"Oh, Tidak Bisa!"

by - February 17, 2012


"Mana absen?!" Suara seseorang yang baru datang ke kelas. Terdengar koor 'huu' dari teman-teman sekelas yang juga mendengarnya, disusul ledekan dari mereka. 

"Baru juga nyampe kelas udah nanyain absen, dasar!"
"Iya tuh, kebiasaan banget, kelas juga belum mulai, woy!"
"Belajar dulu, baru nanyain absen. Dasar mahasiswa absen!"

Komentar terakhir itu membuatku menarik kepalaku dan memutarnya untuk mengetahui siapa yang mengucapkannya, serta melihat reaksi orang yang menanyakan absen itu.
Aku sangat setuju dengan komentar itu. Tapi, entah di kelas mana, semester atas atau semester bawah, ada saja mahasiswa yang melakukan hal yang sama seperti itu. Sementara aku sendiri, justru orang yang jarang sekali peduli dengan absen. Meskipun aku masuk kelas, dan belajar seperti biasa. Tak jarang, beberapa teman mengingatkanku tentang betapa pentingnya absen. Itu mempengaruhi nilai, kata mereka. Aku hanya tertawa, dan mengiyakannya saja. Karena, terus terang, aku ingin merubah persepsi bahwa kreatifitas seseorang ditentukan oleh kertas print berwarna itu. Meskipun memang, banyak sekali dosen yang menganggapnya demikian. Kepintaran, dan kreatifitas, seorang mahasiswa ditentukan oleh keberadaannya di kelas. Sah saja ia berkata seperti itu, mungkin karena merasa menjadi dewa bagi kepala-kepala yang diajarnya? Entahlah.

Yah, aku sendiri pun mengaku tidak selalu bisa menghadiri kelas, bahkan sangat jarang masuk ke kelas dengan berbagai alasan. Entah itu karena jadwal kerjaku bentrok dengan jadwal di kelas, malas karena dosennya 'memuakkan' (lebih sering membicarakan kehebatan diri dibanding masuk ke materi), bangun kesiangan, atau totally malas masuk kelas. Tapi, aku jarang menitipkan absen, pernah, tapi tidak lagi dilakukan karena aku terlanjur memusuhi absen itu sendiri. Ini terjadi semenjak aku bermasalah atau dipermasalahkan seorang dosen yang menyangsikan kehadiranku, meskipun ia sendiri jarang masuk. Sementara tugas individu, maupun kelompok yang aku termasuk di dalamnya, sudah aku kerjakan dengan baik. Karenanya, nilai akhirku didekapnya erat hingga aku menanyakannya. Yang aku sebalkan dalam peristiwa itu adalah, dosen itu jarang masuk, dan salah seorang temanku yang tugas-tugasnya 'menyontek' atau mengumpulkan tulisan yang sama denganku dan sama sekali tidak pernah masuk ke kelas, nilainya sudah ia keluarkan. Dan yang paling menyebalkan adalah peristiwa baru-baru ini. Kondisinya sama, dosen yang ini juga jarang masuk, kalau tidak salah hanya masuk dua kali dalam satu semester. Nilai akhirku pun ia kosongkan, hanya karena melihat absensiku yang kosong. Ia tidak melihat tugas yang satu-satunya ia berikan selama satu semester itu. Dan ketika aku hendak menanyakannya, ia langsung bertanya;
"Apa dosamu?"
Hah? Dosaku? D-o-s-a? Pikirku langsung ke Tuhan. Kata itu sepertinya lebih merujuk ke Tuhan, ketimbang ke sesama manusia. Kesalahan, harusnya ia menanyakan kesalahan. Karena dosaku hanya aku dan Tuhan saja yang tahu.

Aku mengakui aku lalai mengisi absensi, aku juga mengakui sudah mengumpulkan tugas yang ia berikan. Tapi, dengan adikuasanya dan suara kerasnya yang seolah ingin menunjukan 'i'm the king' atau 'aku yang berkuasa' itu, ia terus memojokkanku. Saat seperti itu, ingin sekali aku membalas; "We are twins, sir. The difference is you are lecturers and i'm student. Anda juga sama tidak pernah masuk, ini tentu saya tahu, karena saya masuk, dan pergi setelah anda tidak juga datang. Anda boleh mempermasalahkan ketiadaan tanda tangan saya di kertas itu, tapi dengan begitu anda menunjukkan betapa memalukannya hal itu." 

Apa yang terjadi jika aku mengatakan hal itu kepadanya? Tetap tidak akan diberi nilai akhir, atau malah lebih parah, dikeluarkan dari kampus? Meskipun itu adalah hakku, tapi aku tidak ingin menyinggungnya sejauh itu. Aku tidak suka berbicara, dan tidak terlalu bisa dalam bernegosiasi 'nilai' seperti ini. Mungkin, jika negosiasi dengan suatu perusahaan agar menjadi partner sekaligus pendukung suatu acara, aku bisa, tapi ini hal lain. Ini jauh lebih sulit bagiku. Khususnya bagi diriku yang tidak pernah mau berurusan dengan dosen gara-gara nilai. Selain itu, psikologisku juga sedang tidak bagus untuk mendapatkan hal-hal tidak menyenangkan seperti itu. Dahulu, aku sudah cukup stress dengan dosen yang menolak memberiku nilai karena kehadiran di kelas yang ia lihat dari absensi. Hingga satu mata kuliah lanjutan yang sudah aku kontrak, dan kelompok PPL yang sudah siap menungguku di bawah untuk sama-sama pergi ke tempatnya, semuanya aku batalkan. Setelah itu, dengan membawa patah hati, dan frustasi aku pergi dari kampus dan tanpa ada keinginan untuk kembali lagi.

Lalu dengan masih bersikap 'i'm the king' dia berujar: "Ya sudah, saya akan memberikan anda nilai."
Dan setelah saya lihat, nilai yang tertera di sana apa, saya ingin juga bertanya: "Apa selama anda tidak masuk kelas, anda tetap menerima gaji full? Jika ya, rasanya saya sudah sia-sia membayar uang kuliah, dan membuang waktu saya untuk mengerjakan tugas, juga menunggu anda di kelas..."
Menyebalkan.

Selain itu, ulah dosen yang lain yang juga membuatku sebal adalah tentang penerapan keterlambatan. Boleh sih, dilakukan jika ia sendiri merasa akan selalu tepat waktu saat sampai di kelas. Tapi ini tidak. Dalam hal yang satu ini aku memberikan istilah, mahasiswa menunggu, dosen tak tahu malu. Istilah ini keluar, setelah aku yang memang tidak bisa bangun pagi, berusaha datang ke kelas dan harus menunggunya hadir. Karena ngantuk, akibat tidak tidur untuk bisa datang pagi ini, aku pun pergi ke kantin untuk pesan kopi, dan kembali ke kelas lagi. Itu pun aku lakukan setelah aku mengira dosen itu tidak akan masuk, karena jarum jam di tanganku sudah menunjuk angka satu jam dari angka jam dalam jadwal masuk kelas. Tapi, ternyata dugaanku itu salah, dosennya masuk. Aku berlari dengan kopi ditangan menuju lantai tiga tempat kelas berada, mengetuk pintu tiga kali, dan baru masuk. Namun, dosen itu melambaikan tangan mengusirku. Aku melirik jam, terlambat tiga menit? Bukankah yang tidak boleh masuk itu setelah lima menit? Aku tak bertanya, tidak juga protes hanya balik kanan dan turun kembali ke kantin dengan rutukan yang tidak kuperdengarkan pada siapapun. Ini sialan.

Ah, sudahlah. Jika membicarakan 'kesialan-kesialan' seperti ini, rasanya aku muak sendiri. Raut wajah dosen yang dibuat keras, dengan kata-kata bernada tinggi untuk menunjukkan 'siapa yang berkuasa atas siapa', absensi, tidak boleh masuk karena terlambat padahal ketika dosen yang terlambat mahasiswa diharuskan menunggu. It's really make me crazy.

Aku jadi ingat film 3 idiot itu. Banyak siswa yang mencoba bunuh diri karena peraturan seorang guru atau kepala sekolah(?) yang otoriter. Apa mesti ada hal semacam ini juga di kampus untuk menunjukkan 'betapa mahasiswa stres dengan perlakuan dosen yang 'sok berkuasa'? Hingga pernah suatu kali aku berkata pada seorang sahabat; "Kau tahu, siapa pembunuh yang paling kejam di dunia ini? Guru atau dosen. Kau lihat dosen itu? Betapa mudahnya ia membunuh psikis orang lain, padahal selama di kelas ia lebih cenderung membicarakan diri sendiri dan aib orang lain. Lihat, dosen yang lainnya. Mudah sekali mereka berbuat sesuka hati, bukan? Dan aku tidak ingin seperti mereka. Aku tidak ingin siswa/mahasiswaku nanti merasa ingin bunuh diri seperti yang aku rasakan....." Sahabatku itu hanya tertawa tanpa berkomentar.

Hmmm, anyway... Mungkin selanjutnya aku harus menjadi 'mahasiswa absen' jika mereka terlanjur menganggap absen sebagai kitab paling penting dalam menilai mahasiswanya. Dan mungkin, karena paham itu juga sehingga banyak sekali 'mahasiswa absen' yang bergentayangan selama ini. Entahlah..

Yang jelas... Menurut saya, lebih baik menggunakan mesin sajalah. Mesin sidik jari, misalnya? Atau sekalian sensor retina mata, biar agak canggih dikit. Selain agar tidak ada lagi istilah 'titip absen', juga agar mahasiswa dan dosen sama-sama tahu diri. Mahasiswa tidak akan menunggu dosen yang telat masuk, dan dia juga tidak akan telat masuk. Juga, para pejabat kampus tidak seenaknya saja datang. Masa kampus sih tidak bisa membelinya? Oh! Saya lupa, boro-boro beli mesin khusus untuk absensi, ya? Beberapa fasilitas sekarang juga masih acak-acakan, jauh dari kata 'memadai'. Genset yang katanya ada, toh tetap saja membuat mahasiswa sore 'popoekan' (gelap-gelapan) saat mati listrik. Lalu, ruang kelas yang masih harus dan kursi yang masih harus rebutan, belum lagi 'pelayanan' dari bagian-bagian yang semestinya 'melayani' dengan baik. Ukh, jika dibeberkan semuanya, tak akan ada habisnya. Untuk jadi world university rasanya hanya akan jadi bahan ledekan saja. "Oh, tidak bisa... Itu cuma mimpi!" 

Well, saya berjanji atas nama Zeus dan Neptunus, mulai sekarang saya akan mengisi absen. Mengisi absen, ya. Mengisi absen. Kayak anak SMA.
MENGISI ABSEN!
A-B-S-E-N!
What the heck is that! (Lagu di film The Penguins of Madagascar)

P.S: Sorry if this story make you angry. I can explain, i'm people who cannot speak directly, and this blog is my diary. Sorry, if i hurt you.

You May Also Like

0 komentar

Instagram