Kepada Yang Akan Datang

by - December 29, 2017


Aku tak tahu apa yang mesti kutulis sekarang. Seperti aku tidak tahu apa yang akan kulakukan untuk menjamu setiap pertemuan. Sekedar duduk di warung kopi, mendengarkanmu bercerita perihal hal-hal yang baru kudengar. Tolong jangan memintaku bercerita. Aku ingin larut dalam cerita, tawa dan kebingunganku sendiri. Tapi, kau tidak mesti khawatir. Aku tidak sedang memikirkan orang lain saat itu. Aku hanya bingung perihal, 'kok bisa aku duduk dengan orang ini?',  'apa yang harus aku bicarakan?', 'apakah ia akan tersinggung jika aku berbicara seperti ini, seperti itu,' dan sebagainya dan sebagainya.
    Jika kau sudah melihatku tertawa tidak jelas, aku mohon bawa aku mengukir jejak di trotoar dan sepanjang ingatan perihal rute jalan. Katakan saja, tenang ada GPS. Meski kita sedang berada di dalam kota. Sungguh lucu, bukan? Kau pasti heran kenapa aku tidak mengetahui rute jalan, meski ini kota kelahiranku. Bagiku, ini juga bagian yang sungguh memalukan. Apa kau percaya jika aku mengatakan aku tidak pernah bepergian? Aku manusia kamar yang melakukan apapun di kamar, pekerjaan dan lainnya? Tidak? Ya sudah, aku tidak akan berusaha membuatmu mempercayaiku. Sebab, kadang aku pun tidak percaya pada diriku sendiri dan pekerjaan apa yang sedang kulakukan ini.
     Kau mau melihat sisi lainku? Perlihatkanlah padaku bintang-bintang dan tidurlah di sampingku. Maka, kau akan melihat anak kecil di dalam diriku melompat keluar. Teriakan-teriakan kecil dan racauan-racauan perihal pangerang cilik yang hidup di salah satu bintang, atau tentang apa saja yang membuat mulutmu mungkin akan menganga; 'perempuan yang aneh'. Kalimat itu yang akan ada di kepalamu. Tapi, setelahnya, aku akan menyilakanmu bercerita tentang hal remeh temeh seperti warna kesukaan, makanan favorit, buku yang terakhir kali dibaca, musik dan lagu yang paling kamu suka dan lain sebagainya. 
     Apa kau akan tetap tinggal?
    Jika ya, maka akan kulanjutkan. Kau mau bertanya apa? Teman perempuan? Aku memilikinya beberapa. Tapi, teman lelakiku lebih banyak. Bukan, bukan bermaksud menyedikitkan teman perempuan. Tapi, ini perihal caraku menjaga kepala agar tetap bekerja. Teman lelakiku selalu mengajakku berpikir dan berpikir. Itu yang aku suka. Coba katakan padaku, apa yang lebih seksi dari kepala perempuan yang berisi? Aku rasa lelaki pun demikian. Mereka akan seksi jika kepalanya berisi.
    
    Hmmm?
    Atau kau mau menceritakan siapa dirimu?
   Silakan, akan kudengarkan.

You May Also Like

0 komentar

Instagram