Kenapa Harus Bersuara Keras Jika Pelan Pun Bisa Terdengar?

by - February 24, 2016


Terbangun karena suara keras perempuan yang bertamu ke tetangga sebelah, memang sangat menyebalkan. Ingin rasanya menendang pintu atau berteriak; 'Ini pukul 2 dini hari, kenapa kalian begitu berisik?' atau 'Halo, orang-orang sudah tidur dan ini bukan hutan belantara.' atau kalimat apapun yang menunjukan bahwa tidak hanya mereka saja yang menetap di sini.
     Dulu, suara-suara macam itu atau suara musik dangdut remix yang diputar dengan volume maksimal, membuat saya sering menyingkir ke warung kopi 24 jam. Tetangga kostan saya yang lebih lama tinggal di kostan ini, sempat bertanya ke mana saya pergi setiap malamnya? Saya jawab dengan sejujur; di sini berisik. Saya memilih pergi ke warung kopi, duduk di depan laptop atau membaca buku atau hanya duduk dengan setengah mengantuk. 
      Sekarang, untuk suara musik itu saya sering melawannya dengan memutar musik instrument, atau jika sudah kesal saya putarkan rekaman ruqyah dari youtube. Meskipun dengan volume ala kadarnya dari laptop. Perlawanan saya ini ternyata sering mendapat respon positif; si empunya musik mengecilkan volume, atau mematikannya.
    Tapi, suara keras mereka ketika mengobrol atau berbicara satu sama lain, masih belum bisa saya lawan. Entah harus bagaimana menanganinya. Jika ditegur, pasti akan tidak nyaman. Alhasil, saya hanya memberi kode dengan; keluar dari kamar dengan wajah bangun tidur--pura-pura ke warung, tidak membalas sapaan ketika lewat di depan mereka, atau hanya membuka jendela saja agar mereka sadar akan keberadaan 'orang lain'. 
     Andai telinga atau diri mereka peka, suara manusia itu memiliki beberapa jenis. Dari jenis-jenis itu ada semacam magnet (saya belum tahu apa istilahnya), baik yang bisa membuat orang betah mendengar, pun yang membuat orang lain ingin menutup telinga; mengganggu. Tidak salah jika seseorang pernah mengatakan bahwa suara isterinya/suaminya/pacarnya membuatnya sakit kepala. Saya pun sering menemukannya di kerumunan. Karena itu, tidak jarang saya mendadak berteriak; 'berisik! telinga saya cuma dua.' Bukan, bukan bermaksud marah. Tapi lebih kepada, 'tolong kecilkan volume suaramu.' [*]

You May Also Like

0 komentar

Instagram