#18 Kenangan: Hai Hujan

by - January 11, 2013

rainy daysby *Rona-Keller


Aku pernah sangat mencintai hujan, seperti aku mencintai asap yang keluar dari batang-batang rokok yang kusesap ketika kepalaku penuh cerita. Aku suka tetesnya yang menimpa kepala, dan basahi kemeja saat aku keluar dari kelas, dan sengaja tak berlari seperti kebanyakan orang.
Aku pun suka sengaja berlama-lama di bawahnya dengan kepala tengadah dan mulut penuh kopi bubuk; ini ide gila 'cara minum kopi' yang dicetuskan oleh kawan hujanku. Tapi, lumayan membuatku terpingkal sendiri saat melakukannya.
Aku juga suka hujan-tapi-panas ketika aku hendak pergi ke kota yang akhirnya membuatku takut untuk bertandang lagi. Sepertinya, ia melarangku untuk pergi saat itu.  Tapi, karena aku kurang sensitif terhadap tanda, hari itu aku pergi juga. Beberapa kali aku pergi, hujan selalu datang menghadang, melarang. Hingga akhirnya aku pulang dengan air mata berderai, sementara hujan mengintip di samping jendela bus yang membawaku pulang. Akh! Itu kenangan yang cukup pahit. Tapi sudahlah, aku cukup paham bahwa hidup tak mesti berhenti di irisan tangan, ataupun tegakan racun serangga, bukan?
Aku teramat suka bagian ini, hujan yang datang ketika aku dan lelaki sunyi berjalan menuju ke toko retail untuk sekedar mencari pengganjal perut yang lapar. Jam 12 malam, ketika itu. Kami berjalan bersisian; dia di trotoar sebelah kanan yang terdapat atap di atasnya, sedang aku di sebelah kiri dengan langit hitam menjadi atapnya. Sementara aspal hitam menjadi jarak di antara kami. Aku berkata saat itu, bahwa sebetulnya manusia selalu berjalan menuju ke tempat yang sama. Entah ia memilih kiri atau kanan. Aku sesekali meliriknya sembari tersenyum; kepalaku saat itu sibuk berkata. Bahwa akan seperti inilah aku dengannya. Selalu bersisian, meski suatu ketika kami menemukan teman berjalan. Namun, aku ingin tetap bersisian dengan perasaan yang seperti 'terhubung' yang ada di antara kami. Meskipun memang, mulut kami saling mengunci untuk sekedar saling mengatakan; aku suka padamu, maukah kau menjadi pacarku? seperti orang lain yang merasa 'terhubung' juga. Itu terlalu biasa buatku. Atau mungkin benar, karena aku tak terbiasa mengutarakan perasaan-perasaan, dan ia pun demikian? Entahlah. Hanya saja, mungkin akhirnya akan tidak menarik untuk kuceritakan bila memang kalimat itu ada. Sehingga aku tidak bisa membaca apa yang aku suka; bahasa tubuhnya. Dalam beberapa kesempatan, aku memang suka membaca bahasa tubuh orang-orang, bukan mendengar kata-kata yang tak jarang membuatku ingin muntah di saat yang bersamaan. Aku suka membaca tanda-tanda itu, walaupun aku bukan detektif yang akhirnya bisa memecahkan suatu tanda tanya.
Dan kupikir, hujan saat itu telah memberi kami tanda 'titik' yang akhirnya bisa kami ukir menjadi 'koma' hingga sedikit demi sedikit kami bisa mencipta setengah lingkaran, bahkan bulat sempurna dengan kata 'kita' di dalamnya.
Ahay!
Nah, hari ini, hujan datang lebih pagi. Ia mengetuk lantai berandaku dengan suara agak lelah. Barangkali karena ia tak sempat beristirah setelah dari dua hari kemarin mengguyur kota ini. Atau mungkin sebenarnya ia sedih, karena ia harus menjadi sebab dari bencana alam di beberapa daerah itu. Ya, sudah, hujan. Mari istirahlah sejenak di sampingku. Akan kubuatkan kau secangkir kopi cap kupu-kupu, dan kulintingkan beberapa batang tembakau untukmu. Silakan disesap. Sementara aku akan menuliskan ceritamu ini dengan senyum yang dikulum. Meski di saat yang sama, dan ini benar adanya, di sisi lain kepalaku ada seseorang yang tengah mengganggu. Seseorang yang entah, datang dari entah, dengan maksud yang.... Akh! Sudah, lupakan. Mari, kita minum kopi saja.

You May Also Like

0 komentar

Instagram