#TantanganMenulis Age-otori: Gaya Rambut Asal Gaya

by - March 10, 2015


Hairstyle by atlantis-pirate


12. Age-otori
To look worse after a hair cut
Kalau dipikir-pikir, gaya rambut saya rata-rata cepak. Pertama kali potong cepak itu saat SMA. Alasannya? Karena nggak mau ribet saat hendak memakai kerudung ke sekolah. Mungkin bagi perempuan lain, memotong rambut sepanjang bokong dan langsung cepak jaya gitu, akan mikir dua puluh ribu dua ratus lima puluh koma lima kali, tapi saya dengan ringan masuk ke salon yang dipunyai seorang lelaki gemulai--lebih cantik dari saya--dan langsung memintanya memangkas habis rambut saya. Lelaki itu protes, saya keukeuh pengen cepak. Kejadian itu memakan waktu sekitar 10 menit. 
     Lelaki itu bilang, perempuan lebih cantik dengan rambut panjang. Apalagi rambut saya tebal, hitam, dan panjang. Tapi dengan entengnya saya jawab; saya tidak mau kegerahan dan tidak mau ribet saat keramas pagi hari dan harus pergi sekolah. Dia kemudian menawarkan gaya rambut model perempuan di majalah. Model rambutnya memang pendek, dan tampak layak untuk perempuan yang menginginkan rambut pendek. Tapi saya memilih majalah dengan model laki-laki yang tampan dengan gaya rambut yang seksi--saya juga tidak tahu nama gaya rambutnya apa.
     Setelah perdebatan panjang itu, akhirnya dia mengalah. Dia meluluskan keinginan saya. Alhasil, saat keluar dari salon, rambut-rambut saya mencucuk kerudung putih. Jadi macam landak berkulit putih. Saya ditertawakan banyak orang, dan saya bangga.
*
        Dari saat itu, setiap kali saya hendak memotong rambut ke salon, bukan saya yang ngedumel saat mendapati rambut saya dipangkas habis, tapi hair stylish-nya. Padahal, dia yang memotong dan dia yang menyebutkan gaya rambut baru saya itu. Bahkan saya kemudian kapok memangkas rambut ke salon--sebagus apapun itu, karena kepala saya pernah sangat sakit akibat rambut saya yang ditarik-tarik layaknya saya mencuri pacar/berselingkuh dengan suami si hairstylish. Saya akhirnya pilih pangkas rambut. Dan itu pun harus melalui perdebatan panjang dengan kawan yang menjadi pemilik pangkas rambut khusus laki-laki itu. Tapi, akhirnya dia mau juga memotong rambut saya.
        Sering juga memotong rambut sendiri. Khususnya bagian poni, tapi ternyata kependekan dan tidak rata. Lalu panggilan baru pun muncul; kakak tampan. Ledekan atas poni ala gadis cilik teman main Boboho itu. Haha.
       Salah satu gaya rambut yang paling buruk adalah ketika belakang telinga sebelah kanan saya terkena iritasi. Saat itu saya sedang tidak berhasrat menceperkan rambut saya yang sudah sebahu. Saya sedang senang membuat kuncir di pucuk kepala, sehingga saya berinisiatif memotong sebagian saja. Alhasil, bagian bawah saya minta dipangkas habis alias botak dan hanya disisakan bagian atas saja. Jadi, saat digerai saya masih bisa tampak seperti berambut sebahu. Tapi masalahnya, saya selalu lupa menggerai dan saat itu saya sedang buru-buru ke lapak koran. Tahukah kamu apa yang terjadi? Beberapa mobil berhenti dan membuka kacanya, lalu berteriak: 'keren!' sembari menunjuk kepala saya. Saya langsung kalang kabut membuka ikat rambut di pucuk kepala saya. Hahaha. *malu!* 
          Saat dengan gaya rambut seperti itu, otomatis saya takut pulang. Mamah pasti menjambak rambut saya sambil pegang gunting. Haha. Tapi, rambut cepak pun sering dijambak karena waktu kecil saya sering kabur saat rambut saya hendak dipotong. Nah, kalau sekarang saya sedang senang memanjangkan rambut. Walaupun kemarin sempat dipotong sendiri bagian belakang dan bagian poni sebagai ritual 'buang sial' setelah tragedi yang terjadi. Alhamdulillah acak-acakan, sampai akhirnya meminta tetangga kostan saya yang bekerja di salon untuk merapikannya. Sementara di kostan cuma ada gunting tumpul. Hahaha. Alhasil, panjang sebelah dan berantakan. Yah, pokoknya ini gaya rambut sesuka sayalah.:D

You May Also Like

0 komentar

Instagram