Bunga Kecil Dari Langit

by - December 09, 2011

Ilustrasi from Deviantart

Perbincangan malam antara aku, Kay, dan seorang kawan membuat ulu hatiku sedikit nyeri. Usia. Itu topik utama perbincangan kami. Mungkin, awal topik ini dihadirkan si kawan itu, karena melihat aku dan Kay melulu bersama, berbincang, bercanda, dan terkadang makan bersama tanpa mengajak dia. Dia merasa cemburu? Entahlah.
Aku hanya merasa, jika usia begitu penting untuk mengukur seberapa lama manusia berada di bumi ini, aku akan memilih untuk tidak memilikinya saja. Aku akan memilih menggantikan Lo, bidadari yang dikutuk tak memiliki usia dan terus membimbing putra Zeus dalam film Titan itu. Mungkin itu lebih baik, jika usia ini menjadi dinding penghalang padunya dua manusia.
Ah!
Gurat-gurat tak sukaku rupanya dapat diterka. Kay perlahan menyingkir bersama kawan lainnya yang hendak ke warung membeli susu kaleng. Membiarkan aku dengan si kawan, dan dengan kacaunya rasa di dada ini. Sialan.
Tak berapa lama, Kay kembali dengan senyum yang semarak. Tanpa bicara, dia meraih tanganku yang menggantung.
"Ini," katanya sembari menaruh sesuatu di telapak tanganku.
"Apa?" Tanyaku.
"Tadi nemu bunga kecil banget," jawabnya sambil menunjuk titik kecil di telapak tanganku.
"Dari mana?" gumamku sembari menilik titik itu, mengambilnya, dan lebih mendekatkannya ke cahaya.
"Nggak tahu, tadi jatuh dari langit," jawabmu seraya menunjuk langit yang berbintang. "Hmm, mungkin itu bintang jatuh yang tadi di lihat si Sam," sambungnya seraya tertawa.
Aduh! Manisnya!
Ini hadiah termanis yang pernah kudapatkan. Meskipun bukan penjelmaan bintang seperti yang ia katakan, tapi ini sangat berharga. Karena dia memberikannya padaku, bukan pada seorang yang lain. Aku akan menyimpannya, terus. Hingga nanti saat kulihat dia akan memunggungiku, dan pergi. Atau mungkin, nanti, saat di sisinya ada perempuan lain yang dikutuk memiliki usia sama dengannya.
Aku tersenyum, dan terus menimang hadiah darinya itu. Sementara dia mulai menyulut rokok kreteknya, menghisapnya lebih dalam, dan menghembuskannya pelan-pelan. Aku memperhatikannya dengan mata terbinar.
"Apa?" Tanyanya dengan senyum dikulum. Ah! Aku hanya kagum....

You May Also Like

0 komentar

Instagram