Bawah Sadar: Menuju Rumah Putih

by - August 11, 2015


[Adegan 10]

Tepi pantai dan warung makan telah jauh di belakang. Barangkali, perjalanan masih sangat panjang. Pesawahan ke pesawahan, perkampungan ke perkampungan,  pekuburan ke pekuburan, dilewati telapak kaki yang berdarah lagi. Aku tidak mengerti, kenapa harus berlari, jika berjalan kaki saja dapat mencapai tujuan. Tapi, anehnya, entah sejak kapan aku mulai terbiasa mengatur nafasku sendiri. Aku bahkan mulai merasa nyaman dengan berlari bersisian seperti saat ini.
     Di depan sana, tampak dua jalan yang menyerupai huruf Y jika kulihat dari posisi saat ini. Papan penunjuk arah masih sangat jauh untuk dibaca. Semakin dekat, masih tak bisa dibaca. Tulisan di papan kayu dengan cat putih itu bukan tulisan yang pernah kulihat dalam daftar bahasa di dunia. Salah satu dari sandi pramuka barangkali? Mendadak aku merasa bersalah karena tidak menamatkan ujian Penegak Bintara.
       "Apa kau bisa membaca tulisan di papan itu?"
       "Kau pun bisa membacanya, non."
       "Bagaimana bisa? Mataku bahkan hanya melihat simbol-simbol saja.
        "Bisa, jika kau mau membacanya."
        "Itu bukan morse. Atau sandi rumput."
        "Jika kau hanya terpaku pada bahasa yang kau kenal, perjalanan ini akan sia-sia. Kau harus belajar membaca bahasa-bahasa yang tak bisa kau baca. Bahkan bahasa yang tak tampak di mata."
       "Tumben kau bicara begitu panjang?"
       "Bacalah."
        "Aku tak bisa. Tak ada kalimat apapun di kepalaku."
        "Masa? Coba lagi."
        "Sungguh. Aku tak bisa. Aku malah berpikir tentang tempat tidur yang nyaman, kamar mandi, dan pakaian ganti. Tidakkah kau mencium bau aneh dari tubuh kita?"
         "Tak bisakah kau berhenti memikirkan hal yang kau butuhkan? Kau sedang bersama seorang lelaki di sini. Kau tidak curiga padaku?"
         "Hey! Kita sedang membahas tulisan itu. Kenapa menyambung ke 'kecurigaan'?"
          "Karena kau akan tahu sebentar lagi."
          "Apa? Apa?"
          "Diam dan ikuti aku."
          "Itu yang kulakukan seharian ini. Kau lupa?"
          "Apa  perlu lakban untuk menutup mulutmu?"
          "Baik, baik. Aku diam. Beritahu aku jika sudah boleh bicara."

[Adegan 11]


Mute City. Kunamai kota ini. Serba bisu, serba gagu, kaku. Tak ada orang-orang bercakap-cakap meskipun saling berhadapan. Tak ada gerakan tangan, atau tubuh yang menyiratkan percakapan. Senyum adalah satu-satunya bahasa yang aku mengerti. Hal itu mereka lakukan sebelum melangkah pergi. Mereka tersenyum, pergi. Tersenyum, pergi.
Aneh.
Senyuman menjadi salam perpisahan, salam kedatangan.
Tak ada polisi, atau kendaraan. Semua jalan hanya berisi orang-orang yang bergegas. Entah hendak ke mana, atau melakukan apa. Tanganku terasa digenggam. Aku meliriknya, tapi kemudian hentakan membuat luka di telapak kakiku bergesekan dengan aspal. Pedih.
[Adegan 12]

Pintu kaca berputar. Di lobi, seorang perempuan yang tersenyum menyambut dan seorang lelaki berpakaian seperti satpam yang mengangguk. Pintu lift di sebelah kanan baru saja tertutup. Kau tak mengajak ke sana.  Tanganmu menarikku ke lorong di sebelah kiri. Anak tangga kulihat seperti ular yang teramat panjang.  Kakiku mendadak kram. Aku harus menaiki anak tangga itu setelah berlari seharian? Demi Dewa Anak Tangga--jika ada, aku tak sanggup.

 "Bisakah kita menggunakan lift saja?" Tanyaku agak ragu.
 "Tidak bisa. Lift itu bukan milik tempat yang kita tuju."
 "Bagaimana bisa? Apa ini studio film sci-fi, atau semacamnya?"
 "Pssttt. Kau melanggar janjimu untuk diam saja."
 "Ooh."
 "Pssttt."
 "Oke, aku diam."
 "Psssttt."
 Mataku melirik tak suka. Ini perpustakaan atau semacamnya?
*
 [Adegan 13]

Jika ini film komedi, aku akan tertawa terbahak-bahak meskipun tidak lucu.
Setelah mendaki anak tangga sialan itu, karena membuatku sangat lelah dan rasanya tak pernah mencapai puncak, kini di hadapanku berdiri rumah bercat putih dengan jendela-jendela tinggi. Sekilas, tampak seperti rumah Barbie. Hanya berbeda cat saja. Aku tidak mengerti kenapa di gedung setinggi ini, ada rumah itu? Tapi tunggu dulu. Benarkah ini di gedung tinggi yang tangganya tadi kami naiki? Kenapa letak rumah ini ada di pinggir hutan?
"Ini rumah siapa?"
"Kau melanggar janjimu lagi."
"Oke, oke. Aku akan diam sampai kau bertanya. Puas?" Mataku mendelik padanya. "Orang macam apa yang menyuruh orang lain tidak bicara?" Gerutuku sembari memalingkan wajah.
"Pssstt."
 "Sialan."
"Psstt"

[Bersambung]

You May Also Like

0 komentar

Instagram