Selamat Datang

by - August 12, 2015


Hai,

Seusai menonton pentas monolog "Trik"-nya Putu Wijaya yang disuguhkan sangat menarik oleh kawan Kafe Ide, seorang kawan menyodorkan sebuah plastik hitam padaku. Aku kira, awalnya makanan. Sebab jujur saja, aku sedang lapar saat itu. Aku sudah merengek pada sahabatku, agar ia datang dengan roti di tangannya. Tapi, sesuatu di perutnya sedang berusaha untuk keluar. Sehingga ia memutuskan untuk tidak datang. Saat melihat isi plastik itu, mataku langsung terbeliak. Kamu di sana. Lebih besar dari Neruda dan lebih subur. Aku senang, tapi terkejut--tidak menyangka dihadiahi kamu. Dan aku tidak tahu apa yang harus dilakukan, selain mengucapkan sebanyak-banyaknya terima kasih pada kawanku yang sepertinya sedang terburu-buru itu.
           Lalu, kuucapkan ''halo' padamu.
          Nama? Ya, nama. Aku langsung memikirkan nama apa yang cocok untukmu--sepertinya kamu betina?
        Akhirnya, kupilih. Mistral.
     Benar, aku mencukilnya dari Gabriela Mistral, seorang penyair yang lebih dulu eksis di dunia kepenyairan, sebelum Neruda. Mereka berdua sama-sama penyair berpengaruh di Chili, dan sama-sama pernah meraih Nobel; Mistral memenangkannya pada tahun 1945. Neruda pada tahun 1971. Meski konon, saat Neruda masih muda, jalan mereka berseberangan. Tapi, mereka terbukti berhasil membuat Chili dikenal sebagai kota penyair.
        Maka, mulai 11 Agustus 2015 pukul 20:55, kupanggil kamu Mistral. 
       Sebagai perayaan atas nama barumu, pagi ini aku putarkan Fuerteventura-nya Russian Red, dan Zsa Zsa Zsu-nya RNRM yang dinyanyikan Katjie & Piering. Kamu suka? Neruda sepertinya suka. 
        "Untuk menemani Neruda," kata kawan yang baik itu. Sehingga, aku juga berharap, kamu bisa rukun dengan Neruda. Meskipun, rumah kalian saat ini tidak seberapa besar, tapi suatu hari nanti aku akan mencarikan rumah baru yang lebih baik.
       Hanya saja, kamu mesti sabar. Itu pula yang aku katakan pada Pablo dan Neruda, saat mereka baru menghuni toples kecil itu. Bersabar dengan kesabaran yang seutuhnya. Tanpa pikiran-pikiran buruk yang bisa membuatmu stres. Jika pikiran-pikiran buruk itu datang, segeralah usir. Atau berilah tanda bahwa kamu sedang tidak baik-baik saja. Misalnya dengan gelembung? 
      Tapi, tolong jangan mengatakan atau memberi tanda 'aku baik-baik saja', ketika aku tahu ada yang tidak beres denganmu. Sebab, perempuan di dunia manusia terlalu sering mengelabui diri sendiri dan orang yang menanyakan keadaannya dengan kalimat itu. Barangkali, berawal dari kalimat itu pula, lelaki di dunia manusia sering mengatakan bahwa perempuan itu rumit.
        Termasuk aku? Mungkin, jika dinilai dari kaca mata manusia yang lain. Tapi, Mistral, aku bisa seterbuka saat menulis buku harian, jika kamu bisa berjanji padaku untuk tidak mati. Tidak meninggalkanku bersama rasa bersalah dan tebakan-tebakanku sendiri perihal alasan kematianmu. Nah, itu salah satu penyakit pikiran yang belum bisa aku hindari. 
       Jadi, mari kita berkarib dahulu, Mistral. Saling mencari pemahaman atas diri masing-masing kita. Kamu bisa melihat cara tidurku, aku akan melihat cara tidurmu. Meski aku tidak mengerti cara tidur kaum kamu. Tapi, aku yakin matamu yang tanpa kelopak itu juga mengenal kata tidur. Hanya saja, kamu harus tetap waspada pada pemangsa, sehingga kamu seolah tidak tidur.
       Akhirnya, Mistral, kuucapkan selamat datang padamu. Mari saling berbuat baik, meski sekecil apapun. Misalnya, tidak membuat masing-masing kita bingung dan bertanya-tanya sendiri. Barangkali saja, dengan tidak membuat orang lain bingung dan bertanya-tanya sendiri juga merupakan sebuah pahala besar. Tapi, mungkin aku akan terkaget-kaget bila suatu saat kamu menjawab pertanyaanku. Jadi, berilah tanda saja bahwa kamu sedang mendengarkan dan memperhatikan. Biar saja kaumku mengataiku gila saat melihatku berbicara padamu. Kaumku memang lebih sering mengejek, dibanding memikirkan hal-hal positif untuk dirinya sendiri dan orang lain. Mungkin, mereka tidak pernah berbicara dengan diri sendiri? Entahlah. Aku tidak mau berburuk sangka lebih jauh. Itu juga penyakit pikiran.

        Sekali lagi, selamat datang, Mistral. Selamat tidur.


Dari nonamu yang baru,

Uthera Kalimaya


Keterangan Foto: 
- Foto diambil oleh Dwi Permadi; lelaki dengan rambut empuk untuk diuwel-uwel.
- Topi punya doi dan nggak boleh diculik.
- Kemeja, punya bapa yang dibolehkan aku culik. :-D

You May Also Like

0 komentar

Instagram