Dari Cangkir ke Cangkir

by - May 18, 2015

Coffee Pastee at Pondok Tiara

WARNING: bukan tulisan serius, jadi tidak usah serius gitu bacanya. Tapi, tetap diperkenankan membaca sambil ditemani secangkir kopi dan sepiring goreng pisang. :D

Sesuai janji saya malam ini (16/05), saya pergi ke Pondok Tiara tempat kios kawan saya Chill & Chilli (yang saya plintir menjadi 'cabe-cabean', ha) berada. Sudah lama sebenarnya saya tidak mampir ke tempat kuliner ini. Sudah banyak berubah. Keadaan kios-kiosnya, termasuk menu-menu yang dijualnya. Dahulu mungkin tak terlalu banyak asap, sebab yang dijual menu-menu yang tidak memerlukan pembakaran langsung. Sekarang..., asap mengabut cukup pekat. Jadi, persiapkan masker beroksigen jika hendak berkunjung. Hih!
       Terakhir kali berkunjung, saat saya mendadak rindu minuman 'mahal' di kios "Malas Bercinta"-nya Mang Abdul. Tapi ternyata, kios yang ditempeli gambar-gambar coretan pengunjung tetapnya itu, tidak beroperasi. Liburan, katanya. Karena tidak mau kesal dan mubazir ongkos, saya putuskan berkunjung ke Coffee Pastee yang memiliki varian kopi 'tampan' (istilah saya untuk Toraja, Gayo, Kintamani, Wamena, dll) dengan harga anak kostan yang berada di Pondok Tiara 2.  Sayangnya, saat itu kopi kesukaan saya habis. 
      
Seblak tak pedas by Chill & Chilli
  Nah, malam ini saya juga berniat mampir di tempat itu, barangkali sudah ada wamena dan kakak tampan yang kebetulan rela saya pandang. Oh, saya melantur. Dan rupanya, saya lebih berjodoh dengan Toraja malam ini. Sebab Wamena sedang mengosongkan diri dari toplesnya. Laris, katanya. Alhasil, saya memesan Toraja (8k). Sementara dari kios kawan saya, Chill & Chilli, disediakan seblak dan strawberry iced (lupa nanya harganya, hehe. Tapi total 21k).  Sebenarnya, di Chill & Chilli itu ada varian risoles yang enak, sih. Cuma, agak malu mengakui ini, saya belum pernah icip Seblak. Ih, pasti akibat bertapa ini.
         Sebenarnya, saya juga janjian dengan Na Lesmana yang sudah diwanti-wanti oleh pemilik Chill & Chilli untuk datang juga. Entah karena tidak ada celana yang bersih, atau hal lainnya yang tidak ia kabarkan, ia tidak datang. Yah, bagaimana pun, malam ini saya bertemu adik-adik yang beberapa waktu lalu sama-sama menjadi crew di acara Banten Music Day. Kami bersepakat untuk kapok masal bekerja sama dengan EO yang didaulat menyelenggarakan acara tahunan Disbudpar Banten itu. Semoga saja, masih ada ketidaktamakan di dunia ini. Dari persoalan pekerjaan terdahulu, pembicaraan mulai beralih ke topik yang saya ajukan. Semacam survey kecil-kecilan perihal 'perasaan yang paling dalam' gitu. Dih, kok saya jadi merinding memakai istilah itu? Tak apalah. Saya sengaja mengajukan topik itu pada mereka, sebab saya tahu mereka pasti pernah mempelajarinya di kelas. Yah, tidak ada dokter, calon mantri pun jadi untuk ditanyai (muahaha, maaf, ya, dik. kita melantur malam ini).
          Percakapan itu kami akhiri saat jarum jam sudah menunjuk ke angka di mana kios-kios harus tutup. Saya kemudian berjalan kaki menuju tempat terakhir kawan saya, Setiawan Chogah, berada: McD. Selain karena pada jam-jam hampir larut begini, di jalan Trip Jamaksari itu agak sulit mencari angkutan umum, juga karena saya kangen ngobrol dengan kawan saya itu. Di perjalanan saat saya asyik memilih lagu untuk teman jalan, seseorang dari dalam sedan hitam metalic berteriak: "neng, (oke ini kata yang teramat kasar. intinya mengajak berhubungan intim), yuk?"
         Saya sudah bosan menanggapi mulut kotor lelaki macam itu. Andai saja sedan itu berhenti dan orang yang berteriak menghampiri saya, saya akan sangat ikhlas membayarnya untuk telanjang dan berdiri di tengah perempatan Ciceri dengan leher digantungi karton bertuliskan: "Saya meneriaki perempuan yang sedang berjalan sendirian untuk mengajaknya bersetubuh. Maafkan saya, ibu."  atau kalimat lain yang bikin ia sadar.
      Hmm, berapa harga yang pantas dibayarkan agar ia mau melakukannya, ya? 300 ribu? 500 ribu? Ah, 5 ribu pun rasanya terlalu berharga untuk membayar mulut kotor macam itu. Baiklah, saya doakan saja, semoga kebaikan selalu bersama mereka yang meneriaki saya seperti itu.
*
        Di McD, Setiawan Chogah rupanya sedang kongkow dengan kawan-kawannya. Sementara menunggu perut lapar, saya menghampiri mereka. Berbincang mengenai biem.co yang baru saja rilis, tulisan-tulisan, dan printilan lainnya, menjadi keseruan yang selalu hadir saat bertemu Setiawan Chogah. Tidak hanya itu, games 'pak polisi numpang tanya..' yang dimainkan kawan-kawannya, menambah kadar tawa saya malam ini. Tapi, seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, 'mampir sebentar' dan perut saya tidak lapar, saya kemudian pamit.
       Berjalan kaki sembari menunggu angkutan umum/taksi yang lewat, adalah moment berharga untuk sekadar menggerakkan kaki yang tidak pernah berolah raga. Sebetulnya, bisa saja saya menelepon dari tempat kongkow dengan Chogah itu, tapi saya ingin coba merasakan menyetop taksi yang lewat saja. Sayang pulsa, sih, sebenarnya. Muehehe.
        pee) saya, kopi yang saya pesan itu datang. Vietnam drip adalah cara seduh yang saya pilih, tapi saya tidak menginginkan ada benda lain di dasar kopi itu. Gula, masih bisa diterima perut saya. Sungguh saya tidak ingin capek bolak-balik ke kamar mandi hanya karena saya minum kopi bercampur cairan lain macam susu. Tapi, saya melihat ada cairan putih di dasar gelas. Oh, itukah yang tadi dikatakan robusta ada manis-manisnya? Jika tahu manisnya berasal dari susu, lebih baik saya dilamar kamu, duhai!
2 cangkir kopi 'ajaib' at Garden Coffee House
Sembari berjalan, saya memutar lagu Ulala Season yang soundtrack Bridal Mask, Goodbye Day, sebab waktu sudah beranjak ke hari lain. Semakin jauh saya berjalan, barulah saya ingat, bila taksi di Serang lebih senang kongkow di satu tempat, dibanding memutar mencari penumpang. Mungkin karena sayang BBM juga kali, ya? Sementara keinginan untuk memasuki toilet, agak mengganggu langkah saya. Sehingga, saat sampai di kafe berlabel Our Garden Coffee House itu, kaki saya pun berbelok ke sana. Sempat saya berpikir untuk menuliskan betapa asyiknya tempat ini untuk kongkow bersama kawan-kawan. Konsepnya asyik untuk tempat kongkow. Ada sekitar 11 meja (sepertinya lebih) dengan 4 sofa dan sisanya kursi taman. Bahkan, saya sempat pula menulis varian menu yang ditawarkan kafe ini. Harganya berkisar 20k-hingga 5k. Tapi, selesai numpang pee, saya kembali ke meja yang akhirnya saya pilih setelah secara halus diusir dari meja bersofa di dekat bar. Dan alangkah terkejutnya saya saat mendapati ada cairan lain di dasar cangkir. Itukah yang tadi dibilang kopi robusta ada manis-manisnya? Duh! Perutku. Jika tahu manisnya berasal dari susu, lebih baik saya dilamar kamu
       Saya protes. Meminta pergantian kopi sepertinya adalah hal yang wajar. Tapi (ada tapinya lagi, men), alangkah menyesalnya saya ketika kopi pengganti itu disuguhkan. Ingatan saya terbang ke Jumat malam saat saya menemani The Cero main di kafe di Bonakarta, Cilegon. Kopi yang disuguhkan sebanjir itu, sungguh! Yah, apalah saya, apalah daya pengunjung ini, selain harus tetap membayar 2 cangkir kopi 'ajaib' itu. Tentu saja, uang kembaliannya tetap harus saya tambahi jika akan menggunakan taksi. [*]


You May Also Like

0 komentar

Instagram