#KataMereka "Penanggung tiga Butir Lada Hitam di Dalam Pusar" Itu...

by - September 28, 2015




Berikut ini, #KataMereka perihal buku Penanggung Tiga Butir Lada Hitam di Dalam Pusar karya Niduparas Erlang.

1. "Dalam lalu-lalang kelisanan yang tak terbendung di dunia maya, sejumlah cerita dalam buku Penanggung Tiga Butir Lada Hitam di Dalam Pusar mampu menghindari epigonisme, pengulangan-pengulangan, dan masih dapat menemukan ide-ide yang genuine." -- Damhuri Muhammad, Cerpenis dan Esais.


 2. "Cerita-cerita Niduparas Erlang membuatku mabuk kepayang." -- Raedu Basha, Penyair.


 3. "Cerpen-cerpen Niduparas Erlang ibarat mikroskop yang dapat melihat benda-benda tak kasat mata menjadi tampak besar dan mendetail. Itu yang saya suka, selain aroma lokalitas yang cukup kental di dalamnya." -- Muhammad Rois Rinaldi, Penyair


 4. "Mungkin benar kata teman saya, sastra adalah dunia isapan jempol, tetapi cerpen Niduparas adalah jempol yang manis. Ada sisa gula di sana." -- Deri Lesmana (Na Lesmana), Bukan Siapa-siapa.


5. "Membaca kumpulan cerpen ini, ibarat masuk dalam lingkar-banjar kehidupan lokal-dengan rambuan bahasa yang menggemaskan. Hiruk-tingkah kehidupan yang lumrah, pun terabai telah dikemas secara piawai. Mengejutkan. --- Aksan Taqwin Embe, Cerpenis, Ustadz dan Pendidik


6. "Estetika bahasa Nidu sangat tinggi. Perlu ketenangan dan ketelitian membaca cerpen-cerpennya. Gaya bahasanya meliuk-liuk seperti ular yang mencari tiga butir lada hitam di dalam pusar. Tak banyak pencerita seperti Nidu. Sangat langka. Oleh karena itu, karya ini perlu dibaca dan diawetkan. Mohon simpan baik-baik, kelak anak-cucu anda membutuhkannya!" --- Encep Abdullah, Cerpenis dan Pendidik



7. "Menyelami cerita-cerita Nidu dalam buku ini, kita seperti diajak mengeja suara hati yang kerap kali terhimpit dalam kontradiksi. Selain menyajikan permainan kata metaforis yang indah sekaligus bernas, Nidu berhasil menampakkan pada kita bahwa cerita bisa berangkat dari mana saja, dari kabar burung di kampung halaman, butir-butir lada hitam, sejumput cengkeh, atau sebongkah hati yang diam-sembunyi merindu. Karenanya, kumpulan cerpen Nidu kali ini tak sekadar buah perenungan matang terhadap kepekaan sekitar, maupun perasaan pada kedalaman diri, melainkan juga diikuti dengan kesadaran bercerita maupun berbahasa yang begitu terjaga." -- Veronica Gabriella, Cerpenis, Mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara



------------------------------------------------------------------------------------------------------
Cek Daftar Pemesan: di sini.

Cek Promo: di sini.
Cek Tarif Kiriman: di sini.

You May Also Like

0 komentar

Instagram