Kepada Kamu Yang Merahasiakan Diri

by - September 10, 2016



Terbangun pada dini hari seperti ini terkadang membuatku agak random. Mulai dari mengerjakan tugas perdapuran, maksudku mencuci pakaian, hingga memeriksa percakapan-percakapan di telepon genggam. Bahkan, meneruskan menonton film yang sebelum tertidur tadi aku tonton.

Tapi, ada yang menarik di kotak masuk e-mailku pagi ini. Maafkan, aku tidak terlalu suka memeriksa e-mail, selain masalah pekerjaan. Begini, seseorang melalui blog ini bertanya padaku pada 8 September lalu:

Bagaimana Jika seseorang cinta padamu bukan karena dirimu melainkan karena perasaannya yang tumbuh atas karya-karyamu? Apa yang akan kau perbuat?

Regards,
Terus terang, aku tidak tahu cara lain menjawab pertanyaannya selain menuliskannya di sini. Sebelumnya aku sudah berusaha menjawabnya melalui e-mail, tapi tidak berhasil. Jadi, inilah jawabanku. Tentu saja sudah lebih panjang dari jawaban di e-mail yang kukirim padanya:

Kepada kamu yang merahasiakan diri,
 
Apa yang bisa aku perbuat selain mengucapkan terima kasih? Terima kasih sudah membaca karya-karyaku. Terima kasih sudah mencintaiku dari karyaku. Aku sangat terharu. Sungguh.

Setiap dari kita memang selalu membuat daftar panjang untuk mencintai seseorang atau sesuatu, bukan? Entah itu diawali dari fisiknya, atau seperti 'seseorang' katamu itu. Fisik memang lebih banyak dipilih sebagai alasan untuk jatuh cinta. Tapi, menurut kepalaku yang sedang sibuk memikirkan seseorang ini, mengawali mencintai seseorang dari karyanya itu melebihi segalanya. Ini seperti kau mencintai udara dan kemudian kau memutuskan untuk mencintai hidup ini. Alah! Apalah ini. 

Aku tidak ingin mengatakan itu lumrah. Aku juga tidak mau menambahkan kenarsisanku di sini. Tapi satu hal yang perlu aku garis bawahi, karyaku adalah bagian dari diriku. Aku percaya, ia--jika karyaku bisa disebut begitu--berasal dari seseorang di dalamku.  Seseorang yang murni yang tidak tersentuh dosa-dosa di bumi. Ini agak mistis, sih.
Di biodata Instagram, aku menulis: 'buku yang belum selesai kau baca'. Sebab aku percaya, proses memahami dan mencintai seseorang itu sama dengan membaca buku. Itu artinya, kau harus membaca seseorang secara menyeluruh jika ingin memahami atau mencintainya. Bahkan jika pada akhirnya kau memutuskan untuk menghabiskan sisa hidup bersama seseorang yang kau baca itu. Nah, itu akan menjadi tugas membaca seumur hidup. Jadi, jika perasaan 'seseorang' tumbuh dari karya-karyaku, itu sudah benar. Tinggal bagaimana ia bisa membaca seluruhku dan bisa membedakan aku yang aku dan aku yang bukan aku dan tetap mencintaiku. Itu saja.
Ah, andai aku mengetahui siapa 'seseorang' itu, mungkin aku akan mentraktirnya kopi. Tentu saja, aku akan mengucapkan terima kasih berulang kali.

Salam,
 Lain waktu, mohon sertakan e-mail. Maksudku, bila kamu ingin menjadi rahasia, silakan. Tapi izinkan aku menjawab secara rahasia pula. Hehehe

P.S: Aku juga tidak mengerti apa yang sedang kubicarakan ini. (-.-")

You May Also Like

0 komentar

Instagram