang seperti ini yang seharusnya diberi laber DOKTER. Selain bisa membantu menyembuhkan, juga membantu menenangkan perasaan pasien/orang lain. Karena menurut saya, yang lebih dibutuhkan oleh pasien itu selain 'pengobatan', juga 'keramahan', dan 'kenyamanan hati'. Membantu pasien berpikiran positif; bisa sembuh. Itu lebih dari sekedar coretan ceker ayam di kertas resep dari seorang dokter bertitel banyak.

You May Also Like

0 komentar

Instagram