Simposium Gratis di Festival Seni Multatuli 2018, Cek Pembicaranya Di sini!

by - August 02, 2018





Sekitar dua abad yang lalu, setelah dipecat dari jabatannya sebagai Asisten Residen Lebak yang hanya diembannya selama kurang dari tiga bulan, Eduard Douwes Dekker (Multatuli) melahirkan sebuah novel bertajuk Max Havelaar; of de koffijveilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij. Novel yang penuh gugatan itu, konon, menimbulkan kegemparan di Negeri Belanda dan turut memengaruhi lahirnya kebijakan Negeri Belanda atas negara jajahannya, yakni “politik etis”. Dan kita tahu, bahwa Kartini, Pramoedya, Sukarno—untuk menyebut beberapa—, adalah segelintir tokoh bagi bangsa ini yang juga terpengaruh oleh novel Max Havelaar. Dari Kartini, misalnya, kita dapat membaca perjuangannya mengenai emansipasi melalui surat-suratnya; sedangkan dari Pramoedya, kita dapat belajar banyak dari novel-novel dan sikap hidupnya; dan dari Sukarno, kita dapat meneladan semangat dan perjuangannya.

Bagaimanapun, tak dapat dimungkiri bahwa novel Max Havelaar (maupun sosok Multatuli sebagai penulisnya), telah memengaruhi tidak hanya dunia kesusastraan abad ke-19, namun juga menyebarkan pengaruhnya pada berbagai bidang kehidupan sosial, politik, budaya di berbagai negara lainnya, tak terkecuali di negara-bangsa kita: Indonesia.

“Simposium budaya” dalam Festival Seni Multatuli 2018 tersebut akan menghadirkan para narasumber dari berbagai disiplin, seperti para akademisi, sejarawan, sastrawan, budayawan, sosiolog, dan kritukus sastra. Dan akan dihadiri oleh para peserta dari kalangan siswa, mahasiswa, pegawai pemerintahan, sastrawan, budayawan, dan masyarakat umum lainnya, dari berbagai daerah di Banten dan luar Banten.

Dalam “simposium budaya” itu, masing-masing narasumber akan memaparkan berbagai tema, mulai kolonialisme, feodalisme, feminisme, pascakolonialisme, dari berbagai perspektif sesuai disiplinnya masing-masing dan dalam kaitannya dengan Multatuli—baik secara langsung maupun tak langsung. Kami berharap, “simposium budaya” tersebut dapat menjadi ajang pertemuan bagi berbagai pemikiran, dialog terbuka, pembacaan kritis, memberikan pencerahan, serta berimplikasi bagi segenap masyarakat Lebak dan Banten dalam upaya pemajuan kebudayaan daerah maupun nasional.

Berikut para narasumber dan pembahasan masing-masingnya:

1. Dr. Hilmar Farid (Dirjen Kebudayaan, Kemdikbud Republik Indonesia)
Feodalisme di Indonesia
Dr. Hilmar Farid diharapkan dapat memaparkan kecenderungan feodalisme masyarakat jajahan pada masa Kolonial Belanda, dalam kaitannya dengan perlawanan Multatuli melalui novel Max Havelaar. Sekaitan dengan itu, dari perspektif sejarah, sekiranya Dr. Hilmar Farid berkenan menyampaikan berbagai “warisan” feodalisme itu dari berbagai sisi yang mungkin saja masih tersisa dalam kehidupan masyarakat kita hari ini.

2. Dr. Seno Gumira Ajidarma (Rektor Institu Kesenian Jakarta)
Insiden Lebak

Dalam Surat dari Palmerah terdapat salah satu esai dengan tajuk “Insiden Lebak”, yang menyoal perseteruan Eduard Douwes Dekker dan Raden Adipati Karta Nata Negara. Berangkat dari esai tersebut, Dr. Seno Gumira Ajidarma diharapkan dapat memberikan pengayaan secara lebih mendalam mengenai insiden yang pernah terjadi di Lebak itu. Dengan keberlimpahan data, bukankah masa itu dapat terus dihidupkan? Hanya saja, mungkin, data yang berlimpah itu tidaklah mudah diakses oleh sebagian besar masyarakat di Lebak dan Banten. Untuk itu, kami mengharapkan kesediaan Dr. Seno Gumira Ajidarma untuk memaparkan “Insiden Lebak” lebih lanjut dari berbagai sisi dan segi, untuk mendapatkan perspektif yang lebih luas.

3.    Dr. Neng Dara Affiah (Sosiolog, Dosen UIN Jakarta)
Feminisme di Banten
Dr. Neng Dara Affiah diharapkan dapat memaparkan isu-isu feminisme dan kiprah para perempuan dalam memperjuangkan kesetaraan gender, baik di Banten secara khusus maupun di Indonesia secara umum, dalam kaitannya dengan kajian keislaman.

4.    Dr. Katrin Bandel (Kritikus, Dosen Sanata Dharma, Yogyakarta)
Feminisme dan Pascakolonial dalam Sastra Indonesia
Dr. Katrin Bandel diharapkan dapat memaparkan isu-isu feminisme dan pascakolonialisme yang berkembang dalam kesusastraan Indonesia, baik dalam hubungannya dengan Multatuli secara langsung maupun tidak langsung. Barangkali juga dalam hubungannya dengan ide-ide Multatuli yang dimaknai oleh Kartini dalam surat-suratnya, misalnya.

5.    Dr. Bondan Kanumoyoso (Sejarawan, Dosen Universitas Indonesia)
Tanam Paksa dan Politik Etis
Dr. Bondan Kanumoyoso diharapkan dapat memaparkan sejarah Indonesia dalam beberapa kurun waktu dalam lingkup “Tanam Paksa dan Politik Etis”; sekaligus memberikan konteks sejarah kelahiran novel Max Havelaar yang memberitakan kepada dunia tentang praktik kolonialisme di Indonesia dan juga kisah tanam paksa yang menjadi latar belakang ceritanya.

6.    Dr. Sri Margana (Sejarawan, Dosen Universitas Gajah Mada, Yogyakarta)
Kolonialisme di Indonesia
Dr. Sri Margana diharapkan dapat memaparkan sejarah kolonialisme di Indonesia, baik secara sinkronik maupun diakronik, serta berbagai “warisan” kolonialisme yang secara kultural tampaknya telah melekat pada masyarakat kita hingga kini.

7.    Eka Kurniawan (Sastrawan)
Sastra Pascakolonial
Eka Kurniawan diharapkan dapat memaparkan perkembangan dan isu mutakhir terkait sastra pascakolonial dalam ranah kesusastraan Indonesia maupun kesusastraan dunia. Barangkali juga dapat menyinggung “hubungan” antara Pramoedya Ananta Toer dan Multatuli.

8.    F. Rahardi (Sastrawan)
Petani dan Multatuli dalam Sastra Indonesia
F. Rahardi diharapkan dapat memberikan pemaparan mengenai dunia para petani dalam karya sastra Indonesia, dan posisi Multatuli dalam ranah kesusastraan yang menyoal kehidupan petani perdesaan dalam karyanya Max Havelaar.

Waktu dan Tempat Pelaksanaan: 
Jumat-Sabtu, 7-8 September 2018
Aula Multatuli Setda Lebak
Jl. Abdi Negera, No. 3, Rangkasbitung, Lebak, Banten)

Pendaftaran Peserta:
Gratis!
http://bit.ly/2uKeHgd

Narahubung:

0812-875-884-95 (Niduparas Erlang)

Acara ini tidak dipungut biaya (gratis)

Official
Facebook: Festival Seni Multatuli 2018
Instagram: @festivalsenimultatuli
Twitter: @FS_multatuli

You May Also Like

0 komentar

Instagram