Pentas Babi Babi Sangiang di Sobang

by - April 03, 2018



: Catatan Perjalanan

Sejak mendengar Lab. Banten Girang akan mementaskan garapan baru di Kp. Lame, Panimbang (dipemberitahuan ditulis demikian), saya sedikit menyipitkan mata mengingat nama kampung itu. Ketika pulang, saya sering melewati Panimbang dan baru mendengar nama kampung itu. Meskipun saya tidak pernah babaragbagan alias main ke setiap kampung, tapi saya rasa akan ada informasi dari hasil mendengar. Entah dari tetangga, atau seseorang di jalan yang menyebut namanya. Tapi ternyata saya tidak mengingatnya.

Tapi karena tempat pementasannya berada di Kabupaten Pandeglang yang 'kau pasti tahu jalan perkampungan di sana seperti apa', saya langsung menyarankan untuk tidak membawa kendaraan bermotor dan membawa kendaraan tipe city car. Apalagi kampung ini belum terdeteksi berada di mana, meskipun konon masuk wilayah Panimbang.

Sementara untuk kendaraan bermotor, sebenarnya bisa menjadi alternatif lain jika pinjaman kendaraan tidak ada. Hanya saja, mengingat jarak dan medan yang entah seperti apa, pinjaman kendaraan yang bisa mengangkut seluruh kru dan properti harus lebih dimaksimalkan. Apalagi kemudian diketahui jika Kp. Lame berada di daerah Sobang, bukan Panimbang. Meskipun salah satu aktor yang juga berasal dari daerah itu mengatakan jalan menuju ke sana sudah bagus. Tapi saya justru sedikit tidak mempercayainya.

Persoalan yang kemudian muncul pada malam sebelum keberangkatan adalah kendaraan yang dipakai, rupanya masih berada di luar kota. Gerilya meminjam kendaraan pun dimulai. Satu per satu orang yang dimungkinkan bisa meminjamkan kendaraan dihubungi. Tentu saja, yang bisa meminjamkan kendaraan sekaligus menjamin soal bensinnya jika ada. Tapi jika hanya meminjamkan kendaraannya saja juga tidak masalah.

Akhirnya, BPCB menyatakan siap bantu mengantar tanpa birokrasi yang terlalu ribet. Di hari yang sama dengan dikirimnya surat, kami diantar supir dari BPCB menuju Kp. Lame, meski dengan syarat bensin ditanggung peminjam. Ya sudah, syukuri saja. Setidaknya, kendaraan untuk pulang, tentu ini juga pinjaman dari Batik Cikadu sudah menunggu di lokasi workshop mereka di Tangjung Lesung. Meskipun belum diketahui jarak Kp. Lame ke Cikadu berapa jauh.

Kami berangkat pukul 15.30 WIB dari Serang. Meleset dari jadwal keberangkatan yang mestinya pukul 13.00 WIB karena menunggu kendaraan BPCB yang sedang keluar. Tidak masalah, karena waktu pementasan sekitar pukul 21.00 WIB. Di pick up yang digabungkan dengan properti itu kami berjubelan. Beberapa kali, Peri Sandi Huizche mengajak kami tertawa dengan keadaan teater yang serba darurat seperti ini. Inilah proses yang harus dilewati. Sebagaimana Nandang Aradea pernah mengajari untuk bersusah-susah hingga kita bisa mengatakan sudah pada kesusahan semacam ini.

Sepanjang perjalanan, kami lewati dengan bernyanyi. Lagu-lagu kebangsaan, original soundtrack kartun, dangdut, hingga lagu anak-anak yang populer di tahun 90-an, kami nyanyikan. Tentu saja, ada selingan lagu himne kampus juga hingga tak terasa Maghrib pun tiba. Lampu-lampu jalan sudah menyala. Kendaraan pun melewati Pasar Panimbang. Tanpa berhenti dahulu, kendaraan terus dipacu. Di pom bensin yang lampunya sudah tak menyala, kendaraan diperlambat untuk melakukan pengisian kedua. Tapi, karena mereka sudah tidak beroperasi, pilihan lainnya mencari penjual bensin eceran. Kami temukan penjual tak jauh dari perempatan Ciseukeut.

Sembari menunggu penuh, salah seorang tim turun untuk membeli krupuk jengkol yang kami makan bersama. Lapar, menjadi persoalan lain yang membuat kami memutuskan untuk langsung makan sesampainya di tempat tujuan. Dari pesan Whatsapp, kami mengetahui jika panitia sudah menunggu kami di Pasar Sobang. Syukurlah.

Jalanan yang dikatakan bagus, rupanya masih sama tidak bagusnya dari 3 tahun lalu. Saya hanya bisa tertawa ketika keluhan mulai terdengar. Like I said before, jalanan di Kabupaten Pandeglang tidak akan semulus wajah Bupatinya. Istilah ini bukan hanya dari mulut saya, tapi hampir seluruh orang Pandeglang mengakuinya juga.

Pasar Sobang sudah di depan mata, panitia pemandu juga sudah berhasil kami temui. Jalanan yang ditempuh pun makin tidak manusiawi. Bebatuan besar dengan ceruk di sisi kanan dan kiri setelah dilindas kendaraan, genangan air sehabis hujan, dan jalanan tanpa lampu kami lewati dengan sesekali teriak 'waw, aduh,' serta teriakan lainnya.

Lokasi Haredu di hadapan kami membuat kami sedikit tercengang. Bebatuan di depan panggung utama, membuat kami hampir tertawa bersama. Bagaimana bisa pentas bila bebatuan sebesar itu? Sedang aktor kami tidak memakan sandal dan beberapa adegan mengharuskan untuk melompat, bahkan menggelosorkan badan yang telanjang? Tapi, kekhawatiran kami segera sirna saat melihat aula yang bisa kami gunakan untuk pertunjukan.

Panitia menyambut kedatangan kami. Kang Yopi dan kawan-kawan lainnya yang semula kami kabari kemungkinan lain--ketidakhadiran kami, terlihat lega. Mereka pun langsung menyilakan kami menuju tempat makan. Kebudayaan tertinggi memang makan, sodara. Jadi, beuteung harus diisi lebih dahulu sebelum pembicaraan yang perlu maupun yang tidak perlu. *eh?

Lokasi Haredu ini tepat di samping Sekolah Dasar yang beberapa ruang kelasnya dipakai untuk kawan-kawan dari berbagai daerah. Kedaruratan yang sering kami rasakan di Banten Girang, kami rasakan juga di sana. Ini bukan De Javu atau sebangsanya, ya. Tapi memang beginilah wajah 'gerakan' kebudayaan dan kesenian di Banten. Khususnya bagi para seniman yang macakal sorangan alias berusaha sendiri tanpa mengasongkan proposal ini dan itu pada pemerintah maupun sponsor.

Proses pendewasaan, saya pikir. Karena jika harus menunggu seseorang datang membawa koper berisi uang, hanya ada dalam fiksi. Kita harus bertarung dulu untuk mendapat taring. Dan bagi saya pun teman-teman Lab. Banten Girang, gelanggang para petarung macam ini adalah taman bermain yang membuat kami berdenyut hingga saat ini.

Seusai makan, mamang BPCB pamit. Saya dan Peri saling lirik. Kami tidak bisa memberi uang saku dan hanya berusaha agar atasannya di BPCB bisa menggantikan keringatnya untuk mengantar kami. Seusai pamit, pembicaraan mengambil kendaraan di Cikadu pun dimulai. Alternatif pertama, Niduparas Erlang diantar panitia yang bisa menyetir pergi ke Cikadu. Alternatif lainnya, Niduparas Erlang dan salah seorang pemain yang bisa menyetir, Abi, kami utus untuk mengambil kendaraan dan harus kembali lagi sebelum pertunjukan dimulai.

Kami hanya memiliki waktu sekitar 1 jam sebelum pertunjukan. Sementara keduanya pergi, tim melakukan persiapan. Destian A Kurniawan yang berkolaborasi kali ini pun sudah menyatakan kesiapan bagiannya. Video mapping yang dibuatnya bisa ditayangkan, termasuk keberadaan kabel (ya Allah eta si kabel kekinian itu) yang kami cari sebelumnya juga sudah ada di tangan. Tentu, itu salah satu kelengkapan pementasan yang disediakan panitia.

Tata panggung sudah tidak mesti dibahas. Semuanya asyik. Saat MC mengumumkan Lab. Banten Girang yang disebutnya Lab. Teater Banten Girang akan segera tampil. Sutradara, Peri Sandi Huizche langsung maju dan memberikan prolog. Tentu ini bagian skenario penguluran waktu juga. Hanya saja, jadwal harus sesuai rencana. Mendengar salah satu pemain kami masih di perjalanan, panitia semula memutuskan untuk mengganti dengan pengisi lainnya. Tapi, Abi memberitahu jika ia sudah hampir sampai. Peri Sandi pun langsung memberi aba-aba untuk memulai pertunjukan.

"Abi! Cepat, pertunjukan dimulai!" teriak saya di telepon genggam yang langsung ia jawab 'Iya, teh'. Kejam, saya tahu itu. Membawa pick up di jalan yang tidak manusiawi macam itu tanpa melepaskan gas, bisa membuat kendaraan terbalik. Tapi mau bagaimana lagi?

Tong potong roti, roti campur mentega
Belanda sudah pergi, kini datang gantinya...

Lagu pembuka yang dinyanyikan tanpa Abi itu, pementasan Babi Babi Sangiang pun dimulai. Di tembok yang bercat hitam, motion effect dimainkan Destian. Entah bagaimana, saya mendadak diserang rasa sedih. Di samping saya, para penonton yang masih belia duduk sembari mencoba ikut menyanyikan lagu pembuka itu.

Beruntung, Abi datang tepat saat semua aktor harus berada di pentas. Saya tahu, kondisi ke-8 aktor itu sedang tidak prima. Lelah di perjalanan dan sisa begadang semalam, membuat beberapa dari mereka tampak sangat kelelahan. Terburu-buru dan beberapa meleset dari ritme awal. Tapi, melihat apresiasi penonton, mereka terus memacu diri menampilkan yang terbaik dari sisa tenaga mereka.


[Bersambung dulu ah....]

You May Also Like

0 komentar

Instagram