Ketika Dora Kehilangan Peta (Bagian 1)

by - February 16, 2016


Membaca berita Pelecehan Seksual Oleh Driver Gojek ini, membuat saya mengingat kembali peristiwa Jumat (12/02/2016). Ini bukan pelecehan yang sama atau mau memembantu mengembalikan nama baik Gojek. Biarkan saja Gojek membayar orang lain untuk itu. Saya hanya ingin mencatat perjalanan saya. Itu saja.
        Bermula dari undangan wawancara di daerah Central Park, saya yang sulit menghapal rute jalan dan doyan banget nyasar ini, memutuskan untuk datang. Kameha-meha! Kau pasti tidak percaya jika saya meneriakan kalimat itu sebelum mengunci pintu dan pergi ke terminal bus, bukan? Percayalah, saya melakukannya. Berbekal rute yang disarankan kedua sahabat saya, Mput (Petronela Putri) dan Nana (Na/Deri Lesmana), serta map dan sepatu boots tinggi (10 centi?), saya memutuskan untuk memenuhi undangan itu. 
      Rute yang disarankan sahabat saya itu ada di ponsel, karena itu saya menjaga agar baterai tidak K.O sebelum sampai. Map itu berisi resume yang diminta perusahaan. Sementara boots tinggi itu bukan untuk menunjang penampilan saya, atau saya ingin terlihat tinggi. Tapi, boots itu adalah self-defense saya. Siapa tahu di perjalanan saya bertemu kondisi yang mengharuskan saya menendang kepala seseorang. Heu.
      Baiklah, di antara dua saran dari sahabat saya itu, saya memilih alternatif yang lebih dekat. Mput menyarankan saya turun di Kebon Jeruk--> Naik Gojek--> Centrak Park. Masalahnya, saya baru download aplikasi Gojek dan belum mendaftar. Karena itulah, saya mengambil saran Nana; turun di Tomang --> Jalan Kaki ke arah Taman Anggrek --> Central Park. Tapi, rupanya jaraknya lumayan juga. Berulang kali saya memaki Nana di jalan; bajingan, jauh  dan pegal ini! 
     Singkatnya, setelah bertanya berulang kali, sampailah saya di ruko yang berada di areal Central Park itu. Saya juga bertemu dengan beberapa orang yang memenuhi undangan, sempat berinteraksi dengan salah seorang dari mereka. Saya juga bertemu mas keren yang mempresentasikan kantor itu, tugas yang nanti diberikan dan lainnya. Tapi, di tengah itu, konsentrasi saya terganggu akibat baterai ponsel yang seolah mengatakan;  'Woi! Bentar lagi gue metong! Elu enggak bakal bisa balik! Muahahaha...'
      Sial! 
    Selesai dari kantor itu, saya segera mencari tempat ngopi. Masuk ke Central Park Mall dan menemukan Starbucks itu seperti kau masuk ke dalam hutan lalu menemukan aliran sungai. Agak melegakan. Setelah memesan 'kopi paling pahit' dan meminta tolong untuk menchargerkan ponsel, saya duduk di beranda untuk menghabiskan kopi, sekaligus menenangkan kepala yang terus merapal mantera; 'mati lu, mati lu, ahahaha. Kagak bisa balik.' Menghabiskan kopi sembari menunggu ponsel kembali hidup itu, sungguh penantian yang membuat perut saya mual. Apalagi kemudian, setelah ponsel diminta kembali, ponsel sialan itu seperti tidak pernah dicharger. Terima kasih, Mz & Mb Starbucks CP.
        Semakin berat kepala saya, semakin sesak dada saya. KZL.
      Tapi, sudahlah. Itu artinya saya harus mencari tempat charger terdekat. Yeay! Akhirnya saya menemukannya. Hal pertama yang saya lakukan adalah membalas pesan dari seseorang, sebut saja Panji. Saya katakan sedang berada di CP, sendirian dan sepertinya saya tidak tahu jalan pulang. Menghubungi Nana dan Dinay juga dan mengatakan hal yang sama. Panji mengatakan akan menemui saya di CP, tapi saya tolak dengan alasan 'takut merepotkan'. Well, klise sekali bukan? Padahal, sesungguhnya saya takut dia datang dan saya menangis seperti Dora kehilangan peta.
     Itu memalukan.
     Saran dari Panji, Nana dan Dinay, saya jawab akan diputuskan setelah Maghrib. Saya butuh waktu untuk menenangkan diri, sekaligus untuk menambah nyawa ponsel saya. Sekaligus menunggu verifikasi aplikasi Gojek yang belum juga dikirimkan. Bahkan sampai Maghrib berlalu, verifikasi itu belum juga datang. Padahal, saya sudah memutuskan akan menginap saja di kostan Dinay. Selain untuk menumpang istirahat, juga ada yang harus saya bicarakan dengan sepasang vegan itu. Tapi, lagi-lagi masalah rute. Saya bingung mau ke sebelah kiri/kanan. Saya juga tidak mau sembarang memutuskan naik taksi, sebab saya tidak ingin menambah 'f' di hari itu. Sembari terus menekan permintaan kode verifikasi, saya hampiri babang-babang Gojek dan Grab yang sedang menunggu pelanggan. Meminta pencerahan, tentu saja. Tapi kebanyakan dari mereka hanya menggelengkan kepala.
     Hingga datanglah babang Gojek beserta penumpangnya, seorang perempuan dengan tas belanjaannya. Kepada babang itu saya bertanya kenapa sulit sekali meminta kode verifikasi. Ia menjawab tidak tahu. Ah, saya makin patah hati. Entah seperti apa ekspresi saya saat itu. Mungkin hendak menangis? Linglung? Entahlah.
    Entah kasihan atau apapun, babang Gojek itu kemudian bertanya hendak ke mana. "Hotel 88, bang. Dari sini naik apa, ya?" Tanya saya pada akhirnya sembari terus menekan permintaan kode verifikasi. "Ya udah, kak, ayo bareng sama saya saja. Kebetulan pangkalan saya di depan hotel itu." Katanya.
    Hampir menjerit saya menanyakan keseriusannya. Dan ia mengiyakan. Oh mai gad! Hampir saya peluk itu si babang Gojek itu. Andai saja saya tidak segera sadar, jika babang itu pasti sudah berbini, beranak dan berbahagia. (Bersambung, men)

You May Also Like

0 komentar

Instagram