Perihal yang Mengganggu Sebelum Tidur

by - March 26, 2018


Entah sejak kapan aku mulai memprediksi berbagai hal. Termasuk perihal undangan pekerjaan itu. Aku tahu, beberapa kawan baik juga sudah memiliki pandangan tersendiri. Ada yang mengatakannya langsung, maupun dengan sindirian tertentu. Tentu, karena aku tahu mereka sangat menyayangiku jadi mereka memberi berbagai tanda itu. Mereka tidak ingin aku disangka ini dan itu oleh segelintir orang seperti yang sudah-sudah.

Aku juga sangat menyadari, bila kedatanganku tidak akan disambut sebaik Lara Croft tanpa Angelina Jolie. Karena itu aku sempat menghambat diri untuk tidak segera pergi. Tak apa datang saat gelap, meski aku juga bukan perempuan yang takut sorot matahari. Hanya saja, aku tidak ingin berurusan dengan pikiran dan prasangka manusia. Kau pasti sangat tahu, meski kedatanganmu bermaksud baik, tapi kebaikan yang aku yakini tidak akan begitu saja diterima. Termasuk dalam hal pekerjaan yang berhubungan langsung dengan ide. Tidak semua orang mampu menghargainya sebagai pekerjaan yang membutuhkan banyak tenaga untuk melakukannya.

Hal yang paling membuatku malas adalah ketika seseorang meminta bantuan, tapi dibayar dengan sangkaan ini dan itu yang membuat sakit telinga. Selama ini, aku memilih diam dan menarik diri, bukan mengamini apa yang mereka sangkakan. Tapi memberi waktu pada diriku untuk mundur, menarik napas dan mengingat kembali apa yang pernah kupelajari dari orang-orang hebat, guru terbaik di hidup ini.

Selama proses ini, aku banyak mendengar dan melihat. Aku mendengar banyak hal. Kabar buruk lebih banyak dari kabar baik. Terutama yang berhubungan dengan diriku seolah aku ancaman terbesar bagi kelangsungan hidupnya. Hey, memangnya aku seberbahaya itu? Kau tahu yang paling berbahaya itu mulutmu sendiri?

Aku memilih tertawa terbahak-bahak, Beberapa hal yang kudengar selalu membuatku tertawa terbahak-bahak hingga meneteskan air mata. Alangkah lucu...

Aku bersyukur pernah diajari berbagai hal itu. Mulai dari belajar diam, karakter, bahasa tubuh, dan sedikit filsafat. Hanya saja, aku luput mempelajari satu hal; cara menjadi penjilat. Sepertinya, di hari lalu, aku tidak memiliki banyak waktu untuk pelajaran itu. Karena hal-hal yang kemudian datang memaksaku untuk menjadi seseorang yang kuat.

Tapi, sekuat-kuatnya aku, toh pada akhirnya akan menangis juga. Kata seorang teman. Tapi kuat dan lemahnya seseorang tidak bisa diukur dari keluarnya air mata, bukan? Seperti halnya kesedihan yang tidak semuanya menghasilkan air mata. Atau kelucuan yang menghasilkan banyak tawa.

Perihal pekerjaan ini, tentu ada honornya. Tugasku, berkutat dengan ide lagi dan beberapa pekerjaan teknis. Itu yang dijanjikan atau perjanjian yang kubuat sebelum meminta izin rehat dari berbagai acara komunitas, sosial dan hal-hal lain yang selama ini kukerjakan dan memutuskan menerima pekerjaan ini. Tentu saja belum ada hitam di atas putih mengenai hal-hal lainnya. Aku juga tidak ingin sembarang membubuhkan tanda tangan. Seperti halnya aku memutuskan untuk tidak sesegera mungkin menandatangani hal-hal yang berhubungan dengan pernikahan. Bagiku, pernikahan adalah komitmen tertinggi dari segala komitmen. Tentu, keputusan ini sama sekali tidak berhubungan dengan kesialan atau keberuntungan.

Ya, tidak semua orang dapat memahami arti komitmen itu. Aku juga masih mempelajarinya dari pekerjaan-pekerjaan yang kulakukan, dari orang-orang yang kutemui dan tempat-tempat yang sering kudatangi, termasuk dari hal-hal yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri.

Karena itu, future husband, mari pelajari hingga kita sampai pada titik dimana kita siap untuk menghabiskan sisa hidup bersama. Ahai.

Sianying, tulisan apa ini? Hahahay. Sudah, ya. Aku mau tidur. Tapi, satu hal yang mesti kau tahu, aku mensyukuri segala hal yang terjadi dalam hidupku. Termasuk, teman-teman terbaik yang meski jarang berbincang dan bertemu, tapi tetap saling memperhatikan. Mengenai mereka, sebenarnya aku berencana untuk menuliskannya di sini. Tapi, karena satu dan lain hal, termasuk alasan sinyal yang nyangkut di pohon bambu, aku belum sempat melakukannya.

You May Also Like

0 komentar

Instagram