Wawacan Sulanjana

by - January 24, 2018



Diceritakan, Batara Guru dan Patih Narada hendak membuat atau mendirikan Balé Pancawarna. Dewa Anta yang badannya berbentuk ular, tidak bisa melaksanakan tugas itu. Ia kemudian meneteskan air mata saking sedih tidak bisa membantu mendirikan Balé Pancawarna. Sebanyak tiga tetes air mata Dewa Anta kemudian berubah menjadi tiga butir telur. Telur-telur itu kemudian dimasukan ke mulutnya untuk diserahkan pada Batara Guru. Namun, di tengah perjalanan, Dewa Anta ditanya oleh burung Elang. Dewa Anta tidak bisa menjawab, sebab mulutnya dipenuhi ketiga telur itu. Merasa tersinggung oleh sikap Dewa Anta, burung Elang kemudian terbang sembari menyambar Dewa Anta yang akhirnya membuat telur-telur itu jatuh dari mulutnya. Dua telur yang jatuh, yang satu jatuh di Tegal Kapapan, sedangkan yang satu lagi di Tanah Sabrang. Dua telur yang jatuh itu pecah dan menjadi dua makhluk yang bernama Sang Kala Buwat dan Sang Budug Basu.
           
Di Tegal Kapapan, Idajil kencing. Seekor kerbau betina yang kehausan meminum air kencing Idajil. Kerbau itu kemudian hamil dan melahirkan Sapi Gumarang yang sangat sakti. Sapi Gumarang kemudian merajai seluruh hewan di wilayah itu. Dia mengangkat Kala Buwat dan Budug Basu sebagai anak. Satu telur yang selamat oleh Dewa Anta diserahkan pada Batara Guru. Oleh Batara Guru, Dewa Anta kemudian ditugaskan untuk mengerami telur hingga menetas. Ketika menetas, dari telur itu muncul seorang dewi yang sangat cantik rupawan.

Dewi itu kemudian diserahkan kepada Batara Guru yang kemudian diberi nama Pohaci Dangdayang Sri. Pohaci Dangdayang Sri (disebut juga Dewi Pohaci atau Dewi Sri) itu disusui oleh Dewi Uma, istri Batara Guru. Patih Narada sudah memprakirakan bila semakin lama, Dewi Pohaci akan semakin cantik. Selain itu, Patih Narada juga takut bila pada akhirnya Batara Guru akan mengawini Dewi Pohaci. Bila itu terjadi, maka Batara Guru sudah melanggar aturan atau hukum. Karena Dewi Pohaci disusui Dewi Uma, istri Batara Guru. Artinya, Dewi Pohaci itu anaknya Batara Guru juga.

Guna menghindari kejadian itu, maka Dewi Pohaci dihentikan menyusu pada Dewi Uma. Sebagai gantinya, ia diberi buah Holdi. Ketika Dewi Pohaci tidak diberi buah holdi, ia kemudian sakit parah karena ketagihan dan sangat tergantung pada buah holdi. Akhirnya, Dewi Pohaci meninggal.

Jasad Dewi Pohaci diurus oleh Bagawat Sang Sri. Setelah dikuburkan, muncul berbagai keanehan. Dari kuburan Dewi Pohaci, muncul pohon kelapa dari arah kepala Dewi Pohaci. Dari arah kuping, muncul berbagai macam buah-buahan yang berwarna hijau, kuning dan merah. Dari mata dan rambutnya muncul padi ketan. Dari tangannya muncul pohon kawung. Dari jemarinya, muncul jambu. Segala macam pepohonan dari tali ari-arinya. Segala macam buah-buahan dari pinareup dan segala macam rerumputan dari bulunya. Batara Guru kemudian memerintahkan Semar untuk membawa semua pepohonan itu ke Negara Pakuan Pajajaran untuk ditanam dan dirawat. Negara Pakuan tambah subur dan makmur.

Istri Raja Pakuan, Prabu Silingawi itu salah satu bidadari yang bernama Dewi Nawang Wulan, anaknya Batara Guru. Nawang Wulan dipercaya untuk menanak nasi yang akan dinikmati rakyat Pakuan dan mengajarkan cara menanak pada masyarakat Pakuan. Prabu Siliwangi tidak boleh mengganggu atau membuka semua masakan. Jika melanggar janji, maka talak pun akan berlaku pada Dewi Nawang Wulan.

Budug Basu yang tinggal di Tegal Kapapan mencari Dewi Pohaci, saudaranya. Para Dewa yang mengetahui maksud Budug Basu, memutuskan untuk mengunci seluruh pintu di Suralaya (Kahyangan). Hanya saja, karena kesaktiannya, semua pintu itu diterjang dan hancur lebur. Meskipun Budug Basu sudah dikepung oleh para Dewa, ia bisa meloloskan diri hingga ke puri Batara Guru. Batara Guru kemudian menjelaskan bila saudaranya, Dewi Pohaci, sudah meninggal dunia. Batara Guru kemudian memerintahkan Kalamulah dan Kalamuntir untuk mengantar Budug Basu ke makan Dewi Pohaci di Banyu Suci.

Di Banyu Suci, Budug Basu mengelilingi kuburan Dewi Pohaci tujuh kali dan meninggal dunia. Batara Guru memerintahkan Kalamulah dan Kalamuntir untuk menggotong jasad Budug Basu untuk dibawa mengelilingi dunia sebanyak tujuh kali. Sebelum tujuh kali keliling dunia, mereka tidak dibolehkan untuk kembali ke Suaralaya. Ketika mereka sedang beristirahat di bawah pohon Gebang, dahan pohon gebang patah dan jatuh menimpa peti mati tempat jasad Budug Basu. Dari dalam peti mati kemudian keluar berbagai macam hewan darat dan laut. Kalamulah dan Kalamuntir tidak bisa pulang ke Suralaya karena takut dihukum Batara Guru. Mereka kemudian membagi tugas, salah seorang di antaranya menjaga seluruh hewan di darat dan salah satunya menjaga hewan di laut. Sedangkan peti mati itu berubah menjadi badak.

Ketika Dewi Pohaci masih hidup, Batara Guru mengeluarkan cahaya yang kemudian jatuh ke bumi. Dari cahaya itu kemudian melahirkan tiga manusia. Yang lelaki diberi nama Sulanjana, sedangkan dua lainnya yang mewujud perempuan diberi nama Talimedang dan Talimentir. Ketiga manusia itu diberi tugas untuk mengurus Dewi Pertiwi hingga besar setelahnya mereka diminta ke Suralaya untuk menemui bapaknya yaitu Batara Guru. Di Suralaya, Batara Guru menitipkan kerajaan pada Sulanjana. Ia hendak pergi untuk mengurus padi. Kerajaan Suralaya pun dipimpin sebentar oleh Sulanjana. Sementara itu, Batara Guru dan Patih Narada turun ke bumi dan malih rupa menjadi burung pipit yang menyerang padi di bumi. Mereka hendak mengetes Ki Semar yang diberi tugas untuk menjaga padi di bumi. Apakah tugasnya itu dilaksanakan atau tidak. Ketika burung pipit samaran dari Batara Guru dan Patih Narada dan semua tentaranya menyerang padi, Semar dan para putranya sigap menghalau burung-burung itu.

Dempu Awang dari Negara Sebrang datang ke Pakuan. Niatnya mau membeli padi Pakuan. Tapi, oleh Prabu Siliwangi tidak dilayani. Karena menurut Prabu Siliwangi, padi itu bukan kepunyaannya, tapi padi titipan dari Batara Guru. Dempu Awang merasa tersinggung dan sakit hati. Ia lalu meminta tolong pada Sapi Gumarang untuk merusak padi. Sapi Gumarang, Kala Buwat, dan Budug Basu yang sudah dihidupkan kembali dan semua anak buahnya kemudian menyerang padi Pakuan oleh berbagai hal.  Ada yang merusaknya dengan hewan hama, hewan sawah dan lainnya. Batara Guru yang mengetahui kejadian itu kemudian menugaskan Sulanjana, Talimedang dan Talimenir untuk menghadapi serangan hingga padi sehat kembali.

Sapi Gumarang sangat marah dan merasa malu pada Dampu Awang. Sebab, beberapa kali padi dirusak, tetap bisa dikembalikan seperti semula oleh Sulanjana. Akhirnya, Sapi Gumarang mengajak perang tanding. Hanya saja, Sapi Gumarang kalah dan seterusnya mengucap janji akan mengabdi pada Sulanjana yang akan menjaga dan memelihara padi. Setiap hendak mulai menanam padi, namanya dan nama dua anaknya yaitu Kala Buwat dan Budug Basu harus disambat baik secara batin atau pun dengan cara mengucap mantra untuk memulai menanam padi. Serta harus disediakan daun paku di atasnya selaku syarat ketika menanam padi.

Suatu hari, Dewi Nawang Wulan sedang menanak nasi. Prabu Siliwangi penasaran ingin tahu isi masakan istrinya itu. Ketika ia membuka masakan, dirinya merasa heran sebab padi saranggeuy bisa mencukupi semua orang. Setelah itu, masakan itu ditutup lagi oleh Prabu Siliwangi. Ketika Dewi Nawang Wulan datang dan membuka masakan itu, dirinya kaget karena masakannya masih berupa padi. Dirinya mengerti pada keadaan itu, ia kemudian cerita jika dirinya harus kembali ke kahyangan. Sebelum pergi ia ingin disediakan lesung, dulang, hihid, bakul, dan aseupan untuk menanak nasi. Lesung harus panjang dengan dua liang bulat di sisinya untuk tempat Talimendang dan Talimenir bermukim untuk membantu memasak nasi. Setelah itu, saat itu juga Dewi Nawang Wulan langsung menghilang (ngahiang) pulang ke Kahyangan.

Dengan sedih dan rasa sesal, Prabu Siliwangi pergi ke Suralaya menghadap ke Batara Guru minta agar Dewi Nawang Wulan bisa kembali ke bumi. Namun kata Batara Guru, Dewi Nawang Wulan tetap tidak bisa pulang lagi seperti peraturan yang ada. Batara Guru pun kemudian mengajari Prabu Siliwangi ilmu-ilmu untuk menanam dan mengurus padi. - TAMAT -

Titimangsa wawacan ini tanggal 17 Mei 1965, naskah sengaja dipilih yang paling muda untuk gambaran bila sekyar waktu itu cerita ini masih disakralkan dan dianggap memiliki daya magis, sebab masih dipakai dalam ritual menanam padi.

You May Also Like

0 komentar

Instagram